
Jam istirahat telah berakhir. Guru lain masuk ke kelas Da.
"Siapa yang belum masuk kelas?" Tanya seorang guru bernama Pak Tono.
"Celine pak," jawab Ela.
Tok tok
"Permisi pak," ucap Celine setelah mengetuk pintu.
"Kamu dari mana Celine?" Tanya Pak Tono.
"Dari kantor Bu Elsa, pak" jawab Celine.
"Oh, baik. Kamu langsung duduk saja," ucap Pak Tono.
Celine mengangguk.
Lalu mereka memulai pelajaran.
***
"Yang piket hari ini, bersihkan kelas. Gak ada yang boleh kabur," ucap Gita seorang seksi keamanan.
"Iya iya," ucap Celine bersamaan dengan siswa yang lain.
Mereka piket ada tujuh orang. Austin, Anggun, Brayen, Celine, Dyla, Dimas, dan Ela.
Dyla dan Anggun menyapu lantai. Brayen dan Dimas menyusun meja juga kursi. Celine merapikan buku-buku yang ada di dalam lemari juga menutup jendela dan mematikan lampu. Sedangkan Ela hanya menghapus tulisan di papan tulis.
"Gue dah siap," ucap Ela sambil meletakkan penghapus di tempatnya.
Celine melirik Ela kesal.
"Ya udah kalau kau dah siap, keluar sana. Gak usah sok pamer," ucap Celine.
"Idih bilang aja lo iri sama gue," ucap Ela dengan gaya-gaya alaynya.
Ela langsung ke luar dari kelas begitu saja.
"Kau Gita gak usah berdiri di depan kelas. Pulang aja kau. Kami gak akan pergi dari sini sebelum selesai," ucap Celine melampiaskan kemarahannya pada Gita.
Terkadang dia kesal dengan sekolah ini. Menantang-mentang dia hanya anak beasiswa sama seperti Dyla. Dan Ela anak orang kaya. Ela bisa berbuat seenaknya dengan piket hanya membersihkan papan tulis.
"Celine, sabar ok" ucap Dyla.
"Ok gue pergi," ucap Gita lalu pergi begitu saja.
Celine mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya.
Dyla ingin menggeser meja untuk menyapu namun Dimas yang seakan tahu langsung mengangkat meja.
"Terima kasih Dimas," ucap Dyla sambil tersenyum.
"Sama-sama," balas Dimas sedikit malu.
Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai.
"Dyla, kau mau langsung pulang?" Tanya Celine.
"Iya, aku harus membantu Ibu," jawab Dyla.
"Baiklah, kau semangat ya. Ingat jangan memaksakan diri. Kalau bekerja juga harus istirahat," ucap Celine.
"Iya," balas Dyla.
"Aku pulang duluan ya," pamit Dyla.
Celine mengangguk.
Dyla keluar dari kelas dan pergi pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki.
"Celine, lo gak pulang?" Tanya Anggun.
"Gak, capek. Aku mau istirahat bentar," jawab Celine.
__ADS_1
"Oh ya udah gue pulang duluan ya. Lo gak papakan sendirian di kelas?" Tanya Anggun.
"Gak papalah, aku kan gak penakut," jawab Celine.
Anggun mengangguk lalu pergi dari kelas. Kini tersisa Celine sendiri di kelas.
***
"Sore pak," ucap Dyla menyapa pak satpam dan pak kebun.
"Sore Dyla," ucap mereka membalas sapaan Dyla.
Karena terburu-buru Celine lupa untuk lewat dari belakang. Dan dia juga lupa kalau saat ini dia memakai sepatu yang kotor.
Pas saat itu pintu utama terbuka. Nyonya rumah itu, nyonya Melly keluar dan melihat jejak kotor bekas sepatu Dyla.
"Astaga," wajah nyonya Andhika itu langsung marah.
"Kamu benar-benar..."
"Maaf nyonya saya tidak sengaja," ucap Dyla sambil menunduk.
Wanita yang marah itu masuk ke dalam rumah. Dia mengambil rotan yang sering dia gunakan untuk menghukum pembantunya.
Dyla mengepalkan tangannya kuat. Dia sudah siap untuk menerima rasa sakit yang sudah sering dia rasakan. Matanya terpejam dengan erat.
"Nyonya tunggu, nyonya. Jangan pukul dia. Sebagai gantinya pukul saja saya," ucap seorang pembantu wanita yang berlari dari dalam rumah. Dia adalah Ghea, Ibu Dyla.
Dyla membuka matanya. Dia kini melihat Ibunya berdiri di depannya sedang bersujud memohon.
"Ibu," panggil Dyla.
"Nyonya hukum saya saja," ucap Ibu Ghea.
"Berdiri jangan menyentuh sepatuku yang mahal," bentak nyonya Andhika.
Dyla membantu ibunya untuk berdiri.
"Bu, ini salah Dyla. Biar Dyla saja ya," ucap Dyla.
"Jangan sayang," ucap Ibu Ghea tidak tega.
Dyla mer*mas roknya. Betisnya terasa sakit terkena rotan.
Lima kali. Lima kali Dyla mendapatkan pukulan rotan.
"Kau, cepat bersihkan kotoran di lantai ini. Jika nanti aku masih melihat kotoran di sini. Aku akan menghukum anakmu bukan kau," ucap nyonya Andhika kepada Ghea.
"Baik nyonya," ucap Ghea sambil menahan kesedihannya melihat anaknya merasakan kesakitan.
Nyonya Andhika itu langsung pergi melewati mereka. Sekarang dia ada janji di salon langganannya.
Nyonya, apa yang akan terjadi jika anda mengetahui bahwa anak yang selama ini anda pukuli adalah anak kandung anda? Apa anda akan merasa bersalah atau anda tidak akan peduli? Astaga Ghea, apa yang kamu pikirkan? Wanita yang bahkan rela membuang anaknya saat bayi di tempat sampah untuk mati. Tidak mungkin wanita itu akan merasa bersalah hanya dengan memukulinya saja.
ucap Ghea dalam hati.
"Ibu, aku saja yang membersihkan lantai ini ya. Ibu kerjakan tugas Ibu saja di dalam. Setelah aku selesai membersihkan ini aku akan membantu ibu," ucap Dyla tetap tersenyum.
"Tidak perlu Dyla. Kamu masuk saja ke dalam. Obati lukamu dulu," ucap Ghea sambil melihat betis telanjang Dyla.
Berdarah, betisnya berdarah dan itu pasti sakit.
"Baik bu," ucap Dyla.
Dia tidak mau Ibunya cemas. Jadi Dyla segera pergi ke belakang rumah. Tempat di mana kamar pelayan berada.
Di sana dia mengobati lukanya dan mengganti baju sekolahnya.
Setelah selesai, Dyla masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Dia bertanya pekerjaan apa yang bisa dia bantu.
"Tante, ada yang bisa kulakukan?" Tanya Dyla sambil tersenyum.
"Bantu saja pekerjaan di dapur. Di sana lagi butuh kamu," jawab seorang pelayan.
"Baik," balas Dyla lalu berjalan ke arah dapur.
__ADS_1
Dyla mengganti celananya dengan celana panjang. Agar tidak banyak orang yang melihat bekas rotan.
Pedih sih tapi tak apalah.
Dyla menghabiskan waktunya di dapur bersama pelayan yang lain sampai selesai memasak dan membersihkan peralatan dapur yang kotor.
"Dyla, kamu cuci kuali dan semua peralatan yang kotor ya. Bisakan?" Tanya pelayan yang ada di samping Dyla.
"Bisa Tante," jawab Dyla.
"Tante ke depan dulu melayani tuan dan nyonya. Kamu di sini aja. Jangan ke luar sampai mereka selesai makan," peringat pelayan itu.
Semua orang tahu bahwa perilaku pemilik rumah ini tidaklah baik. Dan Dyla sering sekali mendapatkan perlakuan tidak baik itu. Jadi lebih baik gadis itu mengurangi masa bertemu dengan dua orang dewasa pemilik rumah ini.
***
Sekedar info:
Nama nama siswa di kelas Dyla.
Austin - pria
Anggun - wanita
Brayen - pria
Celine - wanita
Dimas - pria
Dyla - wanita
Ela - wanita
Fany - wanita
Febrian - pria
Gita - wanita
Herman - pria
Indri - wanita
Jeremy - pria
Kea - wanita
Keenan - pria
Lila - wanita
Lusi - wanita
Marinka - wanita
Owen - pria
Rani - wanita
Robert - pria
Selin - wanita
Sintia - wanita
Steven - pria
Syakif - pria
Tea - wanita
Valeo - pria
Vino - pria
__ADS_1
Yuyu - wanita
Zidan - pria