Apa Salahku Sampai Dibuang?

Apa Salahku Sampai Dibuang?
ASSD? #7


__ADS_3

Dyla tersentak saat ada yang memegang bahunya. Spontan Dyla berbalik dan melihat Celine yang ada tepat di belakangnya.


"Kau kenapa?" Tanya Celine bingung dengan respon Dyla yang tersentak kaget.


Dyla menggeleng lalu melirik lagi ke depan.


"Eh... nenek-nenek yang tadi di sini, dimana?" Tanya Dyla dengan suara kecil.


"Nenek-nenek?" Tanya Celine bingung.


"Iya, kamu lihat gak tadi ada nenek-nenek di depan aku?" Tanya Dyla balik.


Celine berpikir sesaat.


Nenek-nenek yang mana maksudnya?


"Kayaknya gak ada deh. Tapi gak tahu jugalah. Aku gak terlalu perhatikan," jawab Celine sambil mengangkat kedua bahunya.


Dyla terdiam sesaat. Dia berpikir sejenak lalu menganggap mungkin itu hanya halusinasinya.


"Kenapa emang?" Tanya Celine.


"Gak... gak ada," jawab Dyla.


"Oh ya aku dari tadi manggil kamu tapi gak didengar. Ya udah aku nyamperin kamu," ucap Celine.


"Oh maaf ya aku gak dengar ada yang manggil. Emang ada urusan apa?" Tanya Dyla.


"Apa ya...? Aku jadi lupa," ucap Celine sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Kalau lupa ya udah besok aja. Besok aku datang lebih cepat kok," ucap Dyla dengan lembut.


"Ok deh," ucap Celine pasrah masih sambil garuk-garuk kepala.


Dia masih mencoba untuk mengingat.


"Aku pulang dulu ya, bye," ucap Dyla sambil melambaikan tangan.


"Ya," balas Celine masih mencoba terus mengingat.


Dyla sudah berjalan menjauhi Celine. Dia sedikit berlari agar sampai cepat di rumah.


"Oh iya," Celine mendongakkan kepalanya dan melihat sosok Dyla yang sudah menghilang.


"Dasar nih otak. Masa cuman mau bilang nyanyi lagu batak aja gak ingat. Perlu di servis keknya otak ni," gerutu Celine menyalahkan otaknya sendiri.


Celine berbalik untuk pergi meninggalkan tempatnya berada tadi.


***

__ADS_1


Keesokan harinya


Dyla datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Bahkan sekolah masih tidak berpenghuni saat dia datang.


Dyla melihat jam yang ada di dinding. Masih jam 6 lewat sedikit. Pantas masih cuman dia yang datang.


Dyla duduk di bangkunya yang ada di kelas. Dia mengecek lacinya. Dan benar saja. Ada sampah di dalam lacinya. Itu bukan sampahnya melainkan sampah orang yang dibuat ke lacinya. Ini bukan hal yang mengejutkan lagi bagi Dyla.


Ini adalah salah satu bentuk hinaan dari teman temannya kepadanya.


Dyla hanya tersenyum saja. Dia mengutip semua sampah itu dan membuangnya ke tempat sampah.


"Tetap tersenyum Dyla. Hari yang indah harus diawali dengan senyuman," gumam Dyla kepada dirinya sendiri.


"Semangat," sambung gadis itu lirih.


Dyla mengambil buku sejarah yang ada di lemari. Dia menghabiskan waktunya dengan membaca buku yang sebagian orang anggap membosankan.


Di luar kelas terdapat seorang pemuda yang terfokus kepada gadis yang sedang serius membaca buku.


Dia gadis yang imut


ucap pemuda itu sambil tersenyum kecil.


Hey, Wily apa yang kamu pikirkan?! Dia itu Dyla! Apa kamu tertarik dengan gadis seperti dia? Hey ingatlah sahabatmu menyukai gadis itu. Jangan menghancurkan kisah cinta Dimas


Pria itu memaki sendiri dalam hati. Ya dia memang Wily. Wily sahabat Dimas, Wily yang menuangkan perhatian lebih kepada gadis di dalam kelas sana.


"Selamat pagi," sapa Wily dengan ramah dan diikuti dengan senyuman miliknya.


"Selamat pagi," balas Dyla.


"Kamu sedang membaca buku sejarah?" Tanya Wily.


Sebenarnya Wily sudah tahu dengan pasti buku apa yang Dyla baca. Tapi dia hanya mau membuat topik pembicaraan.


Dyla mengangguk.


"Kamu datang cepat sekali ya," ucap Wily.


"Iya," balas Dyla.


Wily memutar otak untuk mencari topik pembicaraan yang akan berlangsung panjang.


"Tumben datang cepat sekali Dyla," ucap Wily.


"Pengen aja," jawab Dyla sambil tersenyum.


"Kamu akrab ya sama Dimas," ucap Wily kembali membuka topik baru.

__ADS_1


"Gak terlalu," ujar Dyla.


"Oh begitu ya... emm, menurut kamu Dimas itu orangnya gimana? Baik atau gak?" Tanya Wily.


"Menurutku ya? Emm, Dimas orang yang baik," jawab Dyla.


Wily kesal sendiri saat mendengar jawaban Dyla ditambah dengan senyum polos yang dia tampilkan saat menjawab itu.


"Hey ada yang membicarakan aku ternyata," ucap Dimas di depan pintu.


Entah sejak kapan pemuda itu sudah berdiri dan menguping pembicaraan mereka.


Memikirkan itu Wily malah semakin kesal.


Dimas berjalan mendekati Dyla. Dia duduk di kursi yang ada di depan Duka. Tapi Dimas duduk menghadap ke arah belakang, tepatnya ke arah Dyla.


"Coba kamu bilang pendapatmu tentangku tadi," pinta Dimas dengan gaya sok akrab.


"Kamu orang yang baik, ramah, suka menolong, dan masih banyak lagi," ucap Dyla menambah pujiannya.


"Wow... ini pujian terbaik yang pernah kudengar," ucap Dimas dengan girang sambil bertepuk tangan sendiri.


Wily akhirnya hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Dari semua pujian yang pernah dia dengar terhadap Dimas. Itu adalah pujian paling biasa terhadap Dimas yang merupakan pewaris tunggal dari bisnis dan kekayaan keluarganya.


Dyla hanya tersenyum mendengar tanggapan Dimas tentang pujiannya.


Dan satu persatu teman-teman sekelasnya yang lain mulai berdatangan. Bahkan ternyata Celine adalah siswa yang datang paling akhir. Tumben sekali ...


"Selamat pagi anak-anak," sapa wali kelas mereka, Bu Jeje.


"Pagi Bu," balas seluruh murid.


"Mungkin semua anak ibu sudah mendapatkan brosur untuk perlombaan yang diadakan sekolah. Dan tentunya kalian juga tahu, kedatangan ibu kesini untuk menjelaskan pasangan lomba wajib yaitu lomba fashion show. Sebenarnya pasangan kalian nanti itu diatur bukan oleh ibu. Tetapi oleh kepala sekolah sendiri. Jadi nanti terimalah pasangan kalian dengan lapang dada," ucap Bu Jeje dengan memegang secarik kertas.


"Baik bu," ucap sebagian dari para siswa siswi.


Semua siswa-siswi mempunyai harapan tinggi masing-masing akan pasangan mereka nanti.


Tapi ternyata memang benar yang orang orang katakan. Jangan berharap tinggi jika tidak mau merasakan sakit.


Itulah yang hampir semua siswi rasakan saat mendengar nama Wily dan Dyla yang dinyatakan menjadi pasangan.


Bahkan Celine juga cemburu. Dia sudah berharap akan satu pasangan dengan Celine, tapi ya karena tidak bisa. Celine hanya bisa pasrah, bukan?


Celine dipasangkan dengan Ela. Sungguh apakah kepala sekolah mereka buta? Kenapa dua musuh malah dibuat menjadi pasangan? Benar-benar gila!


"Ya ampun kenapa gue harus pasangan sama tomboy sih," ucap Ela saat Bu Jeje sudah keluar.


"Ya elah siapa juga yang mau pasangan dengan orang munafik. Mending gue pasangan sama kerbau daripada sama iblis bermuka malaikat," balas Celine dengan sadis.

__ADS_1


"Buta kali lo. Mana bisa kerbau dibandingkan dengan gue," ucap Ela kesal.


"Memang gak bisa tapi disamakan bisa kok," balas Celine sambil terkikik menyindir.


__ADS_2