Apa Salahku Sampai Dibuang?

Apa Salahku Sampai Dibuang?
ASSD? #4


__ADS_3

Keesokan harinya.


Dyla bangun jam empat seperti pelayan lainnya. Dia sibuk melakukan tugas sebagai pelayan. Seperti mencuci baju contohnya.


"Bu, Dyla sudah selesai menjemur baju ya. Sekarang Dyla mau siap-siap ke sekolah dulu ya," ucap Dyla pada Ghea.


"Iya nak," ucap Ghea.


Sekarang sudah jam lima lewat tiga puluh menit. Sedangkan Dyla masuk sekolah jam tujuh dan dia juga ke sekolah dengan berjalan kaki.


Dyla kembali ke kamar. Dia langsung bersiap tanpa membuang waktu. Dan Dyla sengaja menggunakan kaos kaki yang panjang untuk menutupi luka-luka yang dia dapat kemarin.


Dyla langsung ke luar dari kamar dan menuju ke luar dari area rumah.


"Dyla kok berangkat sekolah jam segini?" Tanya Pak satpam saat melihat Dyla.


"Emang sekarang jam berapa pak?" Tanya Dyla.


"Sudah jam enam lewat tiga puluh menit," jawab Pak satpam.


"Tadi cucian banyak banget pak. Ya udah, kalau gitu Dyla pergi ya, Pak" pamit Dyla.


Pak Satpam mengangguk.


Dyla langsung berlari dengan kencang. Dia takut terlambat.


Dyla berlari menyebrangi jalanan.


Tinnnnn...


Terdengar suara klakson yang memekakkan telinga akibat Dyla yang menghambat jalan mobil itu.


"Maaf," ucap Dyla dan melanjutkan larinya.


Dyla berhenti sebentar. Dia sangat lelah. Dadanya naik turun akibat dirinya yang berlari sangat kencang.


"Ayo sedikit lagi Dyla, semangat!" gumam Dyla menyemangati dirinya sendiri.


Dyla kembali berlari dan akhirnya dia dapat melihat sekolahnya.


Namun yang membuatnya panik adalah. Gerbang sekolah itu sudah tertutup.


Rasanya semangat yang tadi membara di dalam diri Dyla hilang.


Emang sekarang sudah jam berapa? Kenapa gerbang sudah tertutup?


Tanya Dyla dalam hati.


Dyla berjalan ke pos satpam. Di sana tidak ada siapapun. Tapi Dyla bisa melihat jam yang menunjukkan angka 06.55.


"Masih ada lima menit lagi tapi kenapa gerbang tertutup?" Tanya Dyla lirih.


Dyla melihat ke arah sekolah yang terlihat sudah sepi.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana?" Tanya Dyla dalam hati.


"Ealah, gerbangnya tertutup"


Terdengar suara dari arah belakang Dyla.


Dyla berbalik untuk melihat orang di belakangnya.


"Dimas," gumam Dyla.


"Eh... oh Dyla. Kamu di luar juga," ucap Dimas.


"Iya," jawab Dyla sambil tersenyum khas dirinya.


"Padahal masih aja beberapa menit lagi," sambung Dyla.


"Iya satpamnya memang begitu. Suka usil," ucap Dimas.


"Oh iya, yang di luar hanya kita berdua aja ya," ucap Dyla saat melihat hanya ada mereka berdua.


Dimas tersenyum misterius.


"Ayo ikut aku. Aku akan kasih tahu kamu sebuah rahasia," ucap Dimas.


Dyla mengangguk lalu berjalan mengikuti Dimas. Mereka berjalan menuju belakang sekolah. Lagian pikirnya gak ada guna juga disana.


"Kita ngapain di sini?" Tanya Dyla.


"Begini ya Dyla. Saat gerbang di tutup, semua murid akan lewat sini untuk masuk ke dalam. Ini seperti jalan rahasia untuk kami yang sering telat," jawab Dimas dengan nada bangga.


"Begini, kamu naik ke atas sana, lalu naik ke tembok. Setelah itu melompat, mudahkan?" Tanya Dimas.


"Sepertinya tidak begitu," jawab Dyla sambil menatap ngeri ke tembok yang tinggi itu.


Bagaimana mungkin dia melompat dari tembok setinggi itu. Bisa-bisa nanti kakinya patah.


"Tenang saja. Aku akan membantumu," ucap Dimas.


Dyla mengangguk.


Lalu Dimas naik ke atas pot semen yang lumayan tinggi. Setelah itu pria itu memanjat ke atas tembok. Dimas menunggu Dyla di atas tembok. Saat Dyla sudah naik ke atas pot. Dimas mengulurkan tangannya untuk membantu Dyla naik ke atas tembok.


Dyla tersenyum saat dirinya sudah berhasil di atas tembok.


"Aku akan lompat terlebih dahulu. Nanti kamu susul aku melompat ya. Kamu tenang saja aku ada di bawah untuk menjagamu. Nanti aku akan menangkapmu. Kamu percaya aja sama aku," pesan Dimas.


Dyla mengangguk.


Dan dalam sekejap pria itu sudah tiba di bawah.


"Dyla lompatlah," ucap Dimas saat dia sudah tiba di bawah dan siap untuk menangkap Dyla.


"Janji ya kamu tangkap aku," ucap Dyla.

__ADS_1


Dimas mengangguk.


Lalu Dyla menarik nafas panjang. Dan dia melompat dengan menutup mata.


Sret.


Perlahan namun pasti Dyla membuka kembali matanya saat merasakan kakinya menyentuh tanah.


"Aku selamat," ucap Dyla senang.


"Terima kasih ya," ucap Dyla pada Dimas yang kini sedang berhadapan dengannya.


"Sama-sa..."


"Oh jadi selama ini kalian yang selalu berbuat curang. Kalian yang telat bukannya sadar diri malah lewat jalan sini untuk masuk ke dalam sekolah," ucap seorang guru yang tiba-tiba datang.


Dia adalah pak Suripto, seorang guru BK.


"Ikut bapak sekarang," perintah pak Suripto dengan tegas.


Dimas dan Dyla saling menatap lalu mengikuti dengan pasrah.


Pak Suripto membawa mereka ke tengah lapangan.


"Kalian tunggu di sini," ucap Pak Suripto lalu pergi ke arah kursi panjang yang ada di depan sebuah kelas.


Dyla mengangguk. Sedangkan Dimas hanya menatap kesal. Dia memang sering telat. Tapikan itu terjadi juga gara-gara pihak sekolah yang langsung menutup gerbang padahal belum waktunya.


"Lihat saja akan kulaporkan hal ini pada papaku," ucap Dimas lirih namun dapat di dengar Dyla yang ada di sampingnya.


Dyla menatap Dimas lalu tersenyum kecut. Papa! Jika saja dia memiliki Papa mungkin dia akan berpikir sama dengan Dimas. Atau jika saja dia anak yang kaya mungkin dia bisa melaporkan hal ini.


Namun mau bagaimanapun dia dilahirkan sebagai anak Ibunya yang bekerja sebagai pelayan. Tapi tidak apa, meski pelayan Dyla tetap bersyukur karena wanita itu menyayangi dirinya.


Lalu beberapa saat kemudian Pak Suripto datang membawa dua buah potong kardus berbentuk persegi yang di ikat dengan tali rafia menyerupai kalung.


"Kalian berdua hormat bendera sampai jam istirahat. Pakai ini juga," ucap Pak Suripto seraya menyerahkan dua potongan kardus di tangannya.


"Harus pak?" Tanya Dimas yang terlihat tidak suka memakai kardus pemberian pak Suripto.


Dyla mengambil kardus itu dan langsung memakainya. Dia tidak peduli sama sekali dan tidak mau protes. Biarlah sekali-sekali dia menerima hukuman.


"Ya harus," jawab Pak Suripto tegas.


"Apa waktunya bisa di kurang pak? Jam istirahat masih lama lagi pak. Dua jam lagi, bapak pikir kami gak capek berdiri dua jam di sini," protes Dimas.


"Kalau kamu masih protes, bapak tambah hukumannya sampai jam dua belas," ucap Pak Suripto lalu langsung pergi.


"Sampai jam dua belas katanya. Hu... ini sih namanya penyiksaan," gerutu Dimas.


"Sudah lakukan saja," ucap Dyla dengan tersenyum.


"Dimas cepat hormat bendera," bentak Pak Suripto yang ternyata masih ada di belakang Dimas.

__ADS_1


"Iya Pak," ucap Dimas sambil memutar bola matanya jengah.


Dimas lalu memakai kalung abal-abal ciptaan Pak Suripto dan hormat bendera.


__ADS_2