Apa Salahku Sampai Dibuang?

Apa Salahku Sampai Dibuang?
ASSD? #5


__ADS_3

Sesekali terlihat murid yang lewat dan melihat kelakuan mereka berdua. Sebuah tas di punggung, kalung berharga ciptaan Pak Suripto, tangan di dahi dan mata yang melirik ke atas tepatnya di mana bendera berada.


"Astaga malunya," keluh Dimas.


Dyla melirik Dimas sekilas lalu tersenyum kecil.


"Kenapa harus malu? Kamu kan gak telanjang," ucap Dyla.


"Hah?" Dimas menatap Dyla bingung.


"Dimas lihat ke bendera," suara Pak Suripto yang sangat keras mengagetkan Dimas.


"He..eh, ternyata bapak gila itu masih ada di sana," lirih Dimas dan kembali menatap ke bendera.


"Ibuku pernah bilang. Manusia itu tidak perlu malu jika melakukan sesuatu. Hanya ketika telanjang saja orang harus malu," ucap Dyla dengan tetap menatap bendera.


Dimas tersenyum kecut.


"Kamu beruntung memiliki Ibu seperti itu. Tapi sayangnya pemikiranmu yang di ajarkan Ibumu berbeda dengan pemikiranku yang diajarkan Papaku," ucap Dimas.


"Papaku selalu mengatakan bahwa dia malu memiliki anak nakal dengan nilai jelek. Dia juga menyuruhku untuk malu pada diri sendiri jika aku di hukum karena nakal atau memiliki nilai jelek," curhat Dimas.


Dyla menggigit bibirnya bingung harus bertanggapan apa.


"Jangan merasa kasihan padaku," ucap Dimas yang seakan tahu apa yang di pikirkan Dyla.


"Papaku hanya kadang saja mengatakan hal itu. Dia sebenarnya sangat baik. Hanya jika menyangkut nilai dan perilakuku saja dia sensitif. Apalagi karena saudaraku meninggal karena terjerat pergaulan bebas. Papa menjadi tambah overprotektif," ucap Dimas.


"Hehe... maaf aku berpikir yang lain dan turut berduka ya," ucap Dyla.


"Tidak apa. Semua orang pasti akan salah paham dengan perkataanku yang terputus-putus," ucap Dimas.


Dyla tersenyum.


"Dyla, aku sudah menceritakan sedikit cerita di keluargaku. Tidakkah kamu mau membagi sedikit cerita keluargamu?" Tanya Dimas.


"Kamu mau mendengar ceritaku?" Tanya Dyla.


"Tentu saja," jawab Dimas.


"Aku tidak punya apa-apa untuk di ceritakan," ucap Dyla.


"Kenapa? Kamukan punya keluarga," ucap Dimas.

__ADS_1


"Tapi keluargaku hanya Ibuku. Apa kamu masih mau mendengar ceritaku yang membosankan?" Tanya Dyla.


"Ya," jawab Dimas.


"Di keluargaku hanya ada aku dan Ibu. Katanya kalau tidak salah. Aku dan Ibu tinggal berdua di rumah kontrakan hanya sampai aku berusia tiga bulan. Lalu setelah itu kami tinggal di rumah majikan Ibu. Soal Ayahku. Aku tidak tahu di mana dia berada. Ibu bilang Ayahku mengusir kami. Karena masalah orang dewasa kata Ibu," ucap Dyla.


Dimas menunggu kelanjutan cerita Dyla. Namun sayangnya gadis itu sepertinya tidak berniat melanjutkan ceritanya.


"Aku pernah tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu dengan Celine. Tentang kamu yang membantu Ibumu bekerja. Apa bekerja menjadi pelayan?" Tanya Dimas.


"Celine pernah menanyakan hal ini padaku. Dan sekarang kamu juga bertanya. Baiklah aku akan menjawab. Sebenarnya aku sudah di anggap pelayan bukan hanya membantu Ibu. Bagaimana ya aku menjelaskannya. Emm... Begini, aku kan tinggal di rumah majikan Ibu. Jadi aku bekerja untuk membayar uang rumah. Singkatnya aku menjadi pelayan dan balasannya aku menadapat tempat tinggal," jawab Dyla.


"Hey, kalian berdua memang. Sudah tahu di hukum masih saja mengobrol. Benar-benar anak tidak tahu aturan," bentak Pak Suripto yang entah sejak kapan sudah ada tepat di belakang mereka berdua.


Dimas melirik Pak Suripto sekilas lalu kembali menatap bendera. Pria itu sepertinya tidak terlalu perduli.


"Kalian berdua keliling lapangan lima kali. Setelah itu baru boleh masuk kelas," ucap Pak Suripto lalu berbalik menjauh dari mereka.


Pak guru itu hanya menjauh bukan pergi. Dia terus mengamati kelakuan kedua anak remaja itu.


"Lima putaran saja. Easy," gumam Dimas semangat.


Tapi berbeda dengan Dyla. Dia merasa tidak sanggup. Sekarang saja kakinya sudah merasa sangat lemas.


Sedangkan Dimas. Kecepatan lari pria itu dua kali dari Dyla. Sehingga dia sudah menyelesaikan larinya.


Dyla berhenti sesaat setelah menyelesaikan tiga putaran. Dia menarik nafas dalam-dalam.


"Dyla lari," suruh Pak Suripto.


Dyla kembali melanjutkan larinya. Kepalanya terasa berputar-putar. Sakit, sangat sakit.


Dimas menatap Dyla yang larinya sudah terlihat aneh. Jalannya sudah tidak teratur.


Dyla kembali berhenti. Kali ini gadis itu berjongkok. Bahkan dia memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Dyla kamu baik-baik saja?" Tanya Dimas yang berjalan mendekati Dyla.


"Beri aku waktu lima menit," ucap Dyla.


Pak Suripto berjalan mendekati mereka berdua. Melihat apa yang terjadi.


"Ada apa? Apa kamu sakit Dyla?" Tanya Pak Suripto.

__ADS_1


Dyla menatap Pak Suripto.


"Saya hanya kelelahan pak. Beri saya waktu lima menit untuk berhenti. Setelah itu saya akan melanjutkan hukuman saya," ucap Dyla.


"Pak, biarkan saja Dyla. Biar saya saja yang menggantikan dia. Satu setengah putaran saja kan tersisa. Biar aku yang gantikan," ucap Dimas.


Pak Suripto melihat keadaan Dyla sekilas. Pria yang terlihat garang itu sebenarnya punya hati yang agak lunak. Agak ya.


"Baiklah. Tapi hanya kali ini saja. Dyla kamu pergilah duduk di sana. Istirahat sebentar," ucap Pak Suripto menunjuk bangku.


Dyla berdiri lalu menatap Dimas.


"Terima kasih ya Dimas," ucap Dyla tulus dengan tetap menunjukkan senyumannya.


"Sama-sama," ucap Dimas juga tersenyum.


Dyla bukanlah tipe gadis yang sok jual mahal. Baginya jika ada yang mau membantunya saat dia tidak bisa. Ya sudah dia akan menerima bantuan. Tapi jika dia merasa bisa, dia akan melakukannya.


Dyla berjalan lalu duduk di atas bangku dengan meluruskan kakinya. Walaupun dia pening namun tetap saja dia memaksakan diri untuk melihat Dimas. Bagaimanapun pria itu telah berbaik hati menggantikan hukumannya.


Setelah beberapa saat Dimas telah menyelesaikan satu setengah putaran.


"Baiklah, kalian berdua sudah bisa masuk kelas," ucap Pak Suripto.


"Baik pak," ucap Dimas dan Dyla bersamaan.


Lalu pria itu, Dimas berjalan mendekati Dyla.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Dimas.


"Sudah lebih baik," jawab Dyla.


"Ayo ke kelas," ucap Dimas seraya mengulurkan tangannya.


Dyla bingung dengan uluran tangan Dimas. Dia ingin menerimanya. Namun jika dia menerimanya semua penghuni sekolah ini pasti akan semakin mencaci dirinya.


"Baik," ucap Dyla lalu berdiri sendiri. Dia berpura-pura tidak melihat uluran tangan pria itu.


"Emm ya baik," ucap Dimas kikuk karena uluran tangannya di tolak.


Dyla berjalan dengan penuh hati-hati. Bagaimanapun dia sudah mencuci tadi, lalu berlari ke sekolah. Di hukum berdiri selama satu jam. Lalu berlari keliling lapangan.


Ayolah Dyla menyerah. Dia tidak sanggup untuk menggerakkan kakinya lagi. Apalagi kepalanya terasa pening hingga dia merasa dia bisa pingsan kapan saja.

__ADS_1


__ADS_2