
Aku memejamkan mataku, membayangkan masa laluku. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku mimpi indah, kapan terakhir kali aku kelaparan, kapan terakhir kali aku merasakan hangatnya api unggun, dan kapan terakhir kali aku melihat bulan yang indah dan menyinari malamku.
"Nona Aria?"
Aku membuka mataku, ah....ternyata Anny. Anny adalah satu-satunya pelayan yang selalu melayaniku sejak aku menjadi keluarga Parez. Sedangkan pelayan lainnya, mereka tidak suka padaku dan ketiga kakakku. Mungkin karena kami dulunya adalah orang miskin yang tidak mampu. Kalau begitu, kenapa kami diadopsi? Oh ya, karena ibu tiriku kehilangan anaknya, Lee Parez. Karena peristiwa itu, ibuku dihina oleh para bangsawan, dan juga ada banyak gosip karena dulu ibu tiriku hanyalah rakyat kecil sepertiku. Haaah, hidupku ini sangat rumit. Aku menjadi keluarga Parez saat aku dan ketiga kakak laki-lakiku masih kecil. Kira-kira umurku masih 6 tahun.
"Anny?" kataku sambil duduk.
"Apa nona tidur nyenyak?"
"Iya, bagaimana dengan Anny? Apa Anny tidur nyenyak?"
"Tentu saja saya tidur nyenyak, saya harus siap melayani nona. Oh ya, air mandi nona sudah siap. Sebaiknya nona langsung mandi."
"Baik, Anny."
Aku pun mandi air panas, air panas sangat menenangkan pikiranku. Ah~ pikiranku sangat rileks. Setelah itu, aku mengenakan pakaianku dan menyisir rambutku. Aku harus siap-siap karena ibuku mengajakku minum teh dengan para nyonya bangsawan.
Tok tok tok, ada yang mengetuk pintu.
"Aria, apa ibu boleh masuk?"
Terdengar suara Liz Parez, nyonya keluarga Parez, dan sekaligus ibu tiriku. Walau dia ibu tiriku, dia tetap menyayangiku seperti anak sendiri. Bahkan sampai setiap hari, ibu mengunjungi kamarku setiap pagi.
"I-Iya, tunggu sebentar." Aku berdiri dari kasur, membukakan pintu untuk ibu dan memeluknya.
"Selamat pagi, Aria. Selamat pagi, Anny." Ibu mengelus-elus kepalaku.
"Selamat pagi, ibu." Aku memasang wajah manisku.
"Selamat pagi, nyonya." Anny menundukan kepala.
__ADS_1
"Kamu sudah siap pergi, Aria?"
"Iya!"
Benar, ini hidup baruku.
Kami pun turun menyusuri tangga dan masuk ke ruang makan.
"Hai, Aria~!" Kak Nikel melambai tangannya.
Kak Nikel adalah kakak keduaku, dia sangat suka membantuku. Dia mempunyai rambut perak sehingga terlihat seperti malaikat.
"Oh, halo Kak Nikel. Apa aku terlambat?" Aku duduk di tempat dudukku.
"Tenang saja, kau tidak terlambat kok. Kami baru sampai." Kak Peter tersenyum hangat padaku. Kak Peter adalah kakak pertamaku. Dia hebat memainkan piano dan juga dia memiliki rambut unggu yang menarik.
"Hehe, sepertinya kamu mulai mengerti tata krama." Kak Taylor tersenyum jahil.
"Ibu, Kak Taylor menjahiliku."aku memasang ekspresi sedih.
"Taylor, jangan ganggu adikmu."Ibu melindungiku.
"Iya, iya."
Makanan kami pun datang, kami semua berbincang-bincang sambil makan.
Ketiga kakakku mempunyai kelebihan mereka sendiri. Sedangkan aku Aria Parez, aku memiliki rambut emas dengan mata unggu. Oh ya, aku ahli berpedang, sama seperti Kak Taylor. Tapi, para bangsawan wanita sangat merendahkanku karena keahlianku ini tidah seperti seorang perempuan bukan hanya nyonya tapi tuan bangsawan juga. Para tuan-tuan mengatakan seharusnya aku merajut seperti wanita. Tapi bagiku, apa salahnya aku hebat berpedang karena itu yang Tuhan berikan untukku.
Setelah sarapan, aku dan ibu langsung berangkat menaiki kereta kuda.Terlihat ayah, Anny, dan ketiga kakakku memperhatikan kereta kudaku dari depan kediaman Parez. Kami pun sudah jauh dari kediaman, aku melihat jendela dan memperhatikan pemandangan. Sungguh, aku sebenarnya tidak ingin ikut dan bertemu dengan para wanita bangsawan itu. Tapi aku juga harus melindungi ibu, aku takut mereka macam-macam dengan kami.
Sesampai kita di kediaman keluarga Alvon, kami langsung masuk ke ruang minum teh.
__ADS_1
"Saya senang bisa bertemu dengan nona dan nyonya keluarga Parez."nyonya keluarga Alvon tersenyum licik.
"Kami juga senang bertemu anda, Nyonya Alvon."Ibu kepada Nyonya Alvon.
Collin Alvon adalah salah satu orang yang menyebarkan gosip tentang aku, ibuku, dan ketiga kakakku. Dia tidak berani menyampaikan gosip tentang ayah, karena keluarga kami adalah bangsawan kelas atas, diatas keluarga lainnya. Oh ya, dulu Nyonya Alvon jatuh cinta pada ayah. Tapi aku pasti akan melindungi ayah dan ibu. Kalau dia menyentuh ayah dan ibuku, aku bersumpah akan menyiramnya dengan besi cair.
"Nyonya Parez, apakah nyonya sering menghabiskan waktu dengan suami nyonya?" Nyonya Alvon melirik wajah ibu.
Dasar wanita jalang!!!!!
"Tentu, kami sering minum teh dan makan bersama." Ibu hanya tersenyum.
"Wah, hubungan kalian baik ya. Dulu aku dan suami anda sering memakan camilan bersama. Hubungan kami sangat baik."
Perkataan Nyonya Alvon membuat semua nyonya melirik kami. Sudah cukup, aku tidak tahan!!!
"Kalau begitu, apakah saya boleh tanya? Camilan apa yang ayahku sukai itu?" Aku tersenyum.
"T-Tentu saja kue."Nyonya Alvon akting sok tau.
"Begitu ya, Nyonya Alvon, sepertinya sekarang anda sedang berbohong."Aku mengeluarkan tatapan yang menyeramkan.
Perkataanku membuatnya ciut.
"Aku tanya lagi, kenapa Nyonya Alvon berbohong?"Lanjutku
"K-KAMU PIKIR AKU BERBOHONG?! MEMANGNYA KAMU PUNYA BUKTI? LAGI PULA TUAN PAREZ MEMINUM TEH!" Nyonya Alvon berdiri dari tempat duduknya.
"Ohoho, ayahku memang suka teh, tapi bukan yang manis. Kenapa anda marah pada saya? Saya anaknya, dan saya sangat kenal dia. Anda marah? Anda hanya membuang-buang tenaga anda. Apakah saya benar?"
"Ukh...."Nyonya Alvon kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Sesampai aku di kediaman Parez, aku langsung mandi dan siap tidur. Ah~ hari yang melelahkan. Kenapa si jalang itu membuatku tidak tahan?! Kalau pedang ada di tanganku, aku akan memenggal kepalanya. Aku pun menutup mataku dan tidur diranjangku. Aku harap Nyonya Alvon sadar diri.