Aria'S New Life

Aria'S New Life
Hari Orang Tua dan Anak


__ADS_3

Tidurku terasa tenang karena dalam mimpiku, aku mendengar suara ibu kandungku yang sedang membisikkan sebuah lagu ke telingaku sebelum dia tidak ada bersamaku lagi. Hari itu, aku demam dan aku sering muntah darah. Suara ibu yang membisikkan lagu itu membuatku tenang.


Bunga, burung, angin, Bulan..... Bahkan sampai sekarang, aku masih mencari di langit yang aku pandang. Badai kesunyian ini selalu menenangkan pikiranku. Aku pernah berharap untuk menjadi abadi, tetapi waktu sangatlah singkat. Suatu saat goresan luka ini akan mengambil semuanya dariku dan membukakan pintu kegelapan padaku. Demi melindungi semua yang aku sayangi, sekarang aku berada disini sambil menantikan cahaya pagi. Seiring waktu berubah, sekilas aku mengingat masa laluku yang kejam dan tidak berperasaan. Ke mana perginya bintang-bintang yang memancarkan cahaya kesepian itu? Kegelapan yang membayangi cahaya itu bagaikan laut yang sunyi. Sesuatu yang menghembus dan memutar langit itu. Apakah angin penakut? Ataukah angin belakang? Demi melindungi senyum yang tak berubah seperti hari itu. Sekarang aku akan bangkit. Diterpa oleh hujan bulan Juni. Dihembus oleh salju bulan Februari. Lagu pengantar tidur yang hangat itu. Aku mencarinya dengan menatap langit. Bahkan pada padang gurun kesedihan ini. Ada benih-benih kebahagiaan yang tertidur. Dengan air mata yang membasahi pipiku. Waktu terus berubah namun kenangan itu fana. Aku ingin berada di sisimu. Hanya itulah alasanku untuk hidup.


Cip cip cip, terdengar suara burung dari luar jendela. Aku membuka mataku, tidak aku sadari, air mata sudah membanjiri pipiku. Pasti karena aku mendengar suara ibu. Hah, aku duduk di pinggir kasur lalu mandi seperti biasanya. Hari ini aku akan membaca buku di perpustakaan. Lebih baik kalau aku bisa mendapatkan sesuatu dari buku daripada duduk diam dan tidak mendapatkan apa-apa.


Saat aku diperpustakaan, aku mengambil 5 buku untuk dibaca. Awalnya aku tenang membaca, tapi....Tok tok tok, ketiga kakakku malah masuk ke dalam.


"Aria, kami mencarimu kemana-mana." kata Kak Peter.


"Ada apa kakak-kakak?" Aku menutup buku.


"Kata ayah dan ibu, hari ini hari orang tua dan anak. Ayah dan ibu bilang kita akan pergi jalan-jalan di ibukota setelah sarapan. Singkatnya seperti itu." Kak Nikel.


"A-Apa? Memangnya bangsawan juga melakukan hal seperti itu? Kita tidak pernah melakukan itu kok."kataku.


"Ayah dan ibu bilang, hari orang tua dan anak hanya diadakan 7 tahun sekali. Kita menjadi keluarga Parez baru 5 tahun."kata Kak Taylor.


"Be-Begitu ya."kataku.


"Sudahlah, ayo sarapan. Ayah dan ibu sudah menunggu." kata Kak Peter.


Kami pun segera ke ruang makan.


Saat sampai, aku dan kakak-kakakku hormat pada ayah dan ibu lalu duduk di kursi kami.


"Ayah, ibu, saya dengar hari ini hari orangtua dan anak. Kenapa para bangsawan mengadakan perayaan itu 7 tahun sekali? Bukankah itu butuh waktu yang lama untuk menunggu harinya datang?" kataku.

__ADS_1


"Karena para bangsawan menganggap hari itu adalah hari yang tidak penting."kata ayah


"Begitu ya..." aku kecewa.


Ternyata hari seperti itu tidak penting ya.


"Lebih baik kalian bersenang-senang hari ini. Lagipula besok kalian masuk ke akademi kan?" kata ibu.


Aku lupa, aku juga belajar di akademi para bangsawan. Disana aku juga punya teman, aku akan memperkenalkan mereka jika kita bertemu di akademi ya.


"Benar, kami akan pulang saat musim dingin. Kami akan merindukan kalian."kataku.


"Astaga Aria, kalau begitu ibu akan membuat sapu tangan untuk kalian."kata ibu.


"Dan ayah akan menghadiahkan baju baru pada kalian."lanjut ayah.


Kami pun makan sarapan kami setelah itu kami siap-siap pergi jalan-jalan ke ibukota.


Sesampai kita ke ibukota, aku dan keluargaku melihat-lihat ibukota. Banyak sekali toko disana, ada toko baju, cafe, dan lain-lain. Aku tidak sengaja melihat baju yang pertama kali ibu belikan untukku. Ibu bilang aku terlihat imut. Haha, hari itu aku terkejut melihat bayanganku di cermin. Aku merasa bayangan itu bukan aku.


"Ayo kita beli baju, anak-anak. Ayah sudah bilang akan membelikannya untuk kalian." kata ayah.


"Baik, ayah!"


Disana, ada banyak sekali baju. Ibu benar-benar mencarikan baju yang cocok untukku dan kakak-kakakku. Ibu membeli banyak sekali baju, ibu bilang ibu ingin memamerkan anak-anaknya dihadapan para bangsawan. Dasar ibu...


Setelah ke toko baju, kita pergi ke bakery. Kata ibu, roti di ibukota sangat enak. Ternyata memang benar, sangat enak. Karena Kak Peter, Kak Nikel, dan ibu suka manis, mereka memilih roti seperti roti srikaya, roti coklat, dan roti stoberi. Kalau aku, Kak Taylor, dan ayah tidak terlalu suka manis. Karena itu, kami memilih roti tawar. Banyak sekali yang kami lakukan. Sayangnya, sudah waktunya pulang.

__ADS_1


Saat aku melihat-lihat ibukota sebelum pulang, aku tidak sengaja melihat toko senjata. Disana, banyak sekali pedang, pisau, dan lain-lain. Aku terus memandang toko itu, berharap bisa membeli pedang.


"Kamu mau beli pedang ya, Aria."Ayah memegang pundakku.


Aku hanya terdiam, tentu karena aku sudah meminta banyak. Aku baru 5 tahun tinggal di kediaman Parez. Aku gak boleh meminta banyak.


"Hah~, yadudah. Ayo masuk!"ayah mendorongku masuk ke dalam toko senjata itu.


Di dalam, aku melihat pedang-pedang yang menyilaukan mataku. Benar-benar keren, aku sangat suka pedang.


"Kamu pilih yang mana, Aria?" kata ayah.


"Em...." Aku melihat-lihat karena banyak pedang yang sangat menarik.


Tiba-tiba aku melihat sebuah pedang yang luar biasa, Pedang Damaskus. Pedang Damaskus kalah populernya dari samurai, namun Pedang Damaskus memiliki kekuatan dan ketajaman melebihi samurai.


"Aku pilih ini."kataku.


"Baiklah, ayah bayar dulu ya."Ayah pergi bayar ke penjual


"Iya ayah."


Aku senang, ternyata aku bisa memiliki pedang yang paling aku inginkan, Pedang Damaskus. Aku pikir, ayah akan menolak. Karena itu adalah pedang yang berbahaya, tangan pengguna akan sering terluka jika belum terbiasa. Atau jangan-jangan....Ayah tidak tau tentang pedang ini? Tidak, tidak mungkin, ayah tau semua jenis senjata. Jadi.... begitu ya.... ayah.... ayah percaya padaku.


Saat di perjalanan, aku hanya diam dan menutup mataku. Aku tidak sadar aku tertidur, aku memimpikan itu lagi. Bisikkan lagu ibuku yang menenangkan hatiku.


Bunga, burung, angin, Bulan..... Bahkan sampai sekarang, aku masih mencari di langit yang aku pandang.....

__ADS_1


Aku bingung, apa artinya lagu itu. Saat mendengar lagu itu, entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang aku lupakan. Sesuatu yang sangat penting, apa ya?


__ADS_2