Aria'S New Life

Aria'S New Life
Bagiku, Ian Casstelo Adalah....


__ADS_3

Aku membuka mataku, aku melihat langit-langit asramaku. Saat aku melihat sekelilingku, aku melihat ketiga kakakku duduk disamping kasurku.


"Akhirnya kau sadar, lama sekali."Kak Taylor tersenyum.


"Kau membuat kami sangat khawatir."kata Kak Peter.


"A-Aku kenapa?"aku bingung melihat ketiga kakakku.


Aku tidak ingat apapun yang terjadi padaku. Aku sangat kebingungan.


"Kamu kelelahan sampai pingsan di lorong. Kamu sudah pingsan selama 3 hari. Dokter bilang kamu harus banyak istirahat."jawab Kak Nikel.


Ah, aku ingat, aku sangat kesakitan hari itu. Sepertinya aku terlalu memaksakan diri untuk hari itu. Oh ya, ini jam berapa ya? Aku melirik jam.


"JAM 9!!!" aku melonjak duduk.


Tapi.... ugh, kepalaku pusing dan kembali berbaring.


"Hei, kamu ini harus istirahat. Kamu gak boleh ke akademi dulu."Kak Taylor melipat tangannya.


"Ta-Tapi hari ini ujian seni pedang."Aku menolak.


"Kamu berani membantah perkataan ketiga kakakmu ini?"Kak Peter kesal.


Aku tidak bisa melawan jadi mau bagaimana lagi.


"Baiklah, berapa lama aku harus istirahat?"


"Kata dokter bilang, 7 hari."jawab Kak Nikel.


"Tu-Tujuh hari? Itu terlalu lama."


"Oh ya, kata dokter, kamu harus minum obat." Kak Taylor menyodorkan gelas berisi obat.


Saat melihat obatnya, aku langsung ngeri. Baunya pun mengerikan.


"Minum obatmu, Aria."Kata Kak Peter.


"Baiklah.... "aku mengambil gelasnya.


Saat aku meminumnya, lidahku terasa sangat pahit. Tetapi aku memasang ekspresi biasa saja. Tahan Aria, TAHAN!


"Sepertinya jam istirahat kami sudah selesai, kami ke kelas dulu ya, Aria."Kata Kak Nikel.


"Dah!" kata ketiga kakakku.


"Dah!"

__ADS_1


Saat mereka menutup pintu, aku langsung mengambil air putih. PAHITNYAAAA!


Sekitar 2 jam aku berbaring dikasur, aku sangat bosan. Karena itu, aku mencoba kabur dari asramaku. Aku mengenakan seragam untuk menemui Pak Robert lalu meminta materi hari ini. Setelah mengenakan seragam, aku langsung ke Pak Robert.


Sesampai di ruang guru, aku mengetuk pintu terlebih dahulu. Ternyata Pak Robert memang ada disana. Aku mendekatinya dan membungkuk.


"Selamat siang, Pak Robert."kataku.


"Ah, Aria Parez, apa kabar? Saya dengar kamu sedang sakit." kata Pak Robert.


"Sekarang saya sudah baikan."


"Begitu ya, kamu sedang apa sekarang? Ketiga kakakmu itu melarangmu keluar asrama bukan? Apa jangan-jangan kamu kabur dari asrama?"


"Yah, begitulah. Saya hanya keluar untuk mengambil materi hari ini dan menjalankan ujian."


"Begitu ya, baiklah. Ini soal ujiannya. Tolong kerjakan di sana."Pak Robert menyerahkan soal ujian dan menunjuk ke arah meja dan kursi kosong.


"Baik, Pak Robert."


Aku pun duduk dikursi kosong itu dan menjawab pertanyaan soal tersebut.


Seusai aku ujian, aku menyerahkan kertas ujian pada Pak Robert dan keluar dari ruang guru. Aku mau kemvali ke asrama. Tapi... aku tidak sengaja mendengar tawa ketiga kakakku. Mereka mendekat, jadi aku sembunyi di belokkan lorong sekolah. Secara tiba-tiba.....


"Aria?"


"Terima kasih ya, Ian."


"Kamu juga sedang apa sih?"


"Hanya ujian dan meminta materi pelajaran hari ini."


"Kenapa kamu tidak memintaku saja?"


"Itu merepotkan, aku meminta materi sambil ujian. Ngomong-ngomong minggu ini ada ujian lain tidak?"


"Tidak ada, karena itu aku bisa mengirimkan materi kepadamu. Kamu nanti demam lagi, aku sangat khawatir saat melihatmu pingsan di lorong."


Ah, iya aku ingat. Saat itu, Ian langsung membawaku ke UKS.


"Ah, terima kasih soal hari itu ya."


"Dasar keras kepala, mulai sekarang kamu harus istirahat dan tidak boleh pergi. Kalau tidak, aku akan memberi tau ketiga kakakmu agar mereka menguncimu di dalam asrama."


"Iya iya, aku tidak akan keluar lagi."


Secara tiba-tiba, brak! pintu ruang musik dibuka. Aku melihat ketiga kakakku memasang wajah marah mereka.

__ADS_1


"Aria, menyesallah...."ketiga kakakku kompak.


Aku tersenyum tetapi seperti hendak menangis. Bagaikan sebuah kaca yang akan pecah.


Setelah melihat tatapan mereka, aku pun kembali ke asrama dan kami bicara disana.


"Aria, kita sudah bilang untuk tetap istirahat. Kita akan sangat khawatir jika kamu pingsan seperti hari itu. Ayah dan ibu juga sangat khawatir, tapi mereka tidak bisa datang karena gerbang menuju kemari ditutup."kata Kak Peter.


"Kita tidak boleh membiarkan ayah dan ibu khawatir terus-menerus. Kita harus lebih dewasa." kata Kak Taylor.


"Baiklah, tadi saya hanya pergi untuk ujian dan mengambil materi."jawabku.


"Lalu kau akan terus keluar untuk itu di minggu ini?" kata Kak Nikel.


"Sekarang tidak, kata Ian, minggu ini tidak ada ujian. Dia juga yang akan memberikan materi minggu ini."jawabku.


"Baguslah kalau begitu, kau harus istirahat dan minum obat."kata Kak Peter.


"Tapi... apakah kamu punya pemikiran lain?" tanya Kak Taylor.


"Apa maksud kakak?"kataku.


"Maksudku, Ian adalah siapa bagimu?"tanya Kak Taylor.


Apa-apaan itu? Kenapa si bocah rusuh malah bertanya tentang itu?


"Hanya sahabat baik kok. Memangnya apa yang kakak pikirkan?"kataku.


"Mungkin saja kamu suka padanya?"tatap tajam Kak Taylor.


"Dia dan aku, kami hanya teman. Lalu, masalah aku suka dengan siapa itu bukan urusan kakak." jawabku.


"Itu hal yang sangat penting untuk diketahui kami."kompak ketiga kakakku.


"Kenapa?"


"Karena semua laki-laki 'bertangan setan'."kata Kak Taylor.


"Ta-Tangan setan? Apa yang kalian bicarakan?"


"Pokoknya ingat itu."ketiga kakakku memasang wajah psikopat.


"Ba-Baiklah..."


Setelah membicarakan hal yang tidak berguna itu, mereka pun keluar dari kamarku, menuju kamar mereka masing-masing. Sedangkan aku ganti baju tidur dan berbaring di kasur.


Minggu ini aku akan terus di kamar, itu menyebalkan. Aku hanya bisa tidur, makan, mandi, dan belajar di asrama. Aku harap, aku bisa keluar. Tetapi ketiga kakakku benar, aku tidak boleh membuat ayah dan ibu khawatir. Haah, semoga satu minggu cepat berlalu.

__ADS_1


__ADS_2