Aria'S New Life

Aria'S New Life
Aria, Apa Yang Kamu Pikirkan Tentangku?


__ADS_3

Tujuh hari pun berlalu, aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Aku bangun dengan wajah yang senang. Akhirnya masuk sekolah lagi. Aku mandi dan siap-siap. Aku juga membawa tas kecil yang aku butuhkan serta pedangku. Aku mempersiapkannya dengan baik. Oh ya, karena aku senang, aku sampai lupa menyisir rambutku. Aku duduk didepan cermin, mengambil sisir dan menyisir rambutku.


Seingatku, dulu rambutku selalu disisir oleh ibu kandungku. Haha, saat aku mulai belajar seni pedang. Aku merasa rambutku akan menggangguku belajar. Saat aku hendak memotong rambutku, aku ingat kata ibuku.


"Aria, rambutmu ini sangat berharga. Bagi ibu, rambutmu ini bukan berwarna emas. Warna rambutmu ini persis seperti bintang pertama yangp ibu lihat saat umur ibu sembilan tahun. Saat itu, ibu baru melihat bintang yang seindah itu. Aria, apa pun yang terjadi, jangan potong rambutmud ya." kata ibu kandungku.


Haha, mengingatnya saja membuatku senang. Selesai, waktunya berangkat.


Aku menyusuri lorong, membuka loker dan mengambil buku dan alat tulisku. Secara tiba-tiba, teng teng teng teng, bel pun berbunyi. Yang berarti waktunya masuk kelas. Aku langsung meletakkan buku dan alat tulis di dalam tas dan bergegas ke kelasku.


Sesampai disana, seperti biasanya, semua melihatku dan aku mengabaikan mereka. Aku duduk di kursiku, dan disana sudah ada Ian.


"Hei, kau sudah sembuh ya."kata Ian.


"Yah, begitulah. Aku ingin cepat sekolah, jadi aku harus minum obat yang sangat pahit."


"Ewww, aku jadi membayangkan kalau aku yang minum."


"Percayalah, kamu tidak akan mau minum."


"Haha, kalau kamu bilang begitu, aku pasti akan muntah kalau minum obat itu."


Pak Robert pun masuk. Kami semua berdiri, membungkukkan badan, lalu duduk kembali.


"Selamat pagi, semuanya. Saya ada pengumuman. Tanggal 7 Juni, kelas kalian akan mengadakan sebuah acara di sebuah tempat perkemahan."kata Pak Robert.


Semuanya langsung terkejut karena bangsawan tidak pergi ke perkemahan. Bagi mereka tempat perkemahan adalah tempat yang jorok dan penuh lumpur.


"Pak Robert, kenapa kita malah ke tempat seperti itu? Bukankah bangsawan tidak pergi ke tempat seperti itu? Ini acara yang barbar sekali."kata salah satu murid.


Bangsawan..... Seperti itulah mereka.

__ADS_1


"Acara ini adalah acara yang sangat penting. Mungkin kalian sudah ahli dalam seni pedang, tapi kalian belum terbiasa untuk berada di alam. Karena itu, kami semua guru setuju untuk mengadakan acara ini. Sekali lagi saya katakan, acara ini sangatlah penting dan saya berharap kalian mempersiapkan diri untuk acara tersebut. Semua murid wajib ikut. Apa kalian mengerti?" jawab Pak Robert.


Karena tidak ada yang bisa protes, mereka pun hanya berkata....


"Kami mengerti...."wajah mereka lesu sekali.


Setelah membahas acara dan memperhatikan materi, kelas pun berakhir.


Saat istirahat, seperti biasa aku pergi ke kantin untuk makan siang.


"Hei, Aria."Ian memanggilku.


"Iya?"


"Kau akan ikut acara berkemah?"


"Iya, kenapa? Bukankah itu wajib?"


"Haih, jangan bilang kamu tidak suka acara ini dan bersikap manja seperti yang lainnya?"


"Sebenarnya seperti yang kamu katakan. Tapi, aku akan mencoba menikmatinya untukmu."


Pipiku memerah tetapi aku tetap berwajah tenang.


"Dasar, kamu selalu bicara sembarangan."


"Haha, oh ya, aku dengar dari rumor bahwa nanti di acara akan dibagikan kelompok 3 orang untuk aktivitas. Kalo masalah tenda, semua satu-satu."


"Aktivitas? Aktivitasnya apa saja?"


"Tidak tau, aku hanya tau itu. Aku harap aku sekelompok denganmu. Aku, kamu, lalu siapa lagi ya?"

__ADS_1


"Hei, kamu mau banget sih sekelompok denganku."


"Tentu saja, itu semua karena aku serius suka padamu."


Aku terdiam, kaget mendengar perkataannya itu.


"Aria, apa yang kamu pikirkan tentangku?" lanjutnya.


Aku melihat matanya, dia serius. Aku memalingkan wajahku.


"Aku tidak yakin."jawabku.


"Haha, kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku mengerti karena sekarang kamu sangat canggung."


"Ian."


"Hmm?"


"Terima kasih, kamu selalu peka."senyumku.


Aku melihat dirinya yang berwajah merona. Haha, lucu sekali.


"S-Sama-sama."katanya sambil menegukkan air putih.


Hari ini benar-benar deh.


Malam hari, aku berada di kamarku. Aku berbaring dan melihat buku harianku. Aku lupa, aku sudah lama tidak menulis buku harianku. Karena itu, aku duduk di kursi dan menulis di atas meja.


Senin, 31 Juli 1982


Aku sudah lama tidak menulis buku harian, karena itu sekarang aku menulis. Hari ini adalah hari yang lumayan aneh. Aku baru saja sembuh dari sakitku. Tapi sesuatu malah terjadi padaku. Aku tidak tau ini adalah sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk. Tapi yang pasti, aku merasa sepertinya aku sedikit suka pada Ian. Entah sebagai teman atau apalah itu. Dia selalu melindungiku, dia selalu mengerti suasana, dia selalu memperhatikanku. Entah kenapa, dia menatapku dengan sangat serius saat jam istirahat. Kalau ibu ada disini, aku pasti akan mengatakan hal ini pada ibu. Aku kangen ayah dan ibu. Oh ya, Sabtu depan adalah ulang tahunku. Ayah dan ibu akan mengirimkan hadiah apa ya? Aku penasaran. Aku berharap aku bisa cepat pulang ke rumah. Sayang sekali, aku pulang tanggal 21 Desember. Lama sekali, tapi aku akan tetap menunggu hari itu. Musim dingin.

__ADS_1


Selesai menulis buku harian, aku menutup bukuku dan berbaring di kasur lagi. Aku melihat jam dan.... Haaaah! Jam 12! Aku harus tidur, harus tidur! Aku tidak ingin terlambat sekolah!


__ADS_2