
Aku masih berbaring di kasur, aku memimpikan diriku melihat cermin. Aku melihat ibu kandungku mendekapku, aku sangat bahagia. Kehangatan yang menyebar ke seluruh tubuhku. Pelukan hangat yang tidak akan pernah aku lupakan. Aku pun memandang cermin. Dulu aku miskin dan kelaparan, tetapi sekarang aku kenyang. Aku memang bukan dari keluarga ini. Tetapi, inilah takdirku, takdir dimana aku menjadi keluarga Parez. Aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang. Ya, itu yang selalu aku pikirkan.
Hng~ aku membuka mataku. Aku duduk dan menguap. Hoam~, apakah hari ini akan menjadi hari yang melelahkan seperti kemarin? Hari ini aku akan melakukan apa ya? Hmm, lebih baik aku latihan pedang dengan Kak Taylor.
Tok tok, Anny memasuki kamarku.
"Selamat pagi, nona."
"Selamat pagi, Anny. Apakah aku bangun terlambat?"
"Tidak, justru nona bangun lebih awal."
"Begitu ya. Anny, Kak Taylor sudah bangun?"
"Tuan muda sudah bangun, sepertinya tuan muda ada di ruang makan. Katanya setelah makan dia akan latihan pedang."
Wah, kebetulan sekali....
"Wah, aku juga mau latihan. Anny aku mandi dulu ya."
"Baik nona."
Yah begitulah, setelah mandi aku mengenakan pakaian latihanku dan menyisir rambutku.
Aku pun ke ruang makan, disana hanya ada Kak Peter, Kak Nikel, dan Kak Taylor.
"Ibu dan ayah belum datang?"aku duduk di kursiku.
"Sayangnya mereka belum datang. Kita tunggu saja." Kak Nikel hanya tersenyum.
"Kak Taylor, aku dengar dari Anny kalo kakak akan latihan pedang. Aku juga mau ikut."
"Tentu, asalkan tidak menggangu latihanku." Kak Taylor bersandar.
"Iya iya."
__ADS_1
10 menit setelah, tok tok tok!
Ayah dan ibu masuk kedalam, akhirnya mereka datang.
"Selamat pagi ayah! Selamat pagi ibu!" aku dan kakak-kakakku menyambut ayah dan ibu.
"Selamat pagi, anak-anak."ayah dan ibu membalas sambutan kami sambil duduk di kursi mereka.
"Oh ya, Aria, ayah dengar kamu membuat Nyonya Alvon marah demi ibumu." Lanjut ayah.
"Yah, begitulah. Justru Nyonya Alvon yang pertama membuat saya marah, dengan berbohong agar hubungan ayah dan ibu kacau. Untung saja saya tidak memotong lidahnya." Aku hanya merasa itu biasa saja.
"Apa? Aria membuat Nyonya Alvon marah? Kenapa kamu harus melakukannya?" Kak Nikel bertanya.
"Kenapa Kak Nikel bertanya? Kalau dia membuat masalah hubungan ayah dan ibu, itu juga bisa membuat masalah status keluarga Parez. Apakah saya benar ayah?"
Sekitar 1 menit kita terdiam, ayah pun tersenyum.
"Ternyata kamu sudah dewasa ya, Aria. Terima kasih karena sudah melindungi keluarga kita. Ayah sangat terkesan."
Oh ya, aku lupa memperkenalkan ayahku pada kalian. Ayahku bernama Chris Parez. Dia adalah orang yang membuat keluarga Parez menjadi keluarga teratas. Ayahku ini juga orang yang diandalkan keluarga kaisar. Hebat sekali ya ayahku ini.
Saat latihan, tang tang tang, terdengar suara pedangku yang sedang berduel dengan Kak Taylor. Keringat mengalir di seluruh wajahku, napasku yang terengah-engah menghebus. Aku sangat lelah, tetapi aku tetap tidak berhenti. Aku sudah menganggap pedang adalah hal yang istimewa untukku. Setiap aku mengayunkan pedang, aku merasa hidup. Aku sangat suka pedang.
Kak Taylor memperhatikanku...
"Ayo istirahat, Aria."Kak Taylor tersenyum.
"Kenapa.... malah istirahat?"aku sulit bicara karena lelah.
"Lihat dirimu sendiri, adik payah. Kamu sudah lelah tapi masih saja ingin berlatih. Kalo memaksakan diri, kamu bisa terluka loh."
"Hah, baiklah."
Anny datang membawa air putih dan handuk untuk kami.
__ADS_1
"Kemampuan berpedang nona meningkat ya." Anny tersenyum padaku.
"Tapi, aku malah istirahat. Kak Taylor tidak terlihat lelah tuh. Aku tidak sehebat Kak Taylor."
"Tidak tuh, Tuan Taylor sudah belajar sejak umurnya 10. Sedangkan nona belajar sejak umur 8 tahun. Itu saja sudah cukup."
"Begitu ya, terima kasih, Anny."
"Sama-sama, nona."
Setelah latihan, aku pun kembali ke kamar dan siap-siap mandi. Saat aku menyusuri lorong, secara tiba-tiba seseorang menumpahkan teh panas padaku. Lengan kananku jadi mengalami luka bakar. Aku pun melirik ke arah orang yang menumpahkan tehnya. Dia adalah seorang kepala pelayan, Stacia. Stacia adalah pelayan yang selalu meremehkanku. Mentang-mentang biasanya aku selalu diam saat dia melakukan ini padaku.
"Oh maafkan saya, nona. Hahaha."Stacia menertawakanku.
Aku juga mendengar pelayan lain di belakangnya yang menertawakanku. Aku hanya diam dan mengepal tanganku. Aku menahan amarahku, sampai pada akhirnya aku tidak tahan lagi.
"Ternyata kamu benar-benar ceroboh ya, Pelayan Stacia. Tidak, kalian pelayan ternyata hanya bermalas-malasan. ORANG-ORANG BODOH SEPERTI KALIAN HARUS DIBERI PELAJARAN!"Aku tersenyum.
"A-Apa?"Stacia kaget.
"Bodoh! Apakah sekarang kamu sudah tuli? STACIA, AKU AKAN MENGHUKUMMU!"
Pelayan lainnya kabur, sedangkan Stacia hanya diam ketakutan. Aku mendekat satu langkah dan dia jatuh berlutut ketakutan.
"Sekarang adalah giliranku. Kamu sudah memberiku luka bakar. Kamu pantas mendapatkan ini. Tidak melakukan tugas dan bermalas-malasan. Bodoh tetapi tidak ingin belajar. Orang sepertimu sebaiknya mati saja." Aku menarik rambut Stacia.
"Saya mohon, maafkan saya, Nona Aria."
"Kau memang harus diberi pelajaran. Kalau kamu melakukan perbuatan ini lagi, aku tidak akan bosan menyambutmu. Iya kan, Stacia? Sekarang kau boleh pergi."
Stacia langsung berlari ketakutan.
Aku melihat Stacia dari jauh. He~? Harusnya dia tau, seorang perempuan harus kuat agar tidak mati. Haaa, aku bosan dengan sifat orang-orang yang memperlakukanku seperti ini. Kenapa biasanya aku mengampuni mereka? Aria, kau payah sekali. Baiklah, aku yang akan berdiri dan memberikan mereka pukulan.
Setelah mandi, aku bersiap tidur. Ah~ menyebalkan, kemarin masalah dengan keluarga Alvon. Sekarang dengan pelayan di kediaman sendiri. Setiap aku seperti ini, aku selalu memandang langit-langit kamarku. Aku teringat dengan masa laluku, aku lapar dan tidak berdaya. Setiap malam berbaring di kasur seperti orang yang akan mati. Saat aku sekarat, aku tidak sengaja melihat seseorang yang memelukku. Hangat pelukannya membuatku rindu akan ibu kandungku. Ya, yang memelukku adalah Liz Parez, ibu tiriku. Saat itu kami dibawa ke kediaman Parez dan aku dirawat sampai sembuh. Sebelum aku sembuh, aku dengar dari kakak-kakakku bahwa aku tidak sadarkan diri, mataku kosong dan tidak bisa berjalan. Yah, itu semu sudah berlalu. Sekarang, aku berharap bisa memanfaatkan kesempatan ini.
__ADS_1