Aria'S New Life

Aria'S New Life
Kehidupan Di Akademi


__ADS_3

Pagi-pagi aku terbangun, mandi, mengenakan seragam lalu berangkat. Aku pasti akan merindukan ayah dan ibu, aku ke akademi dan tinggal disana untuk beberapa bulan sampai musim dingin tiba. Oh ya, ibu juga sudah memberikan kami saputangan dengan motif yang banyak. Ibu memang yang terbaik.


Sesampai di akademi, aku mengambil tasku dan masuk ke asramaku. Setelah meletakkan tas berisi barang-barangku di kamar, aku mengambil tas sekolahku lalu pergi ke kelasku.


Saat di lorong, aku tidak sengaja bertemu Ian Casttelo. Ian Casttelo adalah salah satu temanku. Aku berteman dengannya sekitar 3 tahun.


Dia sangat baik, pintar, dan tampan. Yang aku tau, dia suka padaku. Dia bilang, dia suka seseorang bukan karena kecantikan tetapi keunikkan. Dia juga kagum karena aku hebat dalam seni pedang sehingga aku memilih jurusan seni pedang, sama seperti Ian. Yah, aku tidak tau aku suka dia atau tidak.


"Hai, Aria! Lama tidak bertemu."


"Iya, kau juga, Ian. Bagaimana kemarin?"


"Maksudmu hari orang tua dan anak?"


"Iya, apa lagi selain itu?"


"Kemarin ayah dan ibuku membawaku ke ibukota."


"Oh ya, kenapa kita tidak bertemu?"


"Mungkin aku datang saat kamu pulang."


"Mungkin iya, sudahlah, ayo ke kelas."


Kita langsung pergi ke kelas.


Sesampai di kelas, semua orang mengarahkan mata mereka padaku. Diruangan itu, semuanya laki-laki. Tentu saja mereka akan memperhatikanku, karena aku adalah perempuan yang ada di kelas laki-laki. Menyebalkan...Tatapan mereka menyebalkan.... Aku bahkan tidak melirik wajah mereka, diam dan duduk di tempatku. Membuka buku lalu membacanya. Tetapi... setiap gerak-gerikku masih diperhatikan satu kelas. Menyebalkan....


Guru pun memasuki ruangan, kami pun memulai pelajaran. Guru kami pun masuk, guru kami bernama Pak Robert. Dia yang akan mengajar di kelas seni pedang. Tapi.... Dia sama saja dengan yang lain, dia terus memperhatikanku. Akademi ini benar-benar deh.


Saat jam istirahat, aku merapikan bukuku dan keluar dari kelas diikuti oleh Ian. Saat aku di lorong....


"Kak Aria!!!" Orang yang berteriak ini memelukku dari belakang


Aku yakin, orang yang ceria saat melihatku dan langsung memelukku seperti ini adalah Iana.


"Iya, Iana."Aku hanya tersenyum.


"Astaga, kamu tidak berubah ya Iana."Ian menekuk tangannya.


Iana Casttelo, dia adik Ian satu-satunya. Iana hebat dalam mendesain baju. Dia menganggapku sebagai model untuk desain bajunya. Iana lebih muda dariku. Yah begitulah, tingkahnya kekanak-kanakkan.


"Kak Aria, nanti malam, aku mau ukur baju untuk baju spesial buat Kak Aria di festival minggu depan. Kak Aria mau ya?"Iana memasang wajah kelincinya.


"Aduh Iana, kakak sudah bilang jangan ganggu Aria."kata Ian.


"Ta-Tapi, Kak Aria itu museku."


"Haha, oke oke. Nanti malam, jam berapa?"aku tertawa.

__ADS_1


"Sekitar jam 7 sampai jam 8."Iana tersenyum cerah.


"Baik, Kak Aria pasti datang. Sekarang ayo makan!"aku menutup loker.


Kita bertiga pun pergi ke kantin.


Sesampai di kantin, para laki-laki dan perempuan menatapku dan aku tidak menghiraukan mereka. Aku mengambil makanan dan minuman lalu duduk di kursiku.


"Ian, setelah ini latihan satu lawan satu kan?"kataku.


"Iya, kenapa?"


"Hanya penasaran."


"Penasaran akan apa?"


"Penasaran jika aku lawan tandingmu, apakah aku akan tidak sengaja mematahkan tanganmu?"


"Uhuk."Ian tersedak.


Aku tersenyum


"Aria, walaupun kamu dijuluki 'Iblis Pedang' di kelas, kamu tetap tidak boleh mematahkan tangan seseorang."Kata Ian


Ah, Iblis Pedang adalah julukan karena aku ditakuti satu sekolah. Tidak ada yang mau berteman denganku. Tapi kenapa Ian mau berteman denganku ya?


"Aku bilang kalau tidak sengaja."


"Bagaimana kalau aku tidak sengaja merobek matamu menjadi dua?"


"A-A-Aria...."


"Hanya bercanda."


"Syu-Syukurlah......"


Haha, walau begitu, terkadang akademi sangat menyebalkan. Aku melihat Sekira datang dengan kawanan temannya.


"Wah, bukankah itu Aria? Dia kan rakyat kecil, dia tidak benar-benar keluarga Parez."Sekira tertawa.


"Lama tidak melihatmu, Sekira kepala babi."Aku tersenyum.


"Jangan mentang-mentang keluargamu memiliki status yang lebih tinggi dari keluargaku, kau bisa mengejekku seenaknya."Timbul wajah kesal di wajah Sekira.


"Bagaimana denganmu? Kau mengejekku seenaknya walau statusmu lebih rendah dariku. Lancang sekali."


"Walaupun begitu, kamu tetap saja si Iblis Pedang. Benar-benar deh."


Aku mengambil semangkuk sup ayam dan menumpahkannya di kepala Sekira.

__ADS_1


"Ups, tanganku terpeleset."


"A-ARIA PAREZ! KAMU AKAN MEMBAYARNYA."


"Hei, ini hanyalah bumerang yang kamu lempar. Justru kamu yang akan membayarnya. Oh ya, kalau kamu mencoba melakukan sesuatu padaku, aku akan melayanimu dengan baik."


"Ugh, haah!"Sekira pergi.


"Haih, ini hari pertama dan ada yang membuat kekacauan pada adikku?"suara terdengar dibelakangku


Aku menengok, ternyata ketiga kakakku berdiri di belakangku. Ian dan Iana hanya duduk diam untuk tidak mengganggu pembicaraan kami. Mereka peka sekali.


Hah, hari ini aku mengalami banyak hal yang biasa terjadi. Aku bertarung dengan Sekira adalah hal yang biasa. Aku tidak pernah tidak bertengkar dengan Sekira. Yah, tentu saja. Keluarga Sekira adalah lawan keluargaku.


Setelah mengukur baju, aku berlatih tanding dengan Kak Taylor. Saat kami istirahat,


"Kakak, semakin hebat ya."


"Haha, kau juga. Ngomong-ngomong aku suka caramu melawan Sekira."


"Eh?"


"Aku pikir, aku yang akan menumpahkan sup ke kepalanya. Ternyata kamu sendiri yang melakukannya. Hebat sekali."


"Haha, baiklah. Pujiannya aku terima. Ayo kita lanjut lati-"kepalaku seketika pusing.


"Aria, kamu kenapa?"Kak Taylor mendekatiku.


"A-Aku baik-baik saja."


"Sepertinya kamu kelelahan, kita sudahi latihannya."


"Baiklah, aku kembali ya, Kak Taylor."


"Iya, istirahat ya."


"Iya."


Saat ada di lorong, aku menahan pusing. Kepalaku terasa seperti mau pecah.


"Uhuk!"aku menutupi mulutku dengan tanganku.


Saat aku melihat tanganku, aku melihat darah yang banyak. Aku harus kembali ke asrama dan istirahat. Tetapi.... Bruk! Aku terjatuh saat asramaku ada didepan lorong. Aku tidak kuat bergerak, jantungku pun berdetak kencang. Aku kesakitan, kenapa ya? Karena tidak kuat lagi, aku pingsan di tengah lorong. Tetapi saat aku hendak menutup mata, aku melihat ada yang didepanku.


"Aria! Aria!"


Dari suaranya, aku yakin itu Ian. Ian menggendongku dan membawaku ke UKS. Tetapi aku malah pingsan sebelum sampai di UKS.


Bunga, burung, angin, Bulan..... Bahkan sampai sekarang, aku masih mencari di langit yang aku pandang.....

__ADS_1


Suara itu pun terdengar di telingaku, kenapa aku mendengar suara itu di saat-saat seperti ini. Tetapi yang pasti, aku merasakan ada yang aku rindukan. Aku merindukan suara itu, aku rindu akan ibu kandungku.


__ADS_2