ARJUNA BESERTA SEMESTANYA

ARJUNA BESERTA SEMESTANYA
ABS I


__ADS_3


Salah seorang siswa laki-laki tengah berlari memutari sebuah lapangan besar, itu adalah hukumannya karena terlambat masuk sekolah, disaat yang lain belajar hanya dia sendiri yang masih berlari di tengah lapangan.


Arjuna Devan Danendra; nama siswa laki-laki itu. Ia terlambat sebab semalam ia harus bekerja sampai dini hari, sejak SMP Arjuna sudah menjadi tulang punggung keluarga, ia hanya tinggal bersama ibu dan adiknya, sedangkan ayahnya, dia adalah lelaki brengsek yang meninggalkan ibunya ketika sedang sakit dan pergi bersama selingkuhan nya, Arjuna sangat membenci lelaki itu bahkan sekarang Arjuna tak sudi untuk memanggilnya ayah.


Arjuna, tumbuh dengan baik walaupun hidupnya jauh dari kata baik, ia harus mengambil banyak kerjaan untuk membiayai pengobatan ibunya dan sekolah adiknya, sedangkan Arjuna ia memiliki otak yang cerdas sehingga ia mendapatkan beasiswa di sekolah mahal ini, walaupun resikonya ia harus siap dikucilkan namun itu bukan masalah untuknya selama ia masih bisa bersekolah itu tidak akan menjadi masalah baginya lagipula ia tidak membutuhkan seorang teman.


Arjuna duduk di tengah lapangan dengan nafas terengah, lari sepuluh keliling lapangan sebesar ini sungguh sangat melelahkan apalagi ia belum makan tadi pagi karena bangun terlambat terlebih lagi ia harus mengantar adiknya terlebih dahulu. Padahal ia tidak terlambat sendiri, ada anak lainnya yang terlambat namun kenapa hanya dirinya yang terkena hukuman? Ah ia baru ingat, sekolah ini berjalan dengan uang, selagi memiliki uang banyak mereka akan lepas dari segala hukuman, uang adalah kunci dari segalanya, apalah daya ia hanya anak beasiswa, tidak adil memang tapi apa boleh buat.


Setelah nafasnya kembali teratur, Arjuna bangun dan mengambil tasnya yang ia taruh di bawah tiang bendera. Lalu ia berjalan kearah kelasnya yang pastinya sudah ada guru masuk, dan ia ingat kalau hari ini pelajaran Pak Joko guru galak yang di benci semua anak.


"Terlambat Arjuna?" Arjuna menoleh kebelakang dan melihat Pak Joko yang membawa tasnya, sepertinya Pak Joko belum masuk ke kelas dan ia bersyukur karena itu, jadi ia tidak ketinggalan pelajaran.


"Bapak belum masuk kelas?" Tanya Arjuna mengabaikan pertanyaan Pak Joko yang bertanya tentang keterlambatan nya.


Pak Joko mengangguk "Bapak ada urusan sebentar tadi, jadi terlambat masuk, ayo masuk kali ini bapak maafin kamu tapi kalau terlambat lagi bapak hukum" Ujarnya lalu berjalan duluan dan Arjuna mengikuti gurunya dari belakang.

__ADS_1


...*****...


Kini Arjuna sudah duduk di bangkunya, pelajaran Pak Joko baru selesai tadi dan yang ia lakukan hanya menunggu guru mata pelajaran selanjutnya masuk. Tidak ada yang ia lakukan saat ini selain menatap keluar jendela menatap segerombolan siswa perempuan yang sedang berolahraga dan matanya menangkap salah satu mereka yang sedang berolahraga.


"Al, liat deh. Dia ngeliatin lo terus" Tunjuk nya dan gadis itu langsung menoleh kearah yang ditunjuk oleh temannya.


"Siapa dia?"


Alana Ketlovlyn Ganendra; nama gadis itu, Alana adalah anak dari pemilik sekolah ini, ia adalah gadis yang populer namun temannya tak banyak bahkan bisa dihitung oleh jari, ia juga tak tertarik dengan yang namanya pertemanan menurutnya berteman adalah sesuatu yang percuma. Alana terus menatap laki-laki yang katanya tadi terus melihatnya dan ia tidak merasa mengenal laki-laki itu.


"Alana, lo serius ga tau dia?" Alana menggedikkan bahunya, sedangkan temannya menatap tak percaya Alana yang tidak tahu siapa Arjuna itu, padahal Arjuna juga sama populernya dengan dirinya walaupun hanya populer di kalangan para siswa perempuan, Arjuna sangat dibenci oleh para siswa laki-laki mau dari kalangan anak orang kaya ataupun dari yang selevel nya, para siswa laki-laki seperti sangat anti dengannya.


Sedangkan di sisi lain, Arjuna langsung memalingkan wajahnya ketika ia ketahuan melihat kearah gadis itu.


Tapi kemudian ia tersenyum tipis.


...*****...

__ADS_1


Bel istirahat berbunyi lima menit yang lalu, namun Arjuna belum juga beranjak dari kursinya, entah apa yang ada di pikirannya, Arjuna merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi tapi ia tidak tahu apa, ia hanya bisa berdoa semoga semuanya baik baik saja dan apa yang sedang mengganjal hatinya tak akan terjadi, jangan sampai terjadi.


Arjuna akhirnya bangun dari kursinya dan berjalan menuju kantin untuk makan karena daritadi pagi ia belum makan.


"Al, liat itu Arjuna" Alana hanya melirik sekilas, lalu setelahnya ia tidak peduli. Sejujurnya, Arjuna itu tampan sangat tampan malah dan dari yang ia ketahui Arjuna adalah anak beasiswa. Arjuna itu laki-laki yang nyaris sempurna, memiliki wajah tampan dan otak cerdas, siapa yang tidak iri dengannya namun sayangnya hidupnya tak seindah wajahnya.


Arjuna juga sempat melirik kearah Alana dan temannya, namun setelahnya ia tidak peduli. Dan menurutnya, Alana itu sangat cantik, siapapun yang bertemu dengannya pasti akan langsung jatuh cinta dengannya dan ia juga cukup iri dengan hidup gadis itu yang memiliki segalanya tanpa harus bekerja keras seperti dirinya.


Saat ini Arjuna tengah mengantri untuk membeli makanan, ia menghela nafasnya saat melihat antrian yang masih begitu panjang, kalau begini ceritanya ia tidak akan bisa makan apalagi sebentar lagi bel masuk.


Lima menit berlalu dan waktu istirahat dua puluh lima menit lagi. Arjuna tersenyum saat gilirannya sebentar lagi tiba, namun senyumnya luntur ketika ada seseorang yang menyela antriannya, ingin memaki namun tak jadi karena ia tahu siapa yang menyela antriannya, Andika Gery Abimana; laki-laki populer lainnya dan anak dari orang penting di sekolah ini, jadi ia lebih baik mundur daripada membuat masalah dengannya.


"Mundur lo, orang miskin antri di belakang" Ujarnya, namun Arjuna hanya bisa mengepalkan tangannya dalam diam.


"Seharusnya lo yang mundur"


...*****...

__ADS_1



__ADS_2