
Apa yang mengganjal hatinya saat di sekolah kini telah terjadi, rumah yang tadinya sepi sekarang sudah ramai oleh orang-orang. Dengan langkah pelan Arjuna memasuki rumahnya, ia melihat adiknya yang sedang menangis dengan seseorang yang sudah ditutupi oleh kain. Arjuna menatap adiknya sekilas lalu matanya menatap seseorang yang sudah tergeletak itu, tubuh Arjuna tumbang, ia membuka kain yang menutupi wajah cantik ibunya.
"Ibu.." Lirihnya, semua orang yang berada di sana menatap iba kedua anak laki-laki yang baru saja di tinggalkan.
"Bum, ibu kenapa? Kenapa wajahnya pucat? Kamu pasti lupa kasih ibu obat, kan udah kakak bilang nanti habis pulang sekolah kamu kasih ibu obat, kamu kan pulang lebih awal dari kakak" Ujarnya pada sang adik yang hanya bisa tersedu saat mendengar perkataan kakaknya, tadi saat di sekolah kepala sekolah memanggilnya dan mengatakan kalau tetangganya menelponnya dan menyampaikan berita yang sangat mengejutkan untuknya dan tanpa basa basi lagi ia langsung berlari dari sekolah ke rumahnya, dan saat sampai di rumah, rumahnya sudah di penuhi oleh tetangganya.
Bumi Basudewo Danendra; adik dari Arjuna itu menatap kakaknya yang sedang rapuh. Karena ia tahu kakaknya bekerja dengan keras demi membawa ibunya ke rumah sakit, namun tak pernah tercapai sampai sekarang. Dan ia tahu bagaimana usaha kakaknya untuk ibu walaupun badannya sudah lelah tapi kakaknya tak pernah mempedulikan itu semua, kakaknya terus berusaha dan berusaha, sedangkan dirinya? Apa yang dirinya lakukan untuk membantu kakaknya? Ia hanya bisa diam di rumah dan melakukan apa yang di katakan oleh kakaknya.
"Arjuna, Bumi, ayo kita makamkan ibu kalian" Bumi menoleh pada kakaknya yang menatap kosong wajah ibu, hatinya sangat sakit melihat kakaknya yang seperti itu dan lagi yang membuatnya sangat sangat sakit yaitu melihat kakaknya yang tidak mengeluarkan air mata berbeda dengan dirinya saat sampai di rumah ia langsung menangis. Dengan perlahan Bumi menyentuh pundak kakaknya yang turun, padahal biasanya pundak kakaknya selalu terangkat dan penuh semangat namun sekarang tidak lagi.
"Kak, ayo kita makamkan ibu, kasian ibu nunggu lama" Ujar nya, Arjuna mengangguk lemah dan berdiri di bantu oleh Bumi.
__ADS_1
...*****...
Lima jam berlalu setelah acara pemakaman ibunya. Kini Arjuna berada di kamar sang ibu sembari menatap album foto, sesekali Arjuna tersenyum ketika melihat senyum indah ibunya.
Satu tetes air mata jatuh pada foto sang ibu dan sedetik kemudian Arjuna menangis seraya memeluk foto itu, menangis tanpa suara itu sangat menyakitkan, itu karena Arjuna tak ingin Bumi mendengar isak tangisnya, ia membekap mulutnya sendiri agar tak terdengar sampai keluar.
"Bu, kenapa ibu ninggalin Arjuna sama Bumi? Arjuna ga bisa ngurus Bumi sendirian, apalagi Bumi sedikit nakal" Ujarnya diakhiri kekehan di belakangnya.
Sedangkan di luar kamar, Bumi mengintip kakaknya yang sedang menangis dan tanpa sadar ia juga ikut menangis karena ini pertama kalinya ia melihat kakaknya menangis.
Bumi melangkah pergi dan membiarkan kakaknya menangis, ia berjalan menuju teras rumah. Angin malam langsung menyapanya, malam ini cukup gelap karena tidak ada sinar bulan yang menerangi. Bumi menatap langit dan tersenyum "Ibu gimana di sana?" Ujar nya.
"Bumi ga tega liat kakak nangis kaya gitu, Bumi janji mulai sekarang Bumi bakalan lebih giat lagi belajar supaya dapet beasiswa kaya kakak, Bumi ga mau nyusahin kakak lagi" Monolognya pada diri sendiri, yah mulai sekarang Bumi tidak mau menyusahkan kakaknya lagi dan mulai sekarang Bumi bakalan giat belajar supaya mendapatkan beasiswa. Ia tidak mau melihat kakaknya kesusahan, ia ingin melihat kakaknya yang bergaul dengan orang lain dan mengurangi waktu kerjanya. Kakaknya itu seperti orang maniak kerja, dia mengambil banyak kerjaan di tempat yang berbeda.
__ADS_1
"Bum, masuk dingin sebentar lagi hujan" Bumi menoleh pada kakaknya yang terlihat matanya sangat merah. Bumi bangun dari duduknya dan masuk bersama Arjuna. Setelah mereka masuk hujan turun dengan deras.
...*****...
Arjuna kini memandang rintikan hujan dari jendela kamar nya, sudah satu jam berlalu dan ia masih pada tempatnya. Arjuna menatap langit yang gelap itu "Bu, Juna kangen padahal baru beberapa jam ibu ninggalin Juna" Ujar Arjuna seraya tersenyum. Ia kemudian menutup jendelanya karena udara dingin menusuk kulitnya, ia berjalan keluar dari kamarnya untuk pergi ke kamar Bumi untuk memastikan apakah adiknya sudah tidur atau belum.
Arjuna membuka perlahan pintu kamar Bumi dan ia melihat Bumi sudah tertidur, ia kembali menutup pintu kamar Bumi dan kembali ke kamar nya untuk tidur, bagaimanapun ia harus tetap berangkat ke sekolah walaupun ia masih membutuhkan waktu atas kepergian ibunya.
Bumi membuka matanya setelah mendengar suara pintu yang tertutup itu, sebenarnya ia belum tidur, ia tidak bisa tidur karena biasanya sebelum tidur ibunya selalu mengusap kepalanya sampai ia tidur tapi sekarang tidak ada lagi yang mengusap kepalanya sebelum tidur dan ia harus terbiasa dengan itu sekarang, karena tak mungkin ia meminta kakaknya yang mengusap kepalanya menggantikan ibunya kan.
...*****...
__ADS_1