
Pagi ini Alana dibuat geram oleh orang di rumahnya, nafsu makannya hilang karena kedua orang tuanya yang bertengkar lagi dan lagi. Mereka berdua selalu bertengkar ketika bertemu, Mamanya yang sibuk di rumah sakit dan sering tak pulang ke rumah lalu ayahnya yang sibuk mengurusi perusahaannya dan sekolah, sedangkan dirinya hanya ditinggal sendiri di rumah bersama dengan pembantunya. Sejak kecil, ia sudah hidup seperti ini, ia tak pernah pergi ke taman bermain seperti anak pada umumnya, sejak kecil orang tuanya hanya sibuk dengan segala urusannya sendiri melupakan dirinya yang membutuhkan kasih sayang mereka. Memang hidup Alana sekarang bergelimang harta, namun itu semua tidak berguna lantaran ia jarang di perhatikan oleh orang tuanya.
Alana melempar alat makannya dan segera mengambil tasnya lalu pergi, ia tak tahan dengan semua keributan di rumahnya.
"Alana, kamu mau berangkat sekolah?" Alana menoleh pada Mamanya yang sudah siap berangkat ke rumah sakit lagi setelah tak pulang selama tiga hari.
Alana mengangguk dan kemudian masuk ke dalam mobil. Sedangkan Mamanya hanya menatap sendu putrinya, ia sadar kalau sikap Alana seperti itu karenanya, ia yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memperhatikan Alana.
...*****...
Di sisi lain Arjuna sedang menunggu Bumi di motornya, anak itu lupa membawa buku tugasnya "Bumi cepat atau kita nanti terlambat" Teriak Arjuna, dan Bumi segera keluar setelah memasukkan buku tugasnya dalam tas.
Bumi mendekati kakaknya yang mukanya sudah masam "Ayo kak" Setelah itu mereka meninggalkan pekarangan rumah.
Arjuna dan Bumi mencoba untuk melupakan yang kemarin walaupun sulit untuk melupakan kepergian sang ibu tapi meskipun sulit mereka harus tetap menjalani hidupnya tanpa kehadiran ibu.
__ADS_1
"Bum, nanti pulang sekolah kakak langsung pergi kerja ya, kamu ga papa kan di rumah sendiri" Ujar Arjuna. Bumi melepas helmnya dan mengangguk.
"Bumi gapapa, kakak jangan cape-cape nanti drop lagi" Arjuna mengangguk dan mengambil helm milik Bumi setelah itu ia mengusap kepala adiknya.
"Yaudah kamu belajar yang rajin" Bumi mengangguk dan ia perlahan masuk ke halaman sekolah sedangkan Arjuna hanya menatap punggung adiknya yang perlahan hilang. Setelah memastikan adiknya masuk, Arjuna menjalankan motornya dan pergi dari halaman sekolah Bumi.
Arjuna melajukan motornya karena takut akan terlambat lagi, saat berkendara Arjuna hampir saja menabrak sebuah mobil hitam yang sembarangan belok tanpa menyalakan lampu sein.
Seorang pria paruh baya keluar dari mobil "Maaf, kamu gapapa kan?" Tanyanya, Arjuna melepas helmnya dan mengangguk.
...*****...
Sampailah Arjuna di sekolah dan untungnya ia tidak terlambat lagi. Arjuna memikirkan motornya, saat ia ingin melepas helmnya matanya tertuju pada sebuah mobil hitam yang memasuki pekarangan sekolah, alisnya mengkerut merasa kenal dengan mobil hitam itu dan sedetik kemudian ia teringat, itu mobil yang tadi hampir bertabrakan dengannya.
Arjuna melepas helmnya dan menatap seseorang yang baru saja keluar dari mobil itu, "Alana.." ujarnya kecil.
Ia tak pernah tahu kalau itu mobil Alana, lagipula untuk apa juga ia tahu, tidak penting baginya. Arjuna menaruh helmnya di baca spion lalu masuk.
__ADS_1
Alana sempat melirik kearah Arjuna saat pemuda itu berlalu, "Alana.." Alana menoleh pada temannya yang berlari ke arahnya.
Arjuna berjalan ke kelasnya, awalnya baik baik saja sampai akhirnya ada seseorang yang merangkul pundaknya, Arjuna menoleh pada orang itu "Sendiri aja" Ujar orang itu, sedangkan Arjuna mengernyitkan dahinya, ia tidak mengenal pemuda itu. Arjuna melepas rangkulannya "Maaf, siapa?" Tanyanya. Pemuda itu hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Bagas, temen Andika sama Abista" Ujarnya seraya mengulurkan tangannya, Arjuna hanya bergeming tak menyambut uluran tangan itu dan malah berlalu pergi.
Bagas berdecih "Cih, sombong banget, padahal pengen kenalan" Monolognya tapi kemudian dia berlari menyusul Arjuna.
Sampailah Arjuna di kelas, saat baru masuk ia terdiam sejenak melihat seseorang yang duduk di bangkunya. Arjuna mencoba untuk tak menghiraukan nya dan berjalan kearah tempat duduk nya.
Sedangkan Andika hanya melirik sekilas Arjuna. Sebenarnya ia ingin mencoba untuk mendekati Arjuna sesuai saran Bagas, ya untuk nilainya ia akan melakukan itu lagipula ia lelah terus di ceramahi oleh ibunya yang selalu mempermasalahkan nilainya.
Dan tak lama kemudian bel tanda masuk berbunyi.
...*****...
__ADS_1