ARJUNA BESERTA SEMESTANYA

ARJUNA BESERTA SEMESTANYA
ABS V


__ADS_3


Kini waktunya pelajaran olahraga, Arjuna berjalan menuju toilet untuk berganti pakaian. Ia menoleh ke belakang dan matanya menangkap sosok Andika yang entah dari pagi terus mendekatinya, bahkan saat pelajaran matematika anak itu minta di ajarin olehnya padahal Abista sepupunya juga jago matematika. Bertepatan dengan ia yang sedang menunggu giliran, Abista keluar dari bilik kamar mandi yang sedang ia tunggu.


"Arjuna, lo masuk duluan" Ujarnya, karena ia melihat Andika yang ingin menyela Arjuna, sedangkan Andika memutar bola matanya dan pergi menyela giliran anak lain.


Arjuna pun masuk dan mengganti pakaiannya tanpa mempedulikan pertengkaran kedua sepupu itu.


...*****...


Semuanya sudah berkumpul di tengah lapangan dan mendengarkan penjelasan guru. Arjuna menyimak dengan tenang sampai fokusnya terganggu karena ada yang melempar batu padanya, ia pun menoleh ke belakang dan benar dugaannya kalau yang melempar batu padanya adalah Andika.


"Lo sama gue" Bisik Andika.


Arjuna hanya menghela nafasnya, ya ia terima saja kalau harus sekelompok dengan Andika dari pada tidak ada sama sekali, sedangkan Abista yang berada di samping Andika juga menghela nafas,


"Jangan cari masalah lagi" Ujarnya yang hanya di anggap angin lalu saja oleh Andika.


Pelajaran olahraga kali ini, para murid harus mencari pasangan dan olahraga nya hanya sekedar pemanasan biasa karena guru mereka ada urusan, namun tetap mereka tidak boleh meninggalkan lapangan sebelum bel pergantian jam pelajaran selesai. Arjuna yang sedang memegang kaki Andika pun jengah mendengar ocehannya.


"Pegang yang bener, cupu" Ujarnya, lalu Arjuna melepas pegangannya karena Andika yang sengaja menendang lututnya.


"Sorry, ga sengaja, lagian lo sih megangnya ga bener" Arjuna bangun dan menginjak kaki Andika.


"Sorry, ga sengaja, lagian kaki lo ngalangin jalan" Ujar Arjuna seraya tersenyum tipis, sedangkan Andika memegang kakinya yang sakit karena di injak oleh Arjuna dan ia terkejut karena Arjuna membalas perlakuannya padanya, padahal biasanya Arjuna hanya akan diam saja dan mengalah jika ia mengganggu nya. Abista yang melihat pertengkaran mereka hanya bisa menghela nafas karena ia tahu pasti Andika yang memulainya dan saat melihat Arjuna yang membalas Andika ia tersenyum puas.


"Bagus" Ujarnya, kemudian ia pergi dari lapangan karena bel sudah berbunyi.

__ADS_1


...*****...


Arjuna yang sedang minum kembali terganggu oleh Andika yang tiba-tiba mengambil botol minumnya.


"Nih, makasih" Ujarnya kemudian pergi, Arjuna menatap botolnya yang sudah kosong, ingin sekali ia melempar botol kosong itu ke kepala Andika.


Ia menoleh saat ada yang menyodorkan minuman.


"Ini ambil, sebagai ganti minuman yang Andika ambil" Arjuna mengambil minuman yang di tawarin nya dan menenggak habis isinya, ia sebenarnya masih haus dan seenaknya saja Andika mengambil minuman nya.


"Makasih" Ujarnya dan di balas anggukan oleh Abista


"Sekali kali lo bales dia kaya yang lo lakuin tadi di lapangan, biar dia kapok, walaupun mustahil sih, tapi lo ga usah ragu buat bales dia" Ujar Abista menatap Arjuna yang sedang menatap sepatunya.


Arjuna menggelengkan kepalanya, tadi ia melakukan itu karena ia sudah kesal dengan ocehan Andika. Abista hanya mengangguk sudah paham dengan gelengan itu, ia tahu kalau Arjuna tidak akan pernah bisa membalas Andika yang ada ia sendiri yang kesusahan.


Abista menepuk bahu Arjuna dan berdiri, "ayo ganti baju" ujarnya.


...*****...


Selang dua puluh menit Arjuna sampai di cafe tempat ia bekerja, ia memarkirkan motornya lalu masuk dan untungnya pelanggan tak banyak. Arjuna menyapa teman kerjanya dan masuk ke kamar ganti untuk mengganti pakaiannya.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Arjuna mengganti pakaiannya, ia keluar dan mengisi bagian kasir, karena itu tempatnya terkadang ia akan mengantarkan makanan ataupun minuman kalau pelanggan sedang ramai, tapi untungnya sekarang pelanggan tak terlalu ramai dan ia tidak akan terlalu lelah karena harus bolak-balik.


Arjuna menoleh saat ada yang memanggilnya.


"Jun,"

__ADS_1


"Kenapa Ian?" Tanyanya ketika teman kerjanya memanggilnya. Dia adalah Hardiyata Giandra Jagadita, teman kerja Arjuna yang paling dekat karena umur mereka tak berbeda jauh.


"Bisa gantiin shift gue ga ntar malem?" Arjuna diam sejenak, pasalnya shift dia hanya sampai jam tujuh malam, sedangkan shift Gian dimulai dari jam tujuh sampai jam satu tengah malam dan pasti itu sangat melelahkan apalagi besoknya ia harus sekolah.


"Yaudah gapapa" Ujarnya, karena ia tak bisa menolak permintaan Gian yang sudah sering membantu nya tak apa jika sesekali ia membantu Gian walaupun nanti waktu tidurnya terpakai.


Gian tersenyum ketika Arjuna meng-iyakan permintaannya "Makasih, kapan-kapan nanti gue traktir lo" Arjuna mengangguk dan Gian pun segera pergi keluar cafe.


Arjuna menghela nafas dan ia mengambil handphone nya untuk mengabari adiknya kalau hari ini ia lembur.


Tak perlu menunggu lama pada nada dering pertama adiknya Bumi sudah mengangkat teleponnya.


"Kenapa kak?" Sahut Bumi


"Kamu udah pulang dari sekolah?"


"Udah kak, barusan nyampe" Balas Bumi dan sepuluh detik tidak ada percakapan di antara keduanya sampai Arjuna membuka suara.


"Bumi, hari ini kakak lembur sampe jam satu malem, soalnya temen kakak minta di gantiin shift nya, kamu gapapa kan sendirian di rumah?" Tanya Arjuna dan tak ada sahutan dari Bumi.


"Oh gapapa kak, Bumi bisa kok di rumah sendirian, kakak ga perlu khawatir" 


Arjuna mengangguk dan kembali bersuara "Jangan lupa kunci pintunya, kakak bawa kunci cadangan"


"Iya, kakak ga usah khawatir, kakak juga jangan terlalu cape nanti sakit" Arjuna mengangguk menjawab pertanyaan Bumi.


"Iya, yaudah kakak cuma mau bilang itu, jangan lupa makan, jangan makan mie instan terus" Ujar Arjuna lalu memutuskan sambungan tanpa menunggu jawaban dari Bumi.

__ADS_1


...*****...



__ADS_2