
Semua mata tertuju pada Alana termasuk Arjuna, "Kenapa harus?" Ujar Andika seraya melipat tangannya di dada, sedangkan Alana, gadis itu menatap Arjuna yang sepertinya terima terima saja perlakuan Andika.
"Karena lo dateng paling akhir" Ujar Alana, salah seorang siswa laki-laki mendekat ke arah mereka dan langsung menyeret Andika mundur dan mempersilahkan Arjuna kembali pada tempatnya.
Andika pun tak terima, laki-laki itu menyentak tangan siswa laki-laki itu "Lo apa apaan sih, Ta" Sewot nya, sedangkan Abista Gumilar Hanendra; ia menyeret temannya dan berbisik "Gausah cari masalah, bisa ga sih lo" Bisiknya.
Andika mendecih lalu dengan lantang mengucapkan "Ga bisa" Abista hanya bisa menghela nafasnya menghadapi sepupunya, ia hanya berharap semoga ia tidak cepat tua karena menghadapi tingkah laku Andika yang berbanding terbalik dengan sifatnya, Abista anak yang mudah lelah apalagi jika harus berhadapan dengan Andika dan Andika sendiri, anak itu suka sekali mencari masalah, jika tidak mencari masalah satu hari saja pemuda itu seperti manusia tak memiliki jiwa. Lagian kenapa paman dan bibinya menitipkan Andika padanya?! Padahal Andika sudah besar!
Semuanya kembali pada kegiatan masing-masing dan waktu istirahat hanya tinggal sepuluh menit lagi, sedangkan Arjuna baru saja menerima makanannya, ia belum mencari bangku kosong untuk ia duduk.
Mata Arjuna menelusuri area kantin berharap masih ada bangku kosong dan beruntungnya ia ketika melihat ada satu bangku kosong walaupun letaknya cukup jauh dari ia berdiri.
"Al, mau kemana? Ga jadi makan?" Ujar Kanya Nareswari selalu teman dari Alana. Namun Alana hanya menggedikkan bahunya dan berlalu pergi meninggalkan kantin.
"Ga mood makan"
...*****...
Arjuna makan dengan tenang sampai tiba-tiba ada yang menggebrak mejanya membuat air minum nya tumpah yang untungnya tak mengenai seragamnya, ia menoleh pada orang yang sudah mengganggu acaranya, ayolah apa tak bisa ia hidup tenang selama di sekolah.
__ADS_1
"Apa lo liat liat, gue mau duduk di sini" Arjuna menggeram kesal, lagi dan lagi, Andika. Pemuda itu sepertinya jika tidak mengganggunya hidupnya ada yang kurang kali ya. Kalaupun pemuda itu ingin duduk, ia bisa kan memintanya dengan baik dan minumannya tidak akan terbuang sia-sia, walaupun sulit untuk di lakukan oleh anak-anak seperti Andika.
"Maafin dia ya, biar gue ganti minuman nya" Ujar Abista. Arjuna menatap Abista dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak perlu mengganti minuman nya, lagipula ia sudah selesai makan.
Arjuna mengenal Abista karena ia pernah mengerjakan tugas kelompok bersama dan sifatnya berbanding terbalik dengan sepupunya, si Andika itu. Abista memiliki pembawaan yang tenang dan anaknya tak banyak bicara, ia dan Abista berada di kelas yang sama dan pernah beberapa kali mengobrol dengannya, itupun membahas materi, ia tak pernah mengobrol santai dengannya.
Arjuna segera bangun, ia tak terlalu suka duduk bersama dengan mereka, apalagi dengan Andika, mata pemuda itu sedari tadi menatap remeh dirinya.
Selang satu menit setelah Arjuna pergi seorang murid laki-laki mendekati mereka berdua dan menaruh nampan makanannya di meja, murid itu menatap Andika dan Abista yang sedang makan dengan tenang.
"Tadi Arjuna, tumben kalian makan bareng, apalagi sama cengunguk satu ini, biasanya dia yang paling anti sama tuh anak" Ujarnya menunjuk Andika dengan garpu nya, dia adalah Bagas Prabaswara Baureksa teman dari Andika dan Abista, tapi dia berbeda kelas dengan mereka berdua.
"Kebetulan aja" Jawab Abista dan di balas anggukan oleh Bagas.
"Lagian lo kenapa kaya anti banget sama tuh anak, padahal lo bisa aja ambil kesempatan dari dia" Ujar nya
"Kesempatan apa?" Tanya Andika seraya meminum jus nya.
"Dia kan pinter, juara umum sekolah kita dan lo sekelas sama dia--"
"Bisa to the point aja ga, otak gue pusing dengerin ucapan lo yang belibet" Sela Andika.
__ADS_1
"Itulah nasib punya otak ayam, maksudnya lo bisa manfaatin otak cerdas Arjuna buat nilai lo yang udah kaya telor rebus itu, lo bisa berteman sama dia dan setiap ada tugas kalian ngerjain bareng gtu, ngerti kaga otak kosong" Ujar Bagas panjang lebar.
"Ga level gue main sama orang miskin kaya dia" Ujarnya, Abista hanya bisa terdiam seraya menghela nafasnya saat mendengar ucapan Andika yang selalu membawa bawa soal materi.
"Dia miskin harta tapi kaya otak dan lo kaya harta tapi miskin otak" Ujar Abista yang membuat Bagas tertawa terbahak-bahak mendengar nya.
...*****...
Jam pelajaran di mulai kembali, Arjuna sudah tenang duduk di bangkunya, ia hanya duduk sendiri, mana mau orang duduk di samping dia.
Pintu kelas terbuka dan menampakkan Abista dengan Andika yang baru masuk kelas, mereka terlihat santai bahkan saat berjalan kearah bangku mereka dan guru pun tak mempermasalahkan itu. Coba kalau situasinya di balik, ia yang telat masuk kelas, pasti guru yang mengajar sudah menceramahi nya panjang lebar, enaknya jadi mereka.
Saat Arjuna sedang menatap keluar jendela, ia terkejut saat ada orang yang duduk di sampingnya, Andika lagi, mau apalagi anak itu, apa yang di kantin tidak cukup?.
"Apa mau protes? Orang miskin ga boleh protes sama orang kaya" Ujarnya, Arjuna hanya memutar bolanya, padahal ia tidak berbicara apapun tapi kenapa pemuda itu selalu sewot padanya.
Ia tak mempedulikan Andika yang duduk di bangkunya, ia memilih fokus pada papan tulis, untuk apa juga mempedulikan Andika, tidak penting.
...*****...
__ADS_1