ARKASA

ARKASA
ARKASA - 01


__ADS_3

Tingg...Tungg....


Suara bel terdengar di pagi hari yang cerah itu. Seorang wanita dengan seragam putih abunya nampak sedang menunggu pintu bercat putih susu itu dibukakan untuknya.


Tak menunggu waktu lama, terdengar bunyi gagang pintu yang terbuka. Nampak seorang wanita paruh baya bertubuh tambun yang muncul dibalik pintu.


“Eh Nak Eva toh, Tuan Arkasanya masih di kamar. Nak Eva masuk dulu yuk” Ajak wanita tua itu yang tak lain salah satu perawat Arkasa sewaktu kecil dulu.


Eva yang memang sudah sering datang ke rumah Arkasa sudah hafal betul dimana letak kamar pria penolongnya.


Jika kalian bertanya kemanakah orang tua Arkasa, jawabannya adalah mereka sedang berada di luar negeri mengurus perusahaan mereka. Perusahaan yang bergerak di bidang interrior itu merupakan perusahaan yang cukup terkemuka di sektor elit. Tak ayal membuat orang tua Arkasa sangat kerepotan mengurus bisnisnya.


Setelah menaiki anak tangga demi anak tangga membuat kaki Eva cukup lelah. Bagaimana tidak, posisi kamar Arkasa berada di lantai 3 apalagi jarak dari satu lantai ke lantai yang lain cukup memakan waktu.


“Astaga ini orang kaya kenapa ya suka banget nyusahin diri sendiri? Gak gemeteran tuh kaki  naik turun tangga tiap hari.” Gumam Eva sambil memegang erat pegangan tangga.


Setelah sampai di kamar sang empu, dilihatnya pintu kamar bercat putih itu nampak tertutup rapat. Dengan langkah pasti, Eva perlahan mendekat dan mengetuk pintu Arkasa.


Tokk... Tokk... Tokk...


“Aksa... Kamu masih lama gak siapnya??” Teriaknya dengan intonasi agak tinggi.


Aneh?? Arkasa jarang sekali membuatnya menunggu dan itupun hanya terhitung beberapa kali. Masalahnya waktu sudah menunjukkan pukul 06:24 tetapi pria itu tak kunjung keluar dari kamarnya.


Hari ini adalah hari senin dan bisa saja mereka akan mendapatkan hukuman jika datang terlambat. Apalagi guru piket yang terdengar killer tak pandang bulu saat memberi hukuman.


“Aksa kita udah hampir telat loh, kamu ngapain sih di dalem?” Tanya Eva sambil memegang gagang pintu yang ternyata tak dikunci oleh sang empu. Eva pun mengintip dari celah pintu kamar dan melihat situasi yang membuatnya membulatkan mata.


BERANTAKAN


Satu kata yang menggambarkan situasi kamar Arkasa saat itu. Handuk tergelatak dilantai, pakaian kotor nampak berserakan di meja belajar, tak lupa buku sekolah pun masih bertumpuk di atas ranjang.


Dilihatnya Aksa masih sibuk menggeledah meja belajarnya yang entah apa dicarinya. Dengan langkah lebar Eva menghampiri Aksa dan menanyakan perihal kekacauan yang dibuat pria tampan itu.


“Aksa kamu nyari apa? Ini kita udah hampir telat berangkat ke sekolah loh.” Dengus Eva sambil bersedekap dada. Tak lupa bibirnya mengerucut lantaran kesal.


“...”

__ADS_1


Tak ada sahutan apapun yang ia dapatkan karena si pelaku masih sibuk menggeledah. Tak mendapat jawaban, Eva pun dengan spontan mengemasi buku pelajaran milik Arkasa dan membereskan kekcauan itu sambil menunggunya selesai dengan aktivitas pencariannya.


Lima menit berlalu, akhirnya pria itu pun berhenti menggeledah dan netranya terpaku pada sosok wanita berpakaian sama dengannya.


“Eva?? Lo sejak kapan disini?” Tanya Arkasa bingung. Ia tak merasakan kehadiran Eva sejak tadi atau mungkin memang kehadirannya sejak awal memang tak berarti?


“Astaga Aksa... Aku udah dari tadi loh ketuk pintu tapi ga kamu bukain, jadi karena pintunya gak ke kunci aku masuk aja.” Jelas Eva menjelaskan.


“Kamu nyari apaan sih dari tadi sampai kamar kamu berantakan gini?” Lanjut Eva bertanya.


Arkasa hanya bisa menghela nafas dan menarik kursi belajarnya dan duduk. Ia pun menatap dalam mata Eva yang mana membuat jantung Eva berdegub kencang.


“Astaga jantung aku...”


“Lo inget gak sama cincin yang pernah gua liatin ke lo dua hari yang lalu?” Tanya Arsaka.


Eva pun berusaha mengingat cincin yamg dimaksud Arkasa. Cincin dengan batu permata kecil berbentuk bintang di tengahnya.


“Ohh... Dering setar itu bukan??” Tebak Eva antusias.


Aduhh...


Arkasa menyentil dahi Eva lantaran gemas dengan gadis bertubuh ramping itu. Bagaimana tidak, bahasa inggris Eva begitu payah dan terkadang membuatnya merasa kesal dan gemas di waktu bersamaan.


“Dering setar?? Wtf!!” Batin Aksa lelah.


“Ishh hobi banget nyentil jidat aku, nanti kalau otak aku tembus keluar kepala gimana hah? Aksa mau tanggung jawab?” Kesal Eva mendrama sambil mengusap pelan dahinya yang agak kemerahan bekas jitakan manis Arkasa.


“Makanya kalau pelajaran bahasa inggris itu jangan molor di kelas, lo jadi goblo*k gini kan.” Kata Arkasa agak menohok namun itu sudah biasa bagi Eva.


Faktanya memang seperti itu, tiap pelajaran bahasa inggris Eva selalu saja tidur. Kalaupun ditanya oleh guru yang mengajar, ia akan senantiasa menjawab,


“Cintailah bahasa Indonesia”


“Ngapain sih harus belajar bahasa orang lain? Aku sih tetep cinta bahasa Indonesia.” Bangga Eva sambil tersenyum polos.


Arkasa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lantaran sudah pasrah dengan kelakuan ajaib gadis pertama yang membuat ia bisa selepas seperti sekarang.

__ADS_1


Jika ia tak bertemu dengan Eva mungkin ia masih tetap menjadi pria kaku tak tersentuh. Bersyukur Tuhan mengirimkan gadis seperti Eva yang bisa mencairkan hati bekunya.


“Udah lupain aja, sekarang kita berangkat sekolah.” Ujar Aksa memberi saran setelah sadar ia bisa saja telat hanya untuk menjawab pertanyaan Eva.


“Berangkat sekolah?”


“HUWAAA....” Teriak Eva spontan membuat telinga Arkasa rasanya berdenging.


“Apasih Va teriak gitu!”


“Kita telat berangkat sekolah dan hari ini Bu Nining yang piket di gerbang.” Panik Eva setelah sadar waktunya tak banyak lagi. Apalagi jarak tempuh dari rumah Aksa ke sekolah memakan waktu 15 menit, belum lagi jika kondisi jalan sedang macet.


“Shitt... Hurry up!!” Ujar Arkasa sambil menarik tangan mungil milik Eva.


Arkasa tak tau jika ritme jantung Eva sedang tidak baik-baik saja. Hal ini bukanlah hal pertama yang dilakukan Arkasa tapi entah mengapa rasanya masih saja berdebar.


Mereka berdua pun nampak berlarian menuruni tangga karena mengejar waktu, tetapi tetap berhati-hati.


Pengasuh Arkasa sewaktu kecil yang tak lain bernama Mayang nampak menatap khawatir ke arah dua pasang muda mudi itu.


“Ya Allah, Tuan Arkasa sama Nak Eva jangan lari-lari gitu nanti jatuh bahaya...” Pekik Mbah Mayang risau.


Arkasa tak menyahuti ucapan wanita lansia itu dan dengan segera masuk kedalam mobil mewah berwarna hitam.


Eva yang melihat kebiasaan buruk Arkasa lantas menepuk pelan lengan Arkasa saat di dalam mobil. Harusnya mereka pamit terlebih dahulu kepada Mbah Mayang, bukannya malah acuh dan seakan tak menganggap kehadiran Mbah Mayang.


“Aksa ihh kebiasaan banget gak pamit dulu sama Mbah Mayang.” Protes Eva dengan nada yang jengkel.


“Bac*t lo Va, ntar kita telat lo mau tanggung jawab hm?” Tanya Arkasa sambil menukikkan alisnya.


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Eva terdiam seketika.


“Iya sih, tapi kan Aksa kebiasaan banget loh ga pamit dulu sama orang rumah.” Batin Eva


“Nah kicep juga kan lo. Udah lo duduk dan jadi anak yang baik aja.” Titah Arkasa tak ingin di bantah.


......See You Next......

__ADS_1


__ADS_2