
Perjalanan yang begitu padat tadi membuat Arkasa kadang mengumpat. Beruntung 5 menit lagi sebelum gerbang tertutup mereka bisa sampai di sekolahan.
Tatapan mata Eva berfokus kepada papan nama sekolah yang terpajang besar dari kejauhan.
ALEANDRA SCHOOL
Sekolah elit yang cukup terkenal karena siswanya berasal dari keluarga terpandang. Mulai dari orang tuanya yang menjabat sebagai kepala daerah, Pengusaha, anggota militer, dan tenaga kesehatan pun juga ada.
Tak tanggung-tanggung, biaya yang harus dikeluarkan tiap tahunnya hampir ratusan juta per siswa. Beruntung sekali Eva bisa bersekolah di tempat yang akan membuat ekonomi menengah kebawah gigit jari dengan harga yang harus dikeluarkan.
Tentunya Quality dan Quantity sebanding dengan budget sebanyak itu. Siswa-siswinya pun hampir keseluruhan menggunakan mobil bermerek. Kalaupun ada yang menggunakan motor, itu juga motor sport.
“Untung aja kita gak telat tadi.” Lega Eva sambil mengelus pelan dadanya.
Arkasa hanya melirik sekilas dan tertawa kecil melihat ketakutan gadis disebelahnya. Netra matanya pun melihat ke arah gerombolan pria yang nampak asik bercerita di area tepi parkiran mobil.
Arkasa sudah tentu tau siapa mereka, teman atau mungkin sahabat seperjuangannya. Mereka yang menjadi tokoh pembantu dihari-hari suram Arkasa.
“Yaudah lo ke kelas sana, gua mau ngumpul sama temen gua.” Ujar Arkasa bernada perintah.
“Sekalian tas gua.” Laniut Arkasa.
Eva pun hanya menurut dan segera keluar dari mobil Arkasa menuju kelas. Sedangkan Arkasa, ia perlahan mendekat dan bergabung dengan sahabatnya.
Tatapan kagum dan suka dari tiap siswi rak membuat fokus Arkasa buyar. Ia seakan tak menganggap ada keberadaan mereka dan acuh tak acuh.
“Anjayy Tuan muda Arkasa Dwi Mahendra makin ganteng aja!” Teriak Hico heboh.
Plakk....
“Anjing kepala gua kenapa lo geplak bangsul!!” Ringis Hico kesakitan.
Si pelaku nampak memasang wajah tak bersalah dan menatap marah kepada Hico. Mulut sahabatnya satu itu memang melebihi mulut wanita saat berteriak.
“Lo cewe apa cowo sih hah? Suara lo cempreng gitu.” Sindir Eza.
Sedangkan Arkasa, Bian, dan juga Reza nampak acuh dengan pertengkaran dua makhluk gaib ini.
Merasa tak terima dengan ucapan Eza, Hico pun membalas dengan ucapan tak kalah menohoknya.
__ADS_1
“Mulut ya mulut gua kenapa lo yang repot sih anjir? Keep calm brother....” Ucap Hico bak seorang instruktur.
“Dasar mulut cewe.”
“Jin tomang”
“Tulang lunak.”
“Cucunya kakek sugianto.”
“Sugiono anying.”
Arkasa dan kedua temannya yang lain nampak acuh dan mulai meninggalkan kedua pria itu bertengkar.
“Udahlah kita langsung ke lapangan aja, bentar lagi upacara.” Ujar Bian mengajak Arkasa dan juga Reza ke lapangan.
“Mereka gimana?” Tanya Bian.
“Biarin aja.” Kata Arkasa dan Tanpa lama mereka bertiga meninggalkan Hico juga Eza yang masih adu cekcok.
Pertengkaran mereka menjadi tontonan gratis bagi para siswa-siswi ALEANDRA SCHOOL dan bahkan bel upacara pun tak menghentikan aksi debat mereka.
“Gak kebalik??”
“Kalian kenapa masih disini?” Tanya seorang wanita dengan sanggul besar melekat di belakang kepalanya.
Tatapan Hico dan Eza bertemu lalu menatap bersamaan ke arah wanita yang berujar.
Bulu mata cetar mengalahkan bulu mata Syahrini, tahi lalat di hidung sebelah kiri, bibir merah menyala, dan tak lupa blush pipi yang begitu mencolok membuat orang yang melihatnya terkejut-kejut.
“Eh... Bu Nining.” Sapa Eza sambil menunduk hormat.
Berbanding terbalik dengan Eza, Hico yang memang dasarnya mulutnya ceplas ceplos lantas mengeluarkan kata mutiara.
“Anjingg!!! Makhluk astral dari dunia mana lagi ini???” Pekik Hico kaget.
Eza spontan saja membulatkan mata mendengar ucapan “sopan” sahabat karibnya ini. Ntah mengapa firasatnya mengatakan jika ia akan terkena masalah lagi.
Mendengar ucapan Hico, wanita yang tak lain bernama Bu Nining Darmaningsih itu lantas membulatkan mata dan wajahnya semakin memerah.
__ADS_1
“HICO...” Suara Bu Ningsih seperti di tekan dan ada unsur kemarahan di dalamnya.
“Nggehh ndoro...” Balas Hico bak seorang prajurit keraton.
Sedangkan Eza jangan ditanya lagi, ia hanya bisa menepi sedikit karena takut terkena imbas dari kelakuan absurd Hico.
“Kamu ini ya kelakuannya gak pernah berubah. Kamu itu udah kelas 12 SMA Hico, mau jadi apa kamu kalau tingkah kamu seperti ini?” Tegas Bu Nining sambil menatap marah ke arah Hico.
Hico dengan gamblangnya menjawab pertanyaan Bu Nining yang mana membuat Eza menepuk pelan dahinya.
“Saya mau lanjutin perusahaan Papi saya lah Bu, perusahaan Varthouven yang terkay....”.
“Terkaya, terbesar, termegah, dan ter.. ter.. ter.. lainnya. Dengerin ibu ya Hico, yang ada perusahaan orang tua kamu bakalan hancur kalau kamu yang handle.” Ucap Bu Nining memotong ucapan Hico.
Tentu saja Bu Nining sudah hafal betul dengan kalimat yang akan di ucapkan oleh Hico karena setiap ditegur demikian maka jawabannya selalu saja seperti itu.
Ucapan telak Bu Nining membuat Eza menutup mulutnya menahan tawa. Sedangkan Hico mendramatisir sambil memegang erat dadanya seakan-akan terkena serangan jantung.
“I-ibu tega-teganya ngomong gitu ke saya. T-tolong jantung saya bu...” Ujar Hico.
Eza yang sudah tak tahan melihat kelakuan sahabatnya yang terlalu alay, lantas meminta ijin kepada Bu Nining untuk segera ke lapangan.
“Maaf Bu, orang tua Hico lupa ngasih dia minum obat waras jadi begini.” Ucap Eza tanpa memperhatikan tatapan horor yang dilayangkan Hico.
“Anjiir mulut lo gak ada akhlak banget ya Za, temen sendiri lo kata gila.” Dengus Hico tak terima. Pria tampan, humoris dan berkharisma seperti dirinya dikata gila?? WTF!!!
“Udah sana kalian ke lapangan.” Usir halus Bu Nining walau perasaan dongkol untuk Hico masih ada.
Baru saja Hico ingin berujar tetapi segera di tarik oleh Eza. Memang Hico ini spesies yang perlu di teliti oleh ilmuwan. Ntah sifat jahil dan ceplas-ceplosnya itu berasal dari gen mana.
Eza jadi ragu jika Hico keturunan keluarga Varthouven karena selama ia mengenal keluarga Hico semuanya nampak berwibawa berbanding terbalik dengan temannya.
“Udah anjir gak usah pancing emosi Bu Nining. Lo kalau kepengen banget masuk ruang BK gak usah ngajak-ngajak gua bangsaat.” Kesal Eza sambil menarik kasar dasi Hico.
“Eh anjing, gua ini temen lo apa peliharaan lo sih? Leher gua kecekek bangsul.”
Tingkah mereka berdua menarik perhatian sebagian orang dan membuat yang lain tertawa.
......See You Next......
__ADS_1