
Harusnya ia tak menyetujui ajakan Laras untuk ke kantin dan langsung memilih pulang. Apalagi Eva sudah tau sahabat Arkasa tidak begitu menyukai dirinya.
“Upss... Gua kira lo goblokk banget gak ngerti maksud ucapan gua.” Balas Laras dengan nada meledek yang mana membuat Hico dan Reza kesal bukan main.
“Ras, udah kita langsung pulang aja.” Ajak Eva untuk kesekian kalinya. Namun tak digubris oleh Laras. Rasanya pria seperti dihadapan Laras harus diberi roastingan yang lebih ekstrem lagi biar kapok.
“Noh temen lo ngajak pergi, udah sana.” Usir Hico.
“Lo ini bener-bener....” Belum selesai Laras bersuara, Eva lantas memotong ucapan sahabatnya itu karena tidak ingin memancing keributan lebih.
“Tapi Va!!?”
“Udah Ras, nafas aku agak sesak.” Lirih Eva yang mana membuat Laras sedikit panik.
Disaat mereka berdua berbalik badan dan ingin pergi, terdengar suara Reza yang mampu melukai perasaan Eva.
“Wait!!! ”
“Dengerin gua baik-baik Eva Prilly, sampai kapan pun LO GAK AKAN PERNAH PANTES BUAT SEORANG ARKASA DWI MAHENDRA bitc*h... Lo harusnya ngaca, Lo siapa dan Arkasa siapa!!”
Mental Eva sudah kebal mendapat penolakan dari para sahabat Arkasa. Latar belakang dirinya membuat Hico, Eza, dan terutama Reza begitu menolak tegas kedekatan mereka berdua. Sedangkan Bian sendiri ntah berpihak kepada siapa.
“Kalau kalian ketemu Aksa bilangin ke dia kalau aku udah balik diluan.” Gumam Eva sambil berlalu pergi menarik lengan Laras.
Laras jangan ditanya lagi raut mukanya seperti apa. Jika saja Eva tidak ada disitu sudah pasti ia akan meninju wajah mereka semua.
Selepas kepergian Eva juga Laras, terdengar bisikan-bisikan dari para siswa yang tentunya mencemooh Eva. Bahkan mereka semua men-cap Eva sebagai wanita tak tahu malu.
“GAK USAH BACOT KALIAN SEMUA!” Teriak Reza membuat semua siswa kembali fokus kepada makanannya, namun mulut mereka tetap bergosip ria.
“Za, gak seharusnya sikap lo kayak tadi. Kalau Arkasa tau lo gituin Eva bisa habis lu di hajar dia.” Jelas Bian memperingati.
Namun memang dasarnya Reza kepalang benci dengan seorang Eva membuat ia tak memikirkan resiko. Menurutnya jika ia tidak suka maka ia akan tunjukkan ketidak sukaannya.
“Kalian juga tau kan kenapa gua benci banget sama ***** kayak dia?” Tanya Reza yang mana membuat ke-3 pria itu berdehem singkat.
“Dia itu cewe mur...”
“Stopped !!! ” Tegas Arkasa yang tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka.
“Arkasa...” Gumam mereka bersamaan.
Arkasa melihat pertengkaran singkat mereka sebelum Eva pergi. Ia memang tau sahabatnya tidak begitu menyukai Eva karena masalah itu. Namun bukan berarti ia menyebarkan aib Eva hanya karena rasa bencinya.
__ADS_1
“Lo mau bongkarin soal Eva disini? Cih, ga gentle banget lo jadi cowo.” Ujar Arkasa dingin.
“Heh.. As you know, gua gak suka cewe modelan dia ada disekitar lo Bro.” Ucap Reza dengan nada lirih.
Selangkah Arkasa maju dan berdiri tepat dihadapan Reza yang posisinya juga sedang berdiri.
Sambil mencondongkan badannya kedepan, Arkasa pun berbisik pelan namun terkesan mengintimidasi.
“Gak semua cewek sama ama cewek masa lalu lo Za.”
Melihat situasi yang semakin tegang antara Arkasa dan juga Reza membuat Bian maju untuk menengahi pertengkaran mereka.
Ingat!!! Hanya Bian lah yang paling bersikap Calm dan dewasa dalam menyatukan pertengkaran diantara mereka.
“Udahlah gak usah berantem lagi. Reza lo juga salah ngomong kayak gitu ke Eva. Bukan karena lo trauma sama masa lalu lo sampe-sampe lo limpahin semuanya ke Eva.”
“Dan lo juga Arkasa, gua gak mau pertemanan kita berantakan cuma karena lo lebih utamain cewe ketimbang sahabat lo sendiri. Gua gak mihak siapa pun tapi gua cuma ngingetin doang.” Lanjut Bian yang mana membuat mereka semua terdiam.
Hico dan juga Eza yang biasanya paling heboh kini terdiam. Disituasi seperti ini mereka tau kapan harus bercanda dan kapan harus serius.
“fuckingg girl!! ” Batin Reza sambil mengepalkan kedua tangannya.
***
“Dengerin gua baik-baik Eva Prilly, sampai kapan pun LO GAK AKAN PERNAH PANTES BUAT SEORANG ARKASA DWI MAHENDRA bitc*h...”
“Bitc*h..”
“Bitc*h..”
Kalimat itu terus berputar di dalam otaknya seakan-akan mendoktrin dirinya bahwa memang dirinya tak pantas.
“Kenapa hiks?? Ga sepantes itu seakan-akan gak ada tempat buat aku?” Guman Eva sambil terisak lirih.
Ingatannya terputar pada masa lalu kelamnya. Dirinya yang dulu begitu hina dan dia seakan menyesal dengan tingkah murahannya kala itu.
“Kalaupun aku bisa milih antara hidup dan mati, aku rasanya pengen mati aja. Aku capek Tuhan, aku juga pengen bahagia tanpa terbayang-bayang masa lalu.” Ujar Eva lirih sambil sesekali menatap orang di sekelilingnya yang bisa tertawa lepas.
“Sekarang cuma Aksa yang jadi penyemangat hidup aku.” Lanjutnya dengan tatapan nanar.
Iya... Hanya Arkasa yang menjadi tujuan hidup Eva saat ini. Ntah apa lagi yang harus Eva lakukan jika Aksanya itu tak berada disisinya.
***
__ADS_1
Gelapnya malam telah menghampiri belahan bumi, cuaca kala itu begitu dingin hingga menusuk tulang.
Nampak Eva tengah duduk diteras depan rumahnya. Gadis itu nampak termenung entah apa yang tengah dipikirkannya.
Seorang wanita paruh baya menatap bingung kearahnya. ‘Dia kenapa?'
Dengan langkah pelan wanita paruh baya itu menghampiri Eva dan sontak saja membuat Eva terkejut.
“Astaga ibu ngagetin aja.” Ujar Eva sambil mengelus pelan dadanya.
Wanita paruh baya yang dipanggil Eva sebagai Ibu itu segera mengambil posisi duduk tepat disebelah Eva.
“Kamu kenapa ngelamun hm? Ada masalah di sekolahan?” Tanyanya dengan nada lembut.
“Engga kok Bu, semuanya baii-baik aja.”
“Jujur sama Ibu, Va. Mata kamu gak bisa bohong sama Ibu.” Desak ibunya Eva yang bernama Ibu Mila.
Eva rasanya ingin menangis saat itu juga. Bagaimana tidak, beban berat dipundaknya seakan-akan menindih dirinya. Tidak!!! Ia tidak boleh terlihat lemah dihadapan ibunya.
“Eva lagi mikirin pelajaran disekolah aja Bu. Soalnya kan bentar lagi ujian kenaikan kelas.” Jawab Eva berusaha menghilangkan kekhawatiran ibunya.
Ibu Mila hanya ber-oh ria mengiyakan pernyataan Eva. Karena memang benar, Eva sebentar lagi akan ujian kenaikan kelas.
“Gak kerasa ya kamu udah dewasa sekarang. Sebentar lagi kamu akan lulus SMA dan kuliah.” Gumam Ibu Mila sambil mengelus pelan kepala Eva.
Mungkin momen kuliah adalah momen yang paling dinanti-nantikan oleh semua remaja seusianya, tapi bagi Eva tidak. Melihat kondisi ekonomi keluarganya membuat ia harus berfikir seribu kali untuk kuliah. Apalagi kuliah harus memerlukan uang yang cukup banyak.
Mengandalkan beasiswa Eva bahkan tak bisa berharap lebih, nilainya saja masih dan bahkan selalu dibawah nilai standar. Apa bisa ia mendapatkan beasiswa?
“Ibu akan kerja semaksimal mungkin supaya kamu bisa kuliah dan gapai cita-cita kamu Nak.” Kata Bu Mila menyadarkan Eva dari lamunannya.
Srekk...
“Eva mending gak usah kuliah Bu, Eva mau kerja aja bantu ibu kalau tamat sekolah.” Ujar Eva dengan senyum yang selalu terpatri di bibirnya.
Bu Mila sontak mengerutkan dahinya bingung. Tentunya semua orang tua menginginkan yang terbaik buat kehidupan anaknya, bahkan salah satunya dengan menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi.
Tapi Eva???
“Kenapa hm? Masalah biaya ibu akan usahain semampu Ibu. Ibu mau liat kamu jadi orang sukses Nak.” Jelas Bu Mila menegaskan seolah tak ingin di bantah.
Tetapi Eva hanya diam dan tersenyum saja. Jika tetap menanggapi ucapan sang Ibu tidak akan ada habisnya. Masalah lanjut kuliah nanti ia pikirkan.
__ADS_1
......See You Next......