
“Gimana udah inget?” Tanya Bu Mila menyadarkan Eva dari lamunan sesaatnya.
Gadis itu hanya terkekeh dan kembali melanjutkan makannya. Bu Mila menatap lamat anak gadisnya yang kini beranjak dewasa.
Sebagai seorang ibu, ia merasa gagal karena menyengsarakan hidup sang anak. Di usia yang masih muda dimana teman sebayanya sedang bermain tetapi ia harus disibukkan dengan pekerjaan.
Bu Mila juga merasa bersyukur karena anaknya tidak merasa malu untuk bekerja, terlebih lagi ia bisa mendapatkan teman seperti Arkasa. Orang tua Arkasa begitu baik dengan menyekolahkan sang anak di satu sekolah yang sama dengan Arkasa, entah apa sebabnya tetapi Bu Mila merasa Bersyukur.
Pikiran wanita paruh baya itu berkelana jauh memikirkan kehidupan sang putri di sekolah. Apakah ia disana diperlakukan baik? Apakah putrinya itu mendapatkan teman yang tidak memandang kasta? Dan ataukah putrinya itu nyaman bersekolah disana?
Segala pikiran buruk selalu menghantui pikirannya. Tetapi selalu dipatahkan dengan senyum manis sang anak seakan menandakan bahwa ia baik-baik saja.
“Astagfirullah!!! Kamu kebiasaan banget ngagetin Ibu!” Kaget Bu Mila karena tepukan di bahunya.
“Ehh?? Ibu ngelamunin apa sih? Eva dari tadi nanya loh ke Ibu.” Tanya Eva.
“Ibu lagi mikir kamu kenapa belum berangkat kerja? Itu udah mau jam 7.” Pengakuan Bu Mila yang asal malah membuat Eva terlonjak kaget.
“Huwaa udah telat...” Teriak Eva heboh dan segera pamit ke sang Ibu.
Sedangkan Bu Mila hanya tertawa kecil melihat kepanikan sang putri. Baginya kebahagiaan Eva adalah yang utama. Mengganti masa kelam putrinya dengan limpahan kebahagiaan, itulah yang ada di pikirannya saat ini.
***
Jam makan siang selalu saja menjadi spot tersibuk hampir disetiap tempat makan. Pengunjung yang datang silih berganti membuat semua pekerja mengeluarkan tenaga ekstra, terlebih lagi sang juru masak.
“Hari ini lagi rame banget ya Va..” Seru salah seorang pria bernama Bima. Pria berwajah blasteran Indonesia dan Italia, berwajah tampan dengan rahang tegas, bahu lebar, sorot mata yang tajam dan tinggi yang sangat ideal terkadang membuat Eva terheran.
__ADS_1
Pria tampan seperti Bima kenapa tidak mendaftar sebagai model saja? Bukankah dari segi fisik, Bima sudah memenuhi persyaratan menjadi seorang model.
Pekerjaan seperti juru masak sangatlah kurang pas dengan wajah tampan blasteran itu. Dan tentunya Bima menjadi Icon Point di restoran tempat Eva bekerja.
“Iya nih Bang, dari tadi pesanannya banyak banget.” Balas Eva menimpali.
“Gimana sekolahan kamu? Gak ada yang isengin kamu kan?” Tanya Bima sambil sesekali mengaduk masakannya.
Eva yang tengah berkutat dengan masakannya pun menjawab.
“Ya gitulah Bang!” Balas Eva terkesan ambigu membuat Bima berdehem singkat.
Tiba-tiba seorang wanita berpakaian pelayan itu nampak menghentikan obrolan antara Eva dengan Bima.
“Asik banget nih, lagi ngobrolin apa?”
“Cuma basa-basi doang Mba. Oh iya, ada orderan lagi?” Tanya Eva kepada wanita yang bernama Nana tetapi dibalas gelengan kepala menandakan jika tidak ada pesanan lagi.
Tetapi setelah dijelaskan ke mereka semua barulah mereka percaya terutama para wanita yang kini mempunyai semangat lagi untuk mengejar cinta Bima.
“Eh habis ini lo masih mau part-time lagi?” Tanya Nana sambil menyenderkan punggungnya di dinding.
“Part-time? ” Beo Bima.
“Lah? Lo gak tau emang kalau Eva biasanya ambil kerja tambahan habis kerja di sini.” Pengakuan Nana membuat Bima mengerutkan dahinya bingung.
“Heran gua masa lo jarang banget masuk kerja tapi gak dapet SP atau minimal dipecat kek.” Ucapan Nana tiba-tiba.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Bima biasa ke restoran itu hanya terhitung seminggu 2 kali. Ntah bagaimana sistem penggajian yang dilakukan manajer restoran itu.
“Mba Nana ih ngomongnya jahat banget sama Bang Bima. Kalau sampai Bang Bima dipecat kan aku gak ada objek buat cuci mata.” Ucap Eva pura-pura kesal.
Hahaha....
“Mampus cuma dijadiin objek doang.” Sindir Nana sambil tertawa kencang. Apalagi ditambah wajah datar Bima semakin membuat Nana tertawa.
Nana itu usianya beda setahun dengan Bima, dan Nana telah bersuami bahkan sudah memiliki seorang putri. Benar!!! Nana menikah diusia muda dengan pria pilihan orang tuanya dan karena alasan kebutuhan, jadilah ia bekerja dengan sang buah hati dititipkan di rumah mertua.
“Kamu serius ambil part-tima Va?” Tanya Bima mengacuhkan Nana. Sedangkan Eva yang ditanya pun hanya berdehem singkat.
“Iya Bang, tapi sekarang udah engga. Terakhir itu seminggu lalu karena kepergok Bu RT terus dia ngadu ke Ibu. Kalau gak ketahuan waktu itu, mungkin aku masih kerja disana.”
“Kamu lagi ada kebutuhan mendesak sampai ambil kerja tambahan?” Tanya Bima perhatian.
“Uwuwww.... Mau doms diperhatiin Aa Bima Kiyaaaa” Ucap Nana sok imut yang mana membuat Eva dan juga Bima geli sendiri.
Ingat!! Eva hanya menganggap Bima sebagai abangnya dan tidak lebih. Pria yang kini berada di hatinya hanyalah Arkasa Dwi Mahendra seorang.
“Agak stress nih cewek satu.” Lirih Bima
“Eh iyaa... Pertanyaan gua belum lo jawab Bisa. Lo kok bisa masuk cuma 2 kali seminggu emang bos ga komplain? Gua juga mau lah kayak gitu. Bisa quality time bareng anak gua.” Ucap Nana.
Setidaknya ia bisa menghabiskan banyak waktu bersama sang putri tercinta. Ada perasaan sungkan jika setiap harinya harus menitipkan anaknya kepada mertua.
“Gak papa sebenernya, tapi konsekuensi gaji di potong. Gimana? Tetep mau kayak gua?”
__ADS_1
“Lah anjir!! Lo ngomong gitu berasa santai banget. Mau makan apa lo kalau gaji dipotong hah? Emang rada-rada lo Bim.” Ketus Nana.
......See You Next......