
Kedekatan antara Arkasa dengan Eva selalu saja menjadi buah bibir anak ALEANDRA SCHOOL. Bahkan keduanya mendapat julukan Handsome & the Beast.
Pria tampan dan sempurna seperti Arkasa, putra tunggal keturunan Dwi Mahendra yang sumber kekayaannya ada dimana-mana begitu tidak pantas bersanding dengan gadis jelek seperti Eva. Begitu pikir mereka.
Bahkan mereka selalu saja membanding-bandingkan dirinya dengan Eva dan selalu merasa dirinyalah yang lebih pantas untuk dekat dengan Arkasa.
Tapi yang namanya Eva si gadis periang tak begitu menanggapi omongan orang lain. Menurut Eva, mereka tidak mengetahui pasti seberapa besar usahanya untuk mengenal seorang Arkasa Dwi Mahendra.
“Udah gak usah di dengerin omongan mereka. Mereka itu pada sirik makanya nge baco*t.” Ujar seorang gadis berkuncir kuda.
Kacamata tebalnya begitu melekat di punggung hidung gadis ber name-tag Larasati yang biasa disapa Laras oleh Eva. Walaupun penampilannya terlihat kutu buku tetapi kata-kata menyakitkan akan keluar dari bibirnya.
Ia bahkan mendapat julukan Queen of roasting di seantero sekolah. Mereka kira gadis seperti Laras mudah ditindas bahkan dengan kata-kata bernada kasar sekalipun. Tetapi siapa sangka balasan kata-kata dari Laras lebih menohok hati mereka.
“Mental aku udah kuat jadi tenang aja. Jangankan mereka, omongan Aska yang nyelekit banget udah biasa aja buat aku.” Ujar Eva santai sambil fokus mencatat materi.
Laras dibuat melongo dengan sahabatnya satu ini. Jika ia di posisi Eva mungkin ia sudah membalas balik omongan kasar pria seperti Arkasa.
“Emang agak lain kamu Va.” Bingung Laras.
“Hehe...”
Arkasa dan Eva beda tingkatan. Arkasa dan yang lain berada di kelas XII IPA sedangkan Eva dan Laras berada di kelas XI IPS. Mereka pun bisa bertemu hanya saat di kantin.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10:45 dan waktunya untuk jam istirahat. Berhubung guru untuk pelajaran kedua berhalangan hadir makanya mereka bisa langsung pulang. Maklum sekolah mereka sekolah elit, tak seperti sekolah biasanya yang harus menunggu sesuai jadwal pulang.
“Eh Va, kamu masih mau tinggal di sekolah atau langsung balik? Atau mau ke kantin dulu?” Tanya Laras meminta persetujuan.
Nampak Eva menelengkan kepalanya ke kiri dan sejenak berfikir.
“Sekarang jam istirahat pasti ada Aksa di kantin. T-tapi...” Gumam Eva ragu.
__ADS_1
“Kok diem? Yaudah kita ke kantin aja dulu biar aku yang traktir.” Ajak Laras namun Eva masih tetap diam di tempat.
Melihat keterdiaman Eva membuat Laras mengerutkan dahi. Laras sepertinya tau apa yang dikhawatirkan sahabatnya satu ini.
“Udah gak usah difikirin, mereka biar aku yang urus.” Jelas Laras menghilangkan kegusaran Eva.
“...”
“Ck... Kamu kelamaan mikir keburu kantinnya penuh.” Dengus wanita berkaca mata tebal itu sambil menggeret lengan Eva. Sedang sang empu hanya pasrah saja ditarik
***
Suasana kantin di siang hari itu nampak ramai, mungkin lebih tepatnya kantin fasilitas restoran. Bagaimana tidak kantin sekolahan pada umumnya berbanding terbalik dengan kantin ALEANDRA SCHOOL.
Para pekerja kantin pun semuanya berseragam dan tentunya makanan yang dijual pun setara makanan restoran. Begitu tak ramah di kantong kita yang masih mendang-mending.
Semua siswa begitu menikmati makan siang mereka dan sesekali menggosip ria, bahkan terdengar obrolan yang saling memamerkan harta orang tua mereka.
“Woyy anji*r minuman gua?!” Kesal Eza.
“Perkara orange jus doang lo berisik amat. Udah jatuh miskin lo sampe gak mampu beli lagi?” Ledek Hico yang mana membuat kekesalan Eza berkali lipat.
Setelah pria tengil ini hampir menyeretnya ke ruang BK tadi pagi, sekarang ia ingin mencari gara-gara lagi dengan mencuri minumannya?
“Definisi temen dajja*l.” Batin Eza mencoba bersabar.
Sedangkan Bian dan juga Reza selalu menjadi penonton setia dari pertengkaran dua makhluk aneh seperti Hico dan Eza. Jika kalian mencari Arkasa, ia tengah ada urusan penting di ruang guru dan hanya menyisakan 4 pria tampan itu.
Eva yang baru sampai di kantin bersama Laras menatap sekeliling mencari keberadaan Arkasa diantara kerumunan siswa ALEANDRA SCHOOL.
“Nah itu temennya Arkasa disana!! Yaudah ayo.” Desak Laras dan kembali manarik lengan Eva. Sedangkan sang empu hanya pasrah saja dan sudah menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan sahabat Arkasa.
__ADS_1
Sesampainya mereka disana, pertengkaran antara Hico dan Eza terhenti dan fokusnya terpaku pada dua gadis entah berantah seperti Eva dan Laras.
“K-kak Bian, Aksanya dimana ya? Tumben gak bareng kalian?” Tanya Eva pelan sambil menunduk sedikit. Takut akan tatapan tidak bersahabat yang dilayangkan mereka.
“Arkasa lagi dipanggil ke ruang guru. Lo kalau mau nunggu Arkasa disini gak apa-apa.” Jelas Bian mempersilahkan. Diantara sahabat Arkasa mungkin hanya Bian yang menerima keberadaan Eva.
“Ngapain kalian disini? Bikin gak mood makan aja.” Jika kalian berfikir Hico yang berkata demikian, maka tebakan kalian salah.
Justru Reza lah si pria cuek yang mengatakan kalimat pengusiran secara tidak langsung. Sedangkan Hico dan Eza diam menyaksikan perdebatan itu.
“Gak usah gitu lah Bro, ini kan tempat umum jadi siapa aja berhak.” Kata Bian berusaha untuk netral.
Sedangkan Eva jangan di tanya lagi, wajahnya sudah tertunduk paku dan menatap lekat sepatu sneakers nya.
“Dia buta atau gimana? Tempat duduk masih banyak ngapain coba dia kesini? Mau caper paling.” Decih Reza dengan tatapan meremehkan.
Merasa tak terima sahabatnya dipermalukan seperti itu, Laras spontan menggebrak meja makan milik Arkasa cs.
Brakk....
Gebrakan meja yang begitu kencang membuat perhatian semua orang terfokus kepada mereka. Bahkan ada yang sampai terjingkat kaget.
“Heh kutu dugong, gua ama Eva kesini karena ada urusan sama si Bos sengklak kalian. So, gak usah ke-GR an deh lo jadi setan. Perkara lo udah gak mood ya mending kasih aja tuh sisa makanan lo ke bestie lo.” Balas Laras berapi-api.
“Anji*r nyelekit banget omongan nih cewek.” Gumam Hico agak ngeri dengan Laras. Hico jadi ragu mental Reza aman atau tidak setelah di roasting oleh Laras.
Wait a second...
“Eh anyingg, maksud lo apa nyuruh Reza kasih ke kita makanan sisa dia hah? Lo kata gua mpus??” Kesal Hico setelah sadar maksud ucapan Laras.
Sedangkan Eva sedari tadi berusaha menarik lengan Laras untuk keluar dari kerumunan itu. Nafasnya mulai terasa sesak karena tatapan cemooh dari orang sekitarnya.
__ADS_1
......See You Next......