ArLla (TERBIT)

ArLla (TERBIT)
Chapter 23 Flashback 2


__ADS_3

Masih Flashback


Zella menceritakan masalahnya, walau tak semua yang ia ceritakan.Ia hanya menceritakan secara garis besar atau secara singkat di inti permasalahannya saja.


Andra hanya menjadi pendengar yang baik saja.Ia mendengarkan cerita Zella sambil memangku Zella dan mendekap Zella dengan erat sambil sesekali mengelus punggung Zella agar Zella sedikit lebih tenang.


Sementara Zella hanya bercerita sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Andra.Ia tak membalas pelukan Andra tapi ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Andra pertanda kalau ia nyaman dalam posisi seperti ini.


Entah mengapa Andra juga merasa nyaman ada di dekat Zella.Padahal selama ini ia termasuk orang yang malas mencampuri urusan orang lain.Mungkin karena Zella mengingatnya pada sosok adik kecilnya yang telah meninggal dulu,dan karena meninggalkannya adiknya lah ibunya mengalami depresi.


Sehingga ia kekurangan kasih sayang seorang ibu ditambah ayahnya yang sibuk mengurus ibu dan perusahaannya sehingga ia hidup tanpa kasih sayang orang tua.Saat itu ia baru kelas 2 SMP dan adiknya kelas 1 SD,jarak usianya memang terpaut cukup jauh.Dari sanalah ia menjadi lelaki berandal dan akhirnya ia mendirikan Mafia besar yang bernama Black blood.


Setelah Zella bercerita tiba tiba ada seseorang yang berbicara sambil berjalan ke arah mereka...


''Ada apa Ndra kok kamu di sini?''Tanya perempuan tersebut yang tak lain adalah Agnes Alexander,kekasih orang yang mendekap Zella.


''Ini tadi aku ngelihat anak ini duduk sendirian disini sambil nangis''Ucap Andra yang masih memangku Zella.


''Oh emang kenapa dia kok nangis?''Ucap Agnes sambil berjongkok mengelus rambut hitam sebahu milik Zella.


''Ini ya kehidupannya gak jauh beda dari aku Yang, kekurangan kasih sayang orang tua''Ucap Andra.


''Oh gimana kalo kamu ikut kami sebentar dek?,kita jalan jalan siapa tau bisa ngalihin pikiran kamu''Ucap Agnes,kemudian tatapan Agnes tertuju pada kaos putih milik Andra yang terdapat noda darah milik Zella.


''Ini kenapa kaos kamu kena darah Ndra?''Tanya Agnes,sambil menunjuk kaos Andra.''Iya ya kok bisa perasaan gka ada yang luka deh''Ucap Andra sambil menunduk dan kemudian tatapannya beralih ke lengan kiri Zella yang terdapat luka sayatan dan darah menetes dari sana.


''Tangan kaku kenapa dek,gak sakit apa tangan kamu,kenapa bisa berdarah,kita ke rumah sakit yuk''Ucap Andra yang merasa khawatir.


''Gak kerasa apa apa kok kak,aku juga gak ngerasa sakit ini udah biasa kok kak aku lakuin kalau aku lagi stres''Ucap Zella sambil tersenyum tipis kearah Andra.


''Ya udah kamu ikut kakak ke taman bermain,tapi kita ke psikiater dulu kakak takut kamu ngalamin yang kayak kakak alamin? dulu''Ajak Arga merasa kawatir, karena ia dulu juga pernah melakukannya bahkan dulu ia pernah ada niatan bunuh diri, tapi ia segera menepisnya karena ia sadar jika ia mati tuanya akan tambah stres.

__ADS_1


''Yaudah deh kak''Ucap Zella pasrah.Kemudian mereka segera menuju mobil sport mewah berwarna hitam miliknya.Untungnya tadi ia tidak jadi membawa motornya,jika ia membawa motornya pasti akan ribet kalo ada urusan begini.


Selama dalam perjalanan menuju ke rumah psikiater yang dulu menangani Andra tanpa sepengetahuan orang tuanya,mereka terus mengajak Zella mengobrol.


Walau awalnya Zella agak kaku dengan mereka tapi lama kelamaan ia juga merasa nyaman bersama mereka...


''Nama kamu siapa dek?''Tanya Agnes.


''Zella kak''Ucap Zella dengan wajah datar nya.


''Kalo nama kakak, Agnes panggil kak Agnes aja oke''Ucap Agnes.Dan di jawab Zella dengan anggukan kepala.


Posisi Dalma mobil itu... Andra sebagai supir dan Zella yang duduk di pangkuan Agnes.Setekah lama mengobrol Zella pun terlihat lebih santai dan sudah menghilangkan wajah datar yang biasa ia perlihatkan dan berganti dengan wajah santai dan senyum tipis yang di lukisnya.


Di rumah psikiater yang dulu mengobati Andra...


tok


tok


tok


Andra mengetuk pintu sambil mengucapkan kata permisi padahal ada bel di samping pintu.Tapi entah mengapa dengan bodohnya ia malah mengetuk pintu tersebut.Untungnya ada yang segera membukakan pintunya. ''Iya sebentar'' Teriak seseorang dari dalam.


Ckelek...


''Iya cari siapa atuh den?''Ucap seorang pelayan dengan ramah. Pelayan tersebut tadinya baru selesai membersihkan ruangan tamu yang dekat dengan pintu,jadi dia bisa mendengar suara ketukan pintu.


''Oh den Andra toh,bibik kira siapa,mari masuk den masuk saya panggilan dokter Raka nya dulu''Ucap pelayan yang tak lain adalah Bi Iyem.


Bi Iyem mengenal Andra karena ia telah lama bekerja di sana.Dulu saat Andra mengalami depresi dan berobat pada Dokter Raka yang tak lain adalah tuan rumah tempat Bi Iyem bekerja.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu,ada seorang laki laki yang menghampiri ruang tamu...


''Tumben lo ke sini lagi Ndra,apa depresi lo kambuh lagi?''Tanya seseorang yang tak lain adalah Dokter Kevin.


''Bukan gue tapi anak ini''Ucap Andra sambil menunjuk Zella.Mereka memang berbicara secara santai, karena Usia Dokter Raka yang memang masih muda yaitu masih sekitar 26 tahun dan ia sudah menjadi dokter sejak usia 22 tahun.


Pandangan Dokter Kevin pun langsung tertuju kepada anak kecil yang ada di tengah tengah Andra dan Agnes.


''Emang nya dia kenapa?''Tanya Dokter Kevin.


''Gak tau,tadi gue ngelihat dia ngangis sendirian di taman yang agak gelap, terus gue deketin and gue peluk,terus kayaknya sih dia ngalamin depresi gara gara kekurangan kasih sayang orang tuanya.Dia juga goresin pisau lipat kecil ke tangannya sampe berdarah tapi waktu gue tanyain dia gak ngerasain sakit sama sekali''Jelas Andra.Sedangkan Kevin hanya mengangguk paham, kemudian mengajak mereka menuju ruang kerjanya.


Di ruang kerja Kevin ...


''Jadi selama ini apa yang kamu rasain dan alamin dek?''Tanya Dokter Kevin dengan nada bicara lembut agar PP pasiennya tidak merasa takut dan mau bercerita.


''Aku selama ini ngersa pusing sama sesak nafas waktu keinget aku di bentak ibu,aku suka lukain diri aku sendiri dengan cara memukulkan kepala ke tembok,menjambak rambutku,menggoreskan pisau di lengan ku.


Aku juga merasa ingin menangis dan takut saat di bentak keluarga ku.Aku juga sering gak bisa bedain mana yang nyata dan mana yang halusinasi ku saja''Ucap Zella dengan nada santai tapi tetap dengan wajah datarnya.


Setiap pernyataan yang Zella ucapkan di tulis Kevin di note kecil yang memang biasa ia lakukan ketika menangani pasien.


''Setelah di diagnosa Zella mengalami trauma terhadap bentakan,ia juga depresi.Atau lebih tepatnya ia mengalami gangguan mental dan kalau dari ciri cirinya ia mengalami Skizofrenia.


Gangguan mental yang membuatnya sulit membedakan realita dan halusinasi,serta melukai diri sendiri''Jelas Kevin kepada Andra.


Setelah menjelaskan semuanya kepada Andra, kemudian Andra,Agnes dan Zella pamit untuk pergi.


...***...


...Masih ada flashback lagi setelah ini...

__ADS_1


__ADS_2