
di bawah langit mendung Kota Bandung kala itu, Arthan maupun Aruna masih berada di dalam lingkaran keheningan.
Angin sore makin terasa dingin dan kuat, hingga akhirnya tetes demi tetesan air hujan kian mulai jatuh
Arthan fikir Gerimis tersebut tidak akan berkepanjangan, ternyata dugaannya salah
Tak lama dari itu, Hujan deras menerpa mereka. mau tak mau Arthan berhenti di bawah ruko kecil untuk berteduh bersama Aruna di sana.
"kita tunggu hujan nya reda dulu, biar Lo ngga sakit" ucap pria tersebut
Sedari tadi Aruna memperhatikan gerak gerik dirinya, Aruna merasa bahwa Arthan sepertinya merasa Kedinginan saat itu
seragam yang Arthan kenakan kini Basah kuyup seluruhnya, sedangkan jaket nya di pakai oleh Aruna, wajar jika pria tersebut merasa Kedinginan.
"ada kursi kosong tuh, mau duduk?" Tanya Arthan.
Aruna mengangguk, alhasil mereka duduk di sebuah kursi berwarna putih di sana
keheningan menyelimuti keduanya, hampir 10 menit terlewatkan.
"dingin?" tanya Aruna membuka suara
"hm? engga,"
"jangan bohong, dosa."
"ngga bohong, emang kalo kedinginan kenapa?"
"ya nanti masuk angin" tanpa basa basi lagi Aruna mulai melepas jaket Arthan
namun sayangnya hal itu di cegah oleh si pemilik jaket, "jangan di lepas, pake."
"tapi Lo ngga pake apa apa, seragam juga basah kuyup, nanti Lo sakit gimana?!"
Arthan terdiam menatap Aruna, ia tersenyum seketika, sontak hal tersebut membuat Aruna merasa berdebar dibuatnya
di tambah lagi, tiba tiba Arthan meraih tangan kanan Aruna dan menggenggamnya erat
kemudian pria itu memasukan tangan mereka ke saku jaket sebelah kanan yang dikenakan Aruna
"nah, kalo Kaya gini kan gue jadi ngga kedinginan lagi"
Aruna masih terdiam,
pipinya memerah kala itu
tak lama, seorang wanita berhijab hitam datang kearah mereka
"punten.. mas nya Selebgram ya?"
Arthan dan Aruna saling bertatap bingung,
"anu teh, saya buk---"
"boleh minta foto nggak? abis masnya kasep pisan, hehehhe"
Aruna yang mendapati wajah keberatannya Arthan, dan ia tau bahwa pria di sebelahnya tidak bisa menolak wanita tersebut.
Alhasil Aruna langsung peka terhadap situasi yang sedang di jalani Arthan, dan ia berniat membantunya,
"maaf mba, dia pacar saya" ucap Gadis tersebut dengan mudahnya
hal itu berhasil membuat Arthan maupun si wanita Terdiam sekitar 10 detik lamanya.
"e..eh.. maaf kalo gitu ya, saya nggak tau.. yaudah saya pamit dulu ya mas, mba. hehehhe"
Aruna mengangguk membalas pamitan dari si wanita,
Usai memastikan bahwa wanita tadi telah pergi jauh dari mereka, Aruna menyenderkan punggungnya ke kursi
"Apaan sih, ngga jelas banget dateng dateng minta foto" kesalnya.
Arthan yang mendengar ocehan Aruna, kini ikut nyender di kursi
"makasih udah bantuin gue ya, mba pacar"
"eh, jangan geer Lo! gue tadi bilang gitu supaya mba nya jadi ngerasa ngga enak aja!"
"tapi kalo beneran jadi pacar gue juga
ngga papa" sela pria tersebut dengan mimik wajah tengilnya
"apa Lo bilang?"
"gue bilang apa?"
__ADS_1
"tadi barusan Lo ngomong apa, Arthan?"
"mohon maaf Aruna, dalam kalimat kalimat yang gue lontarkan, ngga ada yang namanya Siaran ulang."
"iiihh"
"hahahhahahhaha!"
keheningan mulai mereda diantara keduanya, entah mengapa Arthan merasa bahwa gadis di sebelah kiri nya adalah seorang Gadis yang istimewa
ia merasa bahwa Aruna sangat berbeda dengan anak anak lain yang mendekatinya,
Sebenarnya perasaan itu sudah terlanjur datang saat bertemu dengannya di rooftop belum lama ini
dan saat itu juga, Arthan bertekad akan menjaga Aruna sampai gadis itu mau untuk selalu ada di sisinya.
"oiya tadi di parkiran, kenapa muka Lo panik gitu?"
Aruna menggeleng,
"ngga kok, gapapa".
"jangan bohong, dosa"
"heh, itu kalimat gue ya!"
"minjem"
Arthan terkekeh kecil melihat Aruna yang kesal terhadapnya,
"duh, ini hujannya kapan reda ya? gue ngantuk" keluh Aruna sembari menguap kecil.
"sebentar lagi juga reda, sabar"
Pria itu kemudian menarik pundak Aruna kearahnya, dan alhasil kepala Aruna terjatuh tepat di bahu Arthan.
"ngantuk kan?"
Aruna mengangguk pelan, ia tidak dapat berbohong pada Arthan
bahkan ia terlanjur nyaman berada di dekapan pria tersebut, tak lama Aruna tertidur dengan kepala nya yang masih setia di bahu Arthan.
Waktu berlalu, kini jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore
hujan mulai mereda, dan kini berganti dengan langit Senja kota Bandung
"Na.. bangun, mau pulang nggak?"
Aruna menyipitkan pandangannya, ia kini berusaha mengumpulkan nyawa
"ayo pulang"
"bahhahhahhaha!"
"kenapa ketawa?"
"muka Lo bisa imut gitu, padahal baru bangun"
"ck! apaan sih, ayo pulang"
"iyaa iyaaa"
Arthan mengeluarkan kunci motor dari sakunya, segera ia menyalakan motornya tak lupa dengan Aruna yang sudah duduk di atas motor.
"udah naik aja, Lo segitunya pengen pulang ya?" tanya Arthan ikut duduk di motornya.
"hehehe iyaa, ngantuk soalnya"
"pegangan gih"
"eh? ngapain?"
"ya biar Lo nggak jatoh lah, kalo nanti Lo ketiduran di jalan gimana?"
"tap---"
Arthan menyela kalimat Aruna yang belum sempat diselesaikan,
ia meraih tangan Gadis tersebut dan kemudian tanpa basa-basi mengalungkan tangan Aruna ke pinggangnya untuk pegangan.
"nahh kalo gini kan aman"
motor milik Arthan mulai melaju dengan kecepatan rata rata di bawah langit sore yang aesthetick usai hujan di kota Bandung kala itu.
pepohonan dan jalanan yang basah, angin semilir yang masih terasa dingin
__ADS_1
kian menambah suasana menjadi lebih istimewa ditambah lagi ia ditemani oleh Gadis yang ia sukai
benar benar momen yang sepertinya akan sangat sulit untuk ia lupakan nantinya.
"ini rumah Lo?"
"iya, mau mampir?"
"boleh."
Aruna terkejut, ia hanya basa basi menawari Arthan untuk mampir, ternyata pria tersebut menerima tawarannya.
"y..yaudah..ayo masuk," ucap Aruna.
dengan senang hati, Arthan memarkirkan motornya di halaman rumah Aruna dan kemudian mengikuti gadis itu dan berjalan dibelakangnya.
"ma! ada tem---"
"PACAR!"
Aruna sontak mencubit pinggang Arthan karna telah memotong kalimatnya,
"ish! pacar pacar sekali lagi ngaku ngaku pacar gue, gue ngga akan segan segan buat bunuh Lo" ucap Aruna sedikit berbisik.
Arthan terdiam menunduk karna mendengar ancaman dari gadisnya tersebut
tak lama Regita (mama nya Aruna) keluar dari dapur
"pacar???!!" tanya nya
"eh.. engga ma, cuma temen doang!"
"assalamualaikum Tante" Arthan mencium punggung tangan Regita dengan sopan
seperti yang diajarkan Bundanya yaitu bunda Anggi, bahwa Kenakalan boleh dilakukan asal kesopanan masih di nomor satukan.
"kasep euy"
"hehehe Tante juga cantik"
"euluh euluh, Tante mah udah tua atuh, beda sama kamu meni kasep pisan ieu" Regita tersenyum bangga, "oiya daripada masuk angin, sini masuk duduk dulu, Tante cariin baju ganti"
"eeh ngga usah Tante, ini juga mau langsung pulang"
"mau langsung pulang?"
"iya Tante hehhee" Arthan kembali mencium punggung tangan Regita
"yaudah kalo gitu hati hati di jalan ya, jangan ngebut, paham?"
"siap Tante!, yaudah Arthan pergi dulu ya Tante, Assalamualaikum"
"waalaikumsalam" ucap Regita dan Aruna berbarengan
Regita memberi kode mata kearah Aruna bermaksud menyuruh anaknya untuk mengantar sampai gerbang
"kok keluar? masuk gih, angin nya dingin" seru Arthan
kini pria tersebut menyalakan mesin motornya,
"disuruh mama buat nutup gerbang"
ucap Aruna.
"besok berangkat sekolah mau bareng?"
"ngga usah! gue biasa jalan kaki naik angkot"
"nanti cape gimana?"
"ck! pokonya ngga usah, udah sana gih pulang, mau Maghrib nanti Lo di culik setan"
"iyaa, yaudah gue balik ya, jangan kangen"
"ga."
"dadaaah Arunaa"
"hati hati!"
"siap baginda!"
...tbc...
__ADS_1