ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Darsapati


__ADS_3

"Aku tak tau bagaimana cara kalian melakukannya. Tapi, apa kalian fikir kami tak menyadarinya?"


Kedatangan dua orang itu tampak tidak bersahabat. Dari Aura yang dilepaskan salah satunya, mereka dapat merasakan niat membunuh yang sangat kuat. Hingga membuat ketiga gadis yang bersama Arya langsung siaga.


Beruntung Bai Fan masih memiliki ketenangannya. "Maaf, apakah kami telah melakukan sesuatu yang membuat tuan berdua merasa tidak nyaman?"


"Huh! kalian fikir kami tidak tau bahwa pemuda yang bersama kera dan anjing itu telah mengikuti kami, sejak sehari yang lalu?!"


Seketika mata mereka tertuju pada Arya, Rewanda, dan juga Krama. Keempatnya sempat kebingungan, Namun tak berapa lama mereka langsung mengerti. Karena, Arya langsung maju selangkah kedepan.


"Maaf atas kelancanganku. Aku hanya ingin memastikan, apakah Aki adalah orang yang aku kenal" Ucap Arya sambil menatap pendekar suci tingkat dua yang melepaskan Aura pembunuh itu.


Pendekar Suci itu menatap Arya dari ujung kaki hingga ujung kepala, wajahnya sedikit meremehkan karena tak nampak baginya bahwa Arya memiliki tenaga dalam sedikitpun.


Akan tetapi sebenarnya diirinya sedikit heran. seharusnya, pemuda yang kini berdiri berhadap-hadapan dengannya itu sudah tak sadarkan diri. Namun, pemuda itu sama sekali tidak melihatkan reaksi apapun dan bahkan balas menatapnya tanpa rasa takut sedikitpun.


"Anak muda. Apa maksudmu?!"


Arya kembali melihat wajah pendekar suci itu sekali lagi untuk memastikan. "Aki terlihat sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal. Aku memanggilnya, ki Cokro!" jelas Arya.


"Cokro?!"


Mata pendekar suci itu melebar saat mendengar Arya menyebut nama itu. Kini, tatapannya menajam.


"Apa maksudmu, Cokropati?!"


Kini, Arya yang dibuat terkejut.


"Aki mengenal, Ki Cokro?"


"Tentu saja aku mengenalnya, dan tentu saja wajahku mirip dengannya. Aku Darsapati, saudara kembarnya!"


Rasa penasaran Arya langsung terjawab. Inilah yang membuat Arya meninggalkan empat orang yang bersamanya saat berada di dalam gedung serikat petualang sehari yang lalu.


Saat itu, Arya melihat Darsapati juga berada di sana. Namun, saat para petualang menghinanya, Arya melihat beberapa orang yang tidak ikut tertawa.


Arya langsung terdiam saat mendapati wajah salah satu dari mereka terlihat sangat mirip dengan orang yang dikenalnya. Hingga, saat orang itu memutuskan keluar dari sana, Arya langsung mengikutinya.


Hal itu juga langsung menjelaskan pada yang lainnya apa yang membuat Arya meninggalkan mereka. Sebelumnya, mereka berfikir saat itu Arya terlalu malu dan marah, hingga pergi meninggalkan Serikat Petualang begitu saja.


Siapa yang menyangka, orang yang di ikutinya itu adalah kembaran seseorang yang sangat dikenalnya. Arya langsung kehilangan kata-kata.


Meski tidak mengenal Darsapati, tapi wajah pria tua itu benar-benar mirip dengan orang yang pertama kali mengajarkannya membaca dan menulis. Ki Cokro alias Cokropati. Salah satu orang yang rela mengorbankan nyawanya untuk Arya.

__ADS_1


Pikiran Arya langsung berkecamuk. Dia tidak tau apa yang harus dikatakannya setelah mengetahui bahwa di depannya ini adalah saudara kembar dari Ki Cokro.


Setelah mengetahui alasan Arya mengikutinya, Darsapati langsung menarik Aura yang tadi dilepasnya.


"Jadi, kau mengenal Cokropati?"


Arya mengangguk. "Ya. Aku sangat mengenalnya."


Darsapati sedikit heran mendengar pengakuan Arya. Dilihatndari manapun, umur Arya terlihat sangat muda. Sementara, sebelum Cokropati pergi dan akhirnya diketahui telah mati. Itu sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu.


"Tapi, Bagaimana kau bisa mengenalnya?"


Pertanyaan ini tidak diduga Arya sebelumnya, dia tidak tau cara menjelaskan bagaimana dia bisa mengenal Cokropati tanpa menceritakan semuanya.


"Soal itu, aku—"


Belum selesai Arya menjawab. Seketika kalimatnya langsung dipotong Darsapati.


"Sebentar!"


Darsapati maju lebih dekat pada Arya, kedua tangannya kini berada di kedua bahu Arya dan melihat lebih lekat wajah pemuda itu.


Tidak terfikir oleh Darsapati sebelumnya. Namun, walaupun terdengar sangat mustahil sebelumnya, tapi sekarang, ini sangat mungkin terjadi. Kembaran Cokropati itu langsung mengingat alasan kepergian Cokropati ke ujung Daratan Timur.


Mata Arya melebar. Mulutnya tercekat. Bahkan Darsapati mengenal ayahnya. Lagi-lagi Arya mengangguk. Dengan gugup Arya menjawab. "Ya... Natungga... adalah,... Ayahku!"


Kali ini, Darsapati benar-benar terkejut. Dari wajahnya, tergambarkan bahwa dia sangat mengenal Natungga, orangbyang diakui Arya sebagi ayahnya itu.


Namun, Darsapati memiliki kesimpulan yang lain. Tidak salah lagi. Itulah yang ada di kepala Darsapati saat ini. Anak muda didepannya ini adalah sesuatu yang dikatakan Natungga padanya beberapa tahun yang lalu.


Melihat ekspresi Darsapati, Arya langsung bertanya "Kau mengenal, Ayahku?"


Darsapati tidak langsung menjawab. Dia melepaskan pegangannya pada kedua belah bahu Arya dan langsung mundur.


Sekarang, dia melihat pada empat orang asing yang bersama Arya. Wajahnya saat menatap keempat orang itu tidak bisa diartikan. Namun, sepertinya itu bukanlah sesuatu yang buruk.


Darsapati berbalik dan langsung berjalan mendekat pada pendekar suci yang tadi berjalan bersamanya.


Sementara itu Arya berdiri mematung dengan seribu pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya.


Perubahan besar sikap dari Darsapati tersebut. Juga di rasakan Bai Fan dan yang lainnya. Melihat dan mendengar langsung apa yang dibicarakan oleh Arya dan Darsapati, mereka sedikit menyadari bahwa, keduanya memiliki sesuatu yang lebih dari hanya sekedar saling mengenal saudara Darsapati atau atau Natungga, orang yang diakui Arya sebagai ayahnya itu.


Setelah berbicara sebentar dengan pendekar yang bersamanya. Keduanya kini berbalik kembali pada Arya. Sepertinya masih ada satu hal lagi yang harus mereka pastikan.

__ADS_1


Darsapati menatap tajam kedua mata Arya. "Anak Muda. Jawab kami dengan jujur! Siapa, Namamu yang sebenarnya?"


Arya tidak begitu mengerti. Namun, nalurinya mengatakan bahwa Darsapati ingin memastikan bahwa dia tidak berbohong.


"Arya... Arya Mahesa!"


Mata kedua pendekar itu terbelalak saat mendengar Arya menyebut namanya secara lengkap. Keduanya langsung saling bertatapan dan mengangguk bersamaan.


"Kaungsaji! Perintahkan pada semua anggota kita untuk segera berkumpul. Kita harus merubah rencana kita secepatnya!"


Setelah mendapat perintah itu, pendekar suci tingkat pertama yang bernama Kaungsaji itu langsung menghampiri beberapa pendekar lainnya yang berdiri sedikit lebih jauh, yang sejak tadi mengikuti keduanya.


Tak lama, orang-orang itu melompat kelantai aula besar itu lalu berpencar dan masuk ke dalam dan menghilang setelah menuruni anak-anak tangga di kedua sisi Aula tersebut.


Darsapati kembali menoleh pada Arya dengan wajah yang sangat serius, pria tua itu berkata padanya.


"Arya, Berjanjilah! setelah ini, jangan pernah lagi kau katakan pada siapapun, mengenai asal usulmu!"


Arya mengangguk antara sadar dan tidak. Sebelumnya, dia memang tidak berniat memberitahu siapapun tentang jati dirinya.


Mengingat bahwa ledakan besar yang disebabkannya delapan tahun yang lalu, pasti akan membuatnya kesulitan dalam perjalanannya kedepan nanti, jika banyak orang yang mengetahuinya.


Namun, melihat dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Darsapati, jati dirinya tidak hanya menyangkut tentang ledakan tersebut. Arya yakin, semua lebih dari itu.


Arya dan keempat orang yang bersamanya, hanya bisa terdiam tanpa tau harus melakukan apapun. Mereka hanya membiarkan Darsapati dan Kaungsaji berbicara sedikit menjauh dan tampak membahs sesuatu yang sangat serius.


"Ki Darsa, apa maksudmu dengan perubahan rencana?"


Arya yang juga belum mengerti dengan semua perubahan yang ditunjukkan Darsapati tersebut, tidak bisa lagi menahan rasa ingin taunya.


Wajah Darsapati tersenyum saat Arya menanyakan itu.


"Sebelumnya, kami berniat menghancurkan tempat ini dan mengubur semua orang-orang yang tak tau diri itu bersamanya."


Mereka berlima kembali terkejut dengan pernyataan Darsapati yang tak terduga itu. Siapa yang menyangka bahwa kelompok yang mereka anggap berbahaya ini, ternyata memang sangat membahayakan. Apalagi sekarang mereka sudah mengakui niat mereka di sini yang sebenarnya.


"Jadi, kenapa kau berubah fikiran?" Tanya Arya heran.


"Hahahahahaha!"


Mendengar pertanyan Arya padanya, Darsapati langsung tertawa. Namun, dia kembali diam dan menatap Arya dengan wajah yang bangga.


"Saat Sang pemilik sah tempat ini ada di sini, maka, kami tidak berhak lagi memutuskannya!"

__ADS_1


__ADS_2