ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kacang Tanah


__ADS_3

"Oh. Maafkan aku master. Aku.tidak bisa menahan diri mendengar berita tentang Drey bodoh itu." Jawab Edward setelah sedikit tenang.


"Tidak usah terlalu difikirkan. Mungkin pengawalku memang sedikit berlebihan."


Setelah mengatakan itu, Arya berjalan mendekat Angus yang sudah tak sadarkan diri.


Semua mata di sana melihat Arya meletakkan tangannya pada bahu Angus dan seketika membuat Angus tersadar.


"Apa yang terjadi?" Itualah kata-kata Angus saat baru saja membuka matanya.


Hal tersebut membuat para petinggi Oldenbar melebarkan matanya. Seolah membangunkan seseorang yang barusaja pingsan semudah membalikkan tangan bagi pemuda di depan mereka itu.


Itu tidak lagi mengejutkan Edward. Pria itu hanya tersenyum bangga. Baginya, tentu saja Arya mampu melakukan hal tersebut.


Karena, baru saja Arya sudah melakukan hal yang tak mungkin bisa dilakukan tabib hebat manapun yang pernah ditemuinya.


Edward telah mendapatkan seluruh kekuatannya kembali setelah Arya berhasil memperbaiki seluruh titik cakranya yang telah rusak.


Saat ini, mereka melihat Arya tampak berfikir sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu.


"Mungkin, sebaiknya Aku meminta maaf pada Tuan Drey dan memberinya kompensasi karena pengawalku telah membunuh anggota keluarganya!"


Hal tersebut langsung membuat Edward dan semua orang di sana bereaksi.


"Master. Anda tidak perlu melakukan sampai sejauh itu. Aku bisa mengurus Drey, untukmu!"


Edward tampak tidak bisa menerima jika Arya memutuskan untuk meminta maaf pada Drey. Baginya sekarang, Arya jauh lebih berharga daripada anak buahnya itu.


Melihat hal tersebut, para petinggi Oldenbar juga tidak bisa menerimanya. Karena dari awal memang Linton lah yang mencari masalah.


"Master Arya. Tolong Jangan lakukan itu. Akan sangat memalukan bagi kami jika Master yang meminta maaf padanya. Karena sejak awal memang Linton lah yang bersalah karena kebodohannya yang membuat para pengawal master membunuhnya."


Kenneth langsung berbicara untuk mendukung Edward. Dia juga sudah menyadari betapa pentingnya keberadaan Arya di Oldenbar. Meski belum tau manfaat seperti apa yang akan mereka dapatkan kedepan. Namun, membuat seseorang seperti pemuda ini tidak nyaman bukan hal yang bagus.


Apalagi saat ini setelah mereka mengetahui kehebatan Arya yang mampu membuat pemimpin mereka begitu menghormatinya.


Sebelumnya, mereka hanya menghargai Arya karena perintah Edward. Sekarang semuanya benar-benar sudah menghormati Arya atas penilaian mereka sendiri.


"Ya, Master. Kami tidak bisa membiarkan anda meminta maaf hanya masalah seperti ini." Ludwig  yang biasanya tidak banya bicara, kini ikut memberikan suara.


"Ya. Kami juga setuju."


"Benar. Tolong Master jangan meminta maaf. Kami akan mengurus ini.!"


Semua petinggi Oldenbar menyatakan hal yang sama agar Arya tidak melakukan hal yang baru saja di katakannya.

__ADS_1


Arya mengangguk. "Baiklah... Jika begitu ambillah ini!"


Aray menaruh sebuah kantung yang cukup besar di atas meja tepat di depan semua petinggi Oldenbar berdiri.


"Master. Apa itu?!"


"Itu adalah Kompensasi untuk enam orang lainnya. Bagaimanapun seharusnya pengawalku tidak membunuh anggota serikat ini."


Edward langsung melangkah maju. "Master, Itu tidak perlu!. Kami tidak mungkin bisa menerima apapun darimu. Terutama aku."


"Buk!"


Mata mereka melebar saat satu lagi kantung ditaruh Arya di atas meja.


"Master... !"


"Buk!" satu lagi kantung diletakkan di atas meja.


"Baiklah. Cukup! Master, kami akan menerimanya!" Ucap Edward cepat.


Pemimpin Oldenbar tersebut langsung berfikir bahwa Arya bukanlah seseorang yang kemauannya bisa di tolak. Jika salah satu dari mereka bersuara untuk menolak sekali lagi, bukan tidak mungkin Arya akan terus menambah kantung yang ada di atas meja.


Para petinggi Oldenbar juga langsung mengerti apa yang difikirkan pemimpin mereka saat Edward menatap mereka tajam saat itu. Mereka langsung mengunci mulut mereka, rapat.


Edward dan para oetinggi Oldenbar benar-benar kelabakan untuk menentukan sikap saat Arya berada di depan mereka.


Sampai saat ini, Oldenbar bahkan bisa dikatakan belum memberikan apapun padanya selain memanggilnya Master.


Di lain sisi, Edward sudah seperti mendapat sebuah berkah karena bantuan Arya padanya.


Edward hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Ya. Kami juga sangat menghargai kemurahan hati, Master!"


Mereka yang ada di sana, jelas mengetahui penolakan bukan hal yang bisa di terima oleh Arya. Hal tersebut meyakinkan mereka bahwa Arya bukan keturunan orang sembarangan.


Tidak banyak orang yang bisa memaksa memberikan hadiah besar pada orang lain dengan cara seperti yang Arya lakukan.


Di Benua Barat tempat mereka berasal. Hanya bangsawan tertinggi yang memiliki sifat seperti itu. Tentu saja yang bisa melakukan hal gila itu adalah bangsawan dari keluarga kerajaan yang memiliki harta yang sangat melimpah.


Mereka mulai berfikir untuk mempertimbangkan bahwa Arya sebenarnya adalah keturunan seorang raja. Tapi, kerajaan apa dan dimana kerajaan itu?


Tanpa sadar, ruangan tersebut menjadi hening. Itu karena baik Edward ataupun yang lainnya, sedang berkutat dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu."


Edward dan yang lainnya langsung terkesiap.

__ADS_1


"Oh baiklah. Kami akan mengantarmu!" ucap Edward buru-buru.


"Tidak perlu. Aku tidak kembali ke paviliun, sebaliknya aku berniat untuk kepusat kota untuk melihat-lihat." Tolak Arya sambil mulai melangkah. "Tuan Angus, apakah kau keberatan menemaniku? Atau kau masih ada urusan dengan Tuan Edward?"


Angus yang sejak tadi hanya diam membisu, langsung berdiri. "Tidak! Tuan eh maksudku, Master. Tentu Aku tidak keberatan. Cuma... "


Angus melirik pada Edward sebentar. Dia tidak mungkin menyetujui hal itu begitu saja.


"Tuan Edward. Apakah anda keberatan jika aku meminta Tuan Angus untuk menemaniku?"


"Tidak! Tentu saja tidak. Angus lebih mengetahui pusat kota. Angus adalah orang yang tepat untuk menemani anda."


"Baiklah, terimakasih.!" Arya kembali berjalanan Namun baru beberapa langkah, dia kembali berhenti dan berbalik.


"Tuan Edward. Bukankah kalian tau bahwa Aku tertarik untuk berbisnis dengan kalian?"


Suara Arya membuyarkan Edward dari fikirannya yang mendadak sedikit kacau.


"Ya. Tentu saja! Salah satu pengawal Master, pernah mengungkitnya."


Arya mengangguk. "Baguslah. Sepertinya kau tidak menganggapnya angin lalu.!"


"Hahahaha! Tidak mungkin aku menganggap hal itu sebagai angin lalu. Tentu saja kami akan sangat senang jika bisa tetap berhubungan dengan Master."


Kata-kata Edward mendapat anggukan setuju dari semua petinggi Oldenbar.


"Baiklah! Aku akan menyuruh salah satu orangku, untuk membicarakannya dengan kalian. Tapi, jika serikat kalian dalam masalah, sepertinya aku harus mempertimbangkan kembali rencanaku. Karena, aku tidak suka masalah sekecil apapun, mengganggu urusanku!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Arya kembali melangkah. "Tuan Angus. Bukankah kau bersedia menemaniku?"


"Ya! Ya... Aku di belakangmu!" jawab Angus mengikuti langkah Arya dibelakangnya.


Setelah melihat Arya dan Angus menghilang dari pintu ruangan tersebut, Edward langsung berbalik dan menatap para petinggi Oldenbar itu dengan tatapan yang sangat tajam.


"Kita tidak berurusan dengan sesuatu yang bisa kita remehkan. Kalian tentu sudah menyadarinya. Jangan sampai mengacaukannga!"


Mereka semua mengangguk, faham.


"Pemimpin. Bagaimana dengan Drey? Dia sedikit keras kepala." Tanya Kenneth.


"Cari dan panggil si Bodoh itu kesini. Jika dia menolak perintahku. Maka aku akan membunuhnya, saat itu juga!"


"Pemimpin, menurutmu bisnis seperti apa yang akan kita lakukan dengan Master Arya?"


Edward berbalik. "Aku tidak perduli bisnis apa. Aku tetap ingin Oldenbar menjalin hubungan baik dengannya. Walaupun itu hanya sekedar bisnis, Kacang Tanah!"

__ADS_1


__ADS_2