ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Sedarah dan Sebuah Sumpah


__ADS_3

"Komandan ... Sepertinya pendekar-pendekar itu melakukan sesuatu yang mencurigakan."


Seorang pemimpin pasukan Nippokure mendatangi Daisuke yang tampak sudah bersiap-siap untuk langsung menggempur pendekar negeri Jampa yang mengambil Alih benteng mereka.


"Apa maksudmu?"


Pemimpin itu menggelengkan kepala. "Aku tidak tau, tapi sepertinya mereka membuat semacam formasi tempur. Hanya saja ... "


Anggotanya tampak ragu untuk menyelesaikan kata-katanya. Ini memang sedikit aneh. Biasanya, segala laporan akan mudah di mengerti jika seorang pemimpin yang menjelaskannya.


"Baiklah, aku akan melihatnya."


Daisuke melangkah menuju dimana para pasukannya sudah berbaris menghadap ke benteng.


Hal pertama yang di sadari oleh Daisuke adalah bukan melihat sebuah formasi tempur. Akan tetapi, pendekar-pendekar negeri Jampa itu terlihat membagi-bagi diri dalam kelompok-kelompok kecil secara acak dan tidak berbaris sama sekali.


Merasa heran, Daisuke kembali bertanya. "Menurutmu, apa itu formasi tempur?"


Anggotanya menggeleng. "Jujur saja, aku tidak pernah menemukan formasi tempur yang seperti itu sebelumnya."


Daisuke mengernyitkan dahi dan memegang dagunya berfikir. "Apakah kalian mendapatkan informasi Tentang siapa yang menjadi pemimpin pasukan mereka?"


"Menurut pengamatan kami, di sana ada pemberontak Salendra, juga Jemba si Kebojalang dari kota palas dan ... "


Daisuke melirik anggotanya itu. "Siapa?"


"Aku juga baru menyadarinya. Salah satu dari mereka adalah Karpatandanu. Sultan negeri Pasir Putih."


Saat itu, mata Daisuke melebar. "Benarkah? ... Jika begitu—"


Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya anggotanya langsung menyela.


"Tidak, tidak ada pasukan negeri Pasir Putih bersama mereka. Kami sudah menyelidikinya. Semua memiliki tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari sekte-sekte berbeda dan beberapa pendekar lepas."


Saat itu juga, Daisuke merasa ada sesuatu yang aneh. Meski dekat, Pasir Putih tidak pernah ikut campur sebelumnya.


Apalagi, Jemba si Kebojalang. Dia tau benar bahwa panglima Armada perang Pasukan Nippokure, secara jelas memerintahkan agar tidak mengusik orang itu.


Akan tetapi, saat ini jelas dua orang itu ada dan akan menjadi lawan mereka. Saat itu juga, Daisuke mengurungkan niat untuk langsung menyerang dan memanggil semua pemimpin pasukan untuk berkumpul.


"Menurut kalian, apa alasan Karpatandanu dan Jemba si Kebojalang membuat kekacauan ini?"


Itulah pertanyaan Daisuke pada mereka saat semua baru saja berkumpul. Namun, tak satupun dari mereka bisa memikirkan dan memiliki jawaban yang tepat.


Mundur tidak mungkin, maju juga beresiko fatal. Daisuke sangat mengetahui hal itu.


Perang dengan dua negeri tidak ada dalam rencananya. Itu akan membuat dominasi Nippokure di Daratan Barat dipertanyakan apalagi mereka kalah.


Satu hal lagi, untuk memulainya, bahkan Daisuke tidak memberi tahu atasannya di Malka.


"Komandan ... Jadi, apa yang harus kita lakukan?"


Daisuke benar-benar dibuat bingung dengan situasinya sekarang. Namun, seorang pemimpin memberinya sebuah ide.


"Bagaimana jika kita melakukan perundingan. Kita juga tidak tau apa yang mereka inginkan."


Hal ini benar-benar sudah jauh dari apa yang direncanakan Daisuke. Bahkan, dia benar-benar tidak ingin berunding sebelumnya. Itu kenapa dia meminta senjata Oldenbar untuk memastikan mereka menang dan mengambil alih kembali benteng mereka.


"Ah, Sial ... Ini benar-benar memalukan."


Sementara itu, di benteng. Rangkupala yang telah bersiap-siap dengan gagasan Salendra dalam pertarungan ini, melihat satu lagi rombongan yang baru saja datang.


Umbara dan puluhan pendekar suci tiba dan langsung mendatanginya.

__ADS_1


"Tabik Tuanku, aku datang membawa beban. Sebuah titah dari sang Sultan. Jika Tuan masih berkenan, berilah aku sebuah peran."


"Titah Jakasona bukanlah beban, tapi itu kewajiban. Kami senang engkau datang. Bergabunglah dalam pertempuran."


Saat itu juga, Umbara melihat Karpatandanu mendekat. Di sebelahnya, seorang pria yang dia yakin adalah orang yang dimaksud Ayahnya.


Meski tidak begitu mirip, akan tetapi Umbara yakin bahwa itu adalah adik ayahnya sang pangeran hilang, Salendra.


"Umbara, kau datang. Bagaimana kabar ayahmu?"


Umbara terkejut bahwa Salendra bisa langsung mengenalnya. Dan hal itu, membuatnya sedikit gugup.


Karena, dia tidak tau bahwa dia memiliki paman sebelumnya, apalagi menurut cerita ayahnya, pamannya ini adalah pendekar terkuat negeri Jampa yang mampu mengimbangi Rangkupala.


"Pa-paman ... Sa-salendra?"


Salendra menggelengkan kepala namun tersenyum sambil menepuk bahu keponakannya itu.


"Kau pasti heran kenapa aku bisa langsung mengenalimu, bukan?"


Umbara hanya bisa mengangguk. Tentu saja dia heran, bahkan seingatnya, ini pertama kalinya mereka bertemu. Apalagi, ayahnya mengatakan Salendra keluar dari istana bahkan sebelum dirinya lahir.


"Kau sangat mirip dengannya, bagaimana bisa aku tidak mengenalimu. Jadi, bagaimana kabar kakakku itu? Apakah dia masih keras kepala seperti biasanya?"


Belum ada orang yang berani mengatakan hal itu di depan umbara sebelumnya. Selain itu adalah ayahnya, Jakasona adalah Sultan negeri Jampa.


Akan tetapi yang mengatakan itu sekarang adalah adik ayahnya sendiri. Jadi, Umbara hanya bisa menarik nafas dan melepasnya.


"Ayahanda sudah tua. Tentu semakin keras kepala. Paman Salendra, kenapa tidak pernah datang ke istana untuk berjumpa?"


"Hahahaha ... Jakasona akan memaksaku menjadi Sultan menggantikannya. Tentu saja aku tidak bisa melakukannya. Aku tak cerdas apalagi bijak sepertinya. Aku bisa mati karena sakit kepala. Hahahahahaha."


Rangkupala yang sudah mengerti tabiat temannya itu, hanya bisa menggelengkan kepala. Pasalnya, dia juga melakukan hal yang sama, walaupun dengan tujuan berbeda. Bagaimanapun Rangkupala adalah pangeran ketiga maharaja Swarna sebelumnya.


Salendra menggelengkan kepala. "Sekarang aku rasa, aku akan menemuinya. Lagipula, kau sudah ada. Dan tidak ada alasan Jakasona memaksaku menggantikannya lagi. Hahahhahaha."


Umbara hanya bisa menggaruk kepala. Meski mengalir darah yang sama dengan ayahnya, jelas Salendra memiliki sifat yang sangat jauh berbeda. Akan tetapi, dia senang mengetahui ternyata ayah dan pamannya ini tidak memiliki masalah bahkan terlihat dekat.


Namun, tiba-tiba Salendra mengubah nada bicaranya. "Tapi, sebelum aku kembali ke istana, tunjukkan padaku terlebih dahulu bahwa kau, benar-benar Sultan Negeri Jampa berikutnya."


Sempat hendak menanggapi, Namun Umbara langsung menyadari bahwa Salendra sedang menatap beberapa utusan dari pasukan Nippokure datang mendekat pada mereka.


Mereka menatap lekat kelima orang yang datang itu yang semakin mendekat.


"Siapa pemimpin pasukan kalian?!"


Baru saja datang, pemimpin dari kelimanya, langsung bertanya. Namun, saat dia mengedarkan pandangannya, matanya langsung melebar.


"Umbara ... Kau?! "


Umbara yang mengenali orang itu, langsung maju melewati Salendra, Rangkupala dan Karpatandanu.


"Ya, aku ... Kenapa kau bertanya?"


Tentu saja hal itu, membuatnya terkejut. Dia tidak tau putra Jakasona juga berada di sana.


"Huh! ... Ternyata, Istana Jampa benar-benar yang mendalangi semua ini."


Umbara menggeleng. "Aku bertanya, untuk apa kau datang kesini?"


Pemimpin dari utusan Nippokure itu mengangkat dagunya angkuh. Sebelum berkata dengan nada meremehkan.


"Komandan kami, Daisuke. Akan mengampuni nyawa kalian, jika kalian menyerahkan benteng—"

__ADS_1


"Sreeeet ... !"


"Sreeeet ... !"


"Sreeeet ... !"


"Sreeeet ... !"


"Sreeeet ... !"


Utusan itu tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena saat itu juga umbara sudah mencabut pedang dan langsung bergerak cepat memenggal kelimanya.


"Tidakkah Daisuke itu mengingat saat aku mengatakan padanya bahwa, Dimana Bumi di Pijak, di situ langit dijunjung ... "


Umbara mengacungkan pedangnya jauh ke arah Lawan, tepatnya tempat dimana Daisuke kini berada.


Meski tidak bersuara. Tapi pesannya sangat jelas dan langsung sampai pada Komandan pasukan Nippokure itu. Tidak ada kata perundingan yang hanya ada, perang.


Mengangkat tapak tangannya setinggi kepala, Umbara lantang bersuara.


"Aku bersumpah, jika bukan aku yang memenggal kepalanya ... Maka, selamanya aku tak sudi menjadi Sultan negeri Jampa."


Saat itu juga, Kata-kata Umbara langsung membakar semangat juang semua orang.


Genderang perang sudah ditabuh di dada seluruh pendekar negeri Jampa yang melihatnya. Sumpah Putra Jakasona, Umbara, sebagai pemicunya.


****


Hello, MoonMarvel di sini,


Terimakasih atas dukungan kalian. Aku tidak berani menjawab komentar-komentar yang ada di bab Sebelumnya.


Tapi ini lah bentuk jawabanku.


Aku memutuskan untuk terus melanjutkan kisah Arya Mahesa di sini.


Aku tidak peduli lagi dengan promosi atau tidak naskah ini. Karena, komentar-komentar dari pembaca seperti kalian, mengingatkanku pada tujuan utama kenapa aku ingin menulis.


Aku menjadi penulis karena ingin menghibur pembaca ceritaku. Akan tetapi, satu hari aku merenungkan ini dan aku tersadar bahwa ternyata aku gagal.


Seorang penulis yang membiarkan pembacanya kecewa hanya karena perlakuan tidak adil dari platform ini, benar-benar penulis yang gagal.


Apalagi tidak menyelesaikan apa yang dimulai. Aku Benar-benar merasa menjadi penulis yang gagal total.


Aku tidak peduli lagi dengan platform ini. Aku akan terus menulis selagi masih ada yang mau membaca ceritaku. Dan itulah tujuanku sejak awal dan aku ingin selalu seperti itu.


Aku benar-benar mengucapkan terimakasih karena dukungan dari kalian. Apa yang aku dapat dari komentar-komentar kalian, benar-benar menyadarkan aku.


Kalian menyadarkan aku bahwa, bukan platformlah yang membuat seorang penulis berharga. Tapi penghargaan penulis itu, hanya bisa di dapat dari Pembaca ceritanya.


Aku tak akan membiarkan hal sekecil itu menghancurkan impianku lagi. Walaupun hanya satu orang yang menunggu cerita ini, aku tetap akan melanjutkannya.


Ke depan, aku akan berusaha update seperti biasanya. Dan akan terus berusaha meningkatkan kualitas cerita ini.


Aku berharap kalian mau mengikutinya sampai akhir. Karena, petualangan Arya memang aku rencanakan memiliki cerita yang sangat panjang.


Maaf, sempat mengecewakan kalian sebelumnya.


Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih.


"KOSHA ... !"


"JURUS KE SEBELAS ... GERBANG HARAPAN ... !"

__ADS_1


M.M


__ADS_2