
Sebelum memasuki istana, Arya menyempatkan diri mengelilingi bangunan yang sangat besar itu untuk melihat-lihat. Hampir semua penghuni istana mengenalinya.
Di sebuah patung di mana saat ini Arya sedang berdiri, Seorang pejabat istana datang menghampiri dan langsung membungkuk di depan Arya.
"Master ... !"
Arya mengingatnya sebagai orang yang berteriak padanya saat pertama kali memasuki istana kala bertemu Darmuraji. Orang ini kemudian di perkenalkan Darmuraji sebagai salah satu penasehat tertinggi di istana Basaka.
"Tuan Moro."
"Paduka Raja meminta kami menjemput Master untuk datang masuk ke Istana."
"Baiklah, kalau begitu."
Sampai di dalam istana, Arya di sambut dengan beberapa orang. Diantara mereka sebagian pernah di lihat Arya sebagian lainnya tidak. Akan tetapi satu orang yang berdiri di sebelah kiri Darmuraji menarik perhatian Arya.
"Master, terimakasih telah meluangkan waktu di selah kesibukan anda." Sambut Darmuraji ramah seperti biasanya.
Arya bisa merasakan tatapan penuh selidik dari segala arah saat dia mendekat. Sudah bisa dibtebak bahwa saat ini mereka mencoba mengukur level kependekaran Arya dan jumlah tenaga dalamnya.
"Tidak perlu sungkan. Ada apa Tuan Darmu memanggilku?"
Meski sudah beberapa kali mendengarnya, tetap saja cara Arya memanggil Darmuraji terasa mengganjal bagi sebagian orang di sana. Apalagi untuk sebagian lainnya.
"Silahkan duduk. Perkenalkan, ini adalah Ki Kelang, Ketua Sekte Tanah Hitam dan mereka ... "
Arya tak lagi mendengarkan kata-kata Darmuraji selanjutnya. Kata Tanah Hitam bukanlah kata yang ingin di dengarnya.
Saat Arya menceritakan bagaimana keluarganya di bantai di depan matanya, Darsapati langsung dapat mengenali saat Arya menyebut nama Wiratama dan Kudra. Dua nama yang sempat di sebut Suropati saat keduanya menghadang pelarian Arya dan keluarganya waktu itu.
Sekte Tanah Hitam. Itulah nama Sekte Kudra yang membantu Wiratama membantai keluarganya. Darsapati juga menjelaskan posisi Natungga Ayahnya di Kota Basaka serta Hubungannya yang sangat buruk dengan Sekte itu.
Bisa di katakan, sebagai prajurit tertinggi di kota Basaka, Sekte Tanah Hitam adalah musuh nyata Ayahnya. Pantas saja saat Wiratama meminta bantuan mereka untuk mengejar Natungga, Sekte tersebut langsung mengerahkan banyak anggotanya.
Jika ini terjadi beberapa bulan yang lalu, mereka yang ada di istana saat ini mungkin akan langsung bertemu pintu neraka tanpa sadar telah melewati garis kematian terlebih dahulu.
Beruntung Arya yang saat ini, sudah mulai bisa mengendalikan Energi asing yang akan mendesak keluar jika dirinya sedang merasakan amarah yang teramat sangat pekat. di tambah lagi, Arya sudah menemukan tujuan lain dan apa yang menjadi prioritasnya saat ini.
Arya menatap datar wajah Kelang yang tersenyum padanya. Seketika senyuman itu menghilang berganti dengan wajah sedikit, kesal.
Lebih memilih untuk mengabaikan perkenalan itu, Arya kembali langsung mempertanyakan prihal kenapa Darmuraji tiba-tiba mengundangnya ke istana.
__ADS_1
"Apakah aku di undang kesini, hanya agar Tuan Darmuraji bisa mengenalkan anak buah Tuan, kepadaku?"
"Tuan Muda, sepertinya anda sedikit meremehkan kehadiranku di sini."
Kelang udah terlanjur merasa kesal karena sikap Arya itu, langsung menunjukkan ketidakpuasannya. Sebagai Sekte penguasa Basaka saat ini, pemuda yang baru saja datang ini sama sekali tidak memberinya muka.
Akan tetapi, reaksi Arya semakin membuatnya Murka. Jangankan untuk menjawab, menoleh sedikit pun tidak. Arya benar-benar mengabaikannya.
"Aku mau meluangkan waktu kesini untuk mendengarkan Tuan, bukan berarti aku bisa membiarkan seseorang yang tidak tau tempat dimana dia berdiri, berbicara seolah suaranya sudah pantas untuk di dengar!"
Kata-kata Arya sangat jelas terdengar oleh semua orang yang ada di sana. Rantoba dan Darmuraji juga sangat terkejut di buatnya.
Sedikit saja Rantoba Terlambat bereaksi, Kelang langsung maju hendak menyerang Arya. Tepat saat hanya berjarak satu ruas jari dari wajah Arya, pedangnya berhenti.
Sangat mengejutkan. Tidak berusaha mengelak, Arya bahkan tidak berkedip sedikitpun. Kelang sadar bahwa dia hanya ingin memberi sedikit ancaman agar pemuda di depannya bisa lebih menghargainya. Namun, tindakannya tersebut sama sekali tidak menarik perhatian Arya.
Masih menatap Darmuraji, Arya kembali bertanya seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.
"Jadi, sekali lagi. Apa yang ingin Tuan Darmu bicarakan denganku?"
Darmuraji belum menemukan kata-kata. Di kepalanya sekarang sedang memikirkan bagaimana Arya masih bisa bicara seolah memangbtidak ada sesuatu yang mengganggunya. Mungkin, kecepatan pedang Kelang membuatnya tidak sempat bereaksi.
Akan Tetapi, semua orang di sana merasakan hawa pembunuh yang sangat pekat di lepas Kelang untuk mengintimidasinya. Aura pembunuh itu barusaja membuat beberapa pengawal istana tumbang tak sadarkan diri.
"Master ... Izinkan aku berbicara."
Rantoba lebih dahulu mendapatkan kendali akan dirinya, langsung berfikir cepat untuk mencairkan suasana yang sangat aneh itu.
"Tuan Rantoba, silahkan!"
Rantoba mengangguk, lalu melanjutkan.
"Paduka Raja, ingin mempertanyakan, kenapa Master memerlukan serikat petualang untuk menjemput pengiriman dari pusat Oldenbar. Padahal, jika Master memerlukan bantuan, kami dari pihak kerajaan bersedia melakukannya tanpa harus memungut biaya sedikitpun."
Darmuraji yang baru sadar dari keterpanaanya, langsung mengangguk dan menambahkan. "Apakah Master berubah fikiran soal akan di kemanakan senjata-senjata itu?"
Arya tersenyum. "Tidak. Aku tetap akan memberikan senjata-senjata itu pada Basaka, jika kota ini memerlukannya."
Jawaban Arya tentu saja melegakan, tapi tetap tidak membuat rasa penasaran mereka menghilang begitu saja.
"Terimakasih. Kami memang membutuhkannya. Tapi, kenapa Master tidak meminta kami saja yang menjemputnya?"
__ADS_1
Arya menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepala seolah-olah tak percaya bahwa mereka masih mempertanyakan itu. Selama Arya bersikap seperti itu, kening Darmuraji dan Rantoba berkerut karena heran.
"Kalian tentu tau, jika aku memberikan senjata itu pada prajurit Basaka, itu sama dengan aku membantu Basaka bukan?"
Mereka semua mengangguk. Tentu saja jika Arya memang memberikan seluruh senjata itu pada Basaka, itu akan sangat membantu mereka.
"Jadi, bagaimana bisa aku membantu dan mencelakai prajurit Basaka dalam waktu bersamaan?"
Tidak dapat mencerna kata-kata Arya, Darmuraji langsung balik bertanya.
"Katakan, apa yang Master maksud dengan itu?"
"Meski aku meminta Oldenbar dan kerajaan merahasiakan ini, tapi aku yakin bahwa hampir semua pihak di daratan ini sudah mengetahui bahwa senjata-senjata itu sangat banyak. Jadi, sudah pasti dalam prosesnya sampai di sini, ada resiko pengawalan itu akan di serang. Aku lebih memilih membayar serikat petualang demi memastikan hal tersebut berjalan dengan baik. Kalian hanya perlu menunggu disini dan berharap tidak terjadi apa-apa. Aku tidak bisa membiarkan prajurit Basaka mengambil resiko itu."
Mereka menelan ludah mencoba mengerti setiap kata-kata yang di ucapkan Arya. Karena apa yang dikatakannya memang sangat mungkin terjadi.
Saat itu, mereka semua menjadi gelisah. Jika Arya sudah mengatakan bahwa dia memang berniat memberikan senjata-senjata itu pada Basaka, maka sekarang Basakalah yang berkemungkinan kehilangan.
Selagi mereka merasakan kegelisahan tersebut, Arya menambahkan. "Kalian tentu tidak berfikir bahwa Oldenbar tidak merencanakan sesuatu terkait hal ini, bukan?"
"Master, apakah anda keberatan jika kami mengirim orang untuk membantu pengawalan itu?"
Pertanyaan Rantoba itu secara tidak langsung mewakili pertanyaan yang lainnya.
"Aku rasa itu sudah terlambat bukan? Mereka sudah berangkat lebih dari sehari yang lalu."
Darmuraji menggeleng. "Tidak, meski terlambat, aku rasa demi memastikan semua itu bisa sampai di Basaka dengan aman, aku akan mengutus beberapa pendekar tingkat tinggi kesana."
Arya mengangguk. "Ya, aku tidak mempermasalahkannya."
Mendengar persetujuan Arya, Darmuraji langsung menatap Ketua sekte Tanah Hitam yang sejak tadi hanya terdiam. Entah apa yang di fikirkan pria sepuh itu saat pembicaraan ketiganya berlangsung beberapa saat yang lalu.
"Ki Kelang! Tolong utus beberapa pendekar suci untuk membantu mengamankan pengiriman itu!"
Meski sempat Terkejut dengan permintaan Darmuraji yang mendadak itu, Kelang langsung mengangguk.
"Baik paduka. Jika begitu, aku akan ikut berangkat untuk memastikannya."
Darmuraji mengangguk cepat "Aku rasa itu lebih baik. Dan akan lebih baik lagi, jika kau bisa berangkat, saat ini juga."
Kelang hanya mengangguk dan langsung melangkah. Dia terpaksa menekan harga dirinya saat ini dan mencoba melupakan kejadian yang sangat memalukan yang baru saja dia rasakan.
__ADS_1
Namun, baru beberapa langkah Kelang berjalan, kata-kata Arya selanjutnya membuat langkahnya itu langsung terhenti.
"Aku lupa membicarakan ini sebelumnya, Tapi, jika kalian memang mencari Bahuraksa, sebenarnya, pedang itu sekarang ada padaku!"