
Sapujagad dan ketua Sekte aliran hitam lainnya, tidak menyangka bahwa Daga tanpa fikir panjang akan menghabisi nyawa seorang Raja begitu saja.
Tidak mengerti cara berfikir pria yang mendadak jadi pemimpin mereka itu, tapi itu sudah cukup untuk menegaskan sekali lagi bahwa siapapun yang di anggapnya tidak berguna apalagi menjadi beban, benar-benar akan mati dan jantungnya akan menjadi santapan
Rantoba dan pendekar-pendekar suci lainnya juga tak kalah terkejutnya. Namun, karena guru mereka tidak menunjukkan kemarahannya, mereka memilih untuk diam dan membiarkan waktu yang menjelaskan arah pergerakan mereka selanjutnya.
Rantoba tau benar apa yang telah di lakukan Darmuraji demi memenuhi keinginannya untuk mendapatkan pedang Bahuraksa.
Bisa di katakan bahwa pria malang yang mati tak berjantung itu, telah mengorbankan segalanya. Dan sekarang, apapun itu menjadi sangat sia-sia.
"Sial! Ini gawat ... Ini benar-benar gawat"
Beberapa ratus meter dari sana, di atas sebuah dahan pohon yang besar, di dalam kegelapan malam, Ciel dan Rewanda sejak tadi sudah mengawasi mereka.
Keduanya sengaja mengikuti pergerakan Darmuraji yang mendadak ke lembah Haru.
Awalnya, Ciel merasa itu hanya perundingan biasa. Namun, siapa menyangka akan melihat dua pendekar yang sangat kuat akan bertarung.
Dan ternyata pertarungan antara dua pihak yang berseberangan yang terlihat serius itu, ternyata hanya latih tanding saja. Dalam pengawasan Ciel, jelas Keduanya terlihat sangat akrab.
Hal mengejutkan itu terjadi beberapa saat setelahnya. Darmuraji kehilangan nyawanya.
Gadis itu segera berbalik dan terus mengumpat kesal, karena semua berjalan jauh dari apa yang mereka rencanakan sebelumnya.
Tidak ada yang menyangka bahwa Darmuraji akan mati dengan cara seperti itu. Dan tidak ada yang menyangka dua kelompok yang ingin mereka buat berseteru, kini terlihat akan bergerak bersama.
Belum lagi saat pertama tiba, Ciel langsung menyadari ada perkemahan lainnya, meski berjarak cukup jauh dari dimana dia berada. Berat dugaan Ciel bahwa itu adalah pihak sekte aliran putih. Atau setidaknya, mereka bukan bagian dari kelompok sekte beraliran hitam.
"Ciel, Naiklah ke punggung ku. Kita harus cepat dan mengabarkan ini pada yang lainnya."
"Baikkah!"
Mereka berdua pun langsung melesat lebih cepat untuk menuju Basaka. Setelah Ciel berada di punggung Rewanda.
__ADS_1
Meski jarak mereka cukup jauh, namun Moro dan Daga bisa merasakan keberadaan Ciel. Hampir saja Moro berniat mengejar, beruntung Daga segera menghentikannya.
"Kakak, biarkan saja!" Sergahnya.
Moro berbalik. Dan bertanya heran. "Apa maksudmu?"
Setelah menjilati tangannya yang masih berlumuran darah, Daga menjelaskan.
"Aku sengaja membiarkan mereka melihat semuanya. Jika dugaanku benar, maka sepertinya kalian juga bukan orang yang menenggelamkan lembah Tonda hingga menjadi Danau dan aku yakin, mereka juga bukan."
Daga menunjuk arah tempat di mana perkemahan aliansi sekte aliran putih berada.
"Ini menunjukkan bahwa memang ada pihak lain yang bergerak di dalam bayang-bayang. Aku rasa tidak ada satupun dari kita yang menyadarinya ... "
Mulailah Daga menjelaskan situasinya. Menurutnya, arah lari orang yang mengintai mereka itu tidak menuju lada perkemahan aliansi. Pengintai tersebut, sudah pasti akan melaporkan hal ini pada kelompoknya.
Situasi ini akan membuat kelompok tersebut bereaksi. Mengingat Ketidaktahuan Pihak kerajaan tentang hilangnya kelang dan tenggelamnya Lembah Tonda, ini menunjukkan bahwa berita tersebut, belum sampai ke Basaka.
Siapapun kelompok itu, pasti akan segera menunjukkan diri setelah ini. Setidaknya itulah yang dapat di simpulkan oleh Daga saat ini.
"Ketua jika memang begitu, berarti Basaka sudah kita kuasai. Sekarang, bukankah sebaiknya kita langsung menyerang aliansi sekte aliran putih itu?"
Daga mengangguk menyetujui perkataan Sapujagad. Namun, setelah itu dia sedikit menggeleng. "Sebenarnya, bagusnya begitu, tapi sekarang malam hari. Apa yang aku katakan sebelumnya, hanya sebuah anggapan. Bagaimanapun, kita sedang menghadapi sebuah kelompok yang tidak terlihat. Jadi, saat ini akan sangat beresiko jika kita langsung menyerang. Bisa saja kita terperangkap."
Penjelasan Daga sangat masuk akal. Hampir semua orang di sana tidak habis fikir, kenapa Moro kakaknya menyebut adiknya yang sepertinya sangat cerdik dan licik ini, bodoh.
"Paman Guru. Bagaimana dengan senjata pusaka itu? Tidak mungkin Darmuraji bisa berbuat sejauh ini, jika senjata itu tidak ada."
Rantoba masih sedikit janggal saat memanggil Daga sebagai paman Guru, masalahnya beberapa waktu yang lalu, dia merasa lebih kuat dari adik gurunya itu. Dan beberapa saat kemudian, Daga bisa membolak balikan dunianya.
Cukup lama Rantoba berpura-pura bekerja pada Darmuraji sambil menunggu kesempatan untuk menguasai Daratan ini. Sedikit sesal dan kesal muncul di hatinya.
Jika saja dia tau Daga adalah adik gurunya, seharusnya sudah sejak lama mereka bisa menguasai Daratan ini. Apalagi sekarang Rantoba yakin bahwa Daga jauh lebih kuat dari Kelang.
__ADS_1
"Itu juga termasuk dalam rencanaku."
Rantoba mengangguk mengerti. "Lalu, bagaimana dengan ketiga gadis yang ada dipusat kota Basaka? Aku mendengar dari mereka bahwa serikat Oldenbar, akan segera kehilangan pegunungan Singa Emas. Aku tidak terlalu yakin. Tapi, sehari yang lalu mereka sempat bertengkar dan hampir saja bertarung dengan Edward karena menyebut hal tersebut."
Kening Daga langsung berkerut. Jika memang mereka memiliki kekuatan, lalu kenapa saat Kelang membawa pemuda itu mereka hanya diam saja. Tapi, kata-kata Rantoba mengisyaratkan seolah ketiga gadis itu sangat nekat karena berani berhadapan langsung dengan Edward.
Daga tampak berfikir keras, dan menimbang-nimbang apa yang harus mereka lakukan saat ini. Namun, beberapa saat kemudian, dia mengambil keputusan.
"Ki Sapujagad. Utus beberapa orang untuk mencari keberadaan Pemuda itu." perintah Daga.
"Baik, ketua!"
"Rantoba, suruh beberapa orang mengawasi ketiga gadis tersebut. Jika ada yang mencurigakan langsung saja bawa mereka kesini. Sebaiknya utus beberapa pendekar suci. Mengingat mereka berani berhadapan dengan Edward, kita harus berjaga-jaga."
"Baiklah, aku mengerti."
Moro hanya tersenyum melihat bagaimana adiknya ini mengatur segalanya. "Daga, itu kenapa kau aku minta menjadi ketua sekte. Setidaknya dalam hal ini, kau lebih hebat dariku."
Daga menggelengkan kepalanya. "Aku berambisi lebih dari sekedar jadi ketua sekte dan mengurus orang-orang bodoh."
"Hahahahha! Sudah kuduga, kau tak pernah berubah." Moro benar-benar senang hari ini. "Jika begitu, lalukan sesukamu. Aku akan membantumu dengan seluruh kekuatanku. Hahahahaha!"
Kata-kata Moro menegaskan bahwa kelompok mereka semakin kuat. Rasanya kali ini, apapun yang akan mereka lakukan ke depan, kemungkinan untuk gagal sangat kecil.
Sapujagad dan tiga lainnya, tidak terlalu kecewa. Kelang memang tak pantas mereka ikuti. Tapi Daga, sudah lain cerita.
Mereka melanjutkan membahas rencana-rencana kecil terkait hal itu. Sementara tenda mereka di dirikan kembali. Namun, saat beberapa anggota ingin menyingkirkan jasad Darmuraji, tiba-tiba Daga mendapatkan sebuah ide.
"Sebentar. Jangan kalian buang dulu. Setidaknya, Raja bodoh ini, masih bisa kita manfaatkan untuk terakhir kalinya."
"Daga, mau kau apakan bangkai pria busuk ini?"
Daga tersenyum senang. Ide yang dia fikirkan seolah sangat cemerlang.
__ADS_1
"Aku punya rencana!" Jawabnya dengan senyum licik terukir di wajah reotnya itu.