ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Makan Siang


__ADS_3

Edward langsung menggebrak meja di depan mereka hingga meja itupun langsung hancur seketika.


"Sial! ... Sejak awal, kalian mengincar ku?!" Teriak Edward murka, sambil menunjuk ketiganya.


Setelah mengatakan hal itu, Edward langsung berniat menyerang ketiganya.


"Kami akan dengan senang hati melayanimu. Tapi, Bukankah seharusnya ada hal lain yang harus kau selesaikan? Lagi pula, apakah sekarang saat yang tepat bagimu untuk menghadapi musuh?"


Edward berfikir cepat. Menurutnya ketiganya terlalu pintar untuk ceroboh mengatakan sebuah ancaman kosong di saat seperti ini. Pemimpin serikat Oldenbar itu, mencoba membaca situasi.


Edward tak menyangka akan berada diposisi rumit seperti ini. Bagaimana mungkin dia bisa berada pada keadaan yang tidak memungkin dirinya untuk berfikir jernih.


"Kalian, telah mengganggu orang yang salah."


Saat mengatakan itu, tiba-tiba seseorang yang entah sejak kapan berdiri di ujung tangga lantai itu, menyelanya.


"Oh, benarkah?! Bukankah, kau telah melakukan hal yang sama?"


Keempatnya langsung menoleh pada asal suara. Mereka melihat Rantoba dan beberapa pendekar suci baru saja tiba.


"Oh, Tuan Rantoba." Sapa Bai Hua. "Apakah kalian datang untuk makan siang?"


'Bagaimana bisa gadis itu menyambut Rantoba dan menanyakan hal tersebut? Apakah semua ini sudah di rencanakan?'


Edward mengedarkan tenaga dalamnya. Benar saja, saat ini dia merasakan banyak pendekar suci yang berkeliaran di sana.


Tak menghiraukan hal ini sebelumnya, sekarang Edward merasa bahwa dia benar-benar sudah di jebak.


Bertarung disaat seperti ini akan sangat merugikannya. Meski kemungkinan menang sangat besar, tapi terlalu beresiko.


Karena jika apa yang dikatakan ketiga gadis itu benar adanya, sekarang dia berpotensi kehilangan pondasi yang telah di bangun Oldenbar di Daratan ini.


"Rantoba, apa kau dan kerajaan berniat untuk bermusuhan dengan serikat kami?"


Edward mengambil sikap bijak. Dia sama sekali tidak takut dengan semua orang yang ada di sana. Hanya saja bertindak dengan mendahulukan emosi tanpa mengetahui yang sesungguhnya terjadi, saat ini bukan waktu yang tepat.


"Tidak! Setidaknya untuk saat ini." Jawab Rantoba. "Hanya saja aku dan orang-orang ini, ditugaskan paduka Raja Darmuraji untuk memastikan keamanan Gadis ini."


Rantoba melihat kondisi meja yang sudah hancur di hadapannya. Lalu kembali melihat ke Edward. "Kau tidak tau aturan di tempat ini? Apakah kau mencoba bertarung dengan mereka? Jika begitu, sepertinya kami akan mengambil tindakan." Ancamnya.


"Oh tidak. Ini hanya salah faham. Sepertinya, Tuan Edward salah mengartikan ucapanku. Aku hanya menyuruhnya agar memperhatikan punggungnya. Mungkin dia tidak mengerti istilah seperti itu." Bela Luna.


Edward menghela nafas dalam dan menghembuskannya keluar dengan kasar. Saat ini dia benar-benar merasa telah di permainkan.


Edward mulai melangkah berniat meninggalkan restoran tersebut. Setidaknya dia sudah mengetahui bahwa Arya dan gadis-gadis ini adalah musuhnya.


Namun, kenapa Arya menyembuhkan dari racun dan mengembalikan kekuatannya masih menjadi tanda tanya besar baginya.


Saat akan melewati Rantoba, Edward berhenti sejenak. "Aku ingatkan kalian, gadis-gadis ini dan pemuda itu, sangat licik. Mungkin saat ini, kalian juga sudah terjebak."


Setelah itu, Edward benar-benar pergi saat berada di tangga kedua saat hendak turun, dia harus menghentikan langkahnya sekali lagi.

__ADS_1


"Oldenbar, telah menunjukkan pilihannya hari ini. Tidak perlu datang kesini, kami  akan keperjamuan yangtelah kalian siapkan itu!"


Edward tak lagi menghiraukan saat Ciel kembali berteriak padanya agar memperhatikan punggungnya. Ejekan gadis-gadis tersebut sangat membekas di hatinya.


"Aku akan membuat kalian semua, Mengering!" Gumam Edward, dengan geram saat meninggalkan Restoran Keluarga Bai itu.


Saat Edward pergi, susana di sana menjadi sedikit canggung. Sebab, Luna hanya berniat memanas-manasi Edward. Soal banyaknya pendekar suci di Basaka hari ini, sebenarnya mereka belum mengetahui orang-orang itu berpihak pada siapa. Tapi, dengan kemunculan Rantoba, itu sudah menjelaskan segalanya.


"Tuan Rantoba, apakah kalian ingin makan siang? Kami memiliki Bubalu hari ini." Ucap Bai Hua memecah suasana.


Menu yang di ucapkan Bai Hua, sontak membuat pendekar-pendekar suci di belakang Rantoba terkejut. Mereka tau siluman itu sangat langka dan dagingnya sangat berkhasiat untuk menambah kekuatan tubuh.


"Ah, meski kau tidak datang untuk makan. Tapi, tuan-tuan pendekar ini, sepertinya tertarik untuk mencicipi masakan ku." Ucap Bai Hua sambil menatap wajah penuh harap dari pendekar suci itu agar Rantoba menyetujuinya.


"Ya. Kami akan makan, jika begitu tolong di sajikan saja." Jawab Rantoba.


Bagaimanapun, pendekar-pendekar suci ini datang karena dia yang meminta. Lagipula, meski mahal daging bubalu memang sangat berkhasiat untuk meningkatkan kekuatan tubuh seorang pendekar.


"Baiklah Tuan-tuan, silahkan duduk di manapun kalian merasa nyaman. Aku akan menyiapkannya untuk kalian. "


Setelah itu Bai Hua pun pergi, Namun saat Luna dan Ciel hendak melakukan hal yang sama, Rantoba menahan mereka.


"Nona Luna, Sepertinya urusan kalian dengan serikat Oldenbar tidak berjalan baik. Bagaimana dengan senjata-senjata itu?"


Luna mengangguk. "Yah, seperti yang dijanjikan. Meski kalian tidak mengetahui sebelumnya, senjata pelontar itu ada seribu unit. Dan itu memang untuk Basaka dan Daratan ini."


Luna dan Ciel akhirnya memilih untuk duduk menemani para pendekar Suci itu di sana.


"Nona Luna, kami sudah mengetahui pergerakan Kelang dan Sektenya. Dan mereka sudahnsiap untuk bertempur begitu juga dengan kami."


"Sepertinya tertutup sudah pintu negosiasi. Sebenarnya kami datang untuk memastikan sesuatu."


Saat itu, semua pendekar suci yang datang bersama dengan Rantoba langsung memasang wajah serius.


"Kalian pasti ingin memastikan apakah Tuan Muda memiliki Bahuraksa atau tidak, Bukan?"


"Ya. Itu tujuan kami datang. Kau tau, jika memang benar dia memilikinya, kenapa dia mau ikut bersama Kelang? Bukankah itu seperti dia melanggar kesepakatan yang telah dibuat dengan Raja kami?"


"Huh! Kalian ini sepertinya bertindak atas sesuatu yang tak kalian ketahui." Ciel meletakkan sesuatu di atas meja. "Tunjukan ini pada Raja kalian, dia akan mengerti."


Mereka semua melihat sebuah benda yang menyerupai sarung pedang yang sangat besar.


"Kenapa hanya sarungnya? Di mana pedangnya?" Tanya salah satu pendekar suci itu.


"Sebentar! ... " Rantoba sepertinya menyadari sesuatu. "Darimana datangnya sarung pedang ini? Aku tak melihat kau membawa apapun sejak tadi!"


Tidak memperdulikan pertanyaan Rantoba itu, Luna menyela. "Tuan Rantoba, apa kau datang ingin menginterogasi kami? Atau, kau mau bukti?"


"Saat semua selesai, dan saat Daratan ini menjadi milik Tuan Muda kami, kalian bebas bertanya. Aku rasa Tuan Muda jugatidak berniat menyembunyikan apapun dari kalian."


Rantoba mengurungkan keterkejutan dan rasa penasarannya. Karena saat ini, itu bukan fokusnya. Apalagi, saat berhadapan dengan Arya ataupun gadis-gadis yang ada di depannya saat ini, Rantoba tidak pernah merasa di bohongi sama sekali.

__ADS_1


Ini sebenarnya sangat tidak wajar. Bahkan sebenarnya Rantoba mendengar apa yang membuat Edward tadi murka. Jelas itu bukan omong kosong belaka. Masalahnya ketiga gadis itu sama sekali tidak takut mengatakan hal tersebut tepat di depan pemimpin Oldenbar tersebut.


"Ya kalian benar. Aku tidak seharusnya menyakan itu. Tapi, ada hal lain yang ingin kami tanyakan. Tidak mengapa jika kalian tidak ingin menjawabnya."


"Hmm ... Apa itu?"


Rantoba menatap wajah kedua gadis itu bergantian. Bersiap-siap jika keduanya menunjukkan reaksi yang mencurigakan.


"Apakah kalian yang menyebabkan senjata-senjata itu menghilang?"


"Tentu saja itu kami!" Jawab Luna cepat.


"Ya. Tidak mungkin kami membiarkan senjata-senjata yang kami beli di ambil. Oleh orang-orang bodoh itu, bukan?"


"Hahahha ... "


"Hahahha ... "


Rantoba dan semua pendekar suci di sana langsung tersedak. Tidak ada satupun dafi mereka yang menduga bahwa kedua gadis itu langsung mengakuinya. Terlebih mereka mengatakan itu dengan bangga dan bahkan tertawa sesudahnya.


"Jadi, kalian ... Bagaimana,  bisa? ... "


Rantoba tiba-tiba kebingungan dengan keadaan ini. Hilangnya senjata-senjata itu sudah sangat menggemparkan. Hal itu saja itu sudah membuat semua pihak saling mencurigai.


Akan tetapi, bagaimana cara senjata itu bisa raib dan menghilang setelah terbunuhnya ratusan pendekar dan petualang dalam waktu yang sangat singkat, tidak kalah mengejutkannya.


"Kalian hanya mendengar kabar dari orang-orang yang gagal mengawal senjata itu. Tentu saja mereka mencari-cari alasan, untuk menjelaskan kegagalan mereka."


Rantoba dan pendekar-pendekar suci itu mengangguk mengerti. Orang yang gagal akan mencari alasan. Kadang alasan itu terdengar tidak masuk akal.


"Jadi, dimana senjata-senjata itu sekarang?"


"Akan ada di sini esok hari, kalian sebaiknya menyediakan tempat yang layak untuk menyimpannya." Jawab Luna.


Saat itu, Bai Hua dan beberapa pelayan datang membawa hidangan. Dari aromanya saja, sudah ketahuan bahwa masakan itu sangat lezat. Perhatian mereka teralihkan karena hal tersebut.


"Silahkan kalian nikmati. Aku sendiri yang memasaknya khusus untuk kalian."


Rantoba sudah mendapatkan jawaban apa yang menjadi tujuannya kesini. Mereka menyantap masakan Bai Hua dengan lahap.


Bahkan pendekar-pendekar suci itu, tidak henti-hentinya memuji betapa lezatnya masakan Bai Hua.


Setelah makan siang yang menyenangkan itu berakhir, hari telah sore. Ketiga gadis itu mengantarlan Rantoba dan semua pendekar-pendekar suci tersebut hingga kedepan.


Akan tetapi, sebelum pergi, Rantoba mengingat sesuatu. Dan segera berbalik dan bertanya. "Kenapa kalian mengatakan Edward harus mengawasi punggungnya. Apakah seseorang mengkhianatinya lagi?"


Ketiganya menggeleng. Namun hanya Luna yang menjawab.


"Bukan! ... Tidak seperti itu. Lagipula semuanya sudah terlambat baginya."


"Maksudmu?"

__ADS_1


Rantoba heran, begitu juga semua pendekar suci di sana.


"Sepertinya hari ini, Oldenbar kehilangan pegunungan Singa Emas sebagai pusat Serikat mereka!"


__ADS_2