Asing Jadi Cinta

Asing Jadi Cinta
Jaminan Tidak Akan Ketahuan


__ADS_3

Punya suami tampan, kaya, dan baik, apalagi yang kurang sampai memilih tetap bersama pria lain? Aku sendiri tidak tahu pasti, yang jelas selama Yogi belum mau melepas Difa, aku pun tidak akan melepas Sultan.


Itu impas.


Kalau dia bisa pacaran sama perempuan lain, di saat kami sudah menikah, kenapa tidak denganku?


Mungkin ini terdengar egois untuk kalian, tetapi aku begini demi menjaga hati agar tidak terlalu terluka, walau Yogi di belakang Difa adalah milikku seutuhnya. Dia mencintaiku dan begitu juga aku.


"Hah, apa?" Kali ini dengan sangat menyebalkan Yogi menarik bibirku sampai manyun karena lama memberi jawaban atas pertanyaannya.


Seharusnya aku marah karena ulahnya itu, tetapi tidak. Aku malah tersenyum saat melihatnya tertawa, menertawakan wajahku yang lucu karena bibir yang mirip bebek.


"Yogi!" Dia tertawa puas setelah berhasil mengerjaiku. Bisa-bisanya dia mengecup singkat bibir yang masih manyun ini lalu berlari pergi ke kamar mandi. "Awas kamu, ya. Aku aduin sama Difa!"


Yogi tidak peduli, dia sudah menutup pintu kamar mandi, sedang aku tersenyum malu-malu karena kelakuannya itu.


"Jeng, samponya habis!" adu Yogi setelah membuka pintu kamar mandi, dia hanya mengeluarkan tangannya saja.


"Sudah aku taruh di tempat biasa. Cari yang benar, dong!"


"Enggak ada, Jeng. Sini kalau enggak percaya!" Tanpa merasa ragu dan curiga, aku menghampiri Yogi dan laki-laki menyebalkan yang sudah menjadi suamiku itu malah menarik tubuhku ke kamar mandi. Dia langsung menutup pintu.


"Ih, kamu ngapain malah tarik aku ke sini? Aku sudah mandi!" Kutatap tajam dia yang malah cengar-cengir menggemaskan lalu mengabaikannya dan mengambilkan sampo yang kutaruh di samping sabun. Di tempat biasanya.


"Jangan macam-macam atau aku akan lapor ke Difa!" Aku kembali mengancamnya saat dia hendak mengerjaiku dengan menghidupkan shower.


Detik itu juga, tangan Yogi beralih mengambil sampo dari tangan. Dengan wajah datar dan tanpa ekspresi dia menyuruhku keluar sebelum berubah pikiran.


Di saat seperti itu, terkadang aku merasa Yogi tidak sepenuhnya mencintaiku. Hatinya masih terhubung dengan Difa, kekasihnya yang dipacari selama tiga tahun itu dan mengatakan mencintaiku hanya karena aku yang mengatakannya lebih dahulu.


Lamunanku buyar saat Yogi yang sudah selesai mandi memelukku dari belakang. Aroma sabun di tubuhnya begitu menenangkanku dari pikiran tentangnya dan juga Difa.


"Kamu melamun terus, kenapa, sih?"

__ADS_1


Aku hanya menggeleng, melepaskan pelukannya dan berbalik. Kutatap lekat mata indah milik laki-laki yang sudah menikahiku selama dua bulan ini.


"Kadang aku berpikir, kamu sebenarnya cinta sama aku atau enggak, ya?" Yogi diam dan mengalihkan pandangannya. Tangannya kini berada di pinggangku. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa merasakan embusan napas Yogi. Tetesan air dari rambutnya mengenai wajahku pun tidak kuhiraukan, demi ingin mengetahui jawabannya lewat sorot matanya itu.


"Ah, sudahlah. Pasti kamu bakal bilang belum waktunya!" Aku memilih menyudahi menatap dan mengagumi suamiku sendiri.


"Aku mau ke dapur, bantu Mama siapin sarapan. Bajunya sudah aku siapin!" Tanpa menunggu jawaban dari Yogi, aku memutuskan untuk keluar kamar.


Yogi terus saja membuatku tidak tenang sepanjang waktu, meski di saat kami berdua sikapnya benar-benar manis, seolah dia memang benar-benar mencintaiku.


"Kok wajahnya murung?"


Terus memikirkan Yogi dan perasaannya yang terkadang sulit ditebak, aku sampai lupa mengendalikan ekspresi wajahku. "Eh, enggak kok, Ma. Aku bantu apa, nih?" tanyaku, memilih mengabaikan Mama yang masih memperhatikanku.


"Kenapa? Yogi buat ulah lagi?" Aku hanya menggeleng dan menyelesaikan tugas Mama menuangkan air minum ke gelas. "Ajeng, kalau ada apa-apa kamu bilang sama Mama. Kalau Yogi nakal, nanti Mama marahi!"


Aku terkekeh pelan, bahkan sebelum Mama memarahi Yogi, aku yang akan membuatnya meminta maaf duluan. "Mama tenang saja, aku sama Yogi baik-baik saja."


"Yang benar?" Kali ini Mama mengusap wajahku, ternyata Mama masih belum percaya juga. Aku mengangguk dan menampilkan senyum sebaik mungkin. "Syukurlah."


"Iya, Surya besok harus dioperasi, jadi Mama disuruh ke sana hari ini dan bakal menginap beberapa hari!" Mama menghela napas pelan, mencoba tegar walau aku tahu Mama pasti sedih, adiknya akan dioperasi karena memiliki tumor di otaknya.


"Om Surya pasti bisa sembuh kok, Ma." Aku menghibur Mama, bagaimana kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidup kita itu sangat menyakitkan.


Aku pernah kehilangan Ayah walau setelah itu aku mendapatkan pengganti Ayah, Yogi. Namun, tetap saja rasanya luka itu tidak akan bisa terobati. Rindu dengan Ayah tidak bisa terobati oleh Yogi yang selalu menghiburku.


Mama mengangguk. "Iya Sayang, Mama juga yakin Surya akan pulih. Kasihan istri sama anaknya kalau dia sampai tiada!" Aku lekas memeluk Mama, memberi kekuatan untuknya.


"Oh, ya, Mama sama Papa niatnya sebelum kembali ke sini mau mampir ke rumah kakakmu, ketemu sama ibumu. Mau titip sesuatu?" Aku menggeleng. "Ya sudah, Mama pergi sekarang. Takut papamu kelamaan tunggu Mama!"


Tanpa sarapan Mama lekas pergi. Tidak lama setelah Mama pergi, Yogi sudah selesai dengan urusannya di kamar dan menghampiriku.


"Mama mana?"

__ADS_1


"Mama sudah pergi. Katanya takut Papa nungguin lama." Yogi hanya mengangguk, tanpa bertanya lagi dia lekas menuju ke meja makan.


"Nanti sore aku mau temani Difa ke rumah sakit!" Ucapan Yogi berhasil membuatku mengurungkan niat mengambilkan nasi goreng untuknya. Kutatap kesal pria itu lalu memilih duduk saja. "Kenapa cemberut begitu? Kamu cemburu, ya?" goda Yogi, aku berusaha untuk tidak peduli.


Yogi menghela napas pelan kala aku masih saja diam dan mengabaikannya. "Ajeng, jangan begini, dong!"


"Aku tahu. Kamu belum siap bilang sama Difa. Sudahlah, aku juga belum siap kok bilang sama Sultan. Eem, kalau dipikir-pikir sayang banget ninggalin Sultan yang tajir itu!" Aku balik menggoda Yogi, kita impas saat kulihat wajah kesalnya itu.


"Aku juga kaya kali, Jeng!"


"Kamu kaya dari uang Papa, kalau Sultan dia sudah punya usaha sendiri!" Yogi makin kesal. Dia menolak saat akan kuambilkan sarapannya. "Kamu marah?"


"Enggak."


Ah, ternyata aku salah bicara. Rasanya ingin kuganti saja bibir ini karena bicara hal yang tidak perlu dan malah melukai pria yang kucintai itu. "Kalau enggak marah senyum dong!"


Yogi tersenyum walau terpaksa, aku tahu itu. "Kamu sudah enggak marah?"


"Enggak!" jawab Yogi ketus, dia bahkan tidak menatapku.


"Yakin?"


"Iya!"


"Be–"


Yogi menjadi begitu kesal, dia lekas memaksaku minum susu untuk berhenti bicara. Beruntung saja susunya tidak tumpah dan mengenai pakaianku. "Yogi!"


"Makanya jangan bawel. Buruan sarapan, kita sudah hampir telat ke kampus!" Aku hanya mengangguk. Kulirik dia sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya dan memberikan benda pipih itu kepadaku.


"Yogi, kamu yakin?" tanyaku kegirangan. Yogi membatalkan rencana untuk menemani Difa ke rumah sakit sore nanti.


Ah, Yogi, aku makin cinta sama kamu.

__ADS_1


"Senang?" Aku mengangguk semangat. Tersenyum kepadanya dengan memperlihatkan deretan gigiku yang rapi. "Sebagai gantinya sore ini aku mau kita nonton ke bioskop. Gimana?"


"Boleh, tapi kamu bisa jamin kalau kita enggak akan ketahuan kayak Minggu lalu lagi?"


__ADS_2