Asing Jadi Cinta

Asing Jadi Cinta
Sabar ... Belum Saatnya


__ADS_3

Aku tahu ada yang aneh dengan sikap Yogi. Dia tidak seperti biasanya yang akan selalu mencari kesempatan untuk menjahiliku. Namun, sejak pertengkaran kecil kita kemarin, dia berubah.


Yogi menjadi lebih pendiam, dia beberapa saat memang terus saja berkutat dengan ponselnya dan setelah itu beberapa notifikasi masuk, terus saja dia abaikan.


"Apa kamu akan pulang sore lagi?"


"Iya. Nanti kelas terakhir jadwalnya praktikum! Kamu ada urusan?" Aku terus saja memperhatikan Yogi yang masih sibuk dengan roti selainya itu. Dia begitu menikmati sarapan dengan roti, padahal yang kutahu dia sangat tidak menyukainya. "Oh, ya, tumben enggak minta dibuatkan nasi goreng?"


Yogi yang baru saja mengigit roti selainya itu, sejenak menatapku lalu menggeleng. "Kenapa?"


"Jeng, nanti kalau ada apa-apa kamu langsung kasih tahu aku, ya!"


"Memang aku mau bilang sama siapa lagi kalau bukan kamu?" Aku menatap Yogi heran. Namun, dia hanya tersenyum tipis. "Gi!"


Yogi memilih diam dan menghabiskan sarapannya itu. Aku juga melakukan hal yang sama, walau begitu aku terus saja memikirkan keanehan Yogi. Dia seperti sedang ada beban yang berat sekali.


Kami terus saja diam sampai motor Yogi berhenti di depan halte kampus. "Gi, kamu ada masalah?" Yogi menerima helm dan mengaitkan di bagian belakang motor.


Yogi menatapku cukup lama sebelum akhirnya hanya menggeleng. "Ada apa, sih? Masih kepikiran masalah kemarin?"


"Bukan itu!"


"Terus apa?" desakku tidak sabaran. Selama dua bulan bersama, baru kali ini aku melihat Yogi begitu berbeda. Di awal pernikahan kita yang tidak ada cinta, Yogi tidak pernah seperti ini. Dia selalu saja bisa mencairkan suasana canggung kita. "Kalau kamu enggak mau bilang, aku akan terus tahan kamu di sini!" ancamku yang sedang mencekal tangannya dengan berpura-pura marah.


Yogi menghela napas pelan, aku melirik saat tangannya memegang pergelangan tanganku. "Aku tahu kamu meragukan perasaanku!"


Mataku seketika membelalak karena ucapannya itu. Yogi ternyata mengetahui tentang keresahanku selama ini. "Gi, itu ...."


Yogi mengangguk, seolah dia tahu alasanku memiliki pemikiran seperti itu setelah kami saling mengungkapkan perasaan. "Untuk itu, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Aku akan katakan sama Difa tentang kita!"

__ADS_1


Harusnya aku senang saat Yogi mengatakannya. Terlihat jelas dari matanya kalau dia benar-benar jujur dengan ucapannya itu. Namun, mendengar suaranya yang sedih, aku yakin ada sesuatu yang membuatnya takut.


"Tapi pasti akan ada banyak hal yang nantinya kita hadapi. Aku juga takut kalau kamu terluka!" Yogi mengusap lenganku penuh sayang, aku tersenyum senang dan tanpa peduli dengan sekitar atau siapa saja orang yang kami kenal lihat, aku memeluk Yogi. Mengusap lembut punggungnya yang tegap itu.


"Asal sama kamu, aku yakin pasti bisa lalui semuanya kok!" Aku melerai pelukan dan tersenyum memberi keyakinan yang sama kepada Yogi. "Aku janji, setelah itu akan melakukan yang sama juga dan kita akan benar-benar bebas tanpa beban!"


"Kamu memang harus melakukan itu!"


"Ya sudah, aku duluan, ya. Setengah jam lagi ada kelas dan aku harus ke lantai tiga!" Setelah berpamitan kepada Yogi, aku lekas menyeberang jalan yang tidak terlalu ramai itu menuju ke gedung fakultas.


Ah, mendengar ucapan Yogi membuatku tidak bisa berhenti untuk tersenyum. Beberapa teman yang berpapasan memperhatikan diriku heran, meski tanpa mengatakan apa pun.


Di depan gedung yang menjulang tinggi. Aku mendongak, menghela napas pelan melihat gedung yang akan kumasuki. Entah berapa anak tangga nantinya yang akan kutapaki dan melelahkan, tetapi ucapan Yogi memberiku asupan semangat pagi ini dan akan membuatku tidak merasa lelah.


***


"Des, aku harap apa pun yang terjadi di antara kita nantinya, kamu enggak akan berubah sama aku!"


"Yaelah, Jeng. Kita jadi sahabat itu udah sejak awal masuk SMA. Sudah banyak loh kita berantem sampai enggak ngobrol tiga bulanan, akhirnya apa? Kita baik-baik saja tuh. Ya, memang kadang kita butuh waktu saja!"


"Kamu benar!" Aku lekas berdiri, menutup buku tulisnya dan memasukkan ke tasnya. Desi hanya diam saja memperhatikan yang kulakukan. "Makan siang dulu, yuk, sebelum kita nanti ke lab."


Aku menarik tangan Desi dan mengajaknya keluar kelas.


***


"Hah, aku merasa bersalah banget sama Sultan karena belum berani jujur!" Setelah membalas pesan Sultan lekas kumasukkan ponsel ke tas.


Tidak lama, terdengar sapaan deru suara motor dan klakson yang kukenal, tanpa melihatnya saja aku tahu motor siapa itu.

__ADS_1


Setelah motor Yogi berhenti di depan halte tempatnya tadi pagi menurunkanku, dia langsung memberikan helm kepadaku tanpa mengatakan apa-apa. Dia terlihat murung dan enggan membalas tatapanku.


"Nanti kita mampir ke rumahku dulu, ya. Aku mau cek kondisi rumah sebelum yang mau mengontrak datang!"


"Sudah ada yang hubungi kamu?"


"Iya dan sudah sepakat, dia datang minggu depan. Artinya aku masih ada waktu satu minggu untuk mengecek keadaan rumah dan bersih-bersih!"


Kami lekas pergi ke rumahku yang untungnya searah dengan jalan pulang ke rumah Yogi. Sepanjang perjalanan kami diisi dengan kesunyian, hanya suara bising kendaraan yang menjadi teman perjalanan kami!"


"Akhirnya sampai juga!" Aku memperhatikan lekat rumah yang telah menjadi saksi kehidupanku selama dua puluh tahun terakhir ini.


Memori tentang kenangan bersama Ayah, Mas Anjas, Mbak Ella, dan Ibu membuatku tidak bisa menyembunyikan senyum yang terus saja menyapa. Aku membuka pagar rumah setinggi pinggangku yang digembok.


"Masuk, yuk!" Aku masuk lebih dulu, meninggalkan Yogi yang hanya diam saja dan belum masuk ke halaman rumah.


"Jeng!" Aku sedang memperhatikan tanaman yang layu dan mati karena lama tidak disiram. Embusan angin menyapa lewat dedaunan pohon mangga.


"Kenapa?"


Yogi tampak jelas sedang mengalami masalah besar, tetapi belum siap untuk cerita. Dia menggeleng dan tersenyum kecil. "Enggak jadi. Kamu masuk duluan saja."


Yogi turun dari motornya, dia dengan kesusahan mendorong motornya memasuki halaman rumah. Yogi lekas menghampiriku yang memang sedang menunggunya di teras.


"Kamu murung begini karena Difa?"


"Kenapa kamu pikir karena dia?" Yogi terlihat kesal, tetapi dia mencoba untuk tenang. "Maaf, aku enggak bermaksud untuk membentak!"


Aku mengangguk dan meraih tangannya. "Jeng, sekali lagi maaf kalau aku belum bisa cerita sama Difa, tapi aku janji secepatnya akan aku katakan!" Yogi menghela napas panjang, terdengar begitu berat.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanganku langsung melepaskan tangannya. Senyum yang sejak tadi kutahan untuk selalu ada, mulai menghilang. Semua karena ucapan Yogi. "Enggak masalah kok!" Aku memaksa tersenyum dan berlalu masuk rumah sendirian.


__ADS_2