
Selama lima menit kami saling diam, di antara suara berisik kendaraan yang diparkiran dan suara-suara nyamuk di dekat telinga. Yogi hendak meraih tanganku, tetapi dengan cepat kutepis. Terlalu sakit jika ternyata benar kalau Yogi masih mencintai Difa, setelah dia menyatakan perasaannya kepadaku.
"Aku akan pulang sendiri!" Aku melepaskan helm dan memberikan kepadanya. Tanpa peduli dengan seruan Yogi yang menyuruh menunggunya, aku terus berjalan dan tanpa menoleh.
Beruntung ada sebuah angkutan yang lewat dan lekas menaikinya. Di dalam angkutan yang hanya ada aku dan seorang remaja, aku tidak lagi bisa menyembunyikan kesedihanku ini.
Kukira aku terlalu berlebihan dengan ketakutan kalau Yogi masih mencintai Difa, bagaimanapun mereka telah lama bersama. Mereka dekat sejak masuk SMA dan berpacaran ketika menjelang kelulusan sekolah hingga kini. Sekarang ketakutan itu ternyata benar, lewat sorot matanya yang tadi menatapku, aku tahu kalau perasannya untuk Difa masih ada.
"Hah!" Aku membuang muka saat tidak sengaja tatapan kami bertemu. Remaja itu menatapku bingung dan tersenyum canggung sebelum aku memilih mengabaikannya.
Suara klakson saling bersahutan saat angkutan yang kutumpangi tiba-tiba saja berhenti di tengah jalan. "Duh, maaf, Neng, mogok!" ujar sopir angkutan tersebut kepada kami.
Aku hanya menghela napas saat remaja perempuan yang duduk di depanku itu berdecak sebal. "Yah, enggak mau hidup, Pak?"
"Enggak bisa, Neng! Maaf, ya!"
"Mau hujan lagi, duh, gimana, sih, Pak!" gerutu remaja itu yang lekas pergi. Namun, sebelum dia pergi menjauh, sopir tersebut memanggilnya dan meminta bayaran. "Padahal masih belum ada separuh jalan loh, nih!" Walau dengan raut wajah tidak suka dan terus mendumel, remaja itu membayarnya juga.
"Neng!"
Aku lekas keluar setelah memberikan uang dua puluh ribu kepada sopir tersebut. "Neng enggak ada yang pas?" Aku menggeleng, dia terlihat kebingungan dan suara klakson tidak sabaran membuatnya panik karena harus segera menepikan angkutannya.
"Ambil saja, Pak!" Aku memilih berjalan, menerobos jalanan yang ramai dengan kendaraan. Sore hari menjelang magrib begini jalanan pasti macet.
__ADS_1
Benar saja, tidak lama hujan turun dengan derasnya. Orang-orang yang berada di jalanan terlihat kesal karena hujan deras yang turun dadakan itu, aku lekas berlari ke sebuah toko yang tutup untuk berteduh di terasnya.
Di toko itu tidak hanya aku, ada seorang remaja laki-laki yang sedang merokok, seorang laki-laki paruh baya yang sedang mendumel, dua orang perempuan muda seperti pekerja kantoran terlihat dari pakaiannya. Namun, yang membuat hatiku makin nyeri ketika melihat sepasang kekasih atau mungkin pengantin baru sepertinya sedang saling bercengkrama mesra, mengabaikan hujan yang turun makin deras.
"Hujannya bakal lama, Bu. Masa tega suruh Bapak pulang hujan-hujanan?" Aku melirik ke laki-laki paruh baya yang ternyata sedang berbicara dengan istrinya di telepon. Saat ada petir menyambar, laki-laki itu segera mematikan ponselnya dan terus saja menggerutu. Mungkin kesal karena istrinya tidak sabaran menunggu.
"Jadi besok malam kamu bakal kencan sama Tirta?" Wanita dengan kemeja berwarna hitam dan rambut digelung asal itu sedang bicara dengan rekannya yang terlihat malu-malu.
Aku juga melihat remaja yang sedang merokok itu juga sedang senyum-senyum sendiri dengan ponselnya.
Sepertinya hanya aku yang kini merana. Apa yang sekarang terjadi kepadaku karena hukuman telah berselingkuh dari Sultan? Tapi, aku istrinya Yogi, apa artinya aku salah dengan Yogi karena berselingkuh dengan Sultan?
Pikiran-pikiran itu berkecamuk. Ada rasa penyesalan, tetapi mengingat Yogi yang tidak pernah mempermasalahkan tentang hubunganku dengan Sultan membuatku makin yakin, Yogi memang tidak benar-benar mencintaiku.
"Hujannya seperti akan lama," keluhku saat menatap langit yang makin pekat. "Yogi ...." Aku menghela napas pelan sebelum keputusan untuk menerobos hujan.
Di bawah naungan hujan yang makin deras, air mataku tidak dapat lagi kutahan. Dia terus mengalir bersama dengan hujan yang membasahi wajah dan tubuhku.
***
Aku memeluk tubuhku sendiri di depan teras rumah. Ada perasaan ragu dan malas untuk masuk, tetapi aku harus segera berganti pakaian atau akan berakhir dengan sakit karena berlama-lama terkena hujan sebelum akhirnya bisa pulang dengan taksi.
Saat hendak membuka pintu, dari belakang terdengar suara Yogi memanggilku dengan begitu keras.
__ADS_1
Aku berbalik dan menatapnya dengan tatapan nanar. Memilih menunduk untuk menyembunyikan wajahku.
Yogi berlari menghampiriku. Dia memegang kedua bahuku dan membuatku mengangkat wajah, menatapnya dengan lekat.
Yogi terlihat kesal. Dia lekas memeluk tubuhku yang sudah menggigil. "Kamu kenapa malah hujan-hujanan, sih?" tanya Yogi setelah melepas pelukannya. Dia terlihat cemas, tetapi rasa kesal dengan kejadian tadi membuatku mengabaikannya.
"Aku cari kamu tadi, tapi kamu enggak tahu ada di mana. Kamu ... Ajeng!" Aku menepis tangan Yogi dan memilih masuk rumah meninggalkannya sendirian di teras.
Lekas aku masuk kamar mandi untuk membilas tubuhku agar tidak demam. Di kamar mandi aku kembali menangis. Sungguh, tatapan penuh khawatir Yogi membuatku senang. Namun, di sisi lain, kenyataan kalau Yogi mencintai Difa membuatku marah dan malas bertemu dengannya.
Suara ketukan dan panggilan Yogi membuatku tersadar telah terlalu lama di kamar mandi. Aku akhirnya memutuskan keluar dengan hanya menggunakan bathrobe karena lupa membawa pakaian ganti.
"Akhirnya kamu keluar juga, kamu kenapa lama di dalam?" Yogi terlihat khawatir, tetapi aku diam saja dan memilih meninggalkannya untuk mengambil pakaian lalu kembali masuk kamar mandi.
"Jeng, kenapa diam saja?" Yogi yang menunggu dengan duduk di sofa lekas menghampiriku yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia memegang kedua bahuku dan menunduk cukup lama sebelum akhirnya terdengar isakan kecil dan bahu Yogi yang bergetar. Dia menangis?
"Gi!" Yogi sekarang memelukku. "Gi, kamu kenapa?"
"Jeng, kamu pasti marah karena aku, kan?" Wajah Yogi memerah karena menangis, selama dua bulan bersama, baru kali ini aku melihatnya menangis seperti ini. Yogi yang kukenal begitu tangguh, tetapi kenapa dia terlihat lemah begini dan sampai menangis?
Aku hanya menggeleng tanpa mengatakan satu kata pun. "Aku khawatir dan takut kejadian apa-apa sama kamu, setelah kamu pergi gitu aja. Aku takut kalau kamu nekat karena marah! Aku enggak sanggup kehilangan kamu!"
Mendengar ucapannya membuatku mengerutkan dahi, begitu juga tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia mendengar ucapannya barusan. "Aku masih waras, marah sama kamu bukan berarti aku pilih nekat!" Yogi kembali memelukku, begitu erat. "Kamu benar khawatir sama aku dan enggak mau kehilangan aku, Gi?" Yogi hanya mengangguk. Tentu saja jawabannya membuatku makin senang, tapi mengingat kembali tentang hubungannya dengan Difa aku kembali dibuat kesal. "Sudahlah, Gi, lepasin. Aku sesak, enggak bisa napas!"
__ADS_1
Yogi akhirnya melepaskan pelukannya. Dia menangkup wajahku dan membuatku membelalak dengan yang baru saja dilakukannya. "Ini biar kamu enggak lagi menduga aku enggak cinta sama kamu!"