
Aku hanya diam saja dengan pura-pura sibuk pada laptop, padahal sebenarnya sejak awal Yogi masuk kamar, aku sudah memperhatikan dirinya.
Sejak ucapannya sore tadi di rumah, aku memilih diam dan menjauh. Mungkin dia tahu dan itu alasannya tidak juga mengajakku bicara, tapi bukannya dia harus berinisiatif meminta maaf dan membuatku tidak lagi marah? Kenapa dia malah mendiamkanku juga, bahkan dia menjauh.
"Belum tidur?"
Aku hanya meliriknya yang merangkak ke kasur, duduk dengan gusar di sampingku. "Apa tugasmu masih banyak?"
Saat Yogi hendak mengintip ke layar laptop, aku segera menjauhkannya dan memilih menaruh laptop yang telah kumatikan itu ke meja belajar.
"Jeng, ada apa?"
"Enggak ada. Memang kenapa?"
Yogi menghela napas pelan dan beranjak menghampiriku. Dia hendak memeluk, tetapi dengan cepat aku menghindar. Biar saja dia tahu kalau aku marah karena dia telah berbohong.
"Besok aku akan kasih tahu Sultan, entah kamu akan lakukan juga sama Difa tau enggak, aku sama sekali enggak peduli!"
Yogi terlihat terkejut, tetapi dia memilih diam dan tidak bertanya apa-apa. Entah apa yang sebenarnya ada di pikiran Yogi saat ini, sejak pulang dari rumahku dia makin diam dan murung.
"Sudahlah, aku tahu kok kamu berat lepasin Difa. Gimanapun dia cinta pertama kamu!" Ada kilatan amarah dari mata Yogi, aku sebenarnya merasa takut dengan tatapan mata suamiku itu. Namun, rasa kesal karena dia tidak jadi memberitahu Difa kebenaran tentang kami membuatku mengatakannya.
***
Aku dan Yogi benar-benar dibuat terkejut dengan kehadiran Difa di rumah. Baru saja kami akan pergi ke kampus dan saat membuka pintu rumah, kami dikejutkan dengan sosok wanita cantik itu yang sedang berdiri membelakangi kami.
"Loh, Ajeng kok ada di sini?" Difa tampak bingung, begitu juga denganku dan Yogi. Dia memperhatikan kami yang gugup seperti telah tertangkap basah melakukan hal yang salah.
"Kamu ngapain di sini, Jeng?" tanya Difa kembali. Dia melirik Yogi yang diam saja lalu menarik tangannya menjauh tanpa mengatakan apa pun kepadaku.
Sebenarnya aku penasaran apa yang sedang Yogi dan Difa katakan, sesekali Difa menatap ke arahku dan tersenyum canggung lalu mereka bicara serius. Cukup lama sekitar sepuluh menit sebelum akhirnya Difa dan Yogi pamit pergi bersama.
__ADS_1
Nasib jadi istri yang masih dirahasiakan, ya, begini. Akhirnya aku hanya bisa mengalah dan memilih memesan ojek online saja.
Tentu saja aku tidak bisa meminta Sultan untuk menjemput atau dia akan seperti Difa yang terkejut karena aku berada di rumah Yogi.
Tentang ucapanku semalam, tentu saja aku berbohong. Tidak sepenuhnya dari hati. Semua itu kulakukan hanya untuk melihat reaksi Yogi.
"Mereka sudah sampai kampus?" gumamku sembari memperhatikan jalanan yang ramai dan beruntung saja tidak terlalu macet.
Ponsel di tanganku bergetar dan dengan cepat aku memeriksanya walau berakhir kecewa. Pesanku sama sekali tidak dibalas oleh Yogi, dia hanya membacanya saja dan setelah itu tidak lagi online.
"Pak, apa enggak ada jalan pintas?" tanyaku panik saat di depan terjadi kemacetan parah, sepertinya ada kecelakaan.
"Ada, tapi jalannya sempit, Neng!"
"Enggak masalah, Pak. Yang penting bisa lebih cepat. Setengah jam lagi ada kelas!" Aku menepuk pundak pria paruh baya tersebut yang langsung mencari celah untuk melewati kemacetan dan pergi ke jalan pintas yang dia katakan tadi.
Benar saja, jalanan yang kami lewati memang sempit karena di kedua sisi jalanan kebanyakan digunakan warga untuk parkiran mobil. Harusnya kalau punya rumah di tempat sempit dan tidak ada lahan untuk dijadikan garasi, lebih baik tidak beli mobil saja. Kalau begini menyusahkan orang yang lewat.
Baru saja motor keluar dari gang sempit, tiba-tiba saja sebuah mobil Jeep yang amat kukenali menghadang motor dan membuat kepalaku membentur helm si driver.
"Maaf, Neng, ada mobil mendadak berhenti!"
Aku hanya mengangguk sambil melepas helm karena merasa pusing. Baru saja turun dari motor, tanganku ditarik oleh Sultan, pemilik mobil tersebut.
"Pak, ini uangnya. Ambillah!" Sultan menyerahkan uang dan helm kepada driver ojek online itu. Dia menyuruhku masuk mobil, karena kepala masih terasa pusing, aku memilih menurut.
"Maaf, kamu pasti terkejut tadi!" Aku hanya mengangguk sembari memegangi kepala yang terasa berdenyut hebat. "Apa sesakit itu?" tanya Sultan yang terlihat begitu cemas.
"Sedikit!"
"Syukurlah!"
__ADS_1
"Kamu kenapa tiba-tiba halangi motornya?" Aku memperhatikan Sultan yang mulai menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas meninggalkan tempat barusan.
"Aku mengikuti kamu dari belakang."
"Apa ada air mineral? Aku haus!"
Sultan mendengkus kesal, dia menambah kecepatan mobilnya dengan menghiraukan ucapanku. "Kenapa kamu bohongi aku?"
Pertanyaan dan tatapan Sultan yang berkilat penuh amarah itu seketika membuatku lupa caranya bernapas. Aku panik dan gugup dengan pertanyaannya itu. Apa dia tahu kalau aku sudah menikah dengan Yogi?
"Tan, ada apa? Aku bohong kenapa?"
Sultan mencengkeram erat kemudi membuat urat-urat di tangannya terlihat jelas dan aku hanya bisa menelan liur. "Aku baru tahu alasan kamu enggak pernah mau kuantar sampai depan rumah, kamu sudah pindah? Ke mana?" Sultan melirikku yang masih mencerna ucapannya.
"Maaf, tapi aku lakuin itu karena enggak mau kamu khawatir!" Sultan mengerutkan dahinya, entah bicara apa aku sampai melantur begitu.
"Kalau begini kamu sudah buatku khawatir. Pasti ada alasannya, kan, sampai kamu pindah rumah dan enggak kasih tahu aku?"
Sultan menoleh sekilas sebelum kembali fokus ke depan. Aku hanya mengangguk, membenarkan pertanyaannya itu. "Apa kamu sedang kesulitan uang?"
"Hah? Enggak kok. Aku cuma pindah rumah saja karena Ibu pilih tinggal di rumah Mas Anjas."
"Hanya itu?"
"Iya. Rumah itu terlalu besar kalau buat aku sendiri, Tan. Lagipula kalau aku terus di sana, yang ada kenangan Ayah akan terus kebayang. Aku pasti akan sedih terus!" Aku menunduk, menyembunyikan kesedihan yang perlahan merayap karena membahas Ayah. Cinta pertama anak-anaknya.
"Kamu ada aku, jadi jangan pernah merasa sendiri. Tapi tolong mulai sekarang jangan pernah sembunyikan apa pun. Aku merasa enggak berguna!" Aku memperhatikan Sultan dengan rasa bersalah, dia begitu tulus dan aku berbohong dengan tidak mengatakan yang sebenarnya.
Sultan terus saja mengusap kepalaku dengan penuh sayang. "Di mana kamu tinggal?"
"Ah, itu ... aku tinggal enggak jauh dari rumah kok, dekat halte. Makanya aku selalu minta kamu berhenti di sana!" Sultan mengangguk paham, dia sudah percaya dan aku benar-benar merasa lega. Setidaknya kali ini selamat, walau entah ke depannya akan seperti apa kalau kebohongan ini masih berlanjut.
__ADS_1