
Beberapa orang, termasuk kedua kakakku sebenarnya menentang keras keinginanku mengikuti jejak Ayah. Mereka menginginkanku mengambil kuliah di hukum atau kedokteran seperti mereka, tetapi aku tetap memasukkan fakultas pertanian dalam prioritasku.
Kelak aku berharap bisa seperti Ayah yang bekerja menjadi bagian dari kementerian pertanian. Walau akhirnya tidak bisa pun tidak masalah, asal kecintaanku yang sama seperti Ayah tidak akan hilang.
Sebenarnya saat sekolah menengah, aku memutuskan untuk kuliah di salah satu universitas swasta di Lampung, tentunya dengan pertimbangan jika aku akan dapatkan lebih banyak ilmu tentang pertanian. Di sana ada satu jurusan yang sangat kuminati. Namun, karena larangan kedua kakakku tinggal sendiri di tempat yang jauh, aku mengalah dan memilih kuliah di Jakarta saja.
"Kamu tumbuh subur, ya!" Kali ini giliranku datang lebih pagi dan melakukan tugas menyiram tanaman kelompok.
"Akhirnya aku enggak jadi telat!" Desi memasuki ruang kaca dengan terengah-engah.
"Kukira kamu enggak akan datang!" Kuhampiri Desi yang sedang mengatur napasnya. Dia terlihat berantakan, tidak seperti biasanya yang akan selalu memedulikan penampilan di atas segalanya, bahkan saat akan ke lahan dan diberi tugas membuka lahan saja, dia tidak akan membuat wajahnya tanpa riasan.
"Hah, Jeng, hampir telat aku!" Desi meletakkan tasnya di rak yang terletak di sudut ruangan. "Anggota dari kelompok yang lain mana?"
"Mereka belum datang, entahlah!" Desi hanya mengangguk dan mulai melakukan tugasnya, sedangkan aku yang sudah selesai dengan tugasku hanya menunggunya. Malas rasanya jika ke kelas dan berjalan sendirian.
"Kayaknya mereka nanti siang datangnya. Padahal, kan, tanamannya bisa saja mati!" Desi lantas tanpa dimintai tolong menyiram juga tanaman milik kelompok lain. "Eh, iya. Belum dokumentasi, loh!"
Aku tidak terlalu mendengarnya, kini pikiranku masih terbayang Yogi yang semalam mengigau menyebut nama Difa dan tersenyum. Walau di dalam mimpi, sepertinya Difa benar-benar akan sulit dipisahkan dengan Yogi.
"Jeng!" Seruan Desi membuatku tergagap dan menatapnya yang terlihat menatapku kesal sembari menyodorkan ponselnya. Aku lekas menghampirinya dan mengambil ponsel tersebut. "Fotoin, dong, buat dokumentasi!" Aku hanya mengangguk dan mulai mengambil dua foto dokumentasi untuknya.
"Sini, giliran kamu." Desi merebut ponselnya dariku. Dia mendorongku mendekat ke tanaman kelompokku. "Buruan, nih pura-pura kamu lagi siram tanamannya!"
"Des, sudah, kan?" Desi hanya mengangguk.
"Wah, kalian sudah sampai, ya!" Salah satu mahasiswa datang lagi untuk melakukan tugasnya. Dia terlihat tampak canggung kepada kita berdua.
Aku tahu, dia menyukai Desi. Namun, anehnya dia masih belum juga mengatakannya kepada sahabatku itu, mungkin karena Desi terkenal cuek dan juga dia bukan tipenya. "Eh, kalian mau ke mana?"
"Kelas," jawab Desi cuek tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. "Yuk, Jeng!"
"Ah, iya!" Aku melirik ke arah Rido—teman sekelasku yang menyukai Desi itu—dia terus memperhatikan Desi yang sudah keluar. "Do, duluan, ya. Oh, ya, tadi sebagian sama Desi sudah disiram!"
__ADS_1
Wajah Rido tampak berseri setelah aku mengatakannya, aku tahu dia pasti senang. "Semangat, ya, semoga berhasil!" Aku lekas keluar meninggalkan Rido yang terbengong dengan ucapanku. Ya, dia tidak tahu kalau aku sudah tahu tentang perasaannya kepada Desi.
Siapa juga yang tidak tahu tentang perasaannya itu, bahkan semua teman di kelas dan di kelas lain pun tahu. Kentara sekali dan aku yakin Desi pun tahu, tetapi pura-pura tidak tahu.
"Kamu kenapa, sih, lama banget? Ngobrol apa sama Rido?" Aku hanya tersenyum tipis sembari menggamit lengan Desi dan mengajaknya pergi ke kelas. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum kelas pertama di mulai dan mungkin sebelum itu aku akan mengajak Desi ke kantin dulu.
"Enggak ada!"
"Kirain pacaran, selingkuh dari Sultan!" Ucapan Desi membuatku mengerutkan dahi. Enak saja dia bilang begitu. Ah, andai saja aku bisa memberitahu dirinya kalau aku sudah menikah dengan Yogi, tetapi tidak mungkin kukatakan karena Desi bisa saja langsung memberitahu Difa. Mereka sepupu.
"Jangan ngaco. Enggaklah, dia bukan tipeku!"
"Tipe kamu yang gimana memangnya? Ah, ya, kenapa juga tanya, pastinya Sultan!" Desi terkekeh dan aku menggeleng pelan.
"Yogi!" ucapku singkat. Namun, karena ucapanku tersebut Desi langsung berhenti. Dia menatapku curiga. "Des, kenapa? Salah, ya?" tanyaku gagap.
"Kamu yakin sama jawaban kamu itu? Tipe kamu sebenarnya kayak Yogi?" Aku mengangguk tanpa merasa ragu sama sekali. "Yakin?"
"Yakin, memang ada yang salah?"
"Ah, iya ... itu, sebenarnya memang tipeku tentu saja Yogi, tapi karena aku pacarannya sama Sultan, jadi tipeku tentu saja sekarang Sultan!" Otakku seperti sedang konslet dan membuatku bicara gugup.
"Dih, sampai berkeringat gitu!" Desi memilih berjalan mendahuluiku. Ternyata benar, aku sampai berkeringat hanya karena takut Desi curiga. "Jeng!"
***
"Kamu kenapa nekat ke sini, sih?" Yogi menyerahkan helm kepadaku, dia mengabaikan aku yang menggerutu kesal karena tidak biasanya dia akan menjemput dan menungguku di parkiran fakultas. Biasanya juga dia akan menungguku di pintu masuk ke fakultas pertanian. "Gimana kalau Desi tahu?"
"Memangnya kenapa kalau dia tahu?" Aku yang hendak naik ke motor, mengurungkan niat dan menggetok helmnya karena kesal. "Jeng, kenapa, sih?"
"Kamu yang kenapa! Kenapa kamu seolah-olah enggak peduli kalau Desi tahu?" Bukannya takut karena aku sedang memasang wajah kesal, dia malah terkekeh dan menurunkan tanganku yang sedang berada di pinggang. "Kamu enggak takut kalau Difa tahu?"
Yogi malah menggeleng dan menyuruhku untuk segera naik ke motor. "Sudah, yuk. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat dulu sebelum pulang!"
__ADS_1
"Ke mana?" tanyaku yang masih setia berdiri di sampingnya.
"Naik dan duduk dengan tenang, setelah itu aku kasih tahu. Bukannya kamu enggak mau kalau Desi tahu?" Aku mendengkus kesal dan memilih mengalah. Kuturuti saja kemauannya itu.
Lagi-lagi Yogi berulah, belum juga sempat berpegangan, dia sudah menjalankan motornya dan hampir saja membuatku terjatuh.
Beruntung saja di parkiran sudah sepi dan hanya ada beberapa motor saja, sehingga suara teriakanku tidak membuat kehebohan. "Yogi!"
"Pegangan, dong, biar romantis!"
"Sudah!"
"Jeng, kenapa kamu sekarang takut kalau Desi tahu aku jemput kamu? Bukannya kamu mau dia dan semua orang tahu tentang kita?" tanya Yogi saat kami keluar dari area fakultas pertanian.
"Aku suka, banget malah. Cuma kalau caranya begitu yang ada kamu sama Difa akan bertengkar. Aku dan Difa akan jadi musuh, mungkin. Lebih baik kasih tahu dia dan Sultan baik-baik secara langsung, daripada mereka tahu lewat orang lain. Ya aku tahu, kemungkinan mereka enggak akan terluka terlalu kecil." Yogi hanya mengangguk, aku pilih merapatkan tubuh kami. "Kapan kamu akan kasih tahu Difa?" tanyaku sembari memperhatikan langit sore yang tampak indah.
"Aku belum tahu, Difa masih sibuk sama tugas kampusnya, Jeng!" Selalu akan ada saja alasan yang buat Yogi menunda untuk memberitahu tentang hubungan kami dan membuatku masih belum bisa memberitahu Sultan. "Jeng!"
"Ya?" Yogi hanya menggeleng dan aku memilih untuk tidak bertanya lagi, bahkan aku sudah tidak berminat menanyakan dia akan membawaku ke mana.
Motor Yogi memasuki halaman sebuah cafe yang terlihat ramai. Sepertinya cafe baru buka karena dua hari lalu melewati tempat ini, cafe tersebut belum ada.
"Baru, ya?" Yogi mengangguk. Dia melepaskan helmku dan merapikan rambutku yang sedikit berantakan. "Kok kamu bisa tahu, sih?" tanyaku penasaran.
"Tahu, dong. Apa, sih, yang Yogi enggak tahu?" Dia meraih tanganku dan mengajak memasuki cafe. Namun, baru saja kami berada di teras cafe, Yogi terlihat panik dan menarikku kembali ke parkiran. "Kita ke sininya nanti malam saja, ya!"
"Kenapa?"
Jakun Yogi naik turun, dia terlihat sekali sedang gugup. Dia hanya menggeleng lalu menyerahkan helm kepadaku. "Kita sekarang pulang saja dulu, ya. Nanti malam aku janji akan bawa kamu ke sini!" Tidak kunjung kuambil helm tersebut membuatnya memilih memakaikannya.
"Sebenarnya ada apa, sih?" tanyaku yang mulai kesal. Kenapa juga Yogi tiba-tiba terlihat panik begitu. Penasaran dengan apa yang dilihatnya tadi, aku memutuskan kembali ke cafe. Namun, Yogi berhasil menahanku.
"Ada Difa, Jeng. Aku enggak mau dia salah paham kalau lihat kita datang bareng-bareng ke sini. Lagipula tadi aku bohong sama dia kalau bilang akan langsung pulang karena pusing!"
__ADS_1
Mendengar ucapan Yogi membuatku benar-benar kecewa, padahal tadi dia bicara penuh percaya diri kalau tidak peduli Desi atau Difa sekali pun tahu tentang mereka. Namun, kenyatannya, Yogi sampai ketakutan begitu.
Kutatap lekat matanya dengan mata yang mulai berembun. "Kamu sebenarnya masih cinta sama Difa, kan? Kamu takut dia terluka, kan?"