Asing Jadi Cinta

Asing Jadi Cinta
Salah Sangka?


__ADS_3

Akhirnya aku memilih ikut Sultan ke toko alat musik, menemaninya membeli senar gitar untuk mengganti senar gitarnya yang putus. Aku terpaksa ikut karena Yogi tidak kunjung membalas pesanku.


Awalnya aku mengabaikan ajakan Sultan karena tidak ingin mengecewakan Yogi, tetapi Yogi malah mengabaikan pesanku yang sudah beberapa menit terkirim.


"Aku di sini saja, ya."


"Kamu yakin?" Aku hanya mengangguk, meski kutahu Sultan kecewa karena aku tidak ikut menemaninya masuk ke toko. "Ya sudah, aku akan cepat kembali!"


"Iya, sana masuk. Aku tunggu di sini saja!" Seulas senyum semanis mungkin kuberikan untuk Sultan yang menghela napas pelan. Dia hanya mengangguk dan lekas memasuki toko musik itu.


Sembari menunggu Sultan dengan keperluannya, aku kembali mengecek pesan yang kukirim ke Yogi dan tetap saja sama. Yogi belum juga membaca pesanku.


Dia terakhir kali online lima menit sebelum aku mengirimi pesan kepadanya. "Dia kenapa enggak balas pesanku, sih? Apa dia sama Difa?"


Rasa cemas itu berhasil membuatku menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang Yogi lakukan. Tadi pagi jelas sekali kuingat kalau dia mengatakan akan langsung menjemputku setelah kelas selesai.


Kebetulan hari ini kelas kami selesai di jam yang hampir bersamaan, walau kami beda fakultas.


"Ajeng!" Aku lekas berbalik saat seseorang memanggil namaku. Mataku membelalak, menahan kesal saat melihat orang yang sedang kupikirkan dengan santainya berjalan ke arahku bersama pacarnya.


Tidak mau menaruh curiga, aku mencoba bersikap biasa saja. Mengabaikan kehadiran Yogi seperti biasa ketika berada di dekat Difa.


"Kamu di sini sama siapa? Sultan?" Difa terlihat antusias. Dia menggenggam kedua tanganku dengan pandangan mencari keberadaan Sultan, sedangkan aku memilih menatap tajam ke arah Yogi yang berdiri di belakang Difa dengan kikuk.


"Sultan mana?" tanya Difa kembali.


"Dia di dalam!" Tidak nyaman berada di dekat wanita yang menjadi kekasih suami sendiri, dengan sedikit kasar kutarik tanganku dan tersenyum yang dipaksakan kepada Difa. "Kalian mau ke toko ini juga?" tanyaku sambil melirik Yogi yang tetap diam.


"Oh, itu tadi aku sama Yogi baru dari toko sebelah sana." Difa menunjuk toko buku yang berada di barisan toko musik. Hanya berjarak beberapa meter saja. "Nih, tadi aku beli buku buat keponakanku yang dirawat kena tipus. Maklum, dia tuh suka banget baca buku dan karena nangis terus minta pulang, makanya aku belikan ini sebelum ke rumah sakit!" Difa bicara panjang lebar dengan antusias sambil memperlihatkan buku-buku bacaan untuk anak-anak, padahal aku sama sekali tidak terlalu menghiraukannya.


"Jeng, aku sudah selesai. Loh, kalian!" Sultan sudah selesai dengan keperluannya. Aku lekas menghampiri Sultan dan menggamit lengannya, manja. Sengaja aku melakukannya di depan Yogi biar dia tahu bagaimana perasaan kesal karena cemburu.


"Sudah?" Kutatap Sultan sembari tersenyum. Sultan hanya mengangguk sambil memperlihatkan barang yang dia beli. "Kalau gitu antar aku pulang!"


"Eem, kita makan dulu, ya. Aku kelaparan karena tadi pagi dan siang belum sempat makan!"

__ADS_1


"Sultan kok bisa, sih? Kamu mau sakit? Mau buat aku sedih?" tanyaku sembari merajuk. Akan kubuat Yogi makin cemburu dengan tingkahku dan sikap manis yang Sultan berikan, dia terkekeh pelan sembari mengusap rambutku.


"Aih, romantisnya udahan, dong. Buat iri saja!" Ucapan Difa membuatku melepas pelukan pada lengan Sultan. "Oh, ya. Gimana kalau kita makan bareng. Kebetulan aku tahu tempat makan yang enak di sekitar sini!"


"Gimana?" Aku melirik ke arah Sultan yang langsung setuju dan akhirnya aku mengangguk setuju juga.


"Ya sudah, yuk." Difa lekas meraih tangan Yogi dan mengenggamnya erat. Di dalam hati aku tertawa puas saat melihat wajah Yogi yang sedang menahan marah. Sampai-sampai Yogi menepis tangan Difa dan meninggalkan kami begitu saja.


"Duh, maafin tingkahnya Yogi, ya. Aku susul dia. Nanti kalian ikutin saja motor kita!" Difa lekas mengejar Yogi yang berjalan dengan langkah cepat.


Kuperhatikan Yogi saat memasangkan helm kepada Difa, seolah sengaja melakukannya untuk membuatku cemburu. Aku harus memperlihatkan kepada Yogi kalau aku bisa membalasnya dengan impas.


"Jeng, melamun saja!" Sultan menyentuh hidungku dengan telunjuknya.


"Enggak, kok!"


"Yuk, nanti kita ketinggalan mereka. Tuh, mereka sudah keluar dari parkiran!" Aku membiarkan saja saat Sultan menarik tanganku pergi ke mobilnya yang diparkir.


Mobil Sultan mengikuti motor Yogi yang berjalan perlahan. Sungguh aku menahan kesal saat melihat Difa memeluk erat pinggang Yogi.


"Kamu bilang apa, Jeng?" Sultan memperhatikan diriku dengan tatapan bingung.


"Enggak ada!"


Sultan hanya mengangguk dan kembali fokus menyetir. "Tadi kukira kamu tadi ajak aku bicara, tapi suara kamu kecil, jadi enggak kedengaran jelas."


"Oh, itu ... aku lagi coba hapalin lirik lagu gitu!" Sudahlah, biarkan saja aku berbohong. Toh, sudah banyak kebohonganku kepada Sultan sejak pernikahan itu terjadi.


"Lagu apa?"


Duh, bingung sendiri akhirnya. Mana aku tahu lagu apa yang lagi kuhapalkan. "Pasti enggak mau kasih tahu!" Aku tersenyum canggung karena jawaban Sultan. "Ya sudah, tapi nanti kalau sudah hapal aku mau dengar, ya, dikit aja kok!"


"Nanti deh, enggak janji!" Sultan mengangguk dan tersenyum manis. Ah, melihat senyum tulus Sultan rasanya tidak tega melihatnya terluka saat dia tahu kalau kekasihnya ini sudah menikah dan begitu mencintai suaminya.


Aku mengerutkan dahi saat melihat motor Yogi berhenti di depan warung mie ayam pangsit yang menjadi tempat favoritku dan Yogi. Tidak menyangka sama sekali kalau Yogi juga membawa Difa makan di tempat favorit kami.

__ADS_1


"Tan, apa sebaiknya kita enggak ikut mereka?" Aku menahan Sultan yang akan melepas sabuk pengamannya, dia menatapku dengan bingung.


"Memang kenapa?"


"Kamu belum makan apa pun dari pagi, kalau makan mie aku takut kamu sakit perut!"


Sultan tertawa pelan. "Tenang saja, perutku kebal sama yang begituan. Lagipula aku memang pengin banget makan mie, sudah lama enggak makan mie!" Sultan akhirnya melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.


Hah, kalau begini dengan terpaksa aku ikut keluar juga.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Difa saat kami memasuki warung yang terlihat sepi itu. Pembelinya saat ini hanya kami berempat saja.


"Memang ada apa saja di sini?" tanya sultan antusias. Dia terlihat begitu semangat untuk melihat menu apa saja yang dijual.


"Aku samakan saja sama kamu, ya!" Sultan mengangguk, di saat Sultan dan Difa sedang memesan, aku memutuskan menghampiri Yogi yang duduk sendiri sembari memainkan ponselnya.


"Ternyata alasan kamu sampai enggak balas pesanku karena Difa?" Yogi terkejut, dia menatapku sembari memasukkan ponselnya ke saku celana.


"Jeng ...."


"Sudahlah, lagipula aku harusnya tahu kalau kamu memang enggak pernah bisa tolak permintaan Difa, bahkan aku enggak sangka kalau kamu juga sudah ajak Difa ke tempat ini!" Yogi menatapku lekat dengan satu alisnya terangkat.


"Kamu salah paham, Jeng!"


"Aku ...."


"Kalian ngobrolin apa?" Difa tiba-tiba saja bergabung dan membuatku mengurungkan untuk membalas ucapan Yogi. "Sudahlah, ngapain aku malah jadi kepo, ya!" Difa terkekeh pelan. "Oh, ya, kalian pasti baru pertama ke sini, kan?"


Aku dan Yogi sejenak berpandangan lalu memilih mengangguk, mengiyakan saja ucapan Difa walau sebenarnya setidaknya sudah tiga kali kami ke tempat ini. "Mie ayam di sini tuh enak banget dan terkenal, padahal masih terbilang baru loh," ucap Difa antusias.


"Kalian sudah sering ke sini?" tanyaku penasaran.


Difa menggeleng, dia memeluk lengan Yogi dan membuatku sesak, ingin sekali menarik paksa Yogi agar menjauh. Namun, aku tidak bisa melakukannya . "Enggak, baru pertama aku ajak Yogi ke sini. Aku pertama kali ke sini sama sepupuku!"


"Eh!" Aku terkejut telah salah sangka dan Yogi menyeringai kepadaku, dia terlihat begitu puas telah berhasil membuatku merasa bersalah karena telah salah paham kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2