
Setelah setengah jam menunggu di halte bus seorang diri dekat rumahku yang dibiarkan kosong, Yogi akhirnya datang juga.
Tanpa mengatakan apa-apa, dia langsung saja menyerahkan helm yang pastinya tadi dipakai Difa. "Maaf lama, kejebak macet tadi di depan!"
Aku hanya mengangguk dan duduk anteng di jok motor. "Enggak pegangan, nih?"
Aku melirik Yogi yang tersenyum lewat kaca spion lalu membuang muka kesal. "Ya sudah, tapi aku enggak tanggung jawab kalau kamu jatuh, ya!"
Setelah mengatakannya, Yogi langsung saja mengegas motornya dan hampir saja membuatku terjungkal. Melihat wajahku yang ketakutan, Yogi malah ketawa. "Makanya, pegangan, dong. Kita, kan, masih pengantin baru, yang romantis gitu!"
Takut Yogi mengerjaiku lagi, aku memilih memeluknya dan menyembunyikan wajahku yang tidak bisa lagi menahan senyum. "Oke, siap, ya!"
Yogi lekas mengendarai motornya dengan kecepatan pelan, tidak seperti biasanya saja dan aku memilih untuk tidak bertanya. Menikmati suasana malam dengan keadaan gerimis menambah kesan romantis di antara kita, apalagi tangan kiri Yogi saat ini mengenggam tanganku.
"Loh kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang, kan?" tanyaku heran saat Yogi memilih melalui jalan yang bukan ke arah jalan pulang. Jalan yang dilaluinya kini malah membuat perjalanan kami makin lama sampai rumah.
Aku mengerutkan dahi saat tidak sepenuhnya mendengar apa yang Yogi katakan atau sebenarnya Yogi memang tidak mengatakan apa pun. Ramainya kendaraan di jalanan dan karena sedang memakai helm membuatku menjadi budeg.
"Kamu bilang apa, ya? Suaranya enggak jelas!" seruku dengan merapatkan tubuh dan mensejajarkan kepala kami. Yogi tidak menggubris dan malah menambah kecepatan.
Dalam keadaan bingung karena tidak tahu akan dibawa ke mana, dari jarak yang tidak terlalu jauh aku melihat bianglala dan mendengar riuh suara yang ramai.
"Pasar malam?" gumamku yang sekarang sedang terpesona dengan bianglala yang sedang bergerak perlahan itu.
Motor melaju makin pelan saat melalui pejalan kaki dan memasuki parkiran yang gelap karena minim lampu.
"Maju lagi, Mas!" Seruan seorang pria kurus yang menjadi petugas parkir yang membunyikan pluit untuk menertibkan pengendara lain itu, sama sekali tidak membuatku mengalihkan pandangan pada wahana yang ada di pasar malam.
"Kamu tahu tempat ini dari mana? Padahal jalanan ini enggak kita lalui untuk ke kampus!" Aku terheran karena Yogi bisa tahu tempat ini.
Bukannya menjawab, dia hanya tersenyum sembari melepaskan helmku. "Yuk!" Aku mengikuti langkahnya di antara motor yang terparkir tidak rapi, jalanan yang becek, dan keadaan remang.
__ADS_1
"Kamu suka?" Aku mengangguk semangat tanpa menatapnya. Kini tatapanku tertuju pada bianglala yang tampak kokoh dan sedang melambai-lambai memanggilku, meminta untuk dinaiki. "Mau naik bianglala?"
"Boleh?" tanyaku senang.
"Tentu. Kita beli karcisnya dulu!" Yogi yang sejak dari parkiran terus mengenggam tanganku, sekarang membawanya ke sebuah loket. "Dua orang, Mbak!"
"Lima puluh ribu!" Mendengar nominal harga yang disebutkan wanita penjaga loket itu membuatku terkejut. Aku tidak menyangka harga karcisnya semahal itu, padahal terakhir kali pergi dengan Ayah tiga tahun lalu, harganya tidak segitu. Atau si penjaga asal tembak harga?
Ah, sudahlah lupakan saja.
"Kita antre, dulu!" Kami ikut berbaris di antrian yang tidak terlalu panjang. Kebanyakan yang sedang mengantri saat ini pasangan dan remaja.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, akhirnya kami memasuki sangkar bianglala itu. Namun, baru saja bianglala mulai bergerak, kulihat wajah Yogi pucat dan berkeringat.
"Kamu kenapa?" Yogi hanya menggeleng dengan seulas senyum yang dipaksakan. "Tangan kamu dingin banget. Kamu takut ketinggian?"
"Sedikit, tapi demi kamu, aku rela!" Yogi mencoba tetap tenang, meski aku yakin dia saat ini benar-benar ketakutan. Ucapannya itu membuatku terharu. Untuk mengurangi ketakutannya, kugenggam erat tangannya dan menyuruhnya hanya untuk menatapku saja.
"Kamu cantik, Jeng!"
"Aku tahu!" Saat kami sudah berada di puncak, Yogi makin panik sampai memejamkan matanya. Aku benar-benar merasa kasihan, seharusnya tadi biar aku saja yang menaiki bianglala dan dia menunggu saja di bawah. "Yogi, buka saja matanya. Jangan takut!"
"Ini lebih mengerikan ternyata, dibanding naik pesawat!" Aku hanya tersenyum mendengar keluhannya itu, kuusap wajahnya yang berkeringat sembari memandangi keindahan yang teramat dekat denganku saat ini. Matanya yang gelisah tetap mencoba membalas tatapanku.
Lain kali, aku tidak akan pernah lagi mengizinkan Yogi menemaniku naik bianglala atau kejadian seperti ini akan berulang. Baru saja keluar dari sangkar bianglala, dengan buru-buru Yogi menarik tanganku menjauh dari kerumunan. Dia memuntahkan isi perutnya di tempat yang tidak jauh dari motornya terparkir, beruntung saja sedang sepi karena semua pemilik motornya berada di pasar malam itu.
"Sudah selesai?" tanyaku kesal bercampur kasihan. Yogi hanya mengangguk dan memilih berjongkok, pasti kepalanya terasa pusing. "Kamu masih kuat enggak? Atau kita pulang saja, yuk!"
"Kepalaku pusing, Jeng." Aku ikut berjongkok dan tanpa merasa jijik kuusap sekitar bibirnya yang basah bekas muntahan dengan tangan.
"Kita pulang saja, ya!"
__ADS_1
"Kamu yakin?"
"Iya. Lagipula kita sudah di parkiran juga." Yogi kelihatannya enggan untuk langsung pulang karena kami belum menikmati suasana pasar malam. "Makasih karena kamu sudah bawa aku ke sini, tapi sekarang lebih baik kita pulang!"
"Huh, padahal mau romantisan sama kamu loh di sini!" Aku terkekeh pelan saat dia terlihat kesal begitu.
"Kunci motornya mana?"
"Buat apa, Jeng?" Aku tidak menggubrisnya dan memilih mencari kunci motor di saku celananya. "Masalahnya kamu, kan, enggak bisa bawa motor, Jeng!" Dia menahan tanganku yang masuk ke saku celananya untuk mengambil kunci tersebut.
"Aku bisa kok!"
"Kamu yakin? Tapi minggu lalu kamu ...."
"Itu cuma apes saja, Gi. Sekarang keadaan darurat dan aku enggak mau kita celaka kalau kamu yang kendarai karena kamu lagi lemas begitu!" Yogi akhirnya mengalah dan aku bisa mengambil kunci tersebut.
***
Ternyata mengendarai motor di malam hari dengan hanya mengandalkan lampu penerangan jalan dan lampu motor saja, memiliki ketegangan yang berbeda saat melakukannya di siang hari. Namun, demi membawa Yogi pulang dengan selamat, aku memilih berani.
"Ternyata kamu memang bisa mengendarai motor, ya!" ledek Yogi karena kejadian aku dimarahi pengendara lain setelah beberapa kali hampir saja menabrak mereka. Hal itu karena lupa mengerem saat lampu merah.
"Menyebalkan, yang penting selamat, kan?"
"Iya deh, percaya!" Yogi bergabung denganku yang sedang menonton drama Korea di laptop. "Jeng, untuk tadi sore aku minta maaf. Aku sudah berusaha menolak Difa, tapi dia tetap memaksa!"
Aku hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar Laptop. "Tapi berkat dia, akhirnya aku tahu kalau ada pasar malam di sana!"
"Jadi Difa yang kasih tahu kamu?" Aku memilih mematikan laptop dan menaruhnya di samping.
"Iya, dia yang ajak aku untuk ke sana tadi, tapi kutolak karena aku cuma mau ke sana sama kamu!"
__ADS_1
Tunggu ... tunggu! Yogi bicara begitu bukan untuk membuatku tidak jadi marah, kan? "Jeng, seriusan deh! Ini kali pertama juga aku pergi ke pasar malam dan itu sama kamu. Selama ini aku hanya tahu dan lewati saja." Yogi terlihat panik karena aku masih diam saja dan menatapnya dengan lekat.