Astrophile

Astrophile
Episode 1


__ADS_3

Jogjakarta, 2015


Di hadapan cermin tua, gadis berseragam SMA itu sedang


termenung memandangi bayangan dirinya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai


begitu saja tanpa asesoris. Beberapa hari yang lalu usianya genap tujuh belas


tahun. Namun tujuh belas tahunnya tidak semeriah kebanyakan remaja di luar


sana. Gadis itu justru teringat akan perkataan mamanya semalam yang membuat ia


enggan berangkat sekolah hari ini.


Ia menghembuskan napas dalam, lalu mengambil botol parfum


beraroma vanila dan menyemprotkan ke seragamnya. Aroma vanila itu menguar


memenuhi ruang kamarnya yang tidak begitu luas. Gadis itu memeriksa kembali isi


tas sekolahnya, memastikan tidak ada barang yang tertinggal.


Merasa semuanya sudah beres, ia melangkah keluar kamar.


Diliriknya arloji yang melingkar di tangan kirinya, jarum jamnya menunjukkan


pukul enam lebih dua puluh menit.


“Sudah mau berangkat, Nduk?”


tanya seorang perempuan setengah baya yang tengah menuangkan teh panas ke dalam


cangkir.


“Sudah, Bu,” jawabnya.


“Yo wes, hati-hati


di jalan, ya! Yang bener sekolahnya, belajar yang serius,” ujar Bu Ratih sambil


mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan.


“Maturnuwun, Kanaya


berangkat dulu,” pamitnya.


Gadis itu menerimanya, memasukkan ke dalam saku, lalu


mencium punggung tangan ibunya. Di halaman rumah, ayahnya sedang mengelap


sepeda onthel tua yang sudah mulai berkarat. Kanaya menghampiri ayahnya untuk


berpamitan. Dengan langkah gontai, remaja berusia tujuh belas tahun itu

__ADS_1


berangkat menuju sekolahnya.


Jalanan Jogja di pagi hari memang selalu ramai. Meski


tidak berdomisili di tengah kota, namun keramaian orang-orang yang berkendara


di pagi hari cukup membuat jalan yang Kanaya lewati menjadi sedikit macet,


apalagi jika lampu merah sedang menyala di persimpangan.


Kurang lebih lima belas menit, Kanaya tiba di sekolahnya.


Gadis itu berjalan menyusuri koridor sekolah, kelasnya berada di paling ujung


lantai satu.


“Nay, wis garap PR


fisika?” tanya Edo yang langsung menghampiri bangku Kanaya begitu gadis itu


duduk.


“Sudah,” jawabnya singkat.


“Boleh aku pinjam dulu? Aku masih kurang satu soal. Nomor


lima susah bnget, meh tak kerjain


semalam di rumah tapi nggak bisa e.”


dari dalam tasnya dan memberikan kepada Edo. Ternyata tidak hanya Edo yang


sedang sibuk menyalin PR, teman-teman yang lain pun sama, dan mayoritas


laki-laki.


Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi di mata


Kanaya. Sejak duduk di bangku SMP dulu, teman-temannya juga sering sekali


mengerjakan PR di sekolah dengan alasan lupa, atau soalnya terlalu susah. Namun


hal itu tidak pernah terjadi pada Kanya. Karena jika sudah menyangkut tugas,


Kanaya selalu mengerjakannya tepat waktu.


Sebagai murid yang pandai dan rajin, Kanaya juga tidak pernah pelit


memberikan contekan tugas untuk teman-temannya. Kecuali saat ulangan. Karena bagi


Kanaya, ulangan harian adalah bukti kesungguhan dalam belajar.


“Geser dikit, Do!” Naufal tiba-tiba duduk di seblah Edo untuk meminta contekan yang sama.

__ADS_1


“Tumben, Fal. Biasanya rajin.” Edo menggeser sedikit


posisi duduknya.


“Semalam ketiduran sampai lupa ada PR. Bagun-bangun udah


subuh,” jelas Naufal tanpa menatap Edo. Mata dan tangannya gesit menyalin tugas


milik Kanaya.


Pukul tujuh tepat saat bel masuk berbunyi, buku tugas


milik Kanaya baru saja dikembalikan. Pelajaran pertama hari ini adalah fisika


yang diampu oleh Bu Eko. Meski Kanaya cukup pandai dalam bidang akademik, namun


dia tidak begitu menyukai mata pelajaran satu ini.


“Bisa nggak sih mata pelajaran fisika diskip aja, otakku rasanya jadi keriting


setiap ada pelajaran fisika,” keluh Kanaya kepada Hasya, teman sebangkunya.


“Kalau sekolah ini nggak ada sanksi buat siswa yang


bolos, pasti setiap pelajaran fisika udah tak ajak kabur kamu, Nay. Otakku juga rasanya selalu mendidih setiap kali


pelajaran fisika,” jawab Hasya sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya.


“Kenapa ya, Sya? Kurikulum di negera ini tuh enggak


dibuat merdeka aja gitu? Jadi setiap siswa SMA bisa langsung fokus belajar


sesuai dengan passionnya.”


“Maksudnya, Nay?”


“Ya misal anak-anak yang passionnya di bidang olahraga, literasi, atau seni, udah nggak


perlu lagi belajar ilmu fisika atau kimia yang njlimet kaya gini.”


“Hahahaa... nunggu kamu yang jadi menteri pendidikan aja,


Nay. Atau tunggu kamu jadi guru, jadi bisa menyuarakan unek-unekmu ini.”


“Huft..” Kanaya menghela napas panjang. Setelahnya, Bu


Eko masuk ke kelas mereka.


Bu Eko merupakan salah satu guru di sekolah ini yang


paling tertib jika sudah menyangkut ***. Tidak ada lima menit setelah bel


berbunyi, Bu Eko pasti sudah berada di dalam kelas.

__ADS_1


~0o0~


__ADS_2