Astrophile

Astrophile
Episode 5


__ADS_3

Cuaca mendung dan langit sedang menurunkan hujan seperti


sekarang memang paling enak menyantap sesuatu yang berkuah dan hangat. Semangkuk


mie instan dan teh hangat menjadi pilihan Kanaya, Hasya dan Edo untuk menemani


mereka menunggu hujan reda. Untung saja, kantin Bu Ririn selalu tutup paling


akhir.


“Boleh minta kecapnya, Bu?” tanya Edo saat Bu Ririn


mengantarkan pesanannya.


“Ya boleh banget to, Mas Edo! Sebentar, ya.” Bu Ririn


bergegas menuju ke dapur, lalu kembali dengan nampan yang tidak hanya berisi


kecap, namun juga ada dua bumbu pedas pelengkap, yaitu saus dan sambal.


“Mangga, Mas..”


Bu Ririn mempersilakan dengan mengacungkan ibu jarinya.


“Maturnuwun,


Bu..” Edo berterima kasih.


“Wah, sambelnya menggoda


banget, nih.” Kanaya mengambil


mangkuk sambal di depan Edo.


“Nggak usah kebanyakan, Nay. Nanti mules baru tahu rasa!”


Hasya memperingatkan.


“Kaya nggak paham Kanaya aja sih, Sya. Mana bisa dia


makan kuah-kuah gini tanpa sambel yang menggunung!” timpal Edo.


“Tenang, masalah itu aman, kok. Nanti di rumah diimbangi


sama makan buah, sayuran juga.” Kanaya membela diri.


“Indomie kuah rasa soto bikinan Bu Ririn emang enggak ada


lawan, sih. Dari segi kuahnya, tekstur mienya, apalagi telur setengah mateng


ditambah daun bawangnya. Beuh, enak pol.”


Edo mulai menyantap mienya setelah mencampur semua bumbu.


“Jangan lupa baca bismillah,” ujar Kanaya.


“Bismillahirrahmanirrahiim..”


ucap mereka serempak.


Tidak hanya mereka bertiga yang memilih kantin untuk


menjadi tempat menunggu hujan reda sebelum pulang. Beberapa siswa yang lain


juga memilih melakukan hal yang sama, sambil menghabiskan sisa uang saku di


kantong mereka.


Tidak ketinggalan segerombolan kakak kelas yang terkenal


centil dan suka tebar pesona kepada banyak siswa laki-laki juga sedang


berkumpul sambil menyantap tempe mendoan yang baru saja diangkat dari


penggorengan.


“Dicariin kemana-mana ternyata di sini kamu, Nduk!”


Dhimas tiba-tiba datang dan mengusap kepala Hasya.


Gadis dengan rambut yang sedikit ikal itu mendongakkan


kepalanya. “Kan akhwu thadwi udwah bwilangh,” ucapannya tidak jelas karena


masih mengunyah mie.

__ADS_1


“Dikunyah dulu pelan-pelan, baru ngomong..” Dhimas


mengambil posisi duduk di sebelah Edo supaya bisa brhadapan dengan Hasya. “Boleh


gabung, kan?”


“Boleh banget.. duduk sini, Bi!” Edo menarik kursi di


sebelahnya lagi yang masih kosong untuk Abimanyu. Jangan heran, ingat kata Rani


tadi. Keduanya sudah seperti pinang dibelah dua.


Abi yang sejak tadi hanya berdiri dengan mengantongi


tangan di saku celananya menerima kursi tawaran Edo. Kini dia duduk berhadapan


dengan Kanaya.


“Kan aku tadi udah bilang, Mas. Coba cek BBM kamu, tadi


aku ngirim chat kalau aku mau makan di kantin dulu sama mereka,” jelas Hasya


setelah menelan makanannya.


Dhimas mengeluarkan hp dari saku celananya. “Hahaha..


maaf, ya, hpku mati ternyata.” Lalu keduanya asik mengobrol.


Kanaya menyuapkan satu sendok terakhir ke dalam mulutnya,


lalu menyeruput teh hangat yang tadi dipesannya. Rasa pedas dari kuah indomie


yang dimakannya sangat tidak nyaman di lidah, apalagi ditimpali dengan teh hangat.


Perpaduan panas dan pedas itu membuat wajahnya sempurna memerah.


Sebenarnya, ia ingin mengucapkan terima kasih kepada Abi


atas bantuannya kemarin, dan ingin mengatakan bahwa payung yang dipinjaminya


sudah ia titipkan kepada Dhimas. Namun keadaannya yang sekarang membuatnya


tidak bisa melakukan apa pun kecuali mengipasi wajahnya dengan buku paling


tipis yang berada di dalam tasnya.


mencibir.


Kanaya tidak menjawab, gadis itu terus mengipasi wajahnya


sambil menahan air matanya supaya tidak menetes. Mungkin jika dibuat film, akan


ada efek asap yang keluar dari telinga dan hidung Kanaya.


Abi beranjak dari tempat duduknya menuju meja di


sebelahnya. Mengambil tisu, lalu diberikan kepada Kanaya. “Dilap dulu


keringetnya!”


Kanaya tertegun.


“Jidatnya basah,” ujar Abi.


Kanaya segera mengambil tisu yang dibawakan Abi lalu


mengusap wajahnya yang basah karena keringat. Sejak kecil Kanaya memang suka


makan pedas. Tapi kali ini sepertinya dia memang terlalu banyak mengambil sambal


karena biasanya sambal buatan Bu Ririn tidak begitu pedas.


“Ehm, aku pulang dulu ya, Nay, Sya.” Menyadari ada


sesuatu yang tidak biasa, Edo memahami situasi.


“Kenapa buru-buru? Hujannya kan belum reda..” tanya


Hasya.


“Em, aku lupa mau ngembaliin buku ke perpus dulu, udah


mau lewat masa peminjaman,” ujar Edo sambil menuju etalase untuk membayar.


“Bye, Nay, Sya,

__ADS_1


semuanya! Sampai ketemu besok, ya!”


Hasya melambaikan tangan dengan tatapan heran. “Sejak


kapan Edo suka pinjam buku di perpus, Nay?”


Kanaya menggelengkan kepalanya dengan senyum kecut.


“Hujannya udah reda, tuh! Mau balik kapan, ***?” tanya Abi pada Dhimas.


“Mau pulang sekarang?” Alih-alih menjawab pertanyaan Abi,


Dhimas malah bertanya kepada Hasya.


“Kamu gimana, Nay? Mau pulang sekarang?” Hasya bertanya.


Dan pertanyaan itu berakhir pada Kanaya.


“Aku?” Kanaya bertanya pada dirinya sendiri. Kini ia


menjadi pusat perhatian dari ketiga pasang mata yang berada di depannya. “Oh,


iya, hayuk, mumpung hujannya udah reda.”


“Oke, Mas. Kita pulang sekarang!” Hasya bergegas


menangklong tasnya.


Keempat manusia itu lalu berjalan beriringan menuju


lantai satu setelah membayar makanannya. Sampai di lantai satu, Hasya dan


Dhimas pamit lebih dulu menuju tempat parkir. Maklum, pasangan ini memang


sedang menikmati masa berbunga-bunga. Berangkat maupun pulang sekolah harus


selalu berdua. Kalau sudah begini, Abi selalu merasa ditinggalkan.


“Abi, yang kemarin minjemin aku payung, kan?” Kanaya


bertanya memastikan.


Abi menjawab dengan anggukan tanpa bersuara.


“Maaf tadi waktu istirahat enggak ketemu, payungnya aku


titipin ke Dhimas. Udah sampai?”


“Udah..”


“Terima kasih banyak, ya!”


“Sama-sama..”


“Ya udah, aku pulang dulu, ya!” Kanaya mengeluarkan


payung lipat dari dalam tasnya. Kali ini ia tidak melupakan beda itu untuk


dibawa ke sekolah.


“Naik apa?”


“Naik angkot.”


“Ooh..” Abi menyisir rambutnyanya ke belakang. “Hati-hati,


ya!”


Kanaya hampir tidak bergeming melihat laki-laki di


sebelahnya ini yang seakan-akan sedang tebar pesona namun mengapa terlihat sangat


natural.


Ceklek!


Gadis berambut panjang itu membuka payungnya lalu berjalan


berjinjit menghindari genangan air. Sesekali ia melompat kecil supaya sepatunya


tetap aman. Tanpa ia sadari, laki-laki yang masih berdiri di ujung lorong itu


tersenyum melihat tingkahnya.


~0o0~

__ADS_1



__ADS_2