
Cuaca mendung dan langit sedang menurunkan hujan seperti
sekarang memang paling enak menyantap sesuatu yang berkuah dan hangat. Semangkuk
mie instan dan teh hangat menjadi pilihan Kanaya, Hasya dan Edo untuk menemani
mereka menunggu hujan reda. Untung saja, kantin Bu Ririn selalu tutup paling
akhir.
“Boleh minta kecapnya, Bu?” tanya Edo saat Bu Ririn
mengantarkan pesanannya.
“Ya boleh banget to, Mas Edo! Sebentar, ya.” Bu Ririn
bergegas menuju ke dapur, lalu kembali dengan nampan yang tidak hanya berisi
kecap, namun juga ada dua bumbu pedas pelengkap, yaitu saus dan sambal.
“Mangga, Mas..”
Bu Ririn mempersilakan dengan mengacungkan ibu jarinya.
“Maturnuwun,
Bu..” Edo berterima kasih.
“Wah, sambelnya menggoda
banget, nih.” Kanaya mengambil
mangkuk sambal di depan Edo.
“Nggak usah kebanyakan, Nay. Nanti mules baru tahu rasa!”
Hasya memperingatkan.
“Kaya nggak paham Kanaya aja sih, Sya. Mana bisa dia
makan kuah-kuah gini tanpa sambel yang menggunung!” timpal Edo.
“Tenang, masalah itu aman, kok. Nanti di rumah diimbangi
sama makan buah, sayuran juga.” Kanaya membela diri.
“Indomie kuah rasa soto bikinan Bu Ririn emang enggak ada
lawan, sih. Dari segi kuahnya, tekstur mienya, apalagi telur setengah mateng
ditambah daun bawangnya. Beuh, enak pol.”
Edo mulai menyantap mienya setelah mencampur semua bumbu.
“Jangan lupa baca bismillah,” ujar Kanaya.
“Bismillahirrahmanirrahiim..”
ucap mereka serempak.
Tidak hanya mereka bertiga yang memilih kantin untuk
menjadi tempat menunggu hujan reda sebelum pulang. Beberapa siswa yang lain
juga memilih melakukan hal yang sama, sambil menghabiskan sisa uang saku di
kantong mereka.
Tidak ketinggalan segerombolan kakak kelas yang terkenal
centil dan suka tebar pesona kepada banyak siswa laki-laki juga sedang
berkumpul sambil menyantap tempe mendoan yang baru saja diangkat dari
penggorengan.
“Dicariin kemana-mana ternyata di sini kamu, Nduk!”
Dhimas tiba-tiba datang dan mengusap kepala Hasya.
Gadis dengan rambut yang sedikit ikal itu mendongakkan
kepalanya. “Kan akhwu thadwi udwah bwilangh,” ucapannya tidak jelas karena
masih mengunyah mie.
__ADS_1
“Dikunyah dulu pelan-pelan, baru ngomong..” Dhimas
mengambil posisi duduk di sebelah Edo supaya bisa brhadapan dengan Hasya. “Boleh
gabung, kan?”
“Boleh banget.. duduk sini, Bi!” Edo menarik kursi di
sebelahnya lagi yang masih kosong untuk Abimanyu. Jangan heran, ingat kata Rani
tadi. Keduanya sudah seperti pinang dibelah dua.
Abi yang sejak tadi hanya berdiri dengan mengantongi
tangan di saku celananya menerima kursi tawaran Edo. Kini dia duduk berhadapan
dengan Kanaya.
“Kan aku tadi udah bilang, Mas. Coba cek BBM kamu, tadi
aku ngirim chat kalau aku mau makan di kantin dulu sama mereka,” jelas Hasya
setelah menelan makanannya.
Dhimas mengeluarkan hp dari saku celananya. “Hahaha..
maaf, ya, hpku mati ternyata.” Lalu keduanya asik mengobrol.
Kanaya menyuapkan satu sendok terakhir ke dalam mulutnya,
lalu menyeruput teh hangat yang tadi dipesannya. Rasa pedas dari kuah indomie
yang dimakannya sangat tidak nyaman di lidah, apalagi ditimpali dengan teh hangat.
Perpaduan panas dan pedas itu membuat wajahnya sempurna memerah.
Sebenarnya, ia ingin mengucapkan terima kasih kepada Abi
atas bantuannya kemarin, dan ingin mengatakan bahwa payung yang dipinjaminya
sudah ia titipkan kepada Dhimas. Namun keadaannya yang sekarang membuatnya
tidak bisa melakukan apa pun kecuali mengipasi wajahnya dengan buku paling
tipis yang berada di dalam tasnya.
mencibir.
Kanaya tidak menjawab, gadis itu terus mengipasi wajahnya
sambil menahan air matanya supaya tidak menetes. Mungkin jika dibuat film, akan
ada efek asap yang keluar dari telinga dan hidung Kanaya.
Abi beranjak dari tempat duduknya menuju meja di
sebelahnya. Mengambil tisu, lalu diberikan kepada Kanaya. “Dilap dulu
keringetnya!”
Kanaya tertegun.
“Jidatnya basah,” ujar Abi.
Kanaya segera mengambil tisu yang dibawakan Abi lalu
mengusap wajahnya yang basah karena keringat. Sejak kecil Kanaya memang suka
makan pedas. Tapi kali ini sepertinya dia memang terlalu banyak mengambil sambal
karena biasanya sambal buatan Bu Ririn tidak begitu pedas.
“Ehm, aku pulang dulu ya, Nay, Sya.” Menyadari ada
sesuatu yang tidak biasa, Edo memahami situasi.
“Kenapa buru-buru? Hujannya kan belum reda..” tanya
Hasya.
“Em, aku lupa mau ngembaliin buku ke perpus dulu, udah
mau lewat masa peminjaman,” ujar Edo sambil menuju etalase untuk membayar.
“Bye, Nay, Sya,
__ADS_1
semuanya! Sampai ketemu besok, ya!”
Hasya melambaikan tangan dengan tatapan heran. “Sejak
kapan Edo suka pinjam buku di perpus, Nay?”
Kanaya menggelengkan kepalanya dengan senyum kecut.
“Hujannya udah reda, tuh! Mau balik kapan, ***?” tanya Abi pada Dhimas.
“Mau pulang sekarang?” Alih-alih menjawab pertanyaan Abi,
Dhimas malah bertanya kepada Hasya.
“Kamu gimana, Nay? Mau pulang sekarang?” Hasya bertanya.
Dan pertanyaan itu berakhir pada Kanaya.
“Aku?” Kanaya bertanya pada dirinya sendiri. Kini ia
menjadi pusat perhatian dari ketiga pasang mata yang berada di depannya. “Oh,
iya, hayuk, mumpung hujannya udah reda.”
“Oke, Mas. Kita pulang sekarang!” Hasya bergegas
menangklong tasnya.
Keempat manusia itu lalu berjalan beriringan menuju
lantai satu setelah membayar makanannya. Sampai di lantai satu, Hasya dan
Dhimas pamit lebih dulu menuju tempat parkir. Maklum, pasangan ini memang
sedang menikmati masa berbunga-bunga. Berangkat maupun pulang sekolah harus
selalu berdua. Kalau sudah begini, Abi selalu merasa ditinggalkan.
“Abi, yang kemarin minjemin aku payung, kan?” Kanaya
bertanya memastikan.
Abi menjawab dengan anggukan tanpa bersuara.
“Maaf tadi waktu istirahat enggak ketemu, payungnya aku
titipin ke Dhimas. Udah sampai?”
“Udah..”
“Terima kasih banyak, ya!”
“Sama-sama..”
“Ya udah, aku pulang dulu, ya!” Kanaya mengeluarkan
payung lipat dari dalam tasnya. Kali ini ia tidak melupakan beda itu untuk
dibawa ke sekolah.
“Naik apa?”
“Naik angkot.”
“Ooh..” Abi menyisir rambutnyanya ke belakang. “Hati-hati,
ya!”
Kanaya hampir tidak bergeming melihat laki-laki di
sebelahnya ini yang seakan-akan sedang tebar pesona namun mengapa terlihat sangat
natural.
Ceklek!
Gadis berambut panjang itu membuka payungnya lalu berjalan
berjinjit menghindari genangan air. Sesekali ia melompat kecil supaya sepatunya
tetap aman. Tanpa ia sadari, laki-laki yang masih berdiri di ujung lorong itu
tersenyum melihat tingkahnya.
~0o0~
__ADS_1