
“Nduk, maem sek, yo!”
Ibu berdiri di ambang pintu kamar Kanaya. “Le belajar diteruske nanti lagi, itu bapak sama adikmu sudah menunggu.”
“Nggih, Buk..”
Kanaya beranjak dari kursi belajarnya, membiarkan buku-bukunya tetap terbuka.
Seperti biasa, setiap malam, keluarga ini selalu
membiasakan untuk makan bersama keluarga. Karena saat sarapan semua
terburu-buru untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing. Lalu saat makan
siang, hanya ada ibu dan Dipta-adiknya- saja di rumah. Jadi, saat makan malam
adalah waktu mereka untuk berkumpul, meskipun menu yang tersaji di meja makan
cukup sederhana.
Bagi keluarga ini, keharmonisan keluarga adalah sebuah
kemewahan yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Kalau kata lagu yang dipopulerkan
oleh penyanyi papan atas di negara ini, harta
yang paling berharga adalah keluarga.
Saat Kanaya keluar kamar, bapak dan Dipta sudah duduk di
meja makan. Malam ini ibu memasak balado terong dan tempe goreng yang dibumbui uyah bawang. Ibu juga merebus bayam
sebagai sayuran. Tidak dibuat sayur bening, hanya bayam yang direbus lalu
ditiriskan. Bagi ibu, makan sayur setiap hari hukumnya adalah wajib. Dan untuk
buahnya, ibu sudah mengupas pepaya yang dipotong kecil-kecil. Semua sayur dan
buah ini adalah hasil panen di kebun belakang.
Kebun yang dimiliki bapak tidak begitu luas, namun selalu
berbuah jika ditanami apa saja, kecuali pohon mangga. Ada banyak jenis tanaman
di kebun belakang milik bapak, namun pohon mangga yang ditanam bapak sejak Kanaya
duduk di bangku TK sampai saat ini belum pernah berbuah sama sekali. Jangankan berbuah,
pertumbuhannya saja kurang baik.
“Maem sing akeh,
Nduk,” ucap ibu sambil menyodorkan tempe goreng untuk Kanaya.
Kanaya mengambil nasi lebih dari porsi biasanya, karena rasa
balado terong buatan ibu tidak pernah ada tandingannya. Semua masakan yang
dibuat oleh tangan ibu tidak pernah mengecewakan, namun balado terong menempati
tahta tertinggi untuk kategori masakan ibu.
“Siap, Kanaya sudah siap tempur sama nasi kalau ibu masak
balado terong.”
Bapak memimpin doa sebelum makan, lalu semuanya melahap
makanan di piringnya masing-masing.
“Buk, Dipta mau nambah.” Bocah laki-laki berusia sembilan
tahun itu menyodorkan piringnya yang hampir kosong kepada ibu.
Dengan senyum yang merekah, ibu mengambilkan nasi untuk
Dipta. “Bapak mau nambah juga” tanya ibu.
“Sebentar..” bapak menunjuk piringnya yang masih berisi
__ADS_1
separuh.
“Dipta hari ini ada PR apa?” tanya ibu.
“Lupa, Bu,” ujar Dipta enteng sambil mengunyah.
“Heleh.. kamu ki
opo sing diingat?” cibir Kanaya.
“To, Mbak ke sok ngece!”
“La memang, to?
Ada PR lupa nggak nggarap, disuruh
bawa gunting sama lem ke sekolah yo lupa,
bekal makan wis dicepakke sama ibuk wae juga lupa nggak dibawa. Njuk yang diingat ki apa?”
“Ya uang jajan, lah..” jawab Dipta sambil menggigit tempe
goreng.
“Giliran duit wae paling
diingat!”
“Ya nggak papa, to?
Kalau nggak ada duit juga susah to, Mbak?”
“Sudah-sudah, Nduk..” Baru saja Kanaya ingin berargumen,
namun bapak sudah terlebih dahulu menengahi. “Habiskan makan kalian, setelah
ini Dipta belajar sama Mbak Kanaya, ya!”
“Emoh!” jawab
mereka serempak.
“Kanaya ada PR banyak, Pak. Nanti kalau ngajarin PR
Berbeda dengan Kanaya, adiknya ini memang tidak terlalu
pandai di bidang akademik. Dia lebih senang dengan aktivitas fisik. Hasil nilai
rapor kemarin saja, semua hanya mencapai KKM, kecuali olah raga.
“Dipta juga emoh belajar
sama Mbak. Sukanya marah-marah terus, wuu..”
“Iya, wes nanti
Dipta belajar sama ibuk.” Ibu menengahi perdebatan kakak beradik ini.
Wlek!
Dipa menjulurkan lidah kepada kakaknya yang dibalas
dengan hal yang sama oleh Kanaya. Rasanya memang tidak afdhol jika saudara
kandung tidak pernah bertengkar atau saling mengejek. Namun meski demikian,
sebenarnya keduanya saling menyayangi.
~0o0~
Kriing!
Handphone Kanaya berdering saat ia sedang fokus
mengerjakan tugas-tugasnya lagi. Tertulis nama Hasya di layar hp. Kanaya segera
mengangkatnya.
“Halo, Sya. Ada apa?”
__ADS_1
“Nay..” suara di ujung telepon terdengar berat.
“Iya, Sya. Ad apa?”
“Juminten meninggal.. hueeeee.” Hasya menangis kencang di
seberang sana.
Kanaya menghembuskan napasnya berat. Malam-malam begini
Kanaya ditelepon hanya untuk dikabari bahwa Juminten meninggal. Bukannya Kanaya
tidak berperi kemanusiaan, akan tetapi Juminten yang dibicarakannya adalah
seekor ayam pelangi yang hampir setengah tahun ini menjadi hewan peliharaan
Hasya.
“Aku harus gimana dong, Nay? Dia kan sudah aku anggap
seperti keluarga sendiri..” tangis Hasya semakin menjadi.
Kanaya belum menjawab apa pun. Dia memijit pelipisnya
yang sebenarnya tidak sakit. Kanaya bingung harus menyikapi bagaimana.
“Ya sudahlah, Sya. Kita doakan saja Juminten tenang di
sana.” Setelah berpikir cukup lama, akhirnya kalimat itulah yang keluar dari
mulut Kanaya.
“Huee.. kamu kan tau sendiri, Nay. Juminten itu sudah aku
rawat sejak dia masih piyik.”
Ya, memang benar. Kanaya juga tidak akan melupakan
kejadian itu. Kejadian di mana Hasya merengek untuk minta ditemani membeli ayam
pelangi di pasar hewan. Pikirnya, ayam pelangi adala salah satu jenis ayam,
seperti ayam kate, ayam cemani, atau yang lain. Ternyata, ayam pelangi yang
dimaksud Hasya adalah anak ayam boiler yang sudah dicat berwarna warni seperti
pelangi. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau, biru, orange, bahkan juga
pink.
Mereka berdua harus menyusuri pasar hewan yang becek dan
penuh dengan kotoran demi mendapatkan ayam pelangi yang diinginkan Hasya. Begitulah
Hasya, saat ia memiliki kemauan, maka harus dituruti saat itu juga.
“Ya sudah, diem jangan nangis, besok tak temani beli
lagi..”
“Beda, Kanaya.. kalau beli lagi namanya sudah bukan
Juminten.”
“Ya terus mau gimana?”
“Nggak tahu..”
“Hufft..”
“Hasya, makan dulu, ini opor ayame sudah matang!” terdengar suara ibu Hasya di seberang sana.
“Kamu mau makan Juminten, Sya?”
“Itu bukan Juminten, itu Karno, ayam jantan pacare Juminten. Mereka berdua romantis
banget ya, Nay. Benar-benar sehidup semati.”
Kanaya menepuk jidatnya, merasa frustasi memiliki sahabat
__ADS_1
seperti Hasya. Masalah per ayam-an ini sepertinya akan terus berlanjut.
~0o0~