Astrophile

Astrophile
Episode 6


__ADS_3

“Nduk, maem sek, yo!”


Ibu berdiri di ambang pintu kamar Kanaya. “Le belajar diteruske nanti lagi, itu bapak sama adikmu sudah menunggu.”


“Nggih, Buk..”


Kanaya beranjak dari kursi belajarnya, membiarkan buku-bukunya tetap terbuka.


Seperti biasa, setiap malam, keluarga ini selalu


membiasakan untuk makan bersama keluarga. Karena saat sarapan semua


terburu-buru untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing. Lalu saat makan


siang, hanya ada ibu dan Dipta-adiknya- saja di rumah. Jadi, saat makan malam


adalah waktu mereka untuk berkumpul, meskipun menu yang tersaji di meja makan


cukup sederhana.


Bagi keluarga ini, keharmonisan keluarga adalah sebuah


kemewahan yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Kalau kata lagu yang dipopulerkan


oleh penyanyi papan atas di negara ini, harta


yang paling berharga adalah keluarga.


Saat Kanaya keluar kamar, bapak dan Dipta sudah duduk di


meja makan. Malam ini ibu memasak balado terong dan tempe goreng yang dibumbui uyah bawang. Ibu juga merebus bayam


sebagai sayuran. Tidak dibuat sayur bening, hanya bayam yang direbus lalu


ditiriskan. Bagi ibu, makan sayur setiap hari hukumnya adalah wajib. Dan untuk


buahnya, ibu sudah mengupas pepaya yang dipotong kecil-kecil. Semua sayur dan


buah ini adalah hasil panen di kebun belakang.


Kebun yang dimiliki bapak tidak begitu luas, namun selalu


berbuah jika ditanami apa saja, kecuali pohon mangga. Ada banyak jenis tanaman


di kebun belakang milik bapak, namun pohon mangga yang ditanam bapak sejak Kanaya


duduk di bangku TK sampai saat ini belum pernah berbuah sama sekali. Jangankan berbuah,


pertumbuhannya saja kurang baik.


“Maem sing akeh,


Nduk,” ucap ibu sambil menyodorkan tempe goreng untuk Kanaya.


Kanaya mengambil nasi lebih dari porsi biasanya, karena rasa


balado terong buatan ibu tidak pernah ada tandingannya. Semua masakan yang


dibuat oleh tangan ibu tidak pernah mengecewakan, namun balado terong menempati


tahta tertinggi untuk kategori masakan ibu.


“Siap, Kanaya sudah siap tempur sama nasi kalau ibu masak


balado terong.”


Bapak memimpin doa sebelum makan, lalu semuanya melahap


makanan di piringnya masing-masing.


“Buk, Dipta mau nambah.” Bocah laki-laki berusia sembilan


tahun itu menyodorkan piringnya yang hampir kosong kepada ibu.


Dengan senyum yang merekah, ibu mengambilkan nasi untuk


Dipta. “Bapak mau nambah juga” tanya ibu.


“Sebentar..” bapak menunjuk piringnya yang masih berisi

__ADS_1


separuh.


“Dipta hari ini ada PR apa?” tanya ibu.


“Lupa, Bu,” ujar Dipta enteng sambil mengunyah.


“Heleh.. kamu ki


opo sing diingat?” cibir Kanaya.


“To, Mbak ke sok ngece!”


“La memang, to?


Ada PR lupa nggak nggarap, disuruh


bawa gunting sama lem ke sekolah yo lupa,


bekal makan wis dicepakke sama ibuk wae juga lupa nggak dibawa. Njuk yang diingat ki apa?”


“Ya uang jajan, lah..” jawab Dipta sambil menggigit tempe


goreng.


“Giliran duit wae paling


diingat!”


“Ya nggak papa, to?


Kalau nggak ada duit juga susah to, Mbak?”


“Sudah-sudah, Nduk..” Baru saja Kanaya ingin berargumen,


namun bapak sudah terlebih dahulu menengahi. “Habiskan makan kalian, setelah


ini Dipta belajar sama Mbak Kanaya, ya!”


“Emoh!” jawab


mereka serempak.


“Kanaya ada PR banyak, Pak. Nanti kalau ngajarin PR


Berbeda dengan Kanaya, adiknya ini memang tidak terlalu


pandai di bidang akademik. Dia lebih senang dengan aktivitas fisik. Hasil nilai


rapor kemarin saja, semua hanya mencapai KKM, kecuali olah raga.


“Dipta juga emoh belajar


sama Mbak. Sukanya marah-marah terus, wuu..”


“Iya, wes nanti


Dipta belajar sama ibuk.” Ibu menengahi perdebatan kakak beradik ini.


Wlek!


Dipa menjulurkan lidah kepada kakaknya yang dibalas


dengan hal yang sama oleh Kanaya. Rasanya memang tidak afdhol jika saudara


kandung tidak pernah bertengkar atau saling mengejek. Namun meski demikian,


sebenarnya keduanya saling menyayangi.


~0o0~


Kriing!


Handphone Kanaya berdering saat ia sedang fokus


mengerjakan tugas-tugasnya lagi. Tertulis nama Hasya di layar hp. Kanaya segera


mengangkatnya.


“Halo, Sya. Ada apa?”

__ADS_1


“Nay..” suara di ujung telepon terdengar berat.


“Iya, Sya. Ad apa?”


“Juminten meninggal.. hueeeee.” Hasya menangis kencang di


seberang sana.


Kanaya menghembuskan napasnya berat. Malam-malam begini


Kanaya ditelepon hanya untuk dikabari bahwa Juminten meninggal. Bukannya Kanaya


tidak berperi kemanusiaan, akan tetapi Juminten yang dibicarakannya adalah


seekor ayam pelangi yang hampir setengah tahun ini menjadi hewan peliharaan


Hasya.


“Aku harus gimana dong, Nay? Dia kan sudah aku anggap


seperti keluarga sendiri..” tangis Hasya semakin menjadi.


Kanaya belum menjawab apa pun. Dia memijit pelipisnya


yang sebenarnya tidak sakit. Kanaya bingung harus menyikapi bagaimana.


“Ya sudahlah, Sya. Kita doakan saja Juminten tenang di


sana.” Setelah berpikir cukup lama, akhirnya kalimat itulah yang keluar dari


mulut Kanaya.


“Huee.. kamu kan tau sendiri, Nay. Juminten itu sudah aku


rawat sejak dia masih piyik.”


Ya, memang benar. Kanaya juga tidak akan melupakan


kejadian itu. Kejadian di mana Hasya merengek untuk minta ditemani membeli ayam


pelangi di pasar hewan. Pikirnya, ayam pelangi adala salah satu jenis ayam,


seperti ayam kate, ayam cemani, atau yang lain. Ternyata, ayam pelangi yang


dimaksud Hasya adalah anak ayam boiler yang sudah dicat berwarna warni seperti


pelangi. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau, biru, orange, bahkan juga


pink.


Mereka berdua harus menyusuri pasar hewan yang becek dan


penuh dengan kotoran demi mendapatkan ayam pelangi yang diinginkan Hasya. Begitulah


Hasya, saat ia memiliki kemauan, maka harus dituruti saat itu juga.


“Ya sudah, diem jangan nangis, besok tak temani beli


lagi..”


“Beda, Kanaya.. kalau beli lagi namanya sudah bukan


Juminten.”


“Ya terus mau gimana?”


“Nggak tahu..”


“Hufft..”


“Hasya, makan dulu, ini opor ayame sudah matang!” terdengar suara ibu Hasya di seberang sana.


“Kamu mau makan Juminten, Sya?”


“Itu bukan Juminten, itu Karno, ayam jantan pacare Juminten. Mereka berdua romantis


banget ya, Nay. Benar-benar sehidup semati.”


Kanaya menepuk jidatnya, merasa frustasi memiliki sahabat

__ADS_1


seperti Hasya. Masalah per ayam-an ini sepertinya akan terus berlanjut.


~0o0~


__ADS_2