
Hujan yang turun sejak siang tadi memang cukup deras,
membuat beberapa supir angkutan umum memilih untuk pulang lebih awal. Sudah
hampir lima belas menit Kanaya berdiri di halte depan sekolahnya, namun
angkutan yang ia tunggu belum juga terlihat. Sudah hampir pukul lima sore,
langit semakin gelap.
Perempuan itu mengeluarkan hp dari dalam tas untuk
mengirim pesan kepada ibunya. Ia ingin mengabari bahwa hari ini akan pulang
sedikit terlambat, namun ternyata hp yang berada di genggamannya itu kehabisan
baterai. Kanaya mulai khawatir jika orang tuanya menunggu kepulangannya dengan
cemas, apalagi ibu.
Ibu adalah manusia yang paling khawatir saat anggota
keluarganya pulang melebihi waktu biasanya, apalagi tanpa memberi kabar. Sejak
kecil Kanaya selalu dimarahi ibu jika pulang sekolah terlambat karena langsung
bermain. Jadi, jika Kanaya ingin bermain dengan temannya, dia harus pulang ke
rumah dulu untuk berganti pakaian dan berpamitan dengan jelas kepada ibu.
Kebiasaan itu terbawa sampai dia remaja.
Saat Kanaya masuk SMA, dia selalu mengirim pesan kepada
ibu jika pulang terlambat karena mampir ke toko buku atau mengerjakan tugas
kelompok.
Akhirnya, angkutan merah bernomor 9 yang sejak tadi
ditunggu Kanaya muncul juga. Kanaya melambaikan tangannya untuk memberhentikan
angkutan itu. Saat Kanaya masuk, angkutan itu hanya berisikan 3 orang. Dua
perempuan setengah baya dan satu anak laki-laki berseragam SMP. Gadis berambut
panjang yang dibiarkan tergerai itu memilih untuk duduk di sisi kanan sedikit
ke belakang.
Saat angkutan yang ditumpanginya hendak melaju, tanpa
sengaja mata Kanaya menatap seorang pengendara motor yang mengenakan jaket
hitam dengan celana abu-abu menyalip angkutannya. Jika tidak salah lihat,
laki-laki itu adalah Abimanyu yang tadi meminjaminya payung.
Dia pulang tanpa memakai jas hujan?
~0o0~
“Selamat pagi, Kanaya..” sapa Edo yang sudah sejak tadi
menunggu kehadiran Kanaya.
“Pagi, Do! Mau nyontek tugas apa hari ini?” Kanaya yang
sudah hapal dengan perilaku Edo segera membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa
buku tugas. “Nih bisa dipilih, mau matematika, bahasa Indonesia, atau PKN?”
“Hahaha.. tahu sih kamu, Nay. Aku pinjam buku
matematikanya aja, ya, kalau mau nyontek bahasa Indonesia punya kamu nanti
pasti langsung ketahuan sama Bu Nisa.”
“Hm, makanya kalau mau nyontek itu yang pinter dikit, Do!
Jangan semuanya dijiplak!” Kanaya mengulurkan buku tugas matematikanya yang
langsung diterima Edo dengan sumringah.
“Iya, Nay, besok-besok udah enggak wes. Itu pertama dan terakhir kali akau nyontek cerpen punya orang.
Hahahaha..” ujar Edo sambil bergegas menuju bangkunya.
Di antara mata pelajaran
lain, Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran yang paling ia sukai. Pasalnya,
gadis berketurunan Jawa-Sunda itu menyukai sastra sejak kecil. Waktu duduk di Sekolah Dasar, ia lebih sering membaca buku
cerita bergambar di perpustakaan daripada bermain di halaman saat istrirahat. Saat
SMP, dia termasuk salah satu dari tiga peringkat pertama siswa yang paling
banyak meminjam buku di perpustakaan.
Nah, saat masuk SMA, dari hobi membacanya dia mulai
sedikit-sedikit menuangkan imajinasinya ke dalam sebuah tulisan. Tahun kemarin,
Kanaya terpilih menjadi peserta lomba cerita pendek yang mewakili Kabupaten
Bantul untuk maju ke tingkat provinsi DIY. Walaupun belum bisa meraih juara
pertama, namun Kanaya berhasil mendapatkan juara ketiga.
Pernah suatu kali Bu Nisa-guru Bahasa Indonesia yang
mengajar di kelasnya- memberikan tugas untuk membuat cerita pendek. Seperti
biasa, Edo yang seringkali mencontek pekerjaan Kanaya tanpa berpikir panjang
menjiplak cerpen yang dibuat Kanaya. Akhirnya, Edo dimarahi habis-habisan oleh
__ADS_1
Bu Nisa karena perbuatannya dianggap plagiasi. Sejak saat itu, Edo tidak pernah
lagi meminta contekan Bahasa Indonesia kepada Kanaya.
Jika saja di sekolahnya ada kelas Bahasa Indonesia,
mungkin Kanaya akan lebih memilih untuk mengambil jurusan itu. Namun sayangnya,
sekolahnya hanya membuka dua jurusan, yaitu kelas IPA dan IPS. Dan saat ini
Kanaya duduk di bangku kelas XI IPA 2.
“Sya, kamu kenal Abimanyu, kan?” tanya Kanaya kepada
Hasya yang sedang membenarkan poninya.
Hasya menoleh, “Abimanyu yang anak IPS itu apa bukan?”
Kanaya mengangguk, “Iya, katanya satu angkatan sama kita.”
“Kenal lah, dia kan temennya Dhimas. Satu kelas, satu tongkrongan
juga,” ujar Hasya sambil kembali memperbaiki poninya.
Dhimas adalah pacar Hasya sejak mereka sama-sama duduk di
bangku SMP.
“Nah, kebetulan banget, boleh nitip nggak?”
“Nitip apa?”
“Payung.” Kanaya mengeluarkan payung lipat dari dalam
tasnya.
Hasya menautkan kedua laisnya karena bingung.
“Jadi kemarin itu aku lupa ndak bawa payung. Ndelalah kan
hujan, to? Nah niate aku tuh mau pulang tapi nunggu sampai
hujane sedikit reda. Tapi samapi sore
masih wae deres. Terus akhirnya aku
dipinjemin payung sama si Abimanyu itu,” jelas Kanaya.
“Sek, Nay. Kalian
kok bisa barengan sih?”
“Yo aku juga
nggak tahu, Sya. Dia tiba-tiba muncul ngono
wae dan minjemin payung ini karena aku mau nerjang hujan. Katanya ndak baik nik baju seragamgu basah, soale kan
warnanya putih, nanti ndak nerawang.”
ya mending kamu kembalikan sendiri saja, Nay. Sambil bilang terima kasih, to!”
“Duh, malu aku e, soale kan aku nggak pernah main ke kelas
lain, Sya.”
“Halah, nanti
tak anter wes. Sekalian tak ketemu
Dhimas.”
“Nah kan, malah modus kamu itu!”
“Lha tadi
katanya malu ke kelas lain, basan mau tak temenin malah dibilang modus. Pie to cah iki?” Hasya menggerutu.
“Iya wes, nanti
istirahat anterin aku ke kelasnya Abimanyu, ya!”
“Hmm..”
Tidak lama setelah itu, bel tanda masuk berbunyi.
~0o0~
“Ran, lihat Dhimas nggak?” tanya Hasya kepada Rani dari ambang
pintu kelas XI IPS 3. Kanaya mencoba melongok dari belakang punggung Hasya.
Merasa ditanya, Rani yang sedang menghapus papan tulis
menoleh.
“Baru aja ke kantin, Sya,” jawabnya.
“Sama Abimanyu juga?” tanya Hasya lagi.
“Iya, biasa.”
Dhimas dan Abimanyu terkenal sebagai dua sejoli kembar di
kelasnya. Kemana Dhimas pergi, biasanya ada Abimanyu yang mengikuti. Begitu pula
sebaliknya. Lagipula, perawakan Dhimas dan Abimanyu juga hampir mirip.
“Kita susul ke kantin aja gimana, Nay?”
“Tapi nanti di kantin banyak orang, Sya!”
“Ya nggak papa to?
Tinggal kita deketin, terus kamu kembaliin payungnya, sudah, kan?”
“Maksudku itu nanti kita bakal susah nyarinya, soalnya di
__ADS_1
kantik pasti rame banget!”
“Tenang aja, aku hapal bentuk punggungnya Dhimas, kok!
Kita cari Dhimas dulu. Karena di mana da Dhimas, di situ pasti ada Abi juga.”
Akhirnya Kanaya mengangguk dan mengikuti langkah Hasya
menuju kantin.
Benar saja, seperti yang dibayangkan Kanaya. Saat istirahat
seperti ini setiap kedai maupun bangku tempat duduk akan penuh dengan siswa
yang berebut jajan. Kedua matanya mencoba melihat sekeliling mencari punggung
Dhimas, seperti yang dikatakan Hasya tadi.
“Dhimas!” seru Hasya saat ia berhasil menemukan punggung
yang dicarinya. Namun, laki-laki yang ia panggil tidak menoleh. Mungkin karena
terlalu ramai, jadi laki-laki itu tidak mendengar suara Hasya.
“Kita samperin aja!” Hasya menggandeng tangan Kanaya
menuju ke tempat Dhimas berdiri.
“Lagi makan apa, sih?” tanya Hasya sambil menyerobot
minuman di tangan Dhimas.
“Ealah ada Cah
Ayu, to?” Dhimas menoleh menyadari
kehadiran perempuan terkasihnya. “Ada apa, Nduk?”
“Abi kemana, Mas?”
“Loh, nyariin Abi, to?
Tak kira nyari aku.”
“Bukan aku, tapi dia!” Hasya menunjuk Kanaya yang berdiri
di sampingnya.
“Oh, halo, Nay, tumben banget nyari Abi, ada apa?”
“Oh, ini, em, mau ngembaliin payung, Dhim. Kemarin aku
pinjem soalnya lupa nggak bawa payung.”
Dhimas menautkan kedua alisnya. Respon laki-laki itu sama
seperti respon Kanaya pagi tadi. “Tadi emang aku sama Abi bareng kesini, tapi bocahe nemeb wae ngomong mau ke toilet, ki. Gimana, mau disusul ke toilet apa pie?”
“Yang bener wae kamu,
Mas!’ Hasya mencubit lengan Dhimas.
“Duh, sakita, Nduk!”
rintihnya. “Lha pie? Apa mau ditunggu
sambil kalian beli jajan?”
Kanaya tampak berpikir sejenak. “Aku titip kamu aja, ya! Nanti
tolong bilangke ke Abi, terima kasih
banyak, gitu.”
“Lah, nggak mau ngomong langsung, Nay?” tanya Hasya.
“Nggak papa, ya! Niti ke kamu aja, Dhim. Setelah ini ada
ulangan Biologi soalnya, aku mau lanjut belajar dulu. Tahu, kan, Pak Rusdi
kalau bikin soal ki pie?” Kanaya
membuat argumen.
“Bener juga, sih. Aku juga belum belajar, weh!”
“Yo wes, aku
titip ini ya, Dhim. Sampaiakn terima kasih buat Abi.”
“Oh ya, nanti tak kasihke Abi.” Dhimas menerima payung lipat
berwarna biru itu.
“Ya sudah, Mas. Tak balik ke kelas dulu, ya!” pamit Hasya.
“Loh, nggak mau jajan sik,
ta?”
“Nggak ah, hemat. Ini wae
tak bawa, ya!” ujar Hasya sambil mengangkat gelas minum Dhimas yang tadi
diambilnya.
“Terima kasih ya, Dhim. Kita balik ke kelas dulu!” Kanaya
menarik lengan Hasya untuk kembali ke kelas.
“Sukses buat ulangannya, Nduk!” Dhimas melambaikan tangan yang dibalas senyum oleh Hasya.
Kanaya dan Hasya berlari kecil menuju kelasnya. Tanpa mereka
sadari, ada sepasang mata yang memerhatikan mereka dari jauh sejak tadi.
~0o0~
__ADS_1