Astrophile

Astrophile
Episode 3


__ADS_3

Hujan yang turun sejak siang tadi memang cukup deras,


membuat beberapa supir angkutan umum memilih untuk pulang lebih awal. Sudah


hampir lima belas menit Kanaya berdiri di halte depan sekolahnya, namun


angkutan yang ia tunggu belum juga terlihat. Sudah hampir pukul lima sore,


langit semakin gelap.


Perempuan itu mengeluarkan hp dari dalam tas untuk


mengirim pesan kepada ibunya. Ia ingin mengabari bahwa hari ini akan pulang


sedikit terlambat, namun ternyata hp yang berada di genggamannya itu kehabisan


baterai. Kanaya mulai khawatir jika orang tuanya menunggu kepulangannya dengan


cemas, apalagi ibu.


Ibu adalah manusia yang paling khawatir saat anggota


keluarganya pulang melebihi waktu biasanya, apalagi tanpa memberi kabar. Sejak


kecil Kanaya selalu dimarahi ibu jika pulang sekolah terlambat karena langsung


bermain. Jadi, jika Kanaya ingin bermain dengan temannya, dia harus pulang ke


rumah dulu untuk berganti pakaian dan berpamitan dengan jelas kepada ibu.


Kebiasaan itu terbawa sampai dia remaja.


Saat Kanaya masuk SMA, dia selalu mengirim pesan kepada


ibu jika pulang terlambat karena mampir ke toko buku atau mengerjakan tugas


kelompok.


Akhirnya, angkutan merah bernomor 9 yang sejak tadi


ditunggu Kanaya muncul juga. Kanaya melambaikan tangannya untuk memberhentikan


angkutan itu. Saat Kanaya masuk, angkutan itu hanya berisikan 3 orang. Dua


perempuan setengah baya dan satu anak laki-laki berseragam SMP. Gadis berambut


panjang yang dibiarkan tergerai itu memilih untuk duduk di sisi kanan sedikit


ke belakang.


Saat angkutan yang ditumpanginya hendak melaju, tanpa


sengaja mata Kanaya menatap seorang pengendara motor yang mengenakan jaket


hitam dengan celana abu-abu menyalip angkutannya. Jika tidak salah lihat,


laki-laki itu adalah Abimanyu yang tadi meminjaminya payung.


Dia pulang tanpa memakai jas hujan?


~0o0~


“Selamat pagi, Kanaya..” sapa Edo yang sudah sejak tadi


menunggu kehadiran Kanaya.


“Pagi, Do! Mau nyontek tugas apa hari ini?” Kanaya yang


sudah hapal dengan perilaku Edo segera membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa


buku tugas. “Nih bisa dipilih, mau matematika, bahasa Indonesia, atau PKN?”


“Hahaha.. tahu sih kamu, Nay. Aku pinjam buku


matematikanya aja, ya, kalau mau nyontek bahasa Indonesia punya kamu nanti


pasti langsung ketahuan sama Bu Nisa.”


“Hm, makanya kalau mau nyontek itu yang pinter dikit, Do!


Jangan semuanya dijiplak!” Kanaya mengulurkan buku tugas matematikanya yang


langsung diterima Edo dengan sumringah.


“Iya, Nay, besok-besok udah enggak wes. Itu pertama dan terakhir kali akau nyontek cerpen punya orang.


Hahahaha..” ujar Edo sambil bergegas menuju bangkunya.


Di antara mata pelajaran


lain, Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran yang paling ia sukai. Pasalnya,


gadis berketurunan Jawa-Sunda itu menyukai sastra sejak kecil. Waktu duduk di Sekolah Dasar, ia lebih sering membaca buku


cerita bergambar di perpustakaan daripada bermain di halaman saat istrirahat. Saat


SMP, dia termasuk salah satu dari tiga peringkat pertama siswa yang paling


banyak meminjam buku di perpustakaan.


Nah, saat masuk SMA, dari hobi membacanya dia mulai


sedikit-sedikit menuangkan imajinasinya ke dalam sebuah tulisan. Tahun kemarin,


Kanaya terpilih menjadi peserta lomba cerita pendek yang mewakili Kabupaten


Bantul untuk maju ke tingkat provinsi DIY. Walaupun belum bisa meraih juara


pertama, namun Kanaya berhasil mendapatkan juara ketiga.


Pernah suatu kali Bu Nisa-guru Bahasa Indonesia yang


mengajar di kelasnya- memberikan tugas untuk membuat cerita pendek. Seperti


biasa, Edo yang seringkali mencontek pekerjaan Kanaya tanpa berpikir panjang


menjiplak cerpen yang dibuat Kanaya. Akhirnya, Edo dimarahi habis-habisan oleh

__ADS_1


Bu Nisa karena perbuatannya dianggap plagiasi. Sejak saat itu, Edo tidak pernah


lagi meminta contekan Bahasa Indonesia kepada Kanaya.


Jika saja di sekolahnya ada kelas Bahasa Indonesia,


mungkin Kanaya akan lebih memilih untuk mengambil jurusan itu. Namun sayangnya,


sekolahnya hanya membuka dua jurusan, yaitu kelas IPA dan IPS. Dan saat ini


Kanaya duduk di bangku kelas XI IPA 2.


“Sya, kamu kenal Abimanyu, kan?” tanya Kanaya kepada


Hasya yang sedang membenarkan poninya.


Hasya menoleh, “Abimanyu yang anak IPS itu apa bukan?”


Kanaya mengangguk, “Iya, katanya satu angkatan sama kita.”


“Kenal lah, dia kan temennya Dhimas. Satu kelas, satu tongkrongan


juga,” ujar Hasya sambil kembali memperbaiki poninya.


Dhimas adalah pacar Hasya sejak mereka sama-sama duduk di


bangku SMP.


“Nah, kebetulan banget, boleh nitip nggak?”


“Nitip apa?”


“Payung.” Kanaya mengeluarkan payung lipat dari dalam


tasnya.


Hasya menautkan kedua laisnya karena bingung.


“Jadi kemarin itu aku lupa ndak bawa payung. Ndelalah kan


hujan, to? Nah niate aku tuh mau pulang tapi nunggu sampai


hujane sedikit reda. Tapi samapi sore


masih wae deres. Terus akhirnya aku


dipinjemin payung sama si Abimanyu itu,” jelas Kanaya.


“Sek, Nay. Kalian


kok bisa barengan sih?”


“Yo aku juga


nggak tahu, Sya. Dia tiba-tiba muncul ngono


wae dan minjemin payung ini karena aku mau nerjang hujan. Katanya ndak baik nik baju seragamgu basah, soale kan


warnanya putih, nanti ndak nerawang.”


ya mending kamu kembalikan sendiri saja, Nay. Sambil bilang terima kasih, to!”


“Duh, malu aku e, soale kan aku nggak pernah main ke kelas


lain, Sya.”


“Halah, nanti


tak anter wes. Sekalian tak ketemu


Dhimas.”


“Nah kan, malah modus kamu itu!”


“Lha tadi


katanya malu ke kelas lain, basan mau tak temenin malah dibilang modus. Pie to cah iki?” Hasya menggerutu.


“Iya wes, nanti


istirahat anterin aku ke kelasnya Abimanyu, ya!”


“Hmm..”


Tidak lama setelah itu, bel tanda masuk berbunyi.


~0o0~


“Ran, lihat Dhimas nggak?” tanya Hasya kepada Rani dari ambang


pintu kelas XI IPS 3. Kanaya mencoba melongok dari belakang punggung Hasya.


Merasa ditanya, Rani yang sedang menghapus papan tulis


menoleh.


“Baru aja ke kantin, Sya,” jawabnya.


“Sama Abimanyu juga?” tanya Hasya lagi.


“Iya, biasa.”


Dhimas dan Abimanyu terkenal sebagai dua sejoli kembar di


kelasnya. Kemana Dhimas pergi, biasanya ada Abimanyu yang mengikuti. Begitu pula


sebaliknya. Lagipula, perawakan Dhimas dan Abimanyu juga hampir mirip.


“Kita susul ke kantin aja gimana, Nay?”


“Tapi nanti di kantin banyak orang, Sya!”


“Ya nggak papa to?


Tinggal kita deketin, terus kamu kembaliin payungnya, sudah, kan?”


“Maksudku itu nanti kita bakal susah nyarinya, soalnya di

__ADS_1


kantik pasti rame banget!”


“Tenang aja, aku hapal bentuk punggungnya Dhimas, kok!


Kita cari Dhimas dulu. Karena di mana da Dhimas, di situ pasti ada Abi juga.”


Akhirnya Kanaya mengangguk dan mengikuti langkah Hasya


menuju kantin.


Benar saja, seperti yang dibayangkan Kanaya. Saat istirahat


seperti ini setiap kedai maupun bangku tempat duduk akan penuh dengan siswa


yang berebut jajan. Kedua matanya mencoba melihat sekeliling mencari punggung


Dhimas, seperti yang dikatakan Hasya tadi.


“Dhimas!” seru Hasya saat ia berhasil menemukan punggung


yang dicarinya. Namun, laki-laki yang ia panggil tidak menoleh. Mungkin karena


terlalu ramai, jadi laki-laki itu tidak mendengar suara Hasya.


“Kita samperin aja!” Hasya menggandeng tangan Kanaya


menuju ke tempat Dhimas berdiri.


“Lagi makan apa, sih?” tanya Hasya sambil menyerobot


minuman di tangan Dhimas.


“Ealah ada Cah


Ayu, to?” Dhimas menoleh menyadari


kehadiran perempuan terkasihnya. “Ada apa, Nduk?”


“Abi kemana, Mas?”


“Loh, nyariin Abi, to?


Tak kira nyari aku.”


“Bukan aku, tapi dia!” Hasya menunjuk Kanaya yang berdiri


di sampingnya.


“Oh, halo, Nay, tumben banget nyari Abi, ada apa?”


“Oh, ini, em, mau ngembaliin payung, Dhim. Kemarin aku


pinjem soalnya lupa nggak bawa payung.”


Dhimas menautkan kedua alisnya. Respon laki-laki itu sama


seperti respon Kanaya pagi tadi. “Tadi emang aku sama Abi bareng kesini, tapi bocahe nemeb wae ngomong mau ke toilet, ki. Gimana, mau disusul ke toilet apa pie?”


“Yang bener wae kamu,


Mas!’ Hasya mencubit lengan Dhimas.


“Duh, sakita, Nduk!”


rintihnya. “Lha pie? Apa mau ditunggu


sambil kalian beli jajan?”


Kanaya tampak berpikir sejenak. “Aku titip kamu aja, ya! Nanti


tolong bilangke ke Abi, terima kasih


banyak, gitu.”


“Lah, nggak mau ngomong langsung, Nay?” tanya Hasya.


“Nggak papa, ya! Niti ke kamu aja, Dhim. Setelah ini ada


ulangan Biologi soalnya, aku mau lanjut belajar dulu. Tahu, kan, Pak Rusdi


kalau bikin soal ki pie?” Kanaya


membuat argumen.


“Bener juga, sih. Aku juga belum belajar, weh!”


“Yo wes, aku


titip ini ya, Dhim. Sampaiakn terima kasih buat Abi.”


“Oh ya, nanti tak kasihke Abi.” Dhimas menerima payung lipat


berwarna biru itu.


“Ya sudah, Mas. Tak balik ke kelas dulu, ya!” pamit Hasya.


“Loh, nggak mau jajan sik,


ta?”


“Nggak ah, hemat. Ini wae


tak bawa, ya!” ujar Hasya sambil mengangkat gelas minum Dhimas yang tadi


diambilnya.


“Terima kasih ya, Dhim. Kita balik ke kelas dulu!” Kanaya


menarik lengan Hasya untuk kembali ke kelas.


“Sukses buat ulangannya, Nduk!” Dhimas melambaikan tangan yang dibalas senyum oleh Hasya.


Kanaya dan Hasya berlari kecil menuju kelasnya. Tanpa mereka


sadari, ada sepasang mata yang memerhatikan mereka dari jauh sejak tadi.


~0o0~

__ADS_1


__ADS_2