Astrophile

Astrophile
Episode 7


__ADS_3

“Loh, Nduk! Nggak tidur di kasur, to?” Ibu masuk ke kamar Kanya lalu menyibakkan tirai jendelanya.


Kanaya bangun dari posisi tidurnya yang tengkurap di atas


meja belajar. Semalam, Hasya minta ditemani bercerita entah sampai pukul


berapa. Kanaya yang semakin mengantuk tidak sadarkan diri dan tertidur begitu


saja di atas meja belajarnya.


“Bangun to, ya!


Anak perawan kok bangun siang! Dumeh lagi


halangan sholat, tapi mbok yo lihat


jam, itu!”


Anak gadisnya itu melihat


jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi.


“Astaghfirullah, Buk.. kenapa tidak dibangunkan dari


tadi?” Kanaya melonjak kaget, segera memberesi meja belajarnya yang berantakan.


Ia memasukkan buku-bukunya begitu saja ke dalam tas, lalu mengambil handuk dan


bergegas ke kamar mandi.


Sampai di depan kamar mandi, pintunya masih tertutup.


“Siapa yang di dalam?” Kanaya menggedor pintu.


“Sebentar, Mbak.. Dipta mules, semalam kebanyakan makan


sambele ibuk.” Bocah laki-laki itu


menjawab dari dalam dengan suara tertahan.


“Buruan!! Mbak Naya selak


kawanen iki! Kanaya kembali menggedor pintu kamar mandi.


“Sek, Mbak!


Lima menit lagi!”


Kanaya terus menggedor pintu kamar mandi, supaya adiknya


itu segera keluar. Biasanya tidak seperti ini, karena Kanaya selalu mandi lebih


awal setelah sholat subuh. Gadis itu terus memerhatikan jarum jam dinding yang


terus berputar.


Kurang lebih lima menit, Dipta benar keluar dat kamar


mandi sambil memegangi perutnya. “Huhh.. lega..”


Tanpa basa basi, Kanaya segera masuk kamar mandi dan


menutup pintu.


“Dipta! Kamu makan apa aja sih, kamar mandi ambune badheg pol!” Teriak Kanaya dari


dalam yang tidak digubris oleh Dipta. Bocah yang sudah berseragam merah putih


itu segera ke meja makan, mendekati ibu yang sedang menyiapkan bekalnya.


Kanaya mandi dan bersiap secepat kilat. Biasanya, kakak perempuan


Dipta itu selalu berangkat lebih awal ketimbang adiknya. Namun hari ini Dipta


berhasil melambaikan tangan lebih dulu kepada kakaknya untuk berangkat sekolah.


Bocah laki-laki itu menjulurkan lidahnya, mengejek kakaknya yang bangun


kesiangan.


“Tumben sekali kamu terlambat, Nduk..”


Kanaya melihat jam dinding, jarum jamnya menunjukkan


pukul setengah tujuh lebih sepuluh menit.


“Semalam nggarap PR


sampai ketiduran, Buk. PR nya banyak banget,” jawab Kanaya sambil memakai

__ADS_1


sepatu. “Sudah ya, Buk, Kanaya berangkat sekolah dulu, assalamualaikum..”


Rutinitas pagi sebelum pukul tujuh selalu membuat banyak


orang merasa terburu-buru melakukan hal apapun. Apalagi mendekati menit-menit


terakhir sebelum pukul tujuh, jalanan selalu dipenuhi dengan suara bising


kendaraan yang berebut untuk segera sampai ke tempat tujuan masing-masing.


Jantung Kanaya berdegup begitu kencang karena takut


terlambat. Selama masa sekolah, ia belum pernah sama sekali mendapat sanksi


karena terlambat berangkat ke sekolah. Dan sekolah Kanaya saat ini sudah


memiliki aturan bahwa bagi siapa saja yang terlambat datang ke sekolah akan


dikenai poin 5, berdiri di lapangan selama lima belis menit, dan membersihkan


kamar mandi.


Untung saja, angkutan yang menuju sekolahnya segera


datang. Namun, Kanaya harus duduk di dekat pintu angkutan karena semua bangku


di dalam sudah penuh. Ada juga beberapa anak laki-laki yang nggandul di pintu angkutan. Hal tersebut


sudah tidak menjadi pemandangan yang asing di kota ini.


Gadis berseragam putih abu-abu itu menatap seisi


angkutan, mencari penumpang dengan seragam dan badge sekolah yang sama. Siapa


tahu dia memiliki teman jika terlambat nanti. Namun sayang, mayoritas penumpang


di angkutan tersebut adalah siswa SMP Pancasila yang akan turun lebih awal


dibanding Kanaya.


Perjalanan dari rumah menuju sekolah yang biasanya hanya


memerlukan waktu lima belas menit, kali ini mungkin akan memakan waktu lebih


lama dikarenakan macet di setiap persimpangan lampu merah. Sekadar informasi,


lampu merah di bangjo Jogjakarta itu


hitungan detik saja. Di saat seperti ini semua kendaraan pasti berebut ingin


saling mendahului.


Kanaya melirik arlojinya dengan gusar. Lima menit lagi


pasti bel masuk di sekolah akan berbunyi, namun ia masih terjebak macet di


persimpangan lampu merah. Bunyi klakson terus mengudara seiring dengan


bergantinya warna lampu hijau.


Gadis itu turun dari angkutan yang ditumpanginya saat


gerbang sekolah sudah ditutup. Ia bersembunyi balik pohon dekat halte, berusaha


mencari celah untuk bisa masuk tanpa ketahuan satpam. Apalagi satpam di sekolah


ini terkenal sangat galak dengan omongannya yang selalu tegas.


Apakah Kanaya akan menyerahkan diri?


Ia melongok kanan kiri, tidak ada satu pun temannya yang


datang terlambat. Mungkin ini memang hari apes untuknya.


Semua ini gara-gara Hasya!


Ia membatin. Mengingat nama itu, Kanaya bergegas


mengambil ponselnya dari dalam tas untuk mengirim pesan kepada Hasya, si biang


kerok penyebab kekacauan ini. Gara-gara Juminten, harinya jadi berantakan.


Namun, namanya apes tidak pernah tertulis di dalam kalender. Hp andoid yang


dibawanya ternyata habis baterai. Semalam, setelah bertelepon dengan Hasya


sampai larut ia lupa mencharger benda


pipih itu.

__ADS_1


“Ngapain di sini?”


Seseorang tiba-tiba berdiri di depan Kanaya. Gadis yang


sedang berjongkok itu lantas mendongakkan kepalanya. Abimanyu. Laki-laki itu


menutupi sergamnya dengan jaket hitam. Namun, mengapa dia berada di sini?


“Telat,” jawab Kanaya singkat.


“Baru pertama?”


“Iya.”


Kanaya menghiraukan Abi, dia mencoba melongok ke arah


gerbang lagi.


“Nggak bakalan bisa, Suroso itu kaya macan,” ujar Abi


dengan menyebut nama satpam itu dengan tidak sopan.


“Pak Suroso.” Kanaya mengingatkan.


“Mending kamu ikut aku aja sebelum ketahuan Suroso!”


“Kemana?”


“Lewat pintu rahasia, shuuut..” Abi meletakkan jari


telunjuknya di bibir sebagai isyarat supaya Kanaya bisa menjaga rahasia.


“Memangnya ada?”


“Ada, minat nggak?”


Kanaya tampak menimbang-nimbang. Dia bingung anatara


menyerahkan diri kepada satpam atau mencari aman dan mengikuti laki-laki ini.


“Pakai ini, daripada nanti ketahuan!” Abi mengeluarkan


jaket dari dalam tasnya lalu diberikan kepada Kanaya.


“Heh! Kalian berdua yang di dekat pohon!” Suara lantang


itu menggelegar dari arah gerbang, membuat Kanaya mematung.


“Jangan nengok ke belakang, dalam hitungan ketiga...”


Belum selesai Abi memberikan instruksi, gadis di


sebelahnya itu sudah mengambil langkah lari lebih dulu.


“Kampret! Nyolong start


cah iki!”


Abi berlari menyusul Kanaya.


“Heh! Malah kabur! Tak


titeni kowe!” Pak Suroso berteriak dari belakang sambil mengejar mereka.


“Aku belum selesai ngitung kamu malah wis mlayu,” ujar Abi saat berhasil


menyejajari Kanaya.


“Takut banget denger suara singa, Bi! Apalagi.. dia..


ngejar.. kita.. sekarang..” Kanaya mulai terngah-engah. Gadis itu tidak biasa


dengan kegiatan fisik.


“Hashh..” Abi memegang tangan Kanaya dan menariknya supaya


biasa berlari lebih kencang. “Jangan sampai kita ketahuan sama Suroso!”


Keduanya berlari sambil bergandengan tangan. Abi membawa


Kanaya melewati jalur tikus. Tidak mungkin ia menuju pintu rahasia jika sudah


ketahuan oleh Suroso seperti ini.


Hembus angin pagi yang sejuk menerpa wajah Kanaya yang


mulai berkeringat. Gadis itu terus menatap pergelangan tangannya yang digandeng


oleh Abi, laki-laki pertama yang menggandeng tangannya setelah 17 tahun.

__ADS_1


~0o0~


__ADS_2