
“Loh, Nduk! Nggak tidur di kasur, to?” Ibu masuk ke kamar Kanya lalu menyibakkan tirai jendelanya.
Kanaya bangun dari posisi tidurnya yang tengkurap di atas
meja belajar. Semalam, Hasya minta ditemani bercerita entah sampai pukul
berapa. Kanaya yang semakin mengantuk tidak sadarkan diri dan tertidur begitu
saja di atas meja belajarnya.
“Bangun to, ya!
Anak perawan kok bangun siang! Dumeh lagi
halangan sholat, tapi mbok yo lihat
jam, itu!”
Anak gadisnya itu melihat
jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi.
“Astaghfirullah, Buk.. kenapa tidak dibangunkan dari
tadi?” Kanaya melonjak kaget, segera memberesi meja belajarnya yang berantakan.
Ia memasukkan buku-bukunya begitu saja ke dalam tas, lalu mengambil handuk dan
bergegas ke kamar mandi.
Sampai di depan kamar mandi, pintunya masih tertutup.
“Siapa yang di dalam?” Kanaya menggedor pintu.
“Sebentar, Mbak.. Dipta mules, semalam kebanyakan makan
sambele ibuk.” Bocah laki-laki itu
menjawab dari dalam dengan suara tertahan.
“Buruan!! Mbak Naya selak
kawanen iki! Kanaya kembali menggedor pintu kamar mandi.
“Sek, Mbak!
Lima menit lagi!”
Kanaya terus menggedor pintu kamar mandi, supaya adiknya
itu segera keluar. Biasanya tidak seperti ini, karena Kanaya selalu mandi lebih
awal setelah sholat subuh. Gadis itu terus memerhatikan jarum jam dinding yang
terus berputar.
Kurang lebih lima menit, Dipta benar keluar dat kamar
mandi sambil memegangi perutnya. “Huhh.. lega..”
Tanpa basa basi, Kanaya segera masuk kamar mandi dan
menutup pintu.
“Dipta! Kamu makan apa aja sih, kamar mandi ambune badheg pol!” Teriak Kanaya dari
dalam yang tidak digubris oleh Dipta. Bocah yang sudah berseragam merah putih
itu segera ke meja makan, mendekati ibu yang sedang menyiapkan bekalnya.
Kanaya mandi dan bersiap secepat kilat. Biasanya, kakak perempuan
Dipta itu selalu berangkat lebih awal ketimbang adiknya. Namun hari ini Dipta
berhasil melambaikan tangan lebih dulu kepada kakaknya untuk berangkat sekolah.
Bocah laki-laki itu menjulurkan lidahnya, mengejek kakaknya yang bangun
kesiangan.
“Tumben sekali kamu terlambat, Nduk..”
Kanaya melihat jam dinding, jarum jamnya menunjukkan
pukul setengah tujuh lebih sepuluh menit.
“Semalam nggarap PR
sampai ketiduran, Buk. PR nya banyak banget,” jawab Kanaya sambil memakai
__ADS_1
sepatu. “Sudah ya, Buk, Kanaya berangkat sekolah dulu, assalamualaikum..”
Rutinitas pagi sebelum pukul tujuh selalu membuat banyak
orang merasa terburu-buru melakukan hal apapun. Apalagi mendekati menit-menit
terakhir sebelum pukul tujuh, jalanan selalu dipenuhi dengan suara bising
kendaraan yang berebut untuk segera sampai ke tempat tujuan masing-masing.
Jantung Kanaya berdegup begitu kencang karena takut
terlambat. Selama masa sekolah, ia belum pernah sama sekali mendapat sanksi
karena terlambat berangkat ke sekolah. Dan sekolah Kanaya saat ini sudah
memiliki aturan bahwa bagi siapa saja yang terlambat datang ke sekolah akan
dikenai poin 5, berdiri di lapangan selama lima belis menit, dan membersihkan
kamar mandi.
Untung saja, angkutan yang menuju sekolahnya segera
datang. Namun, Kanaya harus duduk di dekat pintu angkutan karena semua bangku
di dalam sudah penuh. Ada juga beberapa anak laki-laki yang nggandul di pintu angkutan. Hal tersebut
sudah tidak menjadi pemandangan yang asing di kota ini.
Gadis berseragam putih abu-abu itu menatap seisi
angkutan, mencari penumpang dengan seragam dan badge sekolah yang sama. Siapa
tahu dia memiliki teman jika terlambat nanti. Namun sayang, mayoritas penumpang
di angkutan tersebut adalah siswa SMP Pancasila yang akan turun lebih awal
dibanding Kanaya.
Perjalanan dari rumah menuju sekolah yang biasanya hanya
memerlukan waktu lima belas menit, kali ini mungkin akan memakan waktu lebih
lama dikarenakan macet di setiap persimpangan lampu merah. Sekadar informasi,
lampu merah di bangjo Jogjakarta itu
hitungan detik saja. Di saat seperti ini semua kendaraan pasti berebut ingin
saling mendahului.
Kanaya melirik arlojinya dengan gusar. Lima menit lagi
pasti bel masuk di sekolah akan berbunyi, namun ia masih terjebak macet di
persimpangan lampu merah. Bunyi klakson terus mengudara seiring dengan
bergantinya warna lampu hijau.
Gadis itu turun dari angkutan yang ditumpanginya saat
gerbang sekolah sudah ditutup. Ia bersembunyi balik pohon dekat halte, berusaha
mencari celah untuk bisa masuk tanpa ketahuan satpam. Apalagi satpam di sekolah
ini terkenal sangat galak dengan omongannya yang selalu tegas.
Apakah Kanaya akan menyerahkan diri?
Ia melongok kanan kiri, tidak ada satu pun temannya yang
datang terlambat. Mungkin ini memang hari apes untuknya.
Semua ini gara-gara Hasya!
Ia membatin. Mengingat nama itu, Kanaya bergegas
mengambil ponselnya dari dalam tas untuk mengirim pesan kepada Hasya, si biang
kerok penyebab kekacauan ini. Gara-gara Juminten, harinya jadi berantakan.
Namun, namanya apes tidak pernah tertulis di dalam kalender. Hp andoid yang
dibawanya ternyata habis baterai. Semalam, setelah bertelepon dengan Hasya
sampai larut ia lupa mencharger benda
pipih itu.
__ADS_1
“Ngapain di sini?”
Seseorang tiba-tiba berdiri di depan Kanaya. Gadis yang
sedang berjongkok itu lantas mendongakkan kepalanya. Abimanyu. Laki-laki itu
menutupi sergamnya dengan jaket hitam. Namun, mengapa dia berada di sini?
“Telat,” jawab Kanaya singkat.
“Baru pertama?”
“Iya.”
Kanaya menghiraukan Abi, dia mencoba melongok ke arah
gerbang lagi.
“Nggak bakalan bisa, Suroso itu kaya macan,” ujar Abi
dengan menyebut nama satpam itu dengan tidak sopan.
“Pak Suroso.” Kanaya mengingatkan.
“Mending kamu ikut aku aja sebelum ketahuan Suroso!”
“Kemana?”
“Lewat pintu rahasia, shuuut..” Abi meletakkan jari
telunjuknya di bibir sebagai isyarat supaya Kanaya bisa menjaga rahasia.
“Memangnya ada?”
“Ada, minat nggak?”
Kanaya tampak menimbang-nimbang. Dia bingung anatara
menyerahkan diri kepada satpam atau mencari aman dan mengikuti laki-laki ini.
“Pakai ini, daripada nanti ketahuan!” Abi mengeluarkan
jaket dari dalam tasnya lalu diberikan kepada Kanaya.
“Heh! Kalian berdua yang di dekat pohon!” Suara lantang
itu menggelegar dari arah gerbang, membuat Kanaya mematung.
“Jangan nengok ke belakang, dalam hitungan ketiga...”
Belum selesai Abi memberikan instruksi, gadis di
sebelahnya itu sudah mengambil langkah lari lebih dulu.
“Kampret! Nyolong start
cah iki!”
Abi berlari menyusul Kanaya.
“Heh! Malah kabur! Tak
titeni kowe!” Pak Suroso berteriak dari belakang sambil mengejar mereka.
“Aku belum selesai ngitung kamu malah wis mlayu,” ujar Abi saat berhasil
menyejajari Kanaya.
“Takut banget denger suara singa, Bi! Apalagi.. dia..
ngejar.. kita.. sekarang..” Kanaya mulai terngah-engah. Gadis itu tidak biasa
dengan kegiatan fisik.
“Hashh..” Abi memegang tangan Kanaya dan menariknya supaya
biasa berlari lebih kencang. “Jangan sampai kita ketahuan sama Suroso!”
Keduanya berlari sambil bergandengan tangan. Abi membawa
Kanaya melewati jalur tikus. Tidak mungkin ia menuju pintu rahasia jika sudah
ketahuan oleh Suroso seperti ini.
Hembus angin pagi yang sejuk menerpa wajah Kanaya yang
mulai berkeringat. Gadis itu terus menatap pergelangan tangannya yang digandeng
oleh Abi, laki-laki pertama yang menggandeng tangannya setelah 17 tahun.
__ADS_1
~0o0~