
Pak Rusdi merupakan guru
biologi yang terkenal
santai namun ketika membuat soal ulangan sulitnya bukan main. Apalagi mata
elang yang dimiliki beliau selalu berhasil menangkap siapa saja yang berusaha
untuk mencari jawaban dari teman lain maupun berusaha membuka contekan.
Pernah suatu kali saat ulangan biologi dengan Pak Rusdi
di kelas sebelah, ada anak yang mencoba untuk membuka contekan yang ia letakkan
di alas sepatunya. Padahal, dalam mata pelajaran yang lain anak tersebut sudah
terkenal pro untuk urusan mencontek. Namun
berbeda dengan kelas Pak Rusdi. Dengan kelebihan mata elang yang dimilikinya,
beliau dapat menangkap perilaku curang dari anak tersebut.
Alhasil, nilai ulangannya tidak keluar. Dia harus
mengulang mengerjakan ulangan di ruang guru dengan soal yang berbeda. Tentu,
dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Sudah sejak dua puluh tahun lalu Pak Rusdi mengajar di
sekolah ini, dan beliau sering menjadi guru favorit yang diingat siswa saat
kelulusan. Gaya mengajarnya asik, santai, namun disiplin. Sosok Pak Rusdi tidak
seperti guru pada umumnya yang terkenal galak. Namun pembawaan karakternya
cukup tegas dan berwibawa. Tidak jarang juga Pak Rusdi melawak di sela-sela
pelajaran. Hal itulah yang membuat Pak Rusdi disegani oleh banyak siswa di
sekolah ini.
Edo menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal,
namun ia menggaruk kepalanya karena sejak tiga puluh menit yang lalu belum ada
soal yang berhasil ia jawab dengan yakin. Anak itu kehilangan memori hapalannya
yang sudah ia pelajari semalam. Sejak tadi, ia menjawab soal pilihan ganda
dengan menghitung kancing bajunya, atau dengan memutar pensilnya.
Salah satu hal yang menarik dari Edo adalah komitmennya
__ADS_1
untuk tidak mencontek saat ulangan, meski hampir setiap hari ia selalu
mengandalkan kawan-kawannya untuk mengerjakan tugas. Sesulit apa pun soal
ulangan yang ia kerjakan, hasil akhirnya selalu murni karena otaknya, atau
karena keberuntungannya. Namun, seringkali nilai yang diadapatnya lebih tinggi
dari KKM.
Di sisi kanan dekat dengan jendela, Kanaya masih fokus
dengan lembar soal di depannya. Jika dia tidak begitu menyukai mata pelajaran
fisika dan kimia, maka untuk mata pelajaran biologi dia cukup menguasai. Terbukti
dari hasil ulangan sebelum-sebelumnya Kanaya selalu menempati posisi paling
atas.
Waktu terus berjalan, tidak ada yang berani mencuri
kesempatan untuk mendapatkan jawaban dari temannya.
“Lima belas menit lagi semua soal dan lembar jawab harus
sudah dikumpulkan! Bagi yang saat ini sudah selesai boleh langsung dikumpulkan
dan meninggalkan kelas. Lumayan, ada bonus lima belas menit untuk menghirup
Kanaya melirik arlojinya, lalu memeriksa kembali
jawabannya. Semua nomor di lembar jawabnya sudah terisi. Dengan mantap gadis
itu beranjak dari tempat duduknya dan meletakkan lembar jawabannya di meja
guru, lalu disusul beberapa temannya, termasuk Hasya. Edo yang sejak tadi hanya
mengandalkan keberuntungan dengan “jimat” ajaibnya juga menyusul.
“Waah, kayanya kepalaku harus masuk kulkasnya Bu Rini,
deh,” ujar Edo saat keluar kelas. Bu Rini adalah salah satu pedagang di kantin
yang paling ramah. “Bener-bener Pak Rusdi kalau buat soal ulangan selalu bikin
kepalaku mau mbledhos!”
“Kalau ini sih mending langsung minta rujukan ke UGD aja
sih, Do!” Hasya menyentuh jidat Edo.
“Iya, bener, kan? Rawat inap wae apa ya, Sya? Biar dapet dispensasi libur sekolah.”
__ADS_1
“RSJ wae pie, Do?”
“Sembiringin kalau
ngomong! Walaupun utekku meh mbledhos
ngeneiki tapi aku masih waras ya, Sya!” Edo menonyo kepala Hasya.
Plak!
Hasya menabok lengan Edo dengan keras. “Enak aja kepala
orang main sembarangan ditonyo!”
Tidak ada yang mau mengalah, keduanya terus beradu baku
hantam kecil. Saling mencubit atau menabok. Kanaya menggelengkan kepala melihat
tingkah kedua temannya itu.
“Sya, udah! Mending kamu temenin aku ke toilet aja, yuk!”
Kanaya mencoba menengahi.
“Tapi Nay, dia kan..” belum selesai dengan kalimatnya,
Kanaya sudah terlebih dahulu menarik lengan Hasya.
“Udah, nanti lagi gelutnya!”
Hasya menurut dan berjalan dengan digandeng Kanaya menuju
toilet.
Kelas mereka berada di lantai dua, dan toilet di lantai
dua berada di sebelah kelas paling ujung. Untuk sampai kesana, mereka berdua
harus melewati beberapa kelas yang masih aktif KBM karena bel pergantian jam pelajaran belum berbunyi.
Tanpa disengaja, Kanaya menoleh ke dalam kelas yang
sedang diampu oleh Bu Nisa. Namun, bukan Bu Nisa yang berhasil ditangkap oleh
manik matanya. Melainkan sepasang mata yang secara kebetulan saat itu juga
sedang menatap ke arah jendela. Mata itu milik laki-laki yang meminjaminya
payung kemarin, Abimanyu.
Kanaya menganggukkan kepalanya sekali untuk menyapa
laki-laki itu sekaligus sebagai simbol permisi, lalu menarik tangan Hasya
__ADS_1
supaya mempercepat langkah kakinya.
~0o0~