Astrophile

Astrophile
Episode 4


__ADS_3

Pak Rusdi merupakan guru


biologi yang terkenal


santai namun ketika membuat soal ulangan sulitnya bukan main. Apalagi mata


elang yang dimiliki beliau selalu berhasil menangkap siapa saja yang berusaha


untuk mencari jawaban dari teman lain maupun berusaha membuka contekan.


Pernah suatu kali saat ulangan biologi dengan Pak Rusdi


di kelas sebelah, ada anak yang mencoba untuk membuka contekan yang ia letakkan


di alas sepatunya. Padahal, dalam mata pelajaran yang lain anak tersebut sudah


terkenal pro untuk urusan mencontek. Namun


berbeda dengan kelas Pak Rusdi. Dengan kelebihan mata elang yang dimilikinya,


beliau dapat menangkap perilaku curang dari anak tersebut.


Alhasil, nilai ulangannya tidak keluar. Dia harus


mengulang mengerjakan ulangan di ruang guru dengan soal yang berbeda. Tentu,


dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.


Sudah sejak dua puluh tahun lalu Pak Rusdi mengajar di


sekolah ini, dan beliau sering menjadi guru favorit yang diingat siswa saat


kelulusan. Gaya mengajarnya asik, santai, namun disiplin. Sosok Pak Rusdi tidak


seperti guru pada umumnya yang terkenal galak. Namun pembawaan karakternya


cukup tegas dan berwibawa. Tidak jarang juga Pak Rusdi melawak di sela-sela


pelajaran. Hal itulah yang membuat Pak Rusdi disegani oleh banyak siswa di


sekolah ini.


Edo menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal,


namun ia menggaruk kepalanya karena sejak tiga puluh menit yang lalu belum ada


soal yang berhasil ia jawab dengan yakin. Anak itu kehilangan memori hapalannya


yang sudah ia pelajari semalam. Sejak tadi, ia menjawab soal pilihan ganda


dengan menghitung kancing bajunya, atau dengan memutar pensilnya.


Salah satu hal yang menarik dari Edo adalah komitmennya

__ADS_1


untuk tidak mencontek saat ulangan, meski hampir setiap hari ia selalu


mengandalkan kawan-kawannya untuk mengerjakan tugas. Sesulit apa pun soal


ulangan yang ia kerjakan, hasil akhirnya selalu murni karena otaknya, atau


karena keberuntungannya. Namun, seringkali nilai yang diadapatnya lebih tinggi


dari KKM.


Di sisi kanan dekat dengan jendela, Kanaya masih fokus


dengan lembar soal di depannya. Jika dia tidak begitu menyukai mata pelajaran


fisika dan kimia, maka untuk mata pelajaran biologi dia cukup menguasai. Terbukti


dari hasil ulangan sebelum-sebelumnya Kanaya selalu menempati posisi paling


atas.


Waktu terus berjalan, tidak ada yang berani mencuri


kesempatan untuk mendapatkan jawaban dari temannya.


“Lima belas menit lagi semua soal dan lembar jawab harus


sudah dikumpulkan! Bagi yang saat ini sudah selesai boleh langsung dikumpulkan


dan meninggalkan kelas. Lumayan, ada bonus lima belas menit untuk menghirup


Kanaya melirik arlojinya, lalu memeriksa kembali


jawabannya. Semua nomor di lembar jawabnya sudah terisi. Dengan mantap gadis


itu beranjak dari tempat duduknya dan meletakkan lembar jawabannya di meja


guru, lalu disusul beberapa temannya, termasuk Hasya. Edo yang sejak tadi hanya


mengandalkan keberuntungan dengan “jimat” ajaibnya juga menyusul.


“Waah, kayanya kepalaku harus masuk kulkasnya Bu Rini,


deh,” ujar Edo saat keluar kelas. Bu Rini adalah salah satu pedagang di kantin


yang paling ramah. “Bener-bener Pak Rusdi kalau buat soal ulangan selalu bikin


kepalaku mau mbledhos!”


“Kalau ini sih mending langsung minta rujukan ke UGD aja


sih, Do!” Hasya menyentuh jidat Edo.


“Iya, bener, kan? Rawat inap wae apa ya, Sya? Biar dapet dispensasi libur sekolah.”

__ADS_1


“RSJ wae pie, Do?”


“Sembiringin kalau


ngomong! Walaupun utekku meh mbledhos


ngeneiki tapi aku masih waras ya, Sya!” Edo menonyo kepala Hasya.


Plak!


Hasya menabok lengan Edo dengan keras. “Enak aja kepala


orang main sembarangan ditonyo!”


Tidak ada yang mau mengalah, keduanya terus beradu baku


hantam kecil. Saling mencubit atau menabok. Kanaya menggelengkan kepala melihat


tingkah kedua temannya itu.


“Sya, udah! Mending kamu temenin aku ke toilet aja, yuk!”


Kanaya mencoba menengahi.


“Tapi Nay, dia kan..” belum selesai dengan kalimatnya,


Kanaya sudah terlebih dahulu menarik lengan Hasya.


“Udah, nanti lagi gelutnya!”


Hasya menurut dan berjalan dengan digandeng Kanaya menuju


toilet.


Kelas mereka berada di lantai dua, dan toilet di lantai


dua berada di sebelah kelas paling ujung. Untuk sampai kesana, mereka berdua


harus melewati beberapa kelas yang masih aktif  KBM karena bel pergantian jam pelajaran belum berbunyi.


Tanpa disengaja, Kanaya menoleh ke dalam kelas yang


sedang diampu oleh Bu Nisa. Namun, bukan Bu Nisa yang berhasil ditangkap oleh


manik matanya. Melainkan sepasang mata yang secara kebetulan saat itu juga


sedang menatap ke arah jendela. Mata itu milik laki-laki yang meminjaminya


payung kemarin, Abimanyu.


Kanaya menganggukkan kepalanya sekali untuk menyapa


laki-laki itu sekaligus sebagai simbol permisi, lalu menarik tangan Hasya

__ADS_1


supaya mempercepat langkah kakinya.


~0o0~


__ADS_2