Astrophile

Astrophile
Episode 2


__ADS_3

Pukul setengah lima sore, Kanaya masih berdiri di balkon


lantai dua menunggu hujan reda. Sejak bel pulang sekolah berbunyi, satu per


satu siswa SMA Pangudi Luhur mulai meninggalkan sekolah. Namun tidak dengan


Kanaya, karena hari ini dia lupa meninggalkan payungnya di rumah. Tidak biasanya


gadis itu meninggalkan payung saat musim hujan seperti ini.


Sejak teman-temannya beranjak keluar kelas, Kanaya


memilih menunggu hujan reda sambil membaca novel terbaru karya penulis


favoritnya. Namun hingga saat ini, hujan di luar belum juga reda.


Kanaya memutuskan untuk turun ke lantai bawah, barangkali


ada sesuatu yang bisa melindungi tubuhnya dari hujan untuk sampai ke halte


sekolah. Namun saat gadis itu sampai di lantai satu, keadaan sekolah sudah


sepi. Hanya ada penjaga sekolah yang mulai mengunci pintu-pintu kelas. Guru-guru


juga mulai meninggalkan sekolah dengan kendaraan pribadinya.


Gadis berambut panjang itu berjalan sampai ke ujung


lorong lantai satu supaya lebih dekat dengan pintu gerbang. Matanya melihat ke


atas. Langit gelap dengan rintik hujan yang masih terus membasahi bumi.


Meski hanya berjarak 10 meter dari tempatnya berdiri


untuk sampai gerbang sekolah, namun jika rintik hujan yang turun masih sederas


ini, bajunya pasti akan basah. Apalagi saat ini dia mengenakan sergam osis.


“Pak Atmo, boleh saya pinjam payung?” Kanaya bertanya


kepada penjaga sekolah yang sedang mengunci pintu ruang kelas di dekatnya.


“Waduh, maaf mbak, bukannya saya tidak mau meminjami,


tapi tadi payung saya sudah dipinjam sama Mbak Devi lebih dulu e,” jawab Pak Atmo.


“Owalah, ya sudah, Pak. Tidak apa-apa, maturnuwun.”


“Nggih, Mbak. Mohon

__ADS_1


maaf, ya.”


Kanaya tersenyu sambil mengangguk. Gadis itu melepas


sepatunya lalu mengeluarkan kantong plastik dari dalam tasnya untuk menyimpan


sepatunya. Kini gadis itu sempurna bertelanjang kaki. Kanaya bertekad untuk


menerjang hujan.


Kanaya sudah siap dengan tas punggungnya yang ia letakkan


di atas kepala sebagai pelindungnya dari air hujan. Namun saat kaki gadis itu


hendak melangkah, tiba-tiba sebuat tangan berhasil menarik lengannya, membuat


ia terkejut.


Seorang laki-laki berseragam SMA kini berdiri tepat di


hadapannya.


“Mau nerjang hujan deres kaya gini?” tanya laki-laki itu.


Kanaya menatapnya tak bergeming. Dari bagde nama yang


hadapannya bernama Abimanyu.


“Kamu punya aset berharga, jangan gampang dijual murah


dengan membiarkan itu semua terekspos karena seragam kamu basah.”


Glek!


Kanaya menelan salivanya, lalu berangsung munudr,


menjauhkan dirinya dari laki-laki itu.


“Mau pilih jaket atau payung?” Abimanyu bertanya.


“Hah?” Kanaya bingung.


“Mending payung aja, deh. Sama aja kalau aku pinjemin


jaket juga nanti tetep basah.” Laki-laki di hadapannya itu segera membuka


ransel, lalu mengeluarkan sebuah payung lipat berwarna biru. “Jangan sampai


hilang, ya,” lanjutnya.

__ADS_1


Kanaya masih tidak mengerti dengan sikap pria ini, dia


hanya diam tidak mengatakan apa pun.


“Sekarang kamu bisa pulang dengan payung itu, jangan


sampai basah kuyup, ya!”


“O-oh, iya, terima kasih banyak.”


“Besok lagi jangan lupa bawa sendal juga,” ujar Abimanyu


sambil melirik kaki Kanaya yang telanjang tanpa alas kaki.


Kanaya menggigit bagian bawah bibirnya. “Kamu di kelas


berapa? Biar aku gampang ngembaliin payungnya.”


Ck


“Kita satu angkatan, Nay. XI IPS 3, diingat-ingat, ya!”


Abimanyu lalu melangkah pergi meninggalkan Kanaya yang masih terlihat bingung.


Sebenarnya apa yang dikatakan laki-laki itu memang benar,


dan hal itu pula yang membuat Kanaya bertahan untuk menunggu hujan reda, supaya


baju seragamnya tidak basah. Namun yang membuat Kanaya bingung dan heran adalah


bagaimana laki-laki itu bisa tiba-tiba muncul di hadapannya, dan mengaku


sebagai teman satu angkatannya.


Kanaya memang bukan gadis yang begitu popular di sekolah


meski dia aktif dalam berbagai kegiatan, pun juga tidak terlalu mudah bergaul


dengan laki-laki. Jadi, dia tidak begitu paham dengan teman laki-laki selain


teman sekelasnya, atau teman organisasi.


Punggung laki-laki itu


menghilang di belokan lorong lantai satu. Kanaya segera membuka payung di


tangannya dan bergegas keluar sekolah menuju halte untuk menunggu angkutan


nomor 9 yang menuju ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2