
Angie dirawat di ruangan VVIP karena Ayah Angie merupakan penanam saham terbesar dirumah sakit tersebut. Terlihat wajah cantik nan mulus itu tampak tak berdaya diatas ranjang pasien. Sudah beberapa jam setelah dipindahkan Angie masih belum sadarkan diri, seperti tidak ada semangat untuk bangun. Andrew kakak yang selalu usil itu begitu khawatir dengan adiknya yang ceria, ia duduk di sofa bersama kedua orang tuanya yang tak kalah khawatir akan keadaan putri tersayangnya itu. Mata Erlina begitu sembab karena dari tak henti menangis.
Matahari terlihat muncul namun masih malu-malu untuk mengeluarkan sinarnya yang membuat bumi menjadi terang. Angie mengerejapkan matanya yang masih berat untuk bangun namun ia pelan-pelan membuka matanya. Willy yang baru saja keluar dari kamar mandi pandangannya tertuju pada putrinya yang cantik sedang memposisikan badannya untuk duduk. Ia menghampiri putrinya dan langsung memeluk Angie. Angie tak bergeming, namun tanpa diundang ingatan yang membuatnya berada dirumah sakit ini kembali muncul membuat air mata Angie lolos tanpa dipinta. Ayahnya melepas pelukannya dan melihat putrinya menangis ada banyak pertanyaan namun ia urungkan karena saat ini belum tepat mengingat Angie yang harus bedrest.
"Sayang, putriku.Kamu haus?" tanya Ayah dan dibalas anggukan oleh Angie. Willy segera mengambil gelas dimeja samping ranjang dan menyerahkan ke Angie.
"Ayah kenapa Ayah disini? Ayah kan harus ke kantor" tanya Angie dengan wajah sendu. Angie sangat dekat Ayahnya karena menurutnya Ayah adalah satu-satunya laki-laki yang tidak akan pernah menyakiti Angie.
"Kamu lupa Ayahmu ini CEO nya, dan saat ini putrinya yang cantik sedang tidak sehat mana bisa Ayah meninggalkan kamu dengan kondisi seperti ini, hm?" jawab Willy sambil mencubit pelan hidung Angie. Angie tertawa geli melihat tingkah Ayahnya yang selalu memanjakan Angie
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu sudah bisa tertawa, nak. Ayah tidak suka putri kesayangan Ayah menangis dan sakit." ujarnya dalam hati.
Ceklek (suara pintu ceritanya)
Terlihat Erlina berjalan masuk membawa tas yang berisi pakaian Angie. Karena kata dokter Angie harus dirawat 3 hari untuk memulihkan tubuhnya. Saat akan menyimpan tas ke sofa Erlina terperanjat melihat putrinya sudah sadar, ia langsung berhambur memeluk Angie.
"Kamu ini selalu saja membuat Bunda khawatir." ujarnya sambil memukul dahi Angie pelan. "Syukurlah kalau kamu sudah sadar, Bunda sampai shock melihat kondisi mu seperti tadi malam." tambahnya lagi lalu kembali memeluk putri tercintanya itu. Angie hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua orang tuanya yang selalu menganggap Angie anak kecil. Tapi ia begitu bersyukur karena orang tuanya begitu menyayanginya.
"Dia tadi kesini sama Bunda tapi karena ada meeting jadi abang pergi deh, karena CEO nya disini dan digantikan oleh putranya." jawab Erlina sambil melirik ke Willy. Willy hanya melirik Erlina dan memancarkan senyum usil kepada istrinya itu.
__ADS_1
"Astagaa!!" Angie memegang kepalanya yang tak pusing membuat kedua orang tuanya panik.
"Kamu kenapa sayang? Apa ada yang sakit? Di kepala? Ayah kenapa diam saja cepat panggil dokter" cecar Erlina panik.
"Jangan panggil dokter, Yah. Angie cuma keinget kalo HP sama tas Angie ketinggalan di Cafe kemarin" jawabnya menyengir kuda. "Bunda, Angie pinjam HP Angie lupa belum kabarin Sissy dia pasti khawatir nungguin kabar Angie." pintanya dengan manja, lalu Erlina memberikan ponselnya.
Memang panjang umur, orang yang sedang dibicarakan datang masuk nyelonong ae bos. Dengan wajah panik ia masuk lalu memeluk sahabatnya itu dengan perasaan cemas. Namun, saat sudah lama memeluk ia melepas pelukannya dan memandang mata sembab Angie. Lalu memberikan tas yang kemarin Angie pakai kepada pemiliknya dengan kasar. Ia lupa ada kedua orang tua Angie yang memperhatikannya. Saat ia akan bertanya Willy berdehem, reflek Sissy menoleh kearah suara.
"Eh om ganteng sama tante cuantik, Sissy nggak liat soalnya Sissy khawatir banget sama Angie hehe" jelas Sissy sambil nyengir lalu menyalami kedua orang tua Angie.
__ADS_1
bersambung... jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangkuuuš