
Sebuah motor berhenti tepat disamping Nesya. Nesya melirik sekilas lalu kembali melangkah meninggalkan pria di atas motor tersebut.
"Ca naik". Ia terus mengikuti langkah Nesya.
"Gak, Gue bisa pulang sendiri Gril". Ujar Nesya tanpa melirik pria tersebut.
"Ini udah hampir malam Nesya. Lo gak takut sama orang yang berniat buruk sama lo". Pria tersebut terus membujuk Nesya.
"Egril stop. Gue butuh waktu sendiri gak semua gue harus cerita sama lo". Nesya menatap pria yang di panggil Egril tersebut.
"Gue gak minta lo cerita Ca. Gue hanya mau lo ikut gue sekarang, biar gue anterin lo pulang".Egril menggenggam erat tangan Nesya.
"Tapi lo diem jangan tanya tanya gue".
"Oke".
Nesya akhirnya naik keatas motor milik Egril. Ia memeluk pria itu sangat erat sembari menyembunyikan wajah di punggung Egril.
15 menit perjalanan akhirnya Egril dan Nesya sampai di rumah Nesya.
"Gue langsung pulang. Lo langsung istirahat jangan memikirkan hal yang gak penting". Ucap Egril saat Nesya sudah turun dari motornya.
"Hati-hati". Nesya tersenyum sendu menatap kepergian Egril dari pandangannya.
Saat Nesya hendak membuka pagar rumahnya ia kembali mendengar suara motor yang berhenti tepat di dekatnya. Nesya menengok dan dikejutkan oleh kehadiran Kenzie, kekasihnya.
"Oh jadi gitu". Ujar Kenzie menatap Nesya tajam.
"Apalagi? Egril? Dia temen gue". Ucap Nesya cuek.
Sikap Nesya kali ini sangat berbeda dengan Nesya yang biasanya selalu takut jika bertengkar dengan Kenzie.
"Udah ya, jangan batasi gue mau berteman dengan siapapun. Sadar dini ken, lo juga banyak temen ceweknya". Ucap Nesya lalu bergegas masuk dan mengunci pagar agar ia tidak di ganggu oleh Kenzie.
__ADS_1
Nesya berjalan sangat tergesa-gesa ia takut orangtuanya tau tentang masalah yang ia hadapi. Tapi sayang Kedua orang tua Nesya sudah berdiri di tangga menunggu putrinya pulang.
"Caca, kamu dari mana aja sayang?". Dewi, mama Nesya memeluk putrinya sangat erat. Rasa khawatir tidak bisa ia sembunyikan dari raut wajahnya.
"Caca gak kenapa kenapa mah, Caca mau istirahat". Nesya meyakinkan kedua orang tuanya agar tidak perlu khawatir terhadapnya. Nesya langsung berlari menuju kamar tanpa menghiraukan kedua orang tuanya yang khawatir terhadapnya.
...****************...
Di jalanan sepi seorang pria melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sangat tinggi, semua emosi ia luapkan pada gas motor yang semakin membawanya melaju dengan cepat.
"Sial, dia udah gak takut kehilangan gue". Gumamnya sembari menggertakan gigi gigi rapi nya.
Kenzie menyipitkan matanya memperhatikan dengan detail pria bermotor yang ada di hadapannya, setelah meyakini dengan pasti ia menyalip motor dan menyenggol motor tersebut.
Pria yang terkejut oleh ulah Kenzie tak bisa menahan diri hingga motornya oleng dan menabrak sebuah pohon besar. Ia terkapar lemah dengan darah segar yang keluar dari pelipisnya.
"Rasakan itu akibat lo mengganggu kebahagiaan gue". Ucap Kenzie dari kejauhan melihat Egril yang sudah tak berdaya.
Kenzie kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meninggal Egril dan motornya.
"Motor gue". Egril mencoba berdiri untuk membenarkan posisi motornya yang setengah hancur.
Egril terus meringis kesakitan ia melihat ke kiri kanan jalan namun jalan yang biasa di gunakan sebagai jalan pintas itu masih saja sepi tidak ada orang yang melintas disana.
** Disekolah**
"Arhan, Egril mana?". Tanya Nesya pada Arhan baru saja datang.
"Gatau, gue juga baru sampe. Mungkin di ruang Osis". Jawab Arhan, Nesya hanya menganggu sambil terus menyusuri isi kelas berharap ia dapat menemukan Egril.
Nesya ingin sekali bercerita sekarang pada Egril, meskipun Egril tidak dapat memberi masukan namun bisa membuatnya sedikit lega.
Bel masuk sudah berbunyi, jam sudah menunjukan pukul 08.00 namun Nesya masih belum melihat Egril di kelasnya. Ia berkali kali menanyakannya pada teman yang lain namun tidak ada yang mengetahui keberadaan Egril.
__ADS_1
Pak Alamsyah sudah memasuki kelas dengan buku biasa ia bawa ketika proses pembelajaran.
"Ada kabar duka dari salah satu teman kita, Egrilian Seftia Nugraha mengalami kecelakaan kemarin malam dan baru di rawat pagi tadi di RS Tiara Bunda". Ucap pak Alamsyah ketika ia baru saja menyimpan buku yang ia bawa di meja guru.
Semua terkejut mendengar kabar tersebut, terlebih Nesya yang semalam di antar pulang oleh Egril. Pikiran Nesya mulai berantakan ia takut kondisi Egril tidak baik baik saja.
Dikala pak Alamsyah menjelaskan materi tatapan mata Nesya terlihat kosong, Raganya memang di dalam kelas namun pikirannya melayang memikirkan pria yang biasanya menjadi teman cerita Nesya.
**Kriiiiiiiing**
Bel istirahat berbunyi tanpa pikir panjang Nesya lansung menggendong tas sekolahnya untuk kabur dari sekolah melalui gerbang belakang yang sudah rusak.
Detak jantungnya berpacu sangat cepat, antara khawatir dengan Egril dan takut ketahuan guru atau satpam sekolah.
Setelah melakukan perjalanan yang terasa sangat jauh akhirnya nama RS Tiara Bunda sudah terpampang jelas di pintu masuk.
"Maaf sus saya mau tanya pasien bernama Egrilian Seftia Nugraha ada di ruang mana ya?". Tanya Nesya saat ia sudah masuk ke ruangan Rumah sakit yang cukup luas.
"Sebentar ya dek. Egrilian Seftia Nugraha ya?". Suster tersebut berusaha mencari data data Egril.
"Pasien bernama Egril ada di lantai Empat dek, nanti di sana ada suster jaga kamu tanya lagi aja". Nesya hanya menganggug sebagai jawaban.
Entah mengapa Nesya sangat suka dengan Nada bicara suster yang lemah lembut, itu membuatnya kecanduan.
Di lantai empat Nesya kembali bertanya posisi ruangan Egril, setelah mengetahui Nesya sangat bersemangat menghampiri temannya tersebut.
"Permisi". Nesya membuka pintu pelan saar ia melihat dari kaca pintu Egril hanya sendirian disana.
"Caca". Egril terkejut melihat Nesya ada disana, apalagi dengan seragam sekolah yang masih ia kenakan.
Egril melirik jam di dinding dan masih menunjukan pukul 10:30.
"Lo bolos?" Tanya Egril serius.
__ADS_1
"Terpaksa gril, gue khawatir sama kondisi lo".Jawab Nesya tanpa berani menatap mata Egril.
"Caca lo ini kenapa sih? Kan bisa nanti pulang sekolah, ajak Arhan juga". Ujar Egril menghela nafas panjang, ia tak habis pikir dengan Nesya yang senekat itu hanya untuk menjenguknya.