
Indra terdiam, sebaik itukah Kenzie sehingga sang istri amat sangat mendambakan seorang Kenzie tetap menjadi kekasih Nesya dan akan menja di jodohnya?. Beberapa pertanyaan terus berputar di pikirannya, ingin sekali dia mengenal Kenzie dan Egril lebih dalam agar ia tau mana yang lebih baik menurutnya.
Seseorang terdengar mengetuk pintu depan, menghentikan obrolan Dewi dan Indra kali ini.
"Erwin?". Dewi mengerutkan keningnya ketika melihat adik iparnya yang berada di balik pintu.
Suasana tak nyaman mulai Erwin rasakan ketika ia memasuki rumah tersebut. Sikap Dewi yang jutek membuat dirinya ingin segera cepat cepat pulang.
"Masuk win". Perintah Indra, Dewi tak ikut kumpul disana. Ia langsung pergi ke halaman belakang rumah.
"Makasih bang. Oh ya bang, ibu nyuruh lo kerumah. Kangen katanya". Ucap Erwin saat ia telah duduk di samping Indra.
"Iya nanti kalau Caca udah pulang abang kesana sama Dewi dan Caca". Ujar Indra, ia ingin sekali bertanya tentang Kenzie dan Egril, namun ia takut Dewi mendengar dan menjadi bahan perdebatan nantinya.
Erwin tak berlama lama berada di rumah kakaknya karena ia sungguh tak enak dengan sikap Dewi yang tidak sama seperti dulu.
Setelah kepergian Erwin, Indra berjalan menuju lantai atas untuk mengecek laporan laporan bawahannya. Indra tersenyum senang semua aman dan bekerja dengan benar.
Jam sudah menunjukan pukul 14:00, seorang gadis turun dari motor dengan mimik wajah yang tidak bersahabat.
"Makasih pak". Ucapnyq sembari memberikan helm pada bapak yang telah mengantarnya pulang.
Ia membuka pintu gerbang dengan lemas, Dewi yang sedari tadi menatap gadisnya hanya bisa mengerutkan kening kala orang yang ia cari tak kunjung datang.
"Mana Kenzie ca?". Pertanyaan pertama Dewi sudah berhasil memperburuk mood putrinya.
"Kenzie Kenzie Kenzie, mending mama adopsi aja deh Kenzie jadi anak mama. Caca cape abis perjalanan jauh, nunggu ojol lama tapi yang mama tanyakan tetep aja Kenzie". Nesya berbicara dengan nada sedikit tinggi membuat Dewi terkejut dengan putrinya yang baru pertama kali membentaknya.
"Apa? Mama kaget?. Sama caca juga kaget, kaget banget dengan perubahan sikap mama. Jadi jangan marah kalau caca bersikap seperti mama". Sambung Nesya, ia pergi meninggalkan Dewi menuju kamarnya.
__ADS_1
Dewi bertanya tanya dengan apa yang terjadi dengan Nesya selama ia bersama Kenzie sehingga membuat mood anaknya terlihat seberantakan itu.
Dengan langkah terburu buru Nesya berjalan menuju kamarnya. Nafas memburu menandakan bahwa gadis itu tidak baik baik saja, Emosi dan kesedihan menjadi satu dalam hatinya.
"Aaaaaaaaaaa". Nesya menjerit meluapkan semua amarahnya sembari melempar semua benda yang ada di dekatnya.
Ruang kerja Indra yang bersebelahan dengan kamar Nesya di buat terkejut dengan suara yang tiba tiba tersebut. Indra berlari menuju kamar putrinya dan melihat Dewi pun sudah ada di depan pintu kamar Nesya.
"Caca kamu kenapa sayang?". Teriak Indra di tengah kebisingan yang terjadi di dalam sana.
"Caca buka pintunya nak jangan bikin papa khawatir". Ucap indra kembali, sungguh ia tak pernah melihat putrinya seperti ini.
Ia menatap istrinya dengan tatapan sinis, entah mengapa ia merasa ini adalah ulah Dewi.
"Apa?. Mau apa lagi hah. Caca cape, caca cape terus terusan di paksa berjalan sama orang yang jelas jelas gak sejalan lagi sama caca". Teriak Nesya dengan suasana yang mulai hening dan hanya terdengar isah tangis yang menyesakan.
"Kenapa sih ma, sebaik apa Kenzie sehingga mama buta dengan kesakitan putri mama sendiri". Ucap Indra membulatkan matanya dengan sempurna pada Dewi.
Nesya berdiri dari duduknya lalu membuka pintu dengan kasar, ia mendapati Dewi dan Indra yang sedang beradu argumen.
"Mama tau kenapa Caca pulang naik ojol?,". Tanya Nesya pelan namun dengan nada sangat menusuk.
"Kenzie pergi jemput Dini dan caca di tinggal sendiri di tempat yang caca sendiri gak tau itu dimana, dan caca gak tau jalan pulang ma". Sambung Nesya sebelum Dewi menjawab pertanyaannya.
Indra semakin tajam menatap istrinya, emosinya sudah di puncak dengan nafas semakin memburu membuat Dewi gemetar melihatnya.
Dewi meleos pergi meninggalkan Nesya dan Indra, ia takut jika Indra meluapkan semua emosi padanya.
Indra memeluk Nesya dengan penuh kasih sayang, ia memberikan kenyamanan dan keamanan dan pelukannya. Indra tak mau putri semata wayangnya mengalami stress akibat luka di hatinya.
__ADS_1
"Pa, caca cape. Caca memang mencintai Kenzie tapi caca gak pernah maksa Kenzie untuk selalu sama Caca, Caca memang bahagia jalan sama Kenzie tapi jika itu kemauan Kenzie". Ucap Nesya sambil terisak dalam pelukan papanya.
"Caca sendiri pun gak pernah ngajak Kenzie pergi, caca selalu menunggu Kenzie yang ngajak. Kenapa mama semakin seenaknya pa". Sambung Nesya. Ia melepaskan pelukan sang ayah lalu menatap dalam dalam manik mata pria yang menjadi cita pertamanya.
Indra mengelus lembut rambut putrinya,ia tak berani mengatakan apapun. Meskipun marah terhadap istrinya namun ia tak berani membela siapapun saat ini, sebelum ia tau kebenarannya.
Hari sudah gelap,suasana rumah sungguh sunyi. Nesya berada di kamar begitupun dengan Dewi yang masing masing sibuk dengan ponselnya, sedangkan Indra sibuk berkutik dengan laptopnya di ruang kerja.
...****************...
"Ngapain kamu disini?". Teriakan dari lantai bawah membuat Nesya bingung, siapa yang Dewi marahi sepagi ini.
"Pergi, jangan pernah ganggu putri saya apalagi berusaha merusak hubungannya". Suara Dewi kembali terdengar.
Dengan buru buru Nesya berlari menyusuri tangga, ia melihat Egril dan Dewi yang berdiri mematung di ambang pintu.
"Egril, ada apa pagi pagi kesini?". Tanya Nesya menatap Egril heran.
"Ini ca". Egril memberikan Laptop milik Nesya yang tertinggal di laci meja kelasnya.
"Oh makasih Egril, bisa lupa gitu ya gue sama barang sendiri". Nesya mengambil Laptop yang di pegang Egril.
"Laptop siapa itu ca? Kamu kan gak pernah mama beliin Laptop?". Tanya Dewi heran.
"Atau jangan jangan ini cuma akal akalan kamu doang ya biar bisa ketemu sama anak saya". Sambung Dewi membuat Nesya kembali menghela Nafas dalam dalam.
"Mama bisa gak sih ngasih orang kesempatan buat bicara, Ini Laptop tante Elita hari selama beberapa hari kemari Caca pinjem buat presentasi dan kebetulan Caca satu kelompok sama Egril". Jelas Nesya pada Dewi dengan santai namun penuh penekanan.
"Kan bisa kasih nanti disekolah". Ucap Dewi kembali menatap tak suka pad a Egril.
__ADS_1
"Terserah mama deh, udah untung Egril mau nganterim Laptopnya atau kalau gak entah sampai kapan Caca lupa sama laptop ini". Ujar Nesya mulai Emosi.