
Nasya berteriak kencang membuat semua orang kaget dan ketakutan melihat kondisi gadis tersebut saat ini.
"Egril kamu temenin dia, kita harus cepat cepat melaksanakan praktek". Ucap pak Erwin.
Semua bersiap siap dengan baju renang, pemanasan di pimpin langsung oleh pak Erwin. Sedangkan Egril membawa Nesya ke tempat duduk yang cukup sepi, ia berharap dirinya bisa menenangkan Nesya.
Canggung, itulah yang di rasakan Egril. Satu minggu rasanya sudah merubah semua di antara Egril dan Nesya.
"Caca". Egril memegang pundak gadia dihadapannya dengan lembut, ia tepis segala yang membuat dirinya menjauhi Nesya kemarin.
"Gue gak bisa, gue takut Egril". Ucap Nesya dengan suara gemetar dan terbata bata.
"Gue takut kolam itu. Sunyi, gelap,dalam gue takut itu Egril". Sambung Nesya yang kali ini menatap Egril tajam.
"Gak apa apa gue ada disini, lo tenang jangan bikin semua panik". Egril membawa kepala Nesya untuk bersandar di dada bidangnya.
"Gue syok saat Nathali nyenggol gue dengan tiba tiba, gue gatau apa yang terjadi kalau gue sampai jatuh kesana". Ujar Nesya meremas baju Egril sangat kuat.
Egril mengelus lembut rambut Nesya dan meletakan dagunya di kepala Nesya. Sungguh dia adalah gadis lemah yang selalu di kira kuat.
Nafas Nesya berangsur Normal, ia merasakan kenyamanan dan keamanan disana. Egril pun merasakan Nesya sudah kembali tenang.
"Sebenarnya gue pernah kesini, bareng Kenzie. Lo tau dia perenang handal di sekolah, dan gue di ajak ketempat tadi. Gue terpeleset dan jatuh. Namun, dia hanya menertawakan gue". Ucap Nesya dengan mata menatap lurus kedepan.
"Karena itu lo trauma?". Tanya Egril yang kini memeluk tubuh mungil Nesya.
"Sebenarnya dari dulu gue takut kedalaman, kegelapan dan kesunyian. Tapi setelah kejadian itu gue samakin takut mengenai hal itu". Jelas Nesya yang kini menatap manis mata Egril yang teduh dan menenangkan.
Siswa yang sedang melaksanakan prakter renang terdengar riuh, mereka bergembira bisa main air bersama. Sedangkan Nesya membayangkannya saja sudah ketakutan lebih dulu.
Nathali yang baru saja melaksanakan prakteknya terlihat murung di sisi kolam, ia merasa bersalah atas apa yang menimpa sahabatnya.
Takut, itulah yang di rasakan Nathali. Ia takut jika Nesya mengalami trauma berat karena ulahnya yang ceroboh. Ia merutuki diri sendiri yang telah gagal menjasi sahabat Nesya.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Arhan ketika melihat Nathali yang berjalan meninggalkan kolam.
"Nyamperin Caca". Jawabnya dengan Nada lemas.
"Gausah, jangan ganggu Nesya dulu. Egril bisa membuat Nesya baik lagi". Cegah Erhan. Nathali mengangguk lalu duduk di samping Arhan.
Penyesalan jelas terlihat daei wajahnya, ia tak bisa menyembunyikan kehawatiran pada Nesya.
"Lo tau kan Nesya itu baik?, dia gabakal benci sama lo. Lo tenang jangan panik, jangan bikin Nesya semakin trauma".Arhan mengelus punggung Nathali yang termenung sedari tadi.
Praktek telah selesai, pak Erwin mengijinkan seluruh siswa untuk bersuka ria bermain wahana disana, semua bersorak gembira dan langsung beramai ramai menunu waterboom yang cukup menantang adrenalin.
Pak Erwin, Arhan dan Nathali menghampiri Egril dan Nesya. Kondisi Nesya terlihat lebih baik, dia sedang manikmati Pop mie yang di beli oleh Egril.
"Ca, udah baikan?". Tanya pak Erwin.
Sebagai penanggung jawab pak Erwin pun sangat hawatir melihat kondisi Nesya tadi. Jika sesuatu terjadi pada Nesya maka ia yang patut di salahkan lebih dahulu.
"Caca baik baik aja pak". Jawab Nesya, ia fokus memakan pop mie yang hampir habis.
"Lo pasti marah ya ca, gue tau gue salah. Maaf ya ca please". Nathali hampir meneteskan air matanya karena Nesya tak merespon perkataannya.
"Gue lagi makan mie Nathali, gak marah". Ucap Nesya menatap sahabatnya , hidungnya sudah memerah dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya membuat Nesya ingin tertawa.
"Idung lo lucu, kaya jambu air". Ledek Nesya lalu melanjutkan makan pop mie hingga habis tak tersisa.
Semua tertawa bahagia, bukan karena lelucon Nesya. Namun, karena mereka bahagia melihat Nesya kembali ceria.
Tak terasa akibat terlalu senang bermain air, jam sudah meunjukan pukul 15:00. Pak Erwin memberi intruksi untuk bersiap siap pulang.
Parkiran kembali menjadi tempat kumpul, pak erwin kembali memberi arahan untuk mereka gara tetap sopan ketika di perjalanan.
Perjalanan kali ini tak sehening perjalanan saat berangkat tadi, ada sedikit obrolan ringan antara mereka yang sudah satu minggu tidak bertuka cerita , bahkan saling sapapun tidak.
__ADS_1
"Maafin gue ya gril, nanti kalau nilai penjas lo kosong itu pasti gara gara gue". Ucap Nesya menatap Egril dari kaca sepion yang sengaja Egril atur agar mereka bisa saling melihat lewat itu.
"Bukan gara gara lo ca, kan yang minta gue buat nemenin lo pak Erwin. Jadi gara gara dia". Egril tertawa hambar.
Rindu rasanya mendengar ocehan gadis yang mengisi jok belakangnya kali ini. Sungguh entah mengapa ia menjauhi Nesya, ia tak tau alasan yang jelas. Bahkan, ia pun tak tau apa yang dirasakan hatinya saat ini.
Suasana sore yang cerah membuat perjalanan menjadi lebih bisa dinikmati, angin lembut membuat rambut Nesya yang terurai berkibar indah. Nesya memejamkan matanya sejenak.
"Andai ini Kenzie". Gumamnya dalam hati, ia selalu mendambakan momen seperti ini bersama kekasihnya.
di depan pagar tinggi itu Egril menghentikan motornya, itulah rumah Nesya. Perjalanan terasa begitu cepat meskipum Egril memacu motornya tidak terlalu cepat.
"Mampir dulu". Tawar Neysa ketika ia sudah turun dari motor milik Egril.
"Gausah makasih, gue pulang ya".
"Yaudah, thanks ya gril. Hati hati di jalan".
Motor yang Egril bawa melesar jauh meninggalkan Nesya, gadis tersebut hanya bisa geleng geleng kepala melihat Egril memacu motornya ketika ia sendiri.
"Kaya yang punya nyawa cadangan aja". Grutu Nesya saat ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Wajahnya berseri ketika melihat mobil yang berada di garasi, ia tahu betul yang datang itu adalah orang sangat ia rindukan.
...****************...
"Arhan, gue laper. Berhenri dulu ya cari makan". Rengek Nathali menaham nyeri di perutnya.
"Nyusahin bange sih lo". Ome Arhan, namun ia tetap berhenti di sebuah rumah makan padang yang berada di pinggir jalan.
"Makan sama apa?". Tanya Arhan ketika mereka sudah berada di dalam Rumah makan tersebut.
"Ayam goreng". Jawab Nathali singkat.
__ADS_1
Arhan fokus pada handphone miliknya, Nathali pun begitu. Sebenarnya ia canggung berduaan dengan Arhan. Namun, ia harus berusaha mencairkan suasana.