
Nesya bernafas lega, ia masih beruntung bisa selamat dari
hukuman pak Erwin kali ini.
Nesya sesekali melirik Egril yang kali ini sudah masuk sekolah meskipun perban masih menempel di dahinya. Ia tak berani menghampiri Egril karena kekasihnya Kenzie sedang memperhatikan dari jendela kelasnya.
Egril selalu faham saat Nesya bersikap dingin padanya, itu selalu terjadi ketika gadis tersebut baru baikan denganu kekasihnya.
"Ca, larang Egril dong supaya dia gak ikut olahraga. Lihat kakinya! Dia belum bisa jalan bener ca". Arhan menghampiri Nesya yang sedang duduk santai di samping Nathali.
Nesya hanya diam, ia peduli namun ia takut. Nesya melirik Egril kembali, kali ini tatapan keduanya saling bertemu. Nesya menggelengkan kepalanya memberi isarat agar Egril tidak ikut olahraga kali ini. Namun, Egril hanya tersenyum seolah meyakinkan Nesya bahwa dia akan baik baik saja.
"Dia keras kepala Arhan, gak bisa dilarang". Ucap Nesya pada Arhan yang masih berada di hadapannya.
"Udah biarin aja dia udah gede, udah bisa jaga diri". Sambung Nesya.
Arhan kembali menhampiri Egril karena pak Erwin audah datang dan memberi intruksi agar semua berbaria dengan rapi.
"Hari ini jangan dulu praktek olahraga". Ucap pak Erwin dan dibarengi sorakan kecewa dari murid disana.
"Minggu depan kita baru praktek olahraga. Renang". Sambung pak Erwin dan kali ini di sambut sorakan bahagia dari seluruh siswa.
"Tapi ingat, pake baju yang sopan. Nanti kita akan ke Spark. Sekarang semua masuk kelas". Jelas pak Erwin lagi. Seluruh siswa kelas X IPS 1 bubar barisan dan kini berjalan ke arah kelas.
Kebahagiaan nampak begitu jelas dari wajah mereka, praktek renang ini pasti sangat menarik. Karena praktek renangnya hanya sekitar satu jam dan sisanya mereka bebas bermain air.
Tak sabar, ya mereka ingin langsung meloncat ke minggu berikutnya, sangat lebay bukan.
Kriiiiiing. Bel istirahat berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar dari kelas. Ada yang menuju kantin, taman dan aja juga yang memilih untuk diam di kelas.
"Ca". Egril memberi kode agar Nesya menghampirinya.
Nesya berjalan menghampiri Egril lalu duduk d depan tempat duduk Egril.
__ADS_1
"Apa?". Tanya Nesya, ia melihat selama pelajaran Egril sering meringis sembari memegang dahinya.
"Lo kenapa?. Sakit lagi? Kenapa sekolah?". Tanya Nesya khawatir.
"Enggak apa apa. Lo udah baikan sama Kenzie?". Tanya Egril.
"Udah, semalem dia kerumah". Jawab Nesya ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Syukurlah". Ucap Egril Tanpa menatap Nesya lalu pergi begitu saja meninggalkan Nesya sendiri.
Dengan segala kebingungan Nesya menghampiri Nathali yang sibuk membereskan buku buku yang berserakan di meja. Nathali melirik temannya sekilas lalu kembali fokus pada apa yang ia kerjakan.
Sebuah pertanyaan menganggu hati dan pikiran Nesya saat ini, satu sisi ia senang karna hubungannya dengan Kenzie sedang hangat. Namun, ia juga tak enak hati dengan perubahan sikap Egril yang tak ia fahami.
Hari telah berganti, tak terasa satu minggu berlalu begitu cepat. Hari yang di tunggu siswa XI Ips telah tiba, semua sudah berkumpul di lapang dengan posisi keberangkatan yang sudah di atur oleh pak erwin.
Semua sudah mendapat partner berangkat masing masing, kecuali Nesya,dan hanya motor Egril yang masih kosong.
"Oh Egril masih kosong ya. Nesya bareng Egril ya". Sambung pak Erwin.
"Gausah pak Caca Naik ojol aja". Sanggah Nesya.
"Naik!". Perintah Egril dengan Ekspresi datar.
Nesya menuruti printah Egril, ia tak enak hati jika ia tetap memaksa untuk naik ojek online teman temannya akan menuggu lama.
Setelah pak Erwin memberi intruksi untuk segera berangkat semua segera meninggalkan lapangan sekolah. Wajah wajah bahagia jelas terpancar dari mereka.
"Egril kenapa sih han?, seminggu ini dia dingin banget sikapnya". Tanya Nathali yang satu motor dengan Arhan.
"Gak tau". Jawab Arhan singkat.
"Masa sih gatau?, lo kan temen deket Egril". Tanya Nathali Kembali.
__ADS_1
"Arhan jawab!, gue nanya" Ucap Nathali karena Arhan tak menanggapi pertanyaannya.
"Heh Nathali, dengerin gue!. Kita sebagai cowok gak sama kaya kalian cewek cewek". Ucap Arhan, ia jengkel dengan Nathali yang cerewet tak jauh beda dengan Nesya.
"Gak semua tentang Egril gue tau. Tapi menurut gue emang sahabat lo yang bodoh dan gak punya hati". Sambung Arhan, ia mengutarakan apa yang ia pikirkan.
"Nesya, bodoh?. Apa maksud Arhan, dia perempuan yang cerdas dan baik. Bahkan di kelas rangking dia tak pernah keluar dari tiga besar". Gumam Nathali dalam hati.
Nathali hanya bisa memendam pertanyaan itu sendiri, bertanya pada Arhan pun ia rasa percuma karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Rasa penasarannya mendorong dia untuk bertanya pada Nesya, namun ia tahan. Nathali tahu dengan Nesya dan dirinya bersahabat bukan berarti Nesya harus memberitahu dirinya segala hal.
Tak terasa perjalanan panjang terasa singkat, kini mereka sudah sampai di wisata kolam renang yang mereka tuju. Semua berkumpul di parkiran untuk mendengarkan intruksi dari pak Erwin .
"Ingat tujuan kita kesini untuk praktek bukan untuk hura hura". Jelas pak Erwin, ia tau betul apa yang membuat muridnya bahagia.
"Praktek tiga puluh persen hura hura tujuh puluh persen, iya kan pak". Teriak Nathali membuat semuanya bersorak gembira.
"Saya udah senang Nesya jadi sedikit pendiam, eh sekarang sahabatnya malah semakin cerewet". Ujar pak Erwin, melirik Nesya yang berdiri di samping Egril. Nesya hanya tersenyum tipis menanggapi lelucon gurunya.
"Udah sekarang siap siap ke tempat khusus renang, saya tunggu disana. Kita butuh dokumentasi buat kepala sekolah". Sambung pak Erwin mulai berjalan menyimpan tas lalu menuju kolam Khusus untuk praktek renang yang terletak cukup jauh dari area kolam renang yang banyak pengunjungnya disana.
Air biru tua sangat menyeramkan bagi orang yang takut kedalaman, dan pastinha tidak bisa berenang. Saat orang lain berkenalan dengan dengan air di kolam tersebut Nesya, ia terus menyender menjauhi air yang menurutnya sangat menyeramkan.
"Caca". Nathali menghampiri Nesya dan sedikit menyenggolnya.
Nesya berteriak sangat kencang saat ia hamoir saja terjatuh kedalam kolam. Ia memegang dadanya saat ia tau dirinya selamat dari hal yang menyeramkan.
Nathali yang tak mengetahui tentang ketakutan Nesya ia ikut khawatir dan memeluk tubuh Nesya yang gemetaran di pinggir kolam.
"Lo kenapa?, Maaf". Nathali terus memeluk tubub Nesya erat karna ia masih bergemetar hebat. Bahkan, air mata mulai menetes di pipinya.
Semua menghampiri Nesya, namun Nesya tak bisa menjawab pertanyaan siapapun.
__ADS_1