Axel Yang Sakit Di Keluarga Duke

Axel Yang Sakit Di Keluarga Duke
BAB 2. salah satu yang berbahaya.


__ADS_3

Mengapa pria tua ini bisa masuk ke kamarnya tampa menimbulkan suara sama sekali?


"Tuan axel?"


Axel mengambil handuk yang di sodorkan kepadanya lalu berjalan meninggalkan pria tua itu yang masi setia berdiri di sana dengan tatapan aneh di wajahnya.


"Aku hanya tidak ingin di ganggu." ujar axel menggosok rambutnya.


"Charon sangat sedih tidak bisa mengerti keinginan tuan muda. apa tuan sedang tidak enak badan? apa saya perlu memanggil dokter?" tanya pria tua itu yang bernama charon yang kini sedang memasang wajah sedih.


Axel yang mendengar nama pria tua itu seketika diam membeku di tempatnya.


Sial. dia sangat terkejut sampai membuatnya sesak nafas. hampir saja dia terkena serangan jantung yang bisa membuatnya mati kapan saja jika dia tidak segera menetralkan keterkejutannya.


Axel lalu teringat tentang alur novel aslinya yang mana di sana terdapat tiga karakter yang berbahaya dan salah satunya adalah charon. meski dia terlihat baik dan menyayangi tuan mudahnya selayaknya seorang kakek yang menyayangi cucu satu satunya. tetapi, dia sebenarnya memiliki identitas lain sebagai individu yang berhati bengis dan kejam.


Dan sekarang orang itu malah tepat ada di sampingnya. jika axel menyinggung sedikit tentang orang ini maka sepersekian detik mungkin tubuhnya akan terbagi menjadi beberapa bagian.


Memikirkannya saja membuat dirinya semakin pucat. dan beranggapan bahwa mulai sekarang dia harus berhati hati dalam bertindak.


"Tuan apa ada yang bisa saya bantu?" charon bertanya sekali lagi ketika melihat kecemasan di wajah tuannya.


'Kau sangat membantu jika kau segerah pergi dari hadapanku' tapi axel tentu tidak bisa mengatakan itu dengan lantang, jadi dia mengurutkannya.


Axel lalu berfikir sejenak menyenderkan tubuhnya ke sofa dan akhirnya mengajukan permintaan kepada charon.


"Air, ambilkan air."

__ADS_1


Dengan datar axel menatap charon yang kini berdiri di sampingnya yang kini terlihat seperti anak anjing.


"Baiklah tuan. saya akan segera mengambilnya" ujar charon melontarkan senyuman khasnya ke axel.


Axel yang merasakan senyuman itu seketika membuang muka ke samping karena merasakan sedikit hawa dingin dari pria tua itu. demi menjaga nyawanya yang berharga axel harus menghindari kontak mata dan berbicara secara formal jika berhadapan dengan charon "ya terima kasih" meski itu bukanlah niat awalnya karena dia hanya ingin mengusir pria tua itu dari pandangannya sesegera mungkin.


Charon sedikit tersentak dengan ekspresi aneh di wajahnya dan axel tidak menyadari itu sama sekali.


Setelah kepergian charon, axel langsung merilekskan tubuhnya—menghembuskan nafas beratnya ke udara.


Charon lebih berbahaya daripada pemeran utama. jika ash yang akan memukulnya sampai mati maka charon akan menyiksanya terlebih dahulu lalu menggulitinya sampai tidak ada lagi tetesan darah yang keluar dari tubuhnya.


Itu membuat axel berfikir dengan keras karena ingatannya yang sekarang sedikit samar samar tentang apa yang terjadi dan bagaimana dia harus menghindari alur cerita agar dirinya tidak berakhir seperti yang ada di novel.


Hann, "...."


Bahkan kamarnya jika di lihat dari dekat terlihat begitu luas. di tengah ruangan terdapat sebuah sofa panjang melingkar yang di buat dengan bahan kualitas terbaik. setiap sisi depan terdapat sebuah jendela besar dengan kaca anti sihir yang menghadap langsung ke balkon. bahkan kasurnya berukuran king size dengan beberapa manik manik permata yang di tempel begitu saja di segala sisi kasurnya. bahkan ada beberapa lukisan dengan seni asli yang di biarkan begitu saja tergeletak di pinggir kamar, yang membuat axel tak dapat berkata kata saat melihat kemewahan yang di suguhkan di hadapannya.


"Benar benar seperti dunia fantasy." gumamnya.


"Untuk alasan itu, aku tidak mau memikirkannya."


'Banyak hal yang harus aku lewatkan'


Setidaknya dia akan melewati peperangan itu dan mencoba hidup dengan damai. meski dia membencinya namun situasi sekarang jauh lebih baik dari pada harus hidup di dalam kamar dengan di temani berbagai alat yang menempel di tubuhnya. dan  juga di dunia ini dia tidak ingin mengabdikan diri untuk berkontribusi, mengikuti perang yang tiada habisnya itu meski sepenuhnya itu tidak dapat di hindari. tapi jika dia di perlukan maka dia dengan senang hati akan membantu para pahlawan dari belakang layar, jika itu memang benar benar di perlukan untuk hidupnya yang damai.


Karena hanya dia, pembaca yang mengingat seluruh alur cerita.

__ADS_1


Alasan lainnya adalah dia tidak bisa mati. hidupnya sebagai detrian mungkin tidak sebaik sekarang. dia benci saat memikirkan tentang bagaimana orang orang melarangnya untuk mati. karena itu, dia lelah harus melihat banyak kematian dari orang orang yang ada di sekitarnya demi melindungi dirinya.


Charon yang telah kembali memiringkan kepalanya bingung saat melihat tingkah tuannya yang tidak seperti biasanya. namun, dia hanya bisa diam menunduk dan memberikan air itu ke arah axel.


Axel menatap air itu dengan datar lalu menyambarnya dan meminumnya dalam sekali teguk.


Belum juga sedetik dia sudah memuntahkan darah segar.


Axel mengerutkan keningnya. rasa ketidaksukaan terpampang jelas di wajahnya, meski tidak merasakan sakit tapi dia sangat tidak suka jika melihat darah yang keluar dari tubuhnya. itu sangat memperjelas, bahwa dirinya sangat lemah.


Lebih baik jika dia hidup berguling guling di tumpukan kotoran atau hidup seperti tikus mati dari pada bertahan hidup hanya untuk merasakan rasa sakit.


"Tuan muda saya sudah bilang anda harus berhati hati. tubuh anda itu sangat lemah." charon dengan sigap membimbing axel, berlutut mengeluarkan sapu tangan dari balik kantongnya dan membersihkan noda darah di wajah axel.


Ini bukanlah sesuatu yang aneh, bahkan dokternya juga akan melakukan hal yang sama jika dia mengalami muntah darah. namun, jika charon yang notabenenya seorang yang berhati kejam melakukan ini, bukankah itu terbilang sangat aneh?


Meski begitu, axel tetap tak bergeming dan membiarkannya.


Dari sudut pandangnya dia dapat melihat charon nampak begitu khawatir. jika ada yang melihatnya, dia bisa saja di salah artikan sebagai kepala pelayan yang setia menghawatirkan pemiliknya. tapi tidak akan ada yang menyangka bahwa dia adalah seorang assassin yang hidup di dunia gelap yang kini sedang menyamar menjadi pelayan yang jinak seperti anak anjing yang menuruti semua perintah tuannya.


"Karena anda masi dalam keadaan yang kurang baik, anda harus banyak memakan makanan yang sehat."


Axel melipat tangannya memandang keluar jendela tidak ingin melakukan kontak mata dengan pria tua itu.


"Terserah lakukan saja seperti biasa."


Charon tersenyum puas.

__ADS_1


"Saya akan segera menyiapkan sarapan anda tuan, silakan menunggu disini."


__ADS_2