Axel Yang Sakit Di Keluarga Duke

Axel Yang Sakit Di Keluarga Duke
BAB 4. orang gila di keluarga chalestiene


__ADS_3

Di gelapnya malam yang terasa begitu mencekam di sebuah hutan tak jauh dari massion, terdapat sosok charon yang sedang memegang sebuah pedang yang sudah berlumuran darah.


Mungkin karena merasa senang atau semacamnya charon menyelesaikan acara mengusir 'kucing' lebih cepat dari biasanya. ada lebih dari empat kucing yang dia dapatkan dan dua kucing yang kabur entah kemana.


Charon berdiri di atas pohon menatap ke arah orang orang yang ada di bawahnya dengan dingin.


"Ini lebih sedikit dari yang ku kira. kupikir mereka akan mengirimkan kucing yang lebih banyak seperti biasanya." ujar charon menyekah darah di bibirnya menggunakan ujung jarinnya.


"Aku harus segera menyelesaikannya dan membersihkan para kucing itu, agar bisa kembali seperti yang tuan mudaku inginkan." charon kembali tersenyum dingin kepada kucing yang aslinya adalah seorang pembunuh bayaran yang diam diam di kirim oleh seseorang untuk menyusup kekediaman axel.


Keempat pembunuh itu menjadi ketakutan mencoba kabur dari sana sebisa mungkin. namun, charon dengan santainya turun dari atas pohon dan berhenti tepat di depan mereka. para pembunuh itu tak pantang menyerah tetap mencoba mencari celah untuk kabur.


CRESSHHH


Charon dengan tampa ampun memotong kedua kaki salah satu dari mereka yang tak sempat menangkis serangan charon. terdengarlah suara lolongan kesakitan dari orang itu, darah muncrat ke sana kemari membuat pembunuh yang lainnya yang ada di sana semakin merasakan ketakutan saat melihat keganasan kepala pelayan itu bahkan sampai ada yang kencing di celana.


Di sisi lain axel yang sedang tertidur sedikit gelisah karena tidurnya yang terganggu oleh suara yang mirip dengan lolongan serigala yang entah berasal dari mana, setelah suara itu menghilang axel kembali tertidur dengan lelapnya.


Sebentar, apa yang dia dengar itu benar benar serigala?


Kembali ke tempat charon yang mengarahkan pedangnya ke leher pria yang merintih kesakitan sambil memegang kakinya yang sudah buntung.


Charon menginjak kaki pria itu dan berucap dengan datar "Ssttt... jika kau terus berteriak seperti itu, tuan mudaku akan terbangun." dengan pedang charon yang menggores sedikit leher pria itu, mungkin karena panik pria itu spontan berteriak meminta tolong dengan suara yang begitu kencang membuat charon membungkam mulut pria itu dengan mengarahkan pedangnya ke matanya.

__ADS_1


HIKKKK!!


"Sepertinya kau ingin kehilangan matamu juga."


"Bukankah aku sudah memperingati mu? jika tuanku sampai bangun karena mu, aku tidak akan segan segan untuk mencabik cabik bagian tubuhmu tampa harus menghilangkan kesadaran mu." ujar charon dengan tatapan yang penuh ancaman.


Mendengar itu, pria yang di todong pedang dengan ancaman mengerikan dari charon kembali merasakan ketakutan dan pingsang dengan seluruh pupil matanya  menjadi putih karena kehabisan darah. charon yang melihat itu hanya bisa berdecak kesal lalu menendang orang itu ke tanah dengan suara gedebuk yang keras. tak lama setelahnya salah satu wanita berbaju pelayan muncul dari arah belakang dan bertanya,


"Siapa yang berani mengirim para tikus got ini untuk mencelakai tuan muda kita? mereka sungguh berani. aku tidak tau, apakah mereka memiliki begitu banyak nyawa hingga berani menginjakan kaki mereka ke daerah kekuasan calesthene."


Salah satu kesatria yang juga baru datang menjawab "sudah berapa kali kami ingin melacaknya namun selalu ada yang mencoba menghentikan tim kami, seakan ada rubah yang menyamar di antara kumpulan serigala." yang dia maksud adalah para pelayan yang mungkin ada mata mata yang berhasil menyusup dan menyatuh bersama mereka.


"Itu akan menjadi sebuah masalah. karena duke terlalu banyak memiliki musuh jadi sangat susah untuk mengetahui siapa dalang dari balik ini semua." mereka yang mendengar itu langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah kesatria itu yang baru muncul dari semak semak, sambil menyeret salah satu penjahat yang mencoba ingin kabur dengan kedua tangannya yang juga telah putus.


Charon yang sama sekali tidak mempedulikan pembicaraan mereka hanya berjongkok ke arah penjahat yang ada di sana yang sudah tidak dapat bergerak karena terkena sengatan listrik yang di lancarkan oleh wanita tadi secara diam diam. saat charon menatap lebih dekat, di sana tepat di leher ketiga penjahat itu telah menempel sebuah jarum yang bisa membuat mereka tak bisa berbicara secara leluasa jika tidak di minta.


"Enma. kali ini kau melakukan tugasmu dengan baik sebagai pelayan." nimbrung charon pada akhirnya setelah lama terdiam menonton mereka. dia lalu berdiri menatap ke arah pelayan wanita yang bernama enma yang hanya bisa memutar matanya lantaran tak suka mendengar perkataan charon barusan.


"Jika bukan karena mendiang duchess yang memintaku untuk melindungi tuan muda aku juga tidak sudi melakukan pekerjaan yang menjijikan ini bersama denganmu." jelas enma sambil membetulkan kacamatanya memandang tajam ke arah charon.


Apapun alasannya tetap saja charon tidak peduli dan kembali terdiam membersihkan pedang kesayangannya yang masi berlumuran darah. enma yang melihat itu semakin kesal karena charon selalu mengabaikan perkataannya.


"Ngomong-ngomong, apa kau memasukan obat tidur ke dalam minuman tuan muda lagi, charon?"

__ADS_1


Charon, "..."


Enma menarik nafasnya dengan lelah, tampa di jawab pun dia sudah tau apa jawabannya.


"Mengapa tuan mudaku yang lemah itu harus di kelilingi oleh orang orang gila seperti kalian." enma mengatakan itu tampa menyadari dirinya sendiri bahwa dia juga termasuk bagian dari orang orang aneh itu.


Charon dan kesatria yang ada di sana saling memandang dengan wajah yang seakan mengatakan 'kau juga sama gilanya'.


Charon kembali menatap tidak peduli dan berfikir untuk kembali ke massion secepat mungkin, lalu dia pun memutuskan untuk meninggalkan enma sendiri di sana mengurus semua kekacauan yang baru saja terjadi.


Sama halnya dengan charon, enma juga memiliki latar belakang tersembunyi sebagai pembunuh bayaran yang sudah lama pensiun. namun, bedanya enma tidak terlalu mencolok di novel bahkan dia adalah karakter yang tidak pernah di tunjukan.


Enma menatap sekelilingnya namun sudah tidak mendapat kehadiran charon di sana. mau tak mau dia harus menerima takdirnya untuk membersihkan kekacauan yang selalu di buat oleh charon dan para antek anteknya.


"Bereskan mayat mereka. yang masi hidup bawa mereka ke ruangan bawa tanah untuk di interogasi, dan kejar mereka yang mencoba kabur. siapapun yang mengirim mereka aku akan membunuhnya karena telah menyentuh kediaman utama!! aku akan menunjukan kepada mereka bahwa kekuatan calesthene tidak selemah itu untuk bisa mereka sentuh dengan sesuka hati!!." titah enma mutlak dengan aura mendominasi kepada para sosok sosok bayangan yang sedari tadi menyembunyikan keberadaan mereka.


"Dan satu lagi, jika mereka tidak menyerah kalian boleh membunuh mereka sesuka hati kalian."


lebih dari sepuluh orang meleset bagaikan busur panah ke seluruh penjuru. dan hanya menyisakan satu kesatria yang memang sedari tadi bersama enma.


Hingga pagi menjelang, mayat mayat yang berserakan telah menghilang bahkan tidak ada sama sekali jejak darah yang tertinggal, seakan tidak pernah terjadi sesuatu di sana.


"Sebaiknya kita segera kembali untuk menyiapkan sarapan tuan muda." ujar enma pergi dari sana dengan di ikuti oleh kesatria itu di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2