
Saat charon keluar. axel langsung mengusap lengannya yang kedinginan.
"Orang gila."
'Disini terlalu banyak orang yang berbahaya'
Setiap orang yang ada di dekatnya adalah orang yang kuat dan memiliki latar belakang yang tersembunyi. bisa-bisa nyawanya akan melayang dalam waktu singkat. bagaimanapun demi bertahan hidup dia harus mulai berfikir bagaimana cara agar dia bisa hidup di dunia yang gila ini.
"Sepertinya aku membutuhkan kekuatan yang setidaknya bisa melindungi ku"
"Untuk saat ini mari kita bertahan hidup. dan sepertinya, keluarga ku yang sekarang sangat begitu kaya"
"Bukankah sangat bagus jika aku menghamburkan seluruh uang ke tempat yang cocok untuk dihamburkan?"
Axel teringat keluarga Chalestiene adalah orang kaya bahkan anggota kerajaan tidak dapat menandingi kekayaan keluarganya. jika itu benar, maka axel dapat memanfaatkan itu untuk hidup dengan damai pergi ke tempat yang tentram di mana dia bisa hidup tampa harus memikirkan segala sesuatu yang akan terjadi dan menghabiskan hidupnya dengan bermalas-malasan.
"Apa aku beli pulau saja? mungkin pulau yang terpencil jauh dari tempat terjadinya perang?"
Bahkan uang mereka tidak akan habis jika iya membeli salah satu kerajaan di benua ini dan menjadikan dirinya raja. tapi axel tidak akan melakukan hal yang gila seperti itu.
'Jadi mari bertahan untuk hidup'
Meski kau dia tidak mengetahui akhirnya.
TOK... TOK... TOK....
Suara ketukan pintu membuat axel menoleh ke arah tiga pelayan yang masuk membawa nampan berisikan makanan yang terlihat begitu enak. namun, ketika charon yang masuk Axel langsung tak nafsu makan.
"Apa anda menyukai rasanya?"
__ADS_1
"Menurutmu?"
Axel meletakan sendok di atas pertanyaan charon yang kini berdiri di sampingnya sambil menatap ke arahnya dengan lembut. tetapi, yang di rasakan axel jauh berberda seakan charon menunjukan jejak senyuman menakutkan di sana.
"Jika makanannya kurang enak saya akan memberitahukannya ke pada koki di dapur."
Bisakah kau diam? ini hanya tinggal satu suapan lagi dan semua penderitaan ini akan berakhir.
"Hari ini anda menghabiskan semua makanan anda." ujar charon dengan puas ketika makanan di piring axel habis tak tersisa.
Axel, "..."
Karena tidak mendapat jawaban dari axel sedari tadi, charon lalu memanggil pelayan yang tadi keluar dan menyuruh mereka membersihkan meja bekas axel makan.
Tak terasa waktu terus berlalu hari pun juga semakin sore.
Axel berjalan masuk ke dalam kamarnya sambil mengikat asal-asalan rambutnya yang panjangnya sebatas bahu. lalu tatapannya tertuju pada banyaknya buku dan pena di mejanya yang tersusun dengan rapi. dia mengingat tadi setelah sarapan dan berolahraga dia sempat meminta kepada para pelayan untuk menyiapkan keperluannya. meski charon beberapa kali menghentikannya untuk tidak memegang pena lantaran dia takut axel dapat terluka terkena ujung pena yang runcing karena tubuh axel rentang terhadap benda asing yang bisa membuatnya terluka parah. karena itu, butuh banyak paksaan hingga charon mengizinkannya.
"Aku akan mengirimkan banyak dupa agar kau bisa tenang di alam sana" pikir axel sambil menutup matanya. namun dia kembali membuka matanya dengan bingung. tunggu, mengapa dia harus repot repot melakukan itu?
Hal yang penting sekarang adalah mencatat semua yang dia ingat sebelum dia melupakannya. bukan karena dia tidak percaya dengan kekuatan memorinya, tetapi ini hanya untuk berjaga jaga jika terjadi sesuatu di masa depan. banyak poin penting yang bisa dia lupakan dengan tidak sengaja.
Dan salah satu poin terpentingnya adalah tentang penyakit axel.
Di novel sendiri tidak di jelaskan dengan pasti apa nama penyakit yang di derita. bahkan banyak dokter, penyihir yang di kerahkan untuk menyembuhkannya. namun, tidak ada hasil yang memuaskan. dan juga axel akan mati di awal awal cerita.
Ada dua kematian yang di alami oleh axel. pertama mati di tangan ash, sang protagonis lalu mati karena penyakitnya yang semakin parah saat musim dingin tiba.
Mengingat daerah kekuasan chalestiene memiliki musim yang dapat berubah-ubah setiap harinya. bagaimanapun caranya axel harus bisa menemukan cara untuk menghindari itu sebelum musim dingin datang.
__ADS_1
Ketika dia mulai stress atau banyak pikiran dia akan mengalami muntah darah. bahkan bergerak saja beberapa meter dia akan langsung mimisan yang disertai muntah darah. lalu saat melakukan aktifitas yang berlebihan dapat membuatnya demam beberapa minggu bahkan berbulan bulan. bahkan dia alergi jika menyentuh berbagai benda, dan masi banyak lagi yang tidak bisa dia jelaskan hanya dengan kata kata.
"Apa yang bisa di harap dengan tubuh lemah seperti ini?." untung saja dia masi bisa memakan berbagai makanan dan meminum alkohol meski dengan kadar paling rendah.
Dan saat ini dia hanya bisa bergantung pada matahari pagi. namun, sampai kapan dia akan terus seperti itu?
Axel menatap keluar jendela yang mulai gelap.
Kedua adalah kekuatan. dia butuh kekuatan yang setidaknya bisa melindunginya, tetapi axel harus menyampingkan itu terlebih dahulu karena masi banyak yang harus dia lakukan.
Sebuah ketukan menyadarkan axel dari kekalutannya. dia menutup bukunya lalu menatap charon yang masuk sambil membawa secangkir air hangat yang langsung di berikan kepadanya.
Axel menatap cangkir itu dengan perasaan gelisa dan charon tidak menyadari itu sama sekali.
"Tuan muda saya membawakan lemon tea untuk anda." meski ada perasaan yang sedikit gelisa, dia tetap mengambil minuman itu dan meminumnya dalam diam sambil mendengar charon berbicara tentang banyak hal yang terjadi di kediaman baru baru ini, meski itu terdengar tidak penting untuk axel.
"Sebenarnya saya ingin menceritakan banyak hal kepada tuan muda. namun, sepertinya saya harus segera pergi untuk membersihkan kucing yang lagi lagi masuk secara diam diam." charon tersenyum simpul memperbaiki selimut yang di gunakan axel.
Axel hanya terdiam tidak bisa berkata kata. kucing semacam apa yang berani masuk ke kediaman duke yang di huni banyak monster seperti charon. apa mereka tidak sadar sedang mengantarkan nyawa mereka ke kandang singa?
Charon menutup jendela dengan rapat menatap tajam ke luar sambil berkata "Anda harus segera tidur." lalu berjalan ke arah axel dan mematikan lampu kamar.
Axel memutar badannya ke samping memunggungi charon. karena tampa di perintah pun dia dengan suka rela akan tidur.
Sekali lagi haron membungkuk "selamat tidur tuan muda" lalu melangkah keluar dari kamar. mungkin karena rasa kantuk yang tiba-tiba itulah, tampa axel sadari dia memutar kepalanya dan bergumam pelan.
"selamat malam, kembalilah dengan selamat." meski dia juga berharap pria tua itu tidak kembali. setelah mengucapkan itu dia langsung tertidur dengan pulas.
Charon, "...."
__ADS_1
Charon yang mendengar itu seketika berhenti di ambang pintu. menatap aneh ke arah axel yang sudah mendengkur lalu berjalan keluar tampa menimbulkan suara.
"Tentu saja tuanku."